Trip to Sempu Island, The Hidden Paradise

05 Januari 2011,

SMS dari Da Naldo “ Bawa alat tidur, masak, minum, penerangan, air mentah, makanan 5 kali makan, obat pribadi, ponco dan jaket”. Ini bukan SMS jarkom untuk OSpek atau semacamnya, ini perlengkapan untuk Trip ke Pulau Sempu.

Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ini Sempu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata air payau.

Secara geografis, Pulau Sempu terletak diantara 112° 40′ 45″ – 112° 42′ 45″ bujur timur dan 8° 27′ 24″ – 8° 24′ 54″ lintang selatan. Pulau itu memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikepung Samudera Hindia di sisi selatan, Timur dan Barat.

Pulau Sempu dapat ditempuh dari Malang melalui Pantai Sendang Biru, dan penyeberangan menggunakan perahu nelayan, serta mendapat perijinan.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sempu

 

Gw kebetulan diajak untuk turut serta trip ke P. Sempu ama si Bowo. Katanya sih bareng dosen Kimia. Eh, tapi ternyata si Bowo nya ga jadi ikut. Perjalanannya direncanakan sekitar 5 hari p-p.

10 Januari 2011,

kita ngumpul di sekre Amisca jam 13.00 siang, kenalan ama temen-temen seperjalanan. Jam 14.15 berangkat ke Stasiun Bandung, menunggu KA Malabar Ekspress mengantarkan kami menuju sebuah perjalanan yang tak terlupakan.

22.30 Malabar Ekspress

Angin malam menampar-nampar muka dari jendela gerbong yang terbuka. Sebagian penumoang sudah tenggelam dalam mimpi dan perjalanan menuju P. Sempu masih jauh. Baru 7 jam perjalanan, bersama teman2 baru, kenalan baru. Rencana gw yang ingin trip ke sempu pada libur lebaran lau batal, dan sekarang akhirnya terlaksana. Rasanya pasir putih, angin laut, dan laut jawa sudah memanggil-manggil ke dalam pelukannya.

Tian, Kevin, Boim, Doni, Fainan, Pak Bambang (ternyata beliau seumuran ama Uda gw yg sulung, haha), Adit, Da Naldo, dan Salim yang belakangan nyusul di Malang, teman seperjalanan petualangan kali ini. Tawa canda tak henti-henti mengalir selama perjalanan. TTS pun menjadi kawan pengusir kebosanan selama perjalanan. Iya, buku TTS yang dibeli di stasiun, yang (dulu) ada hadiah stiker untuk mengobati sakit mata.

11 Januari 2011

03.00 Stasiun Madiun

“Nasi Pecel Anget, nasi pecel anget” teriak mas-mas pedagang merayu-rayu perut yang tiba-tiba berontak minta diisi. Entah Sarapan, makan malam, atau sahur, yang penting bisa menenangkan si daerah Sumatra Tengah yang bergolak ini. Tiba-tiba setelah makan, Doni kasak-kusuk nyari rokoknya. Entah hilang kemana, tapi rokok yang lain masih ada tergeletak di sana, hanya rokoknya yang raib. “jangan-jangan loe mimpi dan ngelempar rokok itu keluar jendela don..” kata yang lain ngegodain doni. Dan bener, rokoknya ternyata jatuh di bawah kursi. Setengah bungkus Djarum Super ga jadi raib.

07.50 Stasiun Kepanjen

Rombongan turun di Stasiun Kepanjen, nyewa angkot ke Turen (si Salim disuruh nyusul ke sana), sarapan yang murahnya bener-bener bikin heran (Nasi rawon + bakwan jagung+ es the Cuma 6500)  dan langsung meluncur ke Sendang biru sebelum akhirnya Nyebrang ke pulau Sempu.

11.30 Sendang Biru

Angkot yang sempit terguncang-guncang selama perjalanan menuju Sendang Biru. Mendarat, istirahat sebentar, beli Ikan laut untuk dibakar ntar untuk makan malam. Oke, saatnya menyeberang menuju pulau Sempu. Gw sama sekali ga punya bayangan trek seperti apa yang akan menanti. Udah pernah baca sih, catatan perjalanan lain yg udah duluan kesana, katanya treknya cukup berlumpur. Gw kesana ditemani si Red Rose, Carrier Merah maroon gw, dan pake sandal gunung. Pukul 13.00 kita mulai berjalan menuju Segara Anakan. Treknya bener2 berlumpur, licin, dan emang ga layak diterjang pake sandal. Seperempat perjalanan terakhir, sandal gw nyerah, setelah selalu copot2 mulu, akhirnya nyekermen aja. Lumayan lah, nyiksa kaki. Apalagi si Doni ya, yg dari awal udah nyeker karena sendalnya emang ga layak untuk dipake trekking kek gitu.

Ransel di punggung membebani pundak. Letih, lelah, kotor berlumpur. Tapi semuanya terbayar lunas ketika melihat pemandangan yang terbentang di Segara Anakan ini. Sepotong surga terjatuh di Laut Jawa. “finally”, mungkin itu yang ada di pikiran ketika kaki menginjak pasir pantai. Istirahat, membasuh badan, dan mulai memasang tenda.

Badai… hujan badai menerpa, menampar-nampar, mengkhawatirkan. Untunglah hanya sebentar, dan hanya gerimis yang menemani senja itu. Makan malam disiapkan. Ikan yang dibeli di Sendang Biru mulai dibakar, nasi sedang dimasak. Hanya makan malam yang sederhana, nasi putih, ikan bakar, dan kuah kaldu. Tapi cukup mengganti energy yang hilang selama perjalanan tadi siang.

22.00 Segara Anakan

Makan malam sudah selesai, kopi telah diminum, rokok pun telah dihisap. Badan harus diistirahatkan, dan mata sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Mari menyusup dalam sleeping bag, pejamkan mata, dinina-bobo kan oleh desir angin dan deru ombak. Tawa canda disudahi terlebih dahulu. Langit Segara Anakan yang gelap menjadi selimut, pasir putih alas tidur di alam yang besar ini. Mendengkur karena lelah, gelisah akibat binatang-binatang kecil yang mencari rejeki dari tubuh-tubuh yang sedang mengunjungi alam mimpi.

12 Januari 2011

05.00 Segara Anakan

Fajar telah menyingsing, Subuh pun telah tiba, perlahan mata mulai membuka. Saatnya Sholat Subuh dan menikmati kopi panas ditemani asap tembakau.

Sarapan disiapkan, dan yang lainnya menikmati pemandangan di bukit karang. Nasi putih, ikan asin bakar, sarden, dan mie rebus untuk mengisi lagi tenaga menuju perjalanan pulang.

08.00 Segara Anakan

Duduk di tepi pantai, menikmati sepotong Surga yang terjatuh di laut Jawa ini. Bukit karang yang mengelilingi Segara Anakan mempesona dan memikat. Air laut yang jernih memantulkan kebesaran Ilahi. Saat itu, tidak ada rombongan lain yang mengunjungi Segara Anakan, hanya kami. “that’s what they called paradise” ujar Salim dengan (sok) bijaknya. Pulau tak berpenghuni ini bagaikan sepotong intan yang belum diasah, tapi sudah memancarkan kilauan indahnya.

Hei, ayo menikmati sejuknya Air Laut, setelah puas bermain bola di pantai. Tak satupun yang tidak nyebur. Bahkan yang tidak bisa berenang sekalipun. Tidak terlalu dalam kok sebagian besar danau asinnya. Sekitar satu setengah meter-an lah kira-kira. Main-main di air, berfoto, main lagi di air. Perjalanan pulang? Ntar aja deh dipikirin.

10.30 Segara Anakan

Oke, saatnya bersiap-siap pulang. Bersihkan lagi semua sampah-sampah yang ada, masukkan semua barang ke dalam ransel, dan perjalanan pulang dimulai. Treknya agak lebih kering dibanding kemarin. Perjalan pulang lebih cepat, walau lelah tidak bisa dihindari.

Merapat di Sendang Biru, ngaso sejenak sambil menikmati es cincau yang menyegarkan. Saatnya kembali. Bukan, bukan ke Bandung. Kita mampir dulu di Malang, di rumah adiknya Pak Bambang, daerah Plaosan Timur. Mandi, hal yang wajib, rambut panjang ini sudah meronta-ronta minta dibersihkan dari pasir, lumpur yang melekat, badan asin bergaram air laut. Segar, dan rileks setelah badan bersih.

Makan malam dihidangkan, walau hanya dengan Nasi, Ikan Asin, Tempe Goreng, Sayur Lodeh dan Sambel Cobek (tidak lupa rendang dari Da Naldo dan Tian). Sebenarnya bukan “walau hanya” sih, udah cukup mewah dan nikmat banget.

Obrolan malam berlanjut. Tawa canda mengalir, seakan lupa lelahnya perjalanan. Tapi sekali lagi, badan harus segera diistirahatkan. Asam laktat yang menumpuk di setiap inci badan ini harus dialirkan lagi.

13 Januari 2011

05.00 Plaosan Timur, Malang

Bangun tidur bukannya badan makin rileks, yang ada pegal-pegal sekujur badan. Kayaknya harus dibawa jalan-jalan ringan di kota Malang. Setelah sarapan Nasi Pecel, kami menuju Pusat Kota Malang, mencari buah tangan untuk orang-orang yang dikasihi. Keripik buah-buahan khas Kota Malang, Apel Malang, menjadi bawaan pulang ke Bandung. Oke, saatnya kembali ke Bandung dan melanjutkan aktivitas.

15.00 Stasiun Kota Malang

Menanti Malabar Ekspress lagi, yang akan mengantarkan kami kembali ke Kota Kembang. 15 jam lebih perjalanan di kereta menanti. Tawa canda dan cerita-cerita masa remaja mengusir kebosanan selama perjalanan. Humor-humor “stensilan” mengalir deras keluar, maklumlah, rombongan yang isinya lelaki semua. Tidak lupa, TTS pun ada, supaya tidak garing.

14 Januari 2011

08.30 Stasiun Bandung

Udara pagi kota Bandung menyapa, mengucapkan Selamat Datang kembali di kota Kembang. Rombongan kami langsung menuju kampus, ngumpulin foto-foto, dan melaksanakan satu “Misi” lagi. Hehehehe.

Itulah, walau hanya beberapa hari tapi akan menjadi sebuah halaman khusus dalam Album Kehidupan. Toh hidup itu adalah sebuah petualangan, dan perjalanan mencari kearifan kehidupan tak pernah berhenti.

 

Keterangan:

Biaya transportasi Bdg-Sempu-Bdg

KA Malabar Ekspress BDG-MLG                : Rp. 90.000/org

Angkot Kepanjen-Sendang Biru                : Rp. 250.000/10 org

Sewa perahu pp                                               : Rp. 100.000/10 org

Angkot Sendang Biru-Malang                    : Rp. 325.000/10 org

KA Malabar Ekspress MLG-BDG               : Rp. 100.000/org

Total                                                                     : Rp. 257.000/org

16 thoughts on “Trip to Sempu Island, The Hidden Paradise

  1. siip! Emang pintar menyusun kata uda satu ni! Gk sabar nunggu perjalanan berikutny ka., pasang foto lha skalian ka laporanny, to make everyone really know when we said paradise,we really mean it.,

  2. Wah, setelah sekian lama, akhirnya baru tahu gw ada rincian ceritanya, salut lah ama Uda Eka, nih ga sengaja nemu artikelnya waktu iseng2 search google. Kalau ada umur panjang nanti kita berjumpa lagi Uda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s