Merantau

Malam ini aku menjejakkan kaki di Kota Kembang. Kuhirup dinginnya udara Bandung, kurapatkan jaket untuk menahan udara Bandung yang dingin menusuk tulang. Maklum saja, daerah asalku di tepi pantai, panas. Akhirnya aku tiba di ranah rantau, mengikuti kebiasaan orang-orang daerahku untuk merantau mencari ilmu atau nafkah. Sendiri, berjuang bertahan hidup.

“Kenapa harus merantau nak??” Tanya ibuku beberapa bulan sebelumnya.

“Aku ingin melihat negeri orang bu, aku ingin mencoba mengadu nasib di Jawa” jawabku.

“Tak bisakah kau kuliah di Padang saja, kan masih ada Universitas yang bagus di sini?” bantah ibuku mencoba menahanku.

Aku ingin merantau seperti uda-udaku, aku ingin mencoba menjadi orang yang membanggakan ibu bapakku. Dan lagi, aku ingin bebas, bebas dari orang-orang yang ingin ku hindari, bebas dari rasa sakit melihat bapakku jalan terpincang-pincang menghidupi keluarganya. Di usia yang tak muda lagi, seharusnya beliau sudah duduk dengan tenang di rumah, menikmati masa tua dengan ibu, tinggal dengan anaknya yang sudah mapan. Tapi kenyataan tak seperti yang diinginkan. Setiap hari, narik angkot, dan sore pulang dengan wajah letih. Bapakku, yang dulunya perkasa, jagoan terminal, menyerah kepada usia, menyerah kepada waktu, tapi tak kunjung berhenti.

Jam 4 pagi, di terminal, mencari mesjid untuk numpang tidur sebelum paginya ke Jl. Ganesha. Tas ransel kumal ku terasa berat menekan pundak, tas ransel hadiah kelulusan SMP dari bapak. Tapi yang berat menekan pundak bukan itu.

“Ibu tak mau jauh-jauh darimu nak, ibu takut. Ibu takut melepasmu ke negeri orang, ibu tak mau kau celaka” bujuk ibuku mencoba menahan langkahku.

“Bu, aku sudah dewasa bu, aku ingin mencoba menjalani pilihanku. Aku yakin aku bisa menjaga diriku”

“Kalau bapak sih, terserah kamu saja nak, asalkan kamu bertanggung jawab dengan pilihanmu. Bu, anak kita sudah bukan anak kecil lagi, biarkan dia mnentukan masa depannya. Dia yang akan menjalani masa depannya, bukan kita. Kita cuma bisa memberi nasihat, dan memberinya bekal ilmu”. Ah, bapakku yang bijak. Ia telah mengalami pahit manisnya hidup.

Kuhitung kembali bekal dari bapak, sanak family. Setidaknya cukup sampai beberapa bulan. Besok pagi, aku akan mencoba menghubungi beberapa orang kerabat, atau beberapa orang teman. Menumpang hingga aku mendapatkan tempat tinggal tetap. Kurogoh saku celanaku, masih ada beberapa batang rokok. Ah sial, tidak ada korek. Di pojokan aku lihat banyak pemuda-pemuda berkumpul, siapa tahu aku bisa minta api di sana.

“Permisi bang, boleh minta api??”

“oh ya, silahkan. Baru ya di bandung?? “ Tanya salah seorang.

“Iya bang, baru nyampe dari Padang” jawabku sambil menyulut rokok. “Makasih ya bang apinya”

Ah, asap tembakau mengisi paru-paruku. Ku perbaiki letak tas di pundak, dan kembali melangkah gontai ke mesjid terdekat. Mudah-mudahan bisa numpang. Sekilas, ada langkah-langkah di belakangku, tapi tak terlalu ku perhatikan.

“Hati-hati di jalan nak” lepas ibuku dengan derai air mata, hampir membuatku mengurungkan niat untuk pergi. Pelukan erat dari bapak, memberikan kekuatan baru. “Jaga diri, jaga hati” pesan bapak. “Uncu cepat pulang ya” rengek dua ponakan-ponakan manisku. Ya, mereka sangat dekat denganku. Mereka main denganku, makan ku suapi, tidur di pangkuanku. Berat memang berpisah dengan mereka.

Tapi aku telah bertekad, aku akan menghajikan ibu dan bapak, menyekolahkan ponakan-ponakanku. Dan semua mimpi-mimpi yang lain.

Sebuah benda dingin tiba-tiba menempel di leherku.

“berikan isi dompetmu”.

Ternyata preman-preman tadi berniat buruk kepadaku. Aku tidak pernah dididik untuk berkelahi, tetapi aku juga tidak pernah dididik menjadi pengecut. Aku tak akan rela uang hasil jerih payah bapakku, kuberikan kepada begundal-begundal ini.

Aku melawan, menyikut, menendang, memukul. Tapi aku kalah banyak, aku dikeroyok, dan tiba-tiba aku merasa melayang. Jaketku rasanya basah, hangat, dan ada yang berteriak. Ada sesuatu di perutku, dingin, tapi ada air hangat di perutku.

Tiba-tiba terang, silau.

Kulihat ibu, memanggilku rasanya.

Bapak, diam.

Uda-udaku, uni-uniku, berteriak, tapi sunyi. Seperti film bisu.

Lalu gelap, sayup-sayup adzan Shubuh berkumandang.

“Ibu, aku pergi”

Bandung, 28 Juli 2008

12 thoughts on “Merantau

  1. @Ayoe: ya ga mungkin lah, klw beneran, udah ga ada di alam nyata kali saya.. hehehehehe

    @Widya: kangen?? hohohohohoho
    @Catra, puput, Evan: thx. mudah2an bisa bikin lagi cerpen yang lain

  2. @ Jee: Thx jee, tp cerpen km lebih bagus kok..😀
    @ Imoe: Iyo bang, lah lamo ndak pulang
    @ Imanpotter: salam kenal juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s