Surat yang Tak Terkirim

ibu…
aku menulis surat ini ditemani gemuruh takbir menggema mengisi malam. esok adalah hari kemenangan (dan kuharap aku adalah salah satu dari yang meraih kemenangan tersebut) setelah sebulan masa training yang luar biasa.

ibu…
maafkan karena tahun ini ku tak bisa menghampirimu, bersujud bersimpuh memohon maaf darimu. sungguh rasa rindu ini tak tertahan.

ibu..
kemarin aku lewat di gang-gang sempit, dan aroma kue yang sedang dibakar mengingatkanku akan kehangatan rumah menjelang hari raya. mengingatkanku kepada canda tawa riang rumah. tahun ini semua berkumpul di rumah ya bu? yah kecuali aku yang berada jauh di seberang lautan. sudah lama sekali ya bu, tidak berkumpul sebanyak itu. bisa kubayangkan ramainya rumahmu sekarang, ditambah celoteh-celoteh ribut cucu-cucumu. sampaikan saja peluk ciumku untuk mereka, karena aku masih jauh di negeri seberang,

oh ya bu, tadi sore aku masak masakan yang biasa ibu buat untuk makan malam. teman-temanku sangat menyukainya, kata mereka masakanku sangat enak. tapi bagiku, tak ada masakan selezat masakanmu.

kalau besok teman-temanku berkunjung ke rumah (seperti yang setiap tahun mereka lakukan), sampaikan salam dan permintaan maaf dariku, karena aku masih belum bisa menepati janji untuk berkumpul lagi lebaran ini.

tidak bu, aku tidak menangis. hanya saja mata ini entah kenapa tidak bisa berkompromi, dan mulai meneteskan air mata. sungguh, aku sedang tersenyum saat menulis surat ini. membayangkan kebahagiaan di rumahmu malam ini, dan besok hari.

sudahkah kau siapkan lembaran uang ribuan? untuk anak-anak tetangga, kerabat, yang akan bersilaturrahmi ke rumah besok hari? besok pasti akan ramai, akan banyak tamu.

malam ini ibu pasti sedang memasak ketupat, dan nanti sebelum subuh akan bangun untuk menyiapkan opor ayam seperti biasanya. tidak, aku tidak akan masak opor ayam disini, terlalu mewah untukku. cukup dengan apa yang ada saja.

ah, sayang sekali. surat ini mungkin tak akan pernah engkau baca bu, karena memang tak pernah kukirimkan. aku takut malah membuatmu khawatir. tenang saja bu, aku baik-baik saja disini, tidak kurang satu apapun.

sekali lagi, sembah sujudku memohonkan ampunmu…

peluk cium
anakmu….

One thought on “Surat yang Tak Terkirim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s