Sebuah Cerita dari Puncak

Liburan semester ini gw frustasi banget. Rencana travelling ke Lombok batal karena beberapa bulan ini gw dalam kesulitan keuangan. Asrama sepi, khususnya lantai gw. Cuma ada gw ama Da Kamil + tamu yang sama sekali ga pernah berinteraksi ama kita.

Lalu Septian menawarkan untuk bantu-bantu acara NLYC (National Leadership Youth Camp) 2010 yang diadakan ama Salman di Vila Prima Bambu Puncak, Bogor. Karena emang ga ada kerjaan, tanpa pikir lagi langsung aja gw terima. Gw kebagian ngurusin Medik.

Kita berangkat Kamis siang dari gerbang depan ITB, dan gw kebagian di bus yang isinya cewek semua, soalnya medik yang ceweknya ga ada. Berhubung gw ga kenal-kenal amat ama panitia dan perserta lainnya, gw diem-diem aja di dalam bus, menikmati perjalanan menuju puncak.

Melewati suatu daerah yang sepertinya mata pencaharian utama penduduknya adalah penambang batu kapur, dimana-mana terlihat bangunan pengolahan batu kapur, pemotong batu, truk yang lalu lalang membawa batu kapur. Lalu derah yang menjajakan buah-buahan khas daerah masing-masing.

Perjalanan ditemani hujan, kabut yang cukup tebal sehingga sopir bus harus ekstra hati-hati. Sampai di tempat kira-kira jam 5-an, bersiap-siap untuk magrib, makan malam dan acara berikutnya.

Dari kamis hingga sabtu tidak ada yang spesial karena umumnya acara ruangan semua. Hmm, yag menarik adalah pembicaranya Adhyaksa Dault. begitu berapi-api, dan menyenangkan.

Selama beberapa hari itu, mulai kenal dengan teman-teman panitia lainnya sehingga susasan jadi lebih akrab. Setiap pagi menikmati mandi air panas, dijamu dengan baik oleh teman-teman pesantren disitu, bahkan kita sempat dijamu dengan Susu Kambing yang lezat.

Minggu adalah waktunya OutBond. Teman-teman Korsa dipercaya untuk merancang kegiatan ini. Hari minggu diawali dengan hujan gerimis, lalu panas, dan gerimis lagi. Gw keliling-keliling tiap-tiap pos untuk memastikan tidak ada yang cidera atau sakit. Siangnya, hujan mulai lebat (dan saya senang) ujan-ujanan di Puncak yang dingin. Penutup outbondnya di daerah aliran sungai di bawah, ditemani hujan dan angin menambah serunya acara siang itu.

Selesai outbond, mandi air panas dan makan siang. mantap kali pun… Bersiap-siap untuk pulang kembali ke Bandung.

Secara keseluruhan acaranya sih lumayan, cuma yang gw liat terlalu lembek kalau mau dijadikan Leadership Camp. Masih banyak peserta yang terkesan ogah-ogahan ga disiplin menjalani acara ini. Dibikin lebih tegas lagi, dengan reward dan punishment, mungkin bisa jadi lebih baik acaranya.

Apapun lah itu, mudah-mudahan bermanfaat… Tul ga??

9 thoughts on “Sebuah Cerita dari Puncak

  1. jadi malu, saya keliatan kayak ogah-ogahan. hehehe

    tapi ya kang, keliatan ogah2an tu belum tentu ga niat. sama kayak orang yang keliatannya urakan, belum tentu isinya mah gitu. tapi tetep sih, keliatan urakan lebih baik daripada ogah-ogahan.😀

    • Kalau ga niat, pasti ogah-ogahan.. hahahahaha, sayang aja sih, menghabiskan uang untuk mendapatkan ilmu, tapi tidak dengan sepenuh hati dijalani…
      Urakan? Nyindir saya ya.. hahahahaha, soalnya perasaan cuma saya diantara peserta yang gondrong, pake sendal, dan ga pernah pake kemeja, kaos doang..
      Kalau kata orang kampung halaman saya mah, “Dont judge a book by it’s cover” (jangan menghukum buku dengan koper..hehehhehe)

  2. Sepertinya seru nih. Selama di kampus awa sepertinya tidak terlalu memanfaatkan acara-acara yang difasilitasi oleh KM, unit-unit, maupun oleh rektorat. Oh alangkah meruginya saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s