Sejarah

Sejarah (History). Sejarah pada umumnya selalu merujuk pada lelaki. Makanya jadi His Story. Walaupun tidak dipungkiri banyak juga kaum wanita yang menorehkan tinta emas di album kehidupan dunia.

Kata orang-orang bijak, sejarah itu seperti kaca spion, hanya dilihat sekilas. Analoginya gini, kalau kita lagi mengendarai mobil atau motor, trus terlalu lama melihat kaca spion, pasti kita akan melupakan jalan yang ada di depan. Bukannya nyampe di tujuan, yng ada malahan tabrakan.

Itulah yang umumnya terjadi pada pemuda sekarang. Kita kadang terlalu terbuai romantika kisah-kisah orang-orang hebat di jaman dahulu. Kita dahulu punya M. Hatta, Agus Salim, Buya Hamka, Soekarno, dan lainnya yang terkenal seantero dunia. Itu yang selalu kita bangga-banggakan. Nah, itulah masalahnya.

Kisah hidup mereka hanya jadi cerita pengantar tidur saja. Idealnya, kita jadikan teladan, dan memacu kita untuk menjadi orang yang akan tertulis dengan tinta emas di album peradaban. Kadang kita terlalu terbuai dengan segala kemudahan-kemudahan yang ada sekarang. Sehingga kita menjadi generasi yang instan, inginnya dalam sekejap bisa mendapatkan apa yang kita harapkan. Lihat, banyaknya pemalsuan ijazah, korupsi, calo, de el el. Kalau teman saya bilang, kita jadi lembek kayak singkong. (Lho, singkong kan keras.. Iya, tapi singkong rebus kan lembek).

Andai saja gw mempunyai seratus orang pemuda yang seperti pendahulu-pendahulu kita. Insya 4WI, Indonesia akan jadi negara Adidaya.. Mudah-mudahan ada….

Asrama Bumi Ganesha

Asrama Bumi Ganesha (ABG), bertempat di Jl. Cisitu Lama no 35. Didirikan tahun 1982 (kalau ga salah) dan diresmikan oleh Presiden Soeharto. Bangunannya merupakan bangunan Inpres (kayak SD aja). Pada awalnya Asrama ini dikelola oleh Koperasi pegawainya ITB. Tapi karena pengelolaan yang kurang baik, akhirnya pada 1987 para penghuni ABG demo dan meminta supaya ABg dikelola secara mandiri.

ABG bukan hanya sebatas tempat tinggal, tapi juga merupakan sebuah organisasi. Ada jenjang kaderisasi di dalamnya.

Tahun pertama di ABG, masih berstatus sebagai Calon Penghuni (Capeng). Belum mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan penghuni yang lain. Di tahap ini, para capeng diberikan materi-materi soft skill, disuruh melakukan sosialisasi dengan para penghuni, dan membuat sebuah acara eksternal sebagai bentuk perwujudan dari semua softskill yang telah dipelajari, dan magang di biro-biro dalam kepengurusan. Dengan pertimbangan para penghuni dan pengkadernya, MPA memutuskan apakah capeng tersebut layak atau tidak diterima sebagai penghuni ABG.

Tahun kedua adalah tahun sebagai kepala biro. Melanjutkan kerja dari angkatan sebelumnya. Ada banyak biro, tergantung jumlah angkatannya. Ada biro toko yang mengelola toko, biro privat, pemeliharaan, Sosmas, dan lain-lain. Tujuan umumnya adalah menjaga keberlangsungan ABG ini. Tahun kedua juga sebagai tahun pengkader. Bertugas mengonsep dan menjalankan proses kaderisasi kepada para Capeng.

Tahun ketiga menjadi BP (Badan Pengurus) setingkat Presiden, Menteri, dan Staff Ahli, dan sebagai MPA (Majelis Permusyawaratan Anggota). MPA maerupakan perwakilan dari suara penghuni. Kayak MPR nya RI lah.

Tahun keempat dan seterusnya menjadi penghuni biasa. Menjadi tempat untuk dimintai pendapat, dan tetap mempunyai kewajiban yang sama dengan penghuni lainnya.

Secara keseluruhan, ABG adalah tempat yang sangat menyenangkan. Tidak ada yang ga saling kenal satu sama lain antar sesama penghuni. Udah kayak sebuah keluarga jadinya. Walaupun tak lepas dari konflik, tapi dalam sebuah keluarga tak akan selamanya tenang kan?

Tapi akhir-akhir ini, ABG udah kayak Indonesia saja. Didera krisis Ekonomi. Pemasukan dari wartel kian menurun karena maraknya pemakaian Ponsel. Pengeluaran seperti air, listrik, semakin membengkak. Beberapa karyawan telah memasuki usia pensiun, sementara uang pesangon belum terkumpul.
Usia bangunan semakin tua, di lantai 3 dan 4, hanya berjalan saja, sudah terasa goyangannya. Mahasiswa yang masuk ITB sudah semakin kaya, sehingga animo untuk masuk ke ABG semakin berkurang. Akbitanya uang sewa asrama semakin membengkak. Sekarang malahan sudah mencapai kisaran 150 ribu rupiah. Saingan dengan asrama sebelah yang hanya 100 ribu per bulan, tanpa ada tuntutan kaderisasi dan segala macamnya.

Akhirnya BP dan penghuni dituntut kreatif dalam mencari alternatif pemasukan lain. Tidak hanya berharap dari Toko, wartel, dan sewa asrama saja. Bukan hanya pemasukan Asrama saja yang harus ditingkatkan, tapi juga pemasukan penghuni juga harus ditingkatkan.

Walau bagaimanapun juga, Gw akan tetap di ABG sampai lulus, (atau sampai digusur).

Karena BG Asramaku, BG Rumahku, BG Keluargaku

Surat Untuk Ibu

Ibu, hari ini orang-orang sedang memperingati hari ibu. Tiba aku teringat padamu. Kuhidupkan PC ku, dan kubuka file-file foto. Kupandangi fotomu Ibu, kulihat kerutan-kerutan pertanda waktu telah mengalahkanmu.
Ibu, aku jauh di negeri rantau, terpisah darimu. Jauh dari hangatnya pelukanmu, nikmatnya masakanmu, lembutnya belaian tanganmu. Aku tahu, tiap malam air matamu berlinangan mendoakanku. Aku tahu, selera makanmu hilang memikirkan apa yang aku makan di sini.
Dan aku juga menyadari, aku bukanlah anak yang berbakti, anak teladan. Terlalu sering aku mengecewakanmu Ibu. Terlalu banyak dosa yang kuperbuat.
Tapi pintu maafmu selalu terbuka. Tak pernah sekalipun kulihat muka sedihmu di hadapanku, agar aku tak khawatir berangkat ke negeri ini.
Tak akan terbalas semua jasamu Ibu. Jika sekali saja dirimu meminta upah atas semuanya, kugadaikan bumi dan langit pun tak akan cukup untuk membalas semuanya.
Dirimu yang menenangkan kemarahan Ayah jika aku melakukan kebodohan. Tapi lecutan lidimu masih jauh lebih ringan dari apa yang seharusnya kuterima.
Ibu, jangan pernah berhenti mendoakanku, jangan pernah berhenti mempercayaiku. Walau surat ini mungkin tak akan pernah sampai ke tanganmu, tapi yakinlah ibu, aku disini sangat-sangat mencintaimu.
Tak pernah sekalipun aku alpa mendoakanmu dan Ayah. Tunggu saja Ibu, saat aku pulang nanti, janji-janjiku padamu dulu akan kupenuhi.
Salam peluk dan cium untuk Ayah


Sembah sujud
Anakmu

Berpikir Dewasa

Mungkin benar kata orang ” Dewasa itu pilihan. Usia bertambah, bukan berarti kedewasaan juga.”  Seseorang yang jauh lebih muda daripada gw, bisa berpikir jauh lebih dewasa dan bijaksana daripada gw.

Ternyata di usia gw yang telah menginjak kepala dua ini, masih belum bisa berpikir jernih, belum mampu bertindak bijaksana, dan sekarang terjebak dalam permainan yang gw mulai.

Ok, kembali ke masalah dewasa. Berpikir dewasa itu seperti apa? Yang gw tahu, seorang yang dewasa, mampu menimbang baik buruknya sebuah tindakan. Mampu bertanggung jawab atas semua tindakannya, dan berpikir jauh ke depan.Dan kedewasaan itu tidak tergantung pada umur. Gw telah melihat seseorang yang lebih muda dari gw, tapi jauh lebih dewasa. Gw juga mengenal seseorang yang lebih tua, tapi masih seperti kanak-kanak cara berpikirnya.

jadi, sanggupkah kita memulai untuk menjadi dewasa?

Ada Apa dengan Hatiku?

Rasanya beberapa minggu ini hatiku diliputi kesuraman. Sensi, cepet trsinggung, sedih ga jelas. Hujan yang sangat kucintai tak lagi bisa memberikan kesejukan, tak lagi bisa menghapus duka lara. Hanya terasa basah dan dingin. Langit cerah tak lagi memberikan kedamaian, hampa.

Tanya kenapa??