Willy Bugil

Well, ini sebuah cerita tentang si Bugil, PN 07. Jadi ceritanya dia bru bikin blog, eh, ga baru-baru amat, tapi emang baru gw kunjungi sesaat sebelum ngebikin tulisan ini.

Well, sebuah cara nulis yang bener-bener beda, dan sensasional (walau blm ada yang bisa ngalahin aal sih). Tapi pemakaian kata-katanya sangat bebas, tanpa pakem, tapi ringan dan kocak. Cocok untuk bacaan sebelum tidur. heuheuheuheu

Cek aja blognya, yang ini

Mahasiswa Peduli Rakyat?

Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian, mahasiswa sebagai Insan Akademi dituntut mampu melaksanakan ketiga hal tersebut. Salah satunya adalah pengabdian, berbuat sesuatu untuk kesejahteraan rakyat, atau setidaknya peduli akan kondisi rakyat.

Dalam 2 bulan ini, Indonesia dua kali diguncang gempa. Gempa Jabar ( 2 September 2009) dan gempa Sumbar (30 September 2009). keduanya cukup besar dan cukup merusak beberapa daerah di kedua provinsi ini. Korban jiwa yang jatuh cukup besar kusunya untuk gempa Sumbar, mencapai 1000-an orang dan masih ada yang tertimbun longsoran.

Mahasiswa ITB daam hal ini terhimpun dalam satu KM ITB telah bergerak mengenai bencana di kedua daerah ini. Bahkan untuk Jabar, tahap recoverynya sudah dimulai, dan untuk Sumbar, difokuskan ke penggalangan dana saja. Tapi permasalahannya adalah tidak semua bagian tergerak untuk peduli. Lembaga-lembaga di kampus yang bergerak bersama-sama mengenai Tangga Bencana ini sanat minim, apalagi SDM nya. Tidak sampai 10 lembaga di KM ITB yang aktif masalah bencana ini.

Bulan ini KM ITB dihadapkan lagi dengan masalah pelarangan arak-arakan pada Wisudaan tanggal 24 Oktober ini. Arak-arakan Wisudaan adalah tradisi yang tak terpisahkan dalam menyambut kelulusan mahasiswa (yang katanya) terbaik bangsa ini. Wisudaan Juli tanpa arak-arakan menimbulkan kekecewaan teman-teman massa kampus.

Menanggapi masalah ini, nyaris seluruh lembaga (baca: Himpunan) turut serta, berpartisipasi aktif ngumpul2, ketemuan dengan Kabinet dan Kongres (tersisa) mengupayakan supaya arak-arakan wisudaan menjadi legal lagi. Rapat sampai malam, dihadiri puluhan perwakilan lembaga, bahkan sampai menandatangani MOU.

Sedih aja melihat kondisi ini, bandingkan dengan rapat yang diadakan Pengabdian Masyarakat KM ITB membahas masalah gempa. Yang datang hanya 3-5 lembaga, itupun anggota muda yang masih magang dan nyaris ga tahu apa-apa. Seperti itukah MAHASISWA yang katanya bergerak demi Rakyat? Sebegitu tidak peduli kah kita akan saudara-saudara kita yang tinggal di tenda-tenda pengungsian?

Malam sebelum pelantikan SBY sebagai Presiden periode 2009-2014, teman-teman Mahasiswa mengadakan aksi di Jl. Ganesha, melakukan orasi, dan besok siangnya melakukan aksi di Senayan. Malam itu kelihatannya cukup banyak lembaga yang ikut serta. Itu semua hanya pernyataan sikap saja. Untuk aksi nyata dalam recovery Jabar, tanggap bencana Gempa Sumbar, malah tidak ada sama sekali.

Tidak tahu apakah kita memang sudah begitu apatisnya, sibuk dengan kepentingan masing-masing, dan lupa kalau kita ada karena rakyat, lupa akan peran sebagai Mahasiswa, lupa akan fungsi sebagaiInsan Akademis.

Saat membaca liputan detik.com ttg aksi di jl. Ganesha tersebut, jadi miris membaca komentar-komentar pembaca. Mereka sangat pesimis dan tidak simpatik dengan aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa. Tapi setelah mengamati kenyataannya, mungkin wajar saja mereka begitu.

Yang dibutuhkan sebenarnya adalah Gerakan Nyata, bukan hanya kajian-kajian saja, bukan hanya omong besar saja. Gerakan nyata yang benar-benar menyentuh “grass root”. Lalu siapa penggeraknya, kalau mahasiswa masih memble??

Kesadaran ber-KM ITB

Apa itu KM-ITB? Siapa saja anggota KM-ITB? Kenapa kita harus ber-KM ITB? Diatas adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada saat kita mengikuti OSKM, INKM, atau PROKM. Dan pertanyaan itu sudah dijawab oleh mentor-mentor kelompok. (buat yang masih ingat) kita dari awal sudah dikenalkan dengan yang namanya KM-ITB. Saat kita lepas dari OSIS, kita dikenalkan dengan lembaga yang lebih independent dan mempunyai arah gerak yang jelas sesuai konsepsi dan AD-ART KM-ITB. Terlepas dari sejarah dibentuknya KM-ITB 13 tahun yang lalu, yang akan kita cermati adalah kondisi sekarang. Nyamannya kamar kost dengan fasilitas internet, dan segala kemudahan teknologi (mungkin)melalaikan kita akan fungsi sebagai mahasiswa. Buat yang sudah membaca dan (mencoba) memahami konsepsi, yang sudah pernah diceritain akan isi dan makna konsepsi, mungkin (sedikit) tahu dengan maksud sebagai Insan Akademis, melaksanakan TriDharma Perguruan Tinggi, dan lain-lain. Mungkin juga (agak) paham bahwa mahasiswa tidak hanya kuliah dan pulang saja, tapi adalah ujung tombak pergerakan. Kita jangan berbicara yang jauh tentang membangun Indonesia dulu, coba berkaca akan keadaan KM-ITB sendiri. Rapim pada tanggal 12 Oktober 2009 mungkin adalah cermin kalau kita belum siap untuk ber-KM ITB yang baik. Mungkin kita belum menyadari bahwa mahasiswa S1 ITB itu membutuhkan KM-ITB. Kenapa? Karena kita belum siap dan mampu untuk menjalankan system yang sudah disusun dalam peraturan dan landasa bertindak kita. Kongres sebagai lembaga tertinggi dalam KM-ITB belum cukup kuat, karena pengawasan dari lembaga yang mengirimnya juga tidak benar. Karena tidak diawasi, akibatnya kinerjanya tidk seperti yang diharapkan, sehingga fungsi pengawasan terhadap kinerja cabinet juga tidak berjalan dengan baik. Lembaga-lembaga sepertinya belum siap untuk percaya kepada Kongres, dan seperti tidak mau ambil peduli akan kondisi kesenatoran yang carut-marut dan morat-marit. Mungkin saja lembaga tidak merasakan efek langsung dari fungsi kongres itu sendiri, dan lembaga hanya peduli kalau itu terkait langsung dengan kepentingan lembaganya, seperti WISUDAAN, OSKM. Bukankah cabinet KM-ITB dan seluruh prokernya adalah bentuk pengejawantahan aspirasi dari seluruh lembaga yang (seharusnya) disampaikan kepada senator-senatornya di kongres? Bukankah KM-ITB itu sendiri ada untuk mewadahi kebutuhan berhimpun? Atau memang kita sudah tidak membutuhkan lagi KM-ITB? Itu pertanyaan yang selalu muncul melihat masalah di KM-ITB, khususnya masalah kesenatoran. Tapi ketika pertanyaan itu dimunculkan, jawaban adalah “Kita buth KM-ITB” apakah itu hanya karena cemas saja OSKM nanti tidak ada yang mau ngurusin, sebab kita terlalu sibuk dengan ke-APATISan kita di dalam lembaga kita masing-masing? Memang kita tidak bisa mengharapkan 12.000 mahasiswa ITB akan sadar untuk ber-KM-ITB. Tapi setidaknya ANDA-ANDA yang diamanahi sebagai ketua lembaga, perwakilan anggota lembaga harus paham bahwa KM-ITB itu adalah kita semua. Rapim dengan ketua-ketua lembaga tanggal 12 oktober 2009 menurut saya tidak menghasilkan sebuah konklusi, solusi yang real. Yang adalah adalah sebuah pergerakan dari beberapa lembaga untuk mendatangi lembaga-lembaga lainnya, saling mengingatkan untuk ber-KM ITB dengan baik, kalau tidak nanti dibubarin (hahahaha, ga seperti itu juga kata-katanya). Tapi menurut saya tetap tidak ada jaminan bahwa sesudah itu lembaga-lembaga (himpunan dan unit) mau dan mampu berubah sehingga ber-KM ITB dengan baik. Yang pasti kesimpulan yang bisa ditarik dari Rapim tersebut adalah bahwa Kongres KM-ITB masih dipercaya untuk tetap menjalankan fungsinya. Tapi pertanyaan terbesarnya adalah apakah Kongres KM-ITB masih didukung oleh lembaga-lembaga di dalam KM-ITB? Tulisan ini hanya sebuah unek-unek, bukan bermaksud mengajari. Bukan tidak mungkin ada banyak kata-kata dan pemikiran yang dangkal, tapi mudah-mudahan ada manfaatnya yang bisa kita pahami bersama. Demi Tuhan, Untuk Bangsa dan Almamater Senator Utusan Lembaga Rumpun Seni dan Budaya Darma Eka Saputra 13105137

Berita Duka dari Ranah Minang

30 September 2009, 17.16 Kota padang dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7,6 SR dan pusatnya di Selat Mentawai, beberapa belas kilometer dari Kotamadya Padang. Efek terbesar gempa ini dirasakan daerah Kabupaten Padang Priaman, Kotamadya Padang, Kotamadya Pariaman. Aliran listrik padam, Komunikasi terputus, bahkan pada saat kejadian beberapa daerah dilanda hujan lebat.

Ratusan rumah rusak berat, dan sampai saya menulis postingan ini, sudah lebih dari 500 korban jiwa. Itu masih belum termasuk korban yang masih tertimbun reruntuhan. Korban jiwa terbanyak ada di daerah Kota Padang.

Hotel Ambacang, LB-LIA, dan Bimbingan Belajar GAMA rata dengan tanah, menimbun ratusan orang yang sedang berada di sana. Di Hotel Ambacang saat itu sedang ada seminar yang diikuti oleh banyak orang, sedangkan di LB-LIA dan GAMA, jam 17 itu masih jam belajar efektif.

Sampai sekarang pun proses evakuasi korban masih dilakukan. Sama seperti gempa Jawa Barat, warga kemungkinan mengungsi di tenda-tenda karen rumah mereka rusak berat dan tidak bisa dihuni.

Aduh, ga tahu lagi apa yg akan ditulis. Yang penting mohon doanya untuk saudara-saudara kita yang ada di sana, untuk yang menjadi korban, mudah-mudahan diberikan ketabahan oleh-Nya.