Cinta dan Keyakinan

Hanung bikin film yang kontroversial lagi. Setelah menuai banyak kecaman dengan (?) kini muncul lagi film Cinta Tapi Beda. Film ini bercerita tentang seorang gadis Minang Katolik yang berpacaran dengan seorang pemuda Jawa yang Islam. Resensi lengkapnya silakan cari sendiri di internet.

Saya sendiri belum nonton filmnya, tapi baca banyak artikel tentang film ini, pro-kontra dari berbagai pihak, bahkan ada yang menuduh chauvinis. Well, saya coba beri komentar dan pendapat senetralnya dan seilmunya saya tanpa mencoba menghakimi salah satu pihak.

Bismillah

Well, kenapa kontroversial, karena Hanung dianggap mengangkat cerita seorang gadis Minang beragama Katolik. Mungkin sebaiknya diganti menjadi seorang gadis asal Sumatera Barat yang beragama Katolik. Soalnya setahu saya dan selama ini saya sedikit banyak belajar dan membaca bahwa di adat Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat Bersendikan Syariat, Syariat Bersendikan Kitabullah). Jadi orang Minang itu sudah pasti Islam, kalau dia bukan Islam, berarti bukan orang Minang, tapi warga Sumatera Barat.

Saya punya kok kawan-kawan di Sekolah dulu di Padang yang bukan beragama Islam, dan memang saya belum ketemu sih dengan orang-orang berdarah Minang yang tidak beragama Islam. Tapi dengan falsafah adat seperti itu, mutlak sebenarnya bahwa orang Minang itu Muslim, kalau dia berdarah Minang tapi tidak Muslim tidak akan diakui sebagai orang Minang.

Well, saya cek lagi Wiki dan resensi lainnya tidak ada tulisan yang bilang bahwa sang Gadis adalah Gadis Minang, tapi Gadis Asal Padang. Bahkan Hanung sendiri di akun Twitternya telah menjelaskan dengan terang dan jelas. Mari kita cermati lagi deh resensinya, atau yang udah nonton filmnya (baik di bioskop ataupun bajakan) coba berpikiran terbuka tentang masalah gadis Minang atau asal padang kah yang diangkat disini.

Itu Poin pertama saya.

Poin kedua tentang Cinta yang berbeda keyakinan. Ini lho poin utamanya.

Ini bukan film pertama tentang hubungan berbeda keyakinan. Sebelumnya juga ada film Cin(t)a yang mengangkat masalah yang sama.

Saya bukan orang-orang yang tidak mau bergaul dengan teman-teman berbeda keyakinan. Saya punya banyak malahan, dari yang cantik sampai yang paling cantik. Hehehe. Tapi saya orang yang tidak sepakat dengan pernikahan beda agama. Saya Muslim (Insya Allah) dan saya sedang belajar mendalami agama saya.

Ada beberapa pendapat tentang Hukum Menikahi Wanita Ahli Kitab, bisa di lihat di sini , di sini dan di sini. Link yang saya berikan hanya sebagian artikel tentang pernikahan dengan Wanita Ahli Kitab. Ini pernikahan laki-laki Muslim   dengan wanita ahli kitab ya (nasrani atau yahudi), bukan dengan wanita beragama lain. Wanita Muslim harus menikah dengan Laki-laki Muslim.

IMO, yang seorang muslim, wanita Muslim adalah untuk Laki-laki Muslim, begitu juga sebaliknya. Ditakutkan pernikahan dengan Wanita Ahli Kitab akan menimbulkan fitnah bagi dirinya, keluarganya dan anak-anaknya. Ditakutkan keturunannya akan mengikuti agama ibunya, dan itu akan menjadi tanggungan untuk Suami/Bapak. Menjadi Suami/Bapak bukan hanya menanggung rezeki lahir bathin keluarganya, tapi juga tanggung jawab menjadi Imam untuk keluarganya sehingga keluarganya tidak menjauhi Diin-Nya.

Ini kan masalah Cinta masbro? Benar, saya sepakat ini masalah cinta. Ingat, cinta kepada-Nya lah yang utama. Apakah kita (umat muslim khususnya) ragu akan kekuasaan Tuhan kita sehingga tidak yakin Ia akan memberikan jodoh yang tepat untuk kita? Jika kita (kamu dan saya) mencintai seseorang, cintailah karena Tuhanmu. Cintailah seseorang sehingga kita menjadi lebih dekat kepada-Nya. Sepanjang pemahaman saya dalam Islam, itulah cinta sejati.

Well, Hanung mungkin hanya ingin mengangkat realita yang terjadi di masyarakat. Ada akibat yang besar dalam penyampaian film ini. Ditakutkan tangkapan penonton bahwa film ini mendukung cinta berbeda keyakinan apalagi banyak penontonnya adalah remaja.

 

Salam Damai