Cantik

cantik can.tik
[a] (1) elok; molek (tt wajah, muka perempuan); (2) indah dl bentuk dan buatannya: meja ini — sekali

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/cantik#ixzz1RXO7m0lW

Pertanyaan yang selalu muncul, bagaimana kita mendefenisikan cantik? Kali ini aku berbicara tentang kecantikan pada wanita, bukan tentang alam, ataupun hal lain. Benar kata ujar-ujar “Cantik itu relatif”. Di Indonesia, umumnya wanita dikatakan cantik jika ia berkulit putih mulus, tapi di negara Barat, para wanita tergila-gila menggelapkan kulitnya supaya ingin terlihat cantik. Di sebuah negara di Afrika, seorang wanita disebut cantik apabila ia berbadan subur/ gemuk. Ada suku yang memanjangkan lehernya dengan cincin untuk dianggap cantik.

Kecantikan itu seperti kebenaran, menurut pada pendapat orang banyak. Tapi berhakkah kita mengatakan seorang wanita itu tidak cantik karena kulitnya gelap, karena mulutnya agak tebal, atau karena hidungnya tidak mancung?

Ada sebuah kutipan yang menarik “Semua wanita itu terlahir cantik, dan kadang sudut pandang kecantikannya tidak bisa dilihat semua orang”. Menurutku, itu bukan hanya kecantikan fisik – yang sangat relatif – tapi lebih ke kecantikan jiwa (inner beauty). Mungkin kalian pernah melihat seorang wanita yang menurut pandangan umum tidak cantik, tapi menyenangkan dijadikan teman curhat, atau bisa menjadi teman berbagi pikiran kalian.

Kecantikan fisik sebenarnya hanyalah semu belaka. Seiring bertambahnya usia, kecantikan fisik akan memudar dengan sendirinya. Tapi kecantikan jiwa susah untuk berubah. Kalau aku, sangat bikin il-feel klw ada cewek cantik fisik, tapi judesnya minta ampun, atau sombongnya minta dihajar. Hahaha. Tidak sedikit orang yang terjebak kecantikan fisik, dan akhirnya menyesali apa yang telah dia pilih. Tidak sedikit pernikahan berujung selingkuh karena sang istri telah mulai memudar kecantikannya. Usia 40-an bagi wanita merupakan mulai memudarnya kecantikan, tapi bagi laki-laki itu adalah usia matang mereka.

“Don’t judge a book by its cover”, itu sangat benar, tapi susah. Walau bagaimanapun, kesan pertama ketika bertemu seorang wanita adalah tampilan luarnya. Sesuai ujar-ujar Minang “Mato condong ka nan rancak, lidah condong ka nan lamak” (Mata cenderung ke yang cantik, lidah cenderung ke yang enak”.

Hati dan jiwa, kecantikan pada dua hal itu yang merupakan kecantikan tanpa tanding. Bukankah Rhoma Irama pernah bersenandung “Hanya istri Shalihah perhiasan terindah”. Keimanan merupakan bentuk kecantikan hati kan?

Jangan terpesona kecantikan fisik, tapi gali lebih dalam kecantikan hati dan jiwa. Kalau kalian beruntung, mudah-mudahan mendapatkan pasangan yang cantik fisik dan jiwa. Dan mudah-mudahan gw termasuk yang beruntung itu. Kalaupun salah satu, kecantikan jiwa lah yang utama. Setuja (SETUJu dan yA) kan?

Untuk Kawanku

Selamat malam

Mari bercerita lagi

tentang hari-harimu, tentang aku, kamu, dia, dan lainnya

 

Ditemani secangkir kopi panas, wangi mengepul.

Bir dingin?

Terdengar cukup nikmat di malam yang cukup panas ini,

tapi maaf, aku tidak minum

 

Masihkah kau terjebak diantara si Rubah dan si Kucing?

Memang tidak mudah melupakan cerita yang kau susun

beberapa belas purnama.

 

Ah sudahlah, nikmati saja malam ini

lebih baik kita bercerita saja

tentang negeri kita yang semakin kocak.

 

Di negara manalagi kau akan menemukan lumpur membanjiri kota,

tiba-tiba menyembur dari dalam tanah seperti mata air?

Di negara mana lagi akan kau temukan sebuah berita tiba-tiba mendominasi

mengalihkan perhatian dari berita sebelumnya?

Tak akan pernah kau temukan di tempat lain, tiba-tiba seseorang lari ke luar negeri

hanya untuk memeriksa tukak lambung.

Hanya disini, pemimpin yang katanya pelayan rakyat,

tapi malah bikin repot rakyatnya saat dia berkunjung.

 

Jenuh?

Sama, aku juga jenuh dan muak.

Tapi apa hendak dikata

Hanya disini tempatku, kamu, dan mereka berpijak.

 

Aku tahu kamu gatal hendak bergerak

tapi harus bagaimana.

Kau punya anak dan istri dengan segala kebutuhannya..

Atasanmu berkacak pinggang di saat dead-line.

Mertuamu dirawat karena stroke.

 

Engkau terikat diantara idealisme dan realita.

Engkau mantan pejuang, tombak terdepan setiap aksi

sekarang menundukkan kepala di depan orang-orang yang kau teriaki dulu

 

Lihat, perutmu semakin membuncit

serupa bapak-bapak yang engkau ejek-ejek dahulu

Suaramu semakin pelat sobat,

langkahmu semakin lambat,

otakmu tumpul matamu kabur buram oleh jabatan.

tumpul karena lagu-lagu indah itu.

 

Kenapa engkau malu bercerita tentang masa lalu kita?

saat-saat kita bergerak, berteriak bersama.

Ingatkah engkau lagu yang kita nyanyikan dulu?

“Kita muda, beda dan berbahaya”

 

Engkau sekarang lebih asyik bercerita

tentang proyek 9 digitmu, hobi barumu, cicilan rumah, atasan.

Tak apa, aku tetap jadi pendengar setiamu

sampai kau berbuih bercerita.

 

Tak apa, aku masih disini kok,

menantimu dikedai kopi ini.

Duduk diam dalam damai,

sambil menyesap kopi kesukaanku

Hitam, pahit, dan panas.