Berbicara Tentang Cinta (Lagi)
Sejak Rabu 15 Mei 2011, seorang teman dari Jogja datang ke Bandung. Ia akan mengikuti test di Unpad. Karena ketika aku di Jogja kemarennya ia telah menemani dan menjadi tuan rumah yang baik, selayaknya aku juga harus bisa menjadi tuan rumah yang baik.
Malam minggunya, pengennya sih ngajak nongkrong rame-rame menikmati udara malam Bandung. Tapi apa daya, akhirnya hanya berdua saja (mudah-mudahan ga disangka homo lagi kencan).
Nongkrong (bukan dalam arti sebenarnya ya) di sebuah cafe yang menyajikan kuliner khas tanah rencong sambil ngobrol ngalor ngidul ngulon wetan. Tapi ternyata pembicaraan malam itu didominasi topik tentang Cinta. Saling bertukar kisah asmara, sesekali berganti topik, atau terpotong memandangi pengunjung cafe untuk menyegarkan mata.
Kata-kata yang cukup menarik yang ia lontarkan “Cinta itu tentang perasaan, jadi jangan dilogiskan. Bukan berarti kamu mengenyampingkan logika dan mendahulukan perasaan. Tapi juga jangan hanya memakai logika saja dan tidak mengindahkan perasaan”
Menarik, karena emang seperti itu harusnya supaya kisah cinta bisa tertoreh manis tanpa ada sakit hati atau luka yang membekas. Tapi terkadang kita sulit menentukan kadar sejauh mana logika dan perasaan akan digunakan. Ada saat logika yang menang, ada saatnya perasaan yang memimpin.
Itu satu hal, hal yang lain terkait fitrah Laki-laki yang logis dan wanita yang perasa. Akibatnya kadang sedikit perhatian yang menurut kaum lelaki biasa saja, tapi bisa diartikan berbeda oleh wanita. Aku dan dia ternyata sama-sama beberapa kali terjebak dalam masalah yang sama. Salah sangka dan salah paham. Bukan bermaksud menyakiti, tapi ternyata jadinya menyakiti. Perhatian yang disalah artikan dan guyonan yang dianggap serius umumnya penyebab kesalah pahaman tersebut.
Kita sama-sama mengakui bahwa kita adalah lelaki dengan paras yang biasa saja, penampilan yang urakan, dan kelakuan yang kadang seenaknya. Tapi ternyata sms yang penuh perhatian, guyonan yang agak menjurus ke flirting, pendengar cerita yang baik yang menjadi penyebab banyak yang tertipu dan terlena. Hehehe.
Tapi aku rasa kami sama-sama menarik kesimpulan yang sama (walau tidak diucapkan) bahwa kami masih harus belajar banyak dan harus mengenal lebih jauh lagi tentang macam-macam karakter wanita. Bertindak lebih hati-hati lagi supaya tidak menyakiti hati.
June 19, 2011 at 1:35 pm
CIEEEEE ABAAAKKKK
June 22, 2011 at 7:48 am
apa sih pike?? ckckckck
June 22, 2011 at 6:33 pm
jyahaha, untunglah ya gue udah tau lo gimana #gakkenajebakan
June 24, 2011 at 7:59 am
aah, padahal gw berharap loe kena jebakan cha.. *timpuk…
June 24, 2011 at 2:10 am
itu nyadar kalo guyonannya menjurus ke flirting…
masih pake nanya “iya gituh???”
hahhaha…
June 24, 2011 at 7:59 am
ehehehehehehehehe
July 1, 2011 at 4:11 am
itu nyadar kalo guyonannya menjurus ke flirting…masih pake nanya “iya gituh???”hahhaha…
+1
July 1, 2011 at 5:56 am
waw! “guyonan yg menjurus ke flirting” ini lho yang berbahaya.. wakakaka…