Pada suatu Purnama

Bulan penuh bersinar

Seorang Gadis berkerudung putih

duduk termenung menatap keluar jendela

Bulan sangat terang malam itu

menerangi sosok tubuh yang tersandar di tembok

mati tertikam, matanya menatap nanar, memantulkan cahaya bulan

kemeja putihnya basah dan memerah

Cahaya bulan menyelinap ke dalam kamar

mengintip seorang wanita yang menunggangi nafsunya

tersengal-sengal, basah oleh birahi,

terbakar hingga hangus

Sinar rembulan malam ini,

bersusah payah menghangatkan seorang anak

meringkuk di trotoar jalan, berselimutkan debu ibukota

di seberangnya, seorang tua tidur lelap dalam kehangatan rumah

tenggelam dalam mimpi dan kemewahan hidup

Cahaya itu, berpacu dengan mobil-mobil mewah

yang melesat di jalan, lari kesetanan, menggoda maut

panas karena adrenalin, hanyut dalam cengkraman kemudi

Lalu aku berbaring di atap rumahku

menatap bulan yang tertutup awan sebagian

mengintip malu-malu, seperti perawan yang dipingit

bintang-bintang bercengkrama di balik awan

terdengar saja suara tawanya

Aku masih diam menatap langit

lalu menutup mata, membayangkan wajahmu

tawamu, senyummu, cahaya matamu

dan angin malam berhembus, mencoba menyibak selimut awan

menutup selimut mataku

membuka pintu alam mimpi

lalu semua terlelap

……………………………………………………………………………………………………….

dharma poetra