Gondrong

Sejak lepas dari sekolah menengah dan memulai kuliah, penulis memutuskan untuk memanjagkan rambut. Dulu karena terinspirasi dari seorang kakak dan juga sebagai pertanda bebas dari aturan-aturan semasa sekolah menengah. Penulis memanjangkan rambut, dipotong pendek, dipanjangkan lagi dan dipotong lagi.

Pada akhirnya gondrong menjadi sebuah identitas, bukan gaya-gayaan. Gondrong menjadi sebuah cirri khas penulis, bahkand  lingkungan asrama beberapa teman penulis memanggil dengan panggilan “Gondrong”. Gondrong menunjukkan kebebasan yang bertanggung jawab.

Penulis ingin mengubah paradigma bahwa lelaki gondrong tidak selalu preman dan berangasan. Leaki berambut panjang juga bisa beraktifitas di masjid, menjadi relawan.

Tapi ternyata tidak semudah itu. Pandangan orang kebanyakan tidak semudah itu diubah. Harus melalui sebuah pembuktian yang besar.

25 Januari 2014

One thought on “Gondrong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s