Untuk Kawanku
Selamat malam
Mari bercerita lagi
tentang hari-harimu, tentang aku, kamu, dia, dan lainnya
Ditemani secangkir kopi panas, wangi mengepul.
Bir dingin?
Terdengar cukup nikmat di malam yang cukup panas ini,
tapi maaf, aku tidak minum
Masihkah kau terjebak diantara si Rubah dan si Kucing?
Memang tidak mudah melupakan cerita yang kau susun
beberapa belas purnama.
Ah sudahlah, nikmati saja malam ini
lebih baik kita bercerita saja
tentang negeri kita yang semakin kocak.
Di negara manalagi kau akan menemukan lumpur membanjiri kota,
tiba-tiba menyembur dari dalam tanah seperti mata air?
Di negara mana lagi akan kau temukan sebuah berita tiba-tiba mendominasi
mengalihkan perhatian dari berita sebelumnya?
Tak akan pernah kau temukan di tempat lain, tiba-tiba seseorang lari ke luar negeri
hanya untuk memeriksa tukak lambung.
Hanya disini, pemimpin yang katanya pelayan rakyat,
tapi malah bikin repot rakyatnya saat dia berkunjung.
Jenuh?
Sama, aku juga jenuh dan muak.
Tapi apa hendak dikata
Hanya disini tempatku, kamu, dan mereka berpijak.
Aku tahu kamu gatal hendak bergerak
tapi harus bagaimana.
Kau punya anak dan istri dengan segala kebutuhannya..
Atasanmu berkacak pinggang di saat dead-line.
Mertuamu dirawat karena stroke.
Engkau terikat diantara idealisme dan realita.
Engkau mantan pejuang, tombak terdepan setiap aksi
sekarang menundukkan kepala di depan orang-orang yang kau teriaki dulu
Lihat, perutmu semakin membuncit
serupa bapak-bapak yang engkau ejek-ejek dahulu
Suaramu semakin pelat sobat,
langkahmu semakin lambat,
otakmu tumpul matamu kabur buram oleh jabatan.
tumpul karena lagu-lagu indah itu.
Kenapa engkau malu bercerita tentang masa lalu kita?
saat-saat kita bergerak, berteriak bersama.
Ingatkah engkau lagu yang kita nyanyikan dulu?
“Kita muda, beda dan berbahaya”
Engkau sekarang lebih asyik bercerita
tentang proyek 9 digitmu, hobi barumu, cicilan rumah, atasan.
Tak apa, aku tetap jadi pendengar setiamu
sampai kau berbuih bercerita.
Tak apa, aku masih disini kok,
menantimu dikedai kopi ini.
Duduk diam dalam damai,
sambil menyesap kopi kesukaanku
Hitam, pahit, dan panas.
July 7, 2011 at 2:11 pm
“Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini.
Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan sejenisnya lagi.
Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya.
Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya?
Apa ini bukan semacam onani yang konyol?
Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”
#Soe Hok Gie..#
July 7, 2011 at 4:35 pm
nice..^^
July 12, 2011 at 5:44 pm
tulisan yang bagus, dari segi isinya dapat membuat kita merenung kembali akan apa yang telah kita lakukan dahulu selama minimal 4 tahun di kampus, dan dari segi bentuk tulisannya, saya suka dengan bentuk semacam prosa yang terdiri dari kalimat-kalimat singkat, mudah dibaca..
like this bro..
July 14, 2011 at 11:00 am
nuhun bro