MUDIK

JAMAL

Telepon genggamku berdering nyaring. Membangunkan dari mimpi indah setelah sahur. “Ibu”, nama yang tertera di layar telepon genggam.

“Lebaran ini pulanglah nak. Bapak sudah tak mampu bangkit lagi, hanya berbaring di tempat tidur. Keinginan terakhirnya adalah melihat wajahmu sebelum ia meninggal” terisak suara ibu di ujung sana.

Pulang. Kata yang sudah lama kulupakan. Pulang kemana?

Rumah? Rumah adalah tempat hatiku berada, dan itu bukan di kota kelahiranku. Bapak yang menghilangkan kata rumah bagiku di kota itu. Tangis ibu dan adik perempuanku bahkan tidak membuat bapak mengubah pendiriannya. Kutinggalkan rumah tempatku dibesarkan, kuhapus jejakku di kota tempatku dilahirkan.

Jauh merantau ke pulau seberang, ibu dan adik perempuanku yang masih menarik-narik tali rindu. Tanpa sepengetahuan bapak, bebearpa kali aku menghubungi ibu dan adikku. Sesulit apapun hidupku disini, tawa ceria yang kuperdengarkan kepada mereka.

Bertahun-tahun, tak sekalipun bapak menanyakan kabarku, tak pernah menghubungiku. Tentu saja, ia lelaki dengan gengsi setinggi langit. Pantang baginya untuk menarik kembali kata-kata yang pernah ia ucapkan.

Sekarang ia memintaku untuk pulang.

Disinilah aku sekarang, dalam bus yang akan mengantarkanku kembali kepada mereka. Memaafkan? Entah, sekarang di pikiranku hanyalah ingin memperlihatkan wajah kemenanganku kepada bapak. Lihatlah siapa yang akhirnya mengalah.

Tapi kemenangan dari apa? Tidak ada yang menang kurasa. Semua kalah, semua jadi abu lalu penyesalan mengendap di dasar hati.

Apa yang kusimpan selama ini? Dendam? Marah? Kepada siapa?

Aku marah kepada bapak yang mengusirku, aku marah kepada waktu yang melengos melaju tanpa melambat, aku marah pada takdir yang menjebakku di keadaan ini. Tapi aku lebih marah pada diriku sendiri.

Aku bersandar ke jendela bus, lalu memejamkan mata, berharap nanti tiba-tiba semua jawaban akan muncul begitu saja diujung perjalanannya.

 

SHANTI

Hatiku berbunga-bunga menjelang Lebaran tahun ini. Banyak hal yang aku nantikan, banyak hal yang ingin aku lakukan. Mudik tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya statusku masih buruh pabrik, dengan kontrak yang tidak jelas dan gaji yang nyaris tidak mencukupi. Tabungan selalu habis setiap kali lebaran, untuk ongkos mudik, untuk keponakan dan ibu bapak.

Pengangkatanku menjadi tenaga administrasi di pabrik menjadikan gajiku naik dengan kerja yang lebih ringan. Masih ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan kepada ibu dan bapakku. Mas Anto berjanji akan menikahiku tahun ini, bahkan setelah lebaran ini ia akan menyusulku untuk melamarku.

Aku nyaris ketinggalan bus. Semalam Mas Anto menelepon dan kami berbicara hampir semalaman. Sejak ia dipindah tugaskan, sangat jarang sekali aku bertemu dengannya. Setyidaknya seminggu sekali ia meneleponku dan paling sering sebulan sekali ia datang mengunjungiku. Setiap kunjungannya membawa kejutan. Terakhir, sebuket seruni putih tiba-tiba dikirimkan ke kontrakanku. Tak ada kartu ucapan, hanya sms darinya menanyakan apakah kirimannya sudah sampai. Aku kira ia tidak akan datang bulan ini, hanya diwakilkan oleh sebuket seruni itu. Tidak berapa lama ia muncul di depan pintu, memelukku erat dan berbisik di telingaku.

“Maukah kau menikah denganku”

Tersenyum-senyum sendiri aku mengingat momen itu lalu tersadar aku sekarang berada dalam bus. Lelaki di sebelahku terlihat muram. Tanpa berbicara dan dari raut wajahnya aku bisa menebak pikirannya sedang berkecamuk. Kutahan senyumku, biarlah bahagia ini kunikmati sendiri saja.

Kukirimkan pesan singkat ke Mas Anto mengabarkan aku telah berangkat pulang.

 

RUSTAM

Istriku menyusun baju-baju bayi ke dalam koper sambil bersenandung riang, seakan menyanyikan lagu nina bobo kepada janinnya. Anak pertama kami, setelah setahun menikah. Tujuh bulan usia janin buah cinta kami, tujuh bulan juga aku harap-harap cemas akan kedatangan anak pertama ini.

Kupeluk istriku dari belakang, kuusap lembut perut buncitnya.

“Abang akan merindukanmu dik. Dua bulan kau di rumah mama, aku akan kesepian” bisikku.

Ia tersenyum lalu mencium pipiku. “Sabar bang, nanti setelah dedek lahir kita akan berkumpul lagi”

Wanita cantik dan keras kepala ini tak pernah kubayangkan akan menjadi pendamping hidupku. Sama sekali jauh dari tipe istri yang kuimpikan dahulu. Tapi semesta seakan berkomplot membuat kami jatuh cinta. Sebuah pendakian menuju puncak tertinggi di Pulau Jawa yang mempertemukan kami dan di puncak tertinggi itu jugalah aku melamarnya setahun kemudian.

Hobi yang sama, berpetualang dan buku yang menyatukan kami. Indah, aku dan dia berbicara melalui lagu, bercakap melalui tulisan. Terpisah oleh lautan, disatukan oleh tulisan. Tak butuh waktu yang lama untuk menyatakan cinta dan gayungpun bersambut. Lalu inilah, aku dan dia, suami istri.

Hamil besar, Ibu mertuaku menyuruh istriku diam di rumahnya sampai ia melahirkan. Pekerjaanku sebagai reporter membuatku terkadang jarang ada di rumah. Apalagi menjelang lebaran, aku harus siap dipanggil untuk liputan arus mudik dan arus balik. Usia kandungan istriku yang semakin tua siap untuk melahirkan kapan saja. Lebih aman kalau istriku bersama ibu mertuaku.

Aku bersiap-siap mengantarkan istriku ke bandara saat tiba-tiba kudengar suara teriakan istriku dari dapur. Jantungku mencelos, kulihat istriku terbaring terlentang. Ia terjatuh, ada darah mengalir dari sela-sela pahanya.

Aku pangku istriku ke mobil. Rumah sakit terdekat berjarak lima belas menit dari rumahku. Kularikan mobilku sekencang-kencangnya, istriku merintih kesakitan. Aku mencoba menghubungi ibu mertuaku tapi tidak ada jawaban.

Laju sedan hitamku kencang seperti dikejar maut. Waktu sedang bertaruh dengan nyawa mereka. Anak istriku yang sedang dikejar maut. Tak henti-henti aku menyebut nama Tuhan, batinku berteriak keras berdoa memohon keselamatan mereka berdua.

 

DEDEN

Susah payah kutahan mataku agar tidak tertutup. Aku mengantuk, sementara aku masih harus menyetir empat jam lagi. Resiko menjadi sopir bus antar kota, harus menyetir delapan jam tanpa henti, lalu istirahat delapan jam dan kembali menyetir delapan jam lagi. Begitu terus hingga sampai di kota tujuan.

Seharusnya semalam aku tidak mengunjungi pelacur tua itu. Tak sedikitpun aku memejamkan mata, tenggelam dalam samudra birahinya. Tapi setiap kali aku berada di kota ini, selalu ingin mengunjunginya. Matanya yang hitam gelap seakan memaksa untuk merindukannya.

Menjelang hari raya ini berarti masa panen bagi orang-orang sepertiku, yang hidup dari debu jalanan, asap knalpot dan lika-liku jalan. Tak akan ada fasilitas libur lebaran dan tunjangan hari raya. Menjelang hari-hari besar aku menyusuri jalanan mengantarkan orang-orang kembali ke kampung halamannya kembali ke keluarganya.

Keluarga? Istri dan anakku minggat, meninggalkanku setelah aku di pecat beberapa tahun yang lalu. Jalanan yang memberikan kehangatan saat ini, bukan lagi rumah. Perempuan-perempuan bermata jeli yang memberikan kasih sayang, bukan lagi seseorang yang menunggu di rumah.

Apakah aku sedang lari? Lari dari masa lalu yang pahit, lari dari kesepian dan kesendirian. Lari ke satu pelukan ke pelukan pelacur lainnya. Kencang melesat seperti bus ini meninggalkan masa lalu yang terus membayang di kaca spion.

Aku melirik ke kaca sion, penumpang di belakangku tertidur. Yang satu memejamkan mata dengan wajah penuh sesal, dan satu lagi tersenyum seakan menang lotre. Kontras, seperti berada di dunia yang berbeda.

Bunyi klakson nyaring dan panjang menyentakkanku dari lamunan setengah kantuk.

 

USMAN

Bunyi keras berdentum membangunkan setengah tidurku di bale-bale depan rumah. Tersentak, aku berharap pemandangan ini hanyalah mimpi.

Pecahan kaca, potongan logam, asap knalpot, darah dan rintihan kesakitan melebur dalam semua indra. Samar-samar rasanya kudengan tangisan bayi.

 

Bandung, Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s