Menjadi Relawan

Relawan adalah orang yang bekerja tanpa mengharapkan imbalan atau upah. Sepenuhnya karena keinginan untuk menolong. Terkadang diartikan orang yang bekerja serelanya.

Orang yang menjadi relawan, apalagi yang bernaung di bawah organisasi relawan tidak bisa berpikiran bahwa ia bekerja serelanya saja. Tidak bisa berpikir bahwa ia akan bekerja sekiranya sedang ingin saja. Namanya juga relawan, ya serelanya aja dong.

Ketika seseorang memutuskan bergabung dengan organisasi relawan, secara otomatis ia akan terikat dengan organisasi tersebut dan peraturan serta ketentuannya. Idealnya, tidak bisa ia seenaknya muncul dan menghilang d organisasi tersebut. Ia punya tanggung jawab.

Berarti ia tidak lagi dengan kerelaan hati dong menjadi relawan?

Ketika seseorang menjatuhkan pilihan bergabung menjadi relawan, ia siap dengan segala tanggung jawab dan resiko pilihannya. Berarti, sebagai manusia dewasa yang berakal, maka ia akan bersedia mengemban tanggung jawab yang ia terima sebagai seorang relawan.

Jika kita belum mampu untuk menghadapi konsekuensinya, sebaiknya persiapkan diri dahulu. Karena amanat yang nanti akan kita terima dan jalani, bisa jadi nantinya lebih menyita waktu.

Khususnya kepada relawan kemanusiaan, kepercayaan orang-orang terletak pada kemampuan untuk mengemban amanah. Menjadi relawan kemanusiaan terkadang menjadi pilihan yang tidak gampang. Berat bukan karena pekerjaannya, tapi pada tanggung jawab yang diterima.

Pelaksanaan program/kegiatan kemanusiaan umumnya didanai oleh sumbangan dari orang/instansi. Akan sangat berbeda pelaksanaan dan tanggung jawabnya seperti mengadakan sebuah konser musik yang spektakuler.

Jadi, sudah siapkah menjadi relawan?

28 Januari 2014

Fiksi: Dongeng

Aku tumbuh dan besar diantara tumpukan buku-buku. Ayahku mempunyai perpustakaan pribadi yang besar. Ratusan bahkan ribuan buku ia miliki. Beliau mendidikku dengan buku, mengisi diriku sehingga mencintai buku-buku.

Diantara buku-buku ayahku, cerita dongenglah yang kusukai. Cerita tentang putri raja yang diselamatkan oleh pangeran tampan berkuda putih. Cerita tentang pangeran yang dikutuk oleh penyihir yang iri akan kebahagiaan keluarga kerajaan. Cerita yang selalu berakhir bahagia.

Semakin dewasa, semakin aku menyadari ada tokoh-tokoh yang terlupakan dalam setiap cerita. Pemeran pembantu, kalau di film. Tidak ada yang menceritakan bagaimana nasib kurcaci yang menemani putrid di pengasingan, tidak ada yang menceritakan nasib hewan-hewan yang memberikan hiburan pada pangeran yang dikucilkan.

Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa  pelawak istana atau Joker ternyata mencintai Putri Raja amat sangat dalam. Tidak ada yang menyadari bahwa bertahun-tahun ia menghibur keluarga kerajaan demi Putri Raja yang berwajah elok nan baik budi.

Pada akhirnya, Joker memendam dalam-dalam rasa cintanya kepada sang putri. Joker yang setia menghibur sang putri setiap kali tenggelam dalam kesedihan. Jokerlah yang menghadirkan senyum sang putrid saat mengetahui bahwa pangeran pujaan yang ia nikahi berselingku dengan putrid seorang bangsawan.

Joker yang tulus mencintai dan tidak pernah mengharapkana cintanya berbalas. Joker yang sangat berbahagia melihat senyuman pujaan hatinya.

Aku mulai menggoreskan penaku di kertas putih, menuliskan dongeng tentang Pelawak yang mencintai dalam diam.

 

29 Januari 2014

Malam

Malam menggelap larut, kantuk berangsur lelap.

Waktu berangsur –angsur menuju, diwakili

Detak detik detak detik detak tiktak tik tak tik

Pena ku bergerak bergegas seakan dipacu

Tengah malam segera datang

 

Sesekali nyamuk berderu

Entah memang mencari makan, atau hanya sekedar mengganggu

karena iri saja akan kedamaianku yang tenang.

 

Mata terpejam, tapi otak seakan terus melaju

Berburu susun kata-kata, kalimat dan cerita.

Gelisah, karena lelah

 

Lambat laun lambat laun

Satu domba……

Dua domba…….

Tiga domba……

..

..

…..

……

dua ratus empat puluh enam ribu tiga ratus sembilan puluh lima domba

27 Januari 2014

Rindu

Aku merindukan gemericik sungai nan jernih di kaki gunung itu. Membasuh badan dengan air sungai yang dingin. Lalu kembali ke hangatnya tenda dan kopi yang menyegarkan.

Aku merindukan mengarungi sungai yang deras memacu adrenalin. Basah oleh keriangan dan semangat. Lelah tapi tertawa puas sesudahnya.

Aku merindukan tebing terjal untuk kupanjati. Bergantung di ketinggian, berkeringat dan lelah gemataran. Lalu terbayar ketika mencapai titik tujuan.

Aku merindukan menggendong ransel penuh beban. Kehujanan, kepanasan mendaki puncak gunung. Beristirahat ditemani api unggun yang terbakar riang dan tertidur lelap di bawah langit berbintang.

Aku merindukan hutan, sungai, tebing dan gunung. Aku rindu petualangan.

Aku merindukan menikmati secangkir kopi bersama sahabat. Berbagi cerita, tawa dan duka.

Tapi aku lebih merindukanmu. Kamu, yang memiliki tahi lalat di bawah mata kananmu. Kamu yang saat ini tertidur lelap memeluk boneka beruang kesayanganmu.

Bersabarlah, karena sebentar lagi aku akan pulang. Setelah itu, kita tuliskan cerita kita.

Gondrong

Sejak lepas dari sekolah menengah dan memulai kuliah, penulis memutuskan untuk memanjagkan rambut. Dulu karena terinspirasi dari seorang kakak dan juga sebagai pertanda bebas dari aturan-aturan semasa sekolah menengah. Penulis memanjangkan rambut, dipotong pendek, dipanjangkan lagi dan dipotong lagi.

Pada akhirnya gondrong menjadi sebuah identitas, bukan gaya-gayaan. Gondrong menjadi sebuah cirri khas penulis, bahkand  lingkungan asrama beberapa teman penulis memanggil dengan panggilan “Gondrong”. Gondrong menunjukkan kebebasan yang bertanggung jawab.

Penulis ingin mengubah paradigma bahwa lelaki gondrong tidak selalu preman dan berangasan. Leaki berambut panjang juga bisa beraktifitas di masjid, menjadi relawan.

Tapi ternyata tidak semudah itu. Pandangan orang kebanyakan tidak semudah itu diubah. Harus melalui sebuah pembuktian yang besar.

25 Januari 2014

Hujan

Penulis merupakan salah satu dari sekian orang yang mencintai hujan. Hujan itu menenangkan, menyejukkan dan mendamaikan. Aroma tanah yang disiram hujan itu benar-benar menenangkan hati. Suara tetesan hujan dan kesejukannya seakan membuka pintu bagi kata-kata untuk mengalir dalam bentuk tulisan.

Hujan adalah berkah. Dalam hujan ada hidup untuk tumbuhan, karena hujan ada sungai yang mengalir bergemericik riang mengairi sawah, lading dan tempat hidup ikan-ikan yang gemuk dan bergizi.

Lalu bagaimana dengan banjir dan longsor akibat hujan? Bukankah itu berarti hujan membawa bencana?

Kita melihat masalah banjir dan longsor dari sudut yang keliru. Banjir dan longsor memang karena air hujan, tapi sesungguhnya hujan hanyalah pemicu. Penyebab utama banjir sesungguhnya adalah kita (manusia) sendiri.

Banjir adalah genangan air yang berlebih karena tidak terserap oleh tanah. Banjir terjadi karena lahan penyerapan air hujan telah habis atau berkurang drastic, digantikan oleh pemukiman yang ditutupi semen. Pohon-pohon yang kemudian mengikat air juga hilang, digantikan oleh pertokoan, jalan raya dan pusat kemewahan akibat pembangunan kota yang tidak terkendali.

Hutan yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan air, habis digunduli untuk diambil kayunya secara serakah. Hutan habis dibabat dan dijadikan tempat peristirahatan yang bahkan hanya dipakai beberapa kali dalam setahun empunya.

Longsor pun serupa, tanah yang seharusnya stabil ditopang oleh akar-akar pohon, sekarang menjadi gampang tergerus air akibat hilangnya pepohonan.

Masihkan kita menyalahkan hujan? Percayalah, hujan adalah berkah. Dalam hujan ada rezeki yang tersimpan.

24 Januari 2014

Menyesal

Pernahkah pembaca menyesali apa yang telah terjadi dalam hidup anda? Lalu berandai-andai bahwa semua akan berbeda jika kita bertindak hal yang lain. Pada akhirnya kita hanya akan sibuk menyalahkan diri sendiri dan/atau orang lain atas apa yang terjadi pada diri kita sekarang.

Sibuk menyesali masa lalu dan menyalahkan sesuatu/seseorang tidak akan mengubah nasib kita sekarang. Akibatnya kita akan makin terpuruk dan tidak mampu bangkit untuk mengubah kondisi sekarang.

Apa yang telah terjadi, biarkanlah terjadi. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran dalam hidup, jangan sampai terjebak dua kali oleh kesalahan yang sama. Dalam hidup, yang terpenting bukanlah berapa kali kita jatuh, tapi berapa kali kita bangkit dan belajar dari kejatuhan/kegagalan kita tersebut.

Ambil sisi positif dari kondisi kita sekarang, yakinlah bahwa Tuhan punya skenario yang indah dan terbaik dalam hidup kita. Misalkan penulis sendiri, walaupun penulis tidak menyelesaikan kuliahnya, tapi penulis berkenalan dengan lingkungan Masjid Salman ITB, masjid kampus, menjadi relawan, bertemu kawan-kawan yang luar biasa dan belajar kearifan hidup dari mereka.

Jika kita sibuk mengambil sisi positifnya, hidup kita akan menjadi suram dan selalu pesimis. Hilanglah nikmatnya hidup, hilang kemampuan kita untuk mensyukuri apa yang telah kita punyai dan hilang pula kebahagiaan hidup kita.

Jadi jangan takut gagal, tapi takutlah tidak mampu bangkit setelah gagal.

Salam

23 Januari 2014