Bimbel vs Sekolah

Selama empat bulan ini, dari bulan Oktober 2013 hingga Januari 2014, penulis menjadi staf pengajar di sebuah bimbingan belajar di kotamadya Solok, Sumatra Barat. Rumah Belajar Kamil namanya, sebuah bimbel dengan konsep rumah dan hubungan yang akrab antara siswa dan pengajar. Tapi bukan itu yang akan penulis bahas di tulisan kali ini.

Bimbingan belajar (bimbel) idealnya bertujuan melengkapi dan memperkaya siswa dalam memahami mata pelajaran. Jadi ketika di bimbel, siswa hanya memperkaya diri dengan mengerjakan soal-soal yang lebih rumit karena dasar dan pemahaman awalnya sudah dijelaskan di sekolah. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian.

Staf pengajar di bimbel pada akhirnya harus mengulang lagi pelajaran dan konsep dari awal. Siswa seakan datang ke kelas tanpa ada pemahaman sama sekali tentang bab/topik yang dipelajari. Ini berlaku untuk sebagian besar siswa bimbel disini. Tentu saja ini menimbulkan pertanyaan “mereka (siswa) belajar apa aja sih di sekolah?”

Jika hanya sebagian kecil yang tidak mengerti, bisa dipahami bahwa mereka tidak menyimak dan memahami penjelasan gurunya. Jika sebagian besar yang tidak mengerti, berarti jadi pertanyaan besar juga, bagaimana cara gurunya mengajar di sekolah?

Setelah berbicara panjang lebar dengan beberapa orang murid, kesimpulannya adalah guru-guru seakan tidak niat untuk mengajar. Ada sebuah bab di pelajaran matematika dimana para murid disuruh belajar sendiri, lalu presetasikan di depan kelas. Jika tidak ada pertanyaan dari teman-temannya, dianggap bab/subbab itu telah dimengerti. WTH..!!

Ada lagi cerita tentang pemakaian bahasa/kata-kata yang tidak pantas oleh seorang guru kepada muridnya. Tentu saja siswa di awal sudah terlebih dahulu dongkol, sehingga terjadi mental block dan semua pelajaran yang diterangkan oleh guru tersebut tidak bisa diterima dengan baik. Bagaimana mungkin seorang guru sebagai pendidik mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dan tidak mendidik kepada muridnya. Bukankah menjadi guru berarti menjadi contoh dan suri teladan?

Yang lebih parahnya lagi, ada oknum guru yang jika mengikuti les pelajaran tersebut dengan dirinya, dijamin nilai mata pelajaran tersebut akan tinggi. Oknum guru tersebut, sengaja menerangkan pelajaran di sekolah dengan setengah hati sehingga banyak siswa yang tidak mengerti. Lalu di tempat les yang ia kelola, ia jelaskan sejelas-jelasnya pelajaran tersebut. Bahkan ia memberikan contoh soal yang sama persis dengan soal yang akan keluar di ulangan harian atau mid semester.

Bagaimana mungkin siswa bisa belajar dengan baik jika kondisi kegiatan belajar mengajarnya seperti itu? Bagaimana mungkin siswa akan mengerti dan paham akan pelajaran, jika metode pengajarannya seperti itu. Berarti kan seperti memaksa murid untuk mengikuti bimbingan belajar, sementara tidak semua siswa orangtuanya mampu untuk mendaftarkan anaknay ke bimbingan belajar. Masuk SMA aja udah syukur.

Oke, mungkin metode belajar sekarang adalah mendidik siswa untuk mau dan mampu belajar sendiri, tapi tidak dengan cara seperti itu juga. Idealnya, guru mengajarkan konsep sehingga nanti siswa mau dan mampu untuk mengembangkan sendiri. Tetapi kenyataannya konsep itu sendiri yang setengah-setengah diberikan. Konsep pembelajaran sendiri itu juga tidak bisa diterapkan secara merata di seluruh daerah, tidak semua daerah mempunyai akses dan kelengkapan buku dan informasi.

Dimana salahnya? Siapa yang salah?

Jika kita hanya berpikir mencari siapa yang salah, maka tidak akan ada solusi yang kita dapatkan. Yang penting adalah dengan kondisi sekarang, baik guru, siswa dan orang tua sama-sama paham bahwa proses belajar itu merupakan kolaborasi semua pihak.

Bagaimana cara kita menanamkan pemahaman itu? Silahkan kita cari solusinya masing-masing.

Salam

 

20 Januari 2014

2 thoughts on “Bimbel vs Sekolah

  1. berarti siswa ke sekolah hanya untuk berteman dengan siswa yang lain.

    dan waktu yang dinanti-nanti oleh para siswa adalah waktu sebelum belajar, saat istirahat dan saat pulang ke rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s