Kompilasi DharmaFiksi part. 1

Berikut kompilasi cerita (super) pendek yang dipublish di akun tumblrku dengan tag #DharmaFiksi.

Fiksi #1Wajah

Seorang memakai topeng, berubah-ubah sesuai lingkungannya. Ia berganti warna seperti bunglon, berganti wajah dengan cepat. membaur begitu rupa, adaptasi begitu cepat.

Suatu saat ia lupa apa warna aslinya, seperti apa wajah sebenarnya. Ia bongkar2 semua topeng, ganti2 semua warna, tapi terasa pahit palsu getir dusta.

Ketika ia mati, ia masih merasa palsu.

 

Fiksi #2 Penantian

Dengkur rekannya terdengar menembus dinding-dinding kamar. Ia masih duduk termenung, dengan cangklong yang sudah hampir padam api tembakaunya. Serasa maut melambai-lambai memanggilnya, siap menebas dengan sabit besarnya.

Besok pagi ia akan turun ke jalan, ke medan perang menuntut tirani.

 

Fiksi #3 Joko

Sambil mengunyah ayam bakar pikirannya berkelana mengenang masa lalu. Mengenang masa-masa kongkow-kongkow dengan sobatnya, minum-minum sambil bermain.

Tapi sekarang cerita berbeda, ia sekarang bukan laki-laki lagi..

 

Fiksi #4 Magrib

Adzan berkumandang, orang-orang berjalan menuju Masjid. Ia tidak bergerak, diam saja disitu. Memandangi orang-orang, pepohonan, rumput dan gemericik air sungai.

Dan ia melihat tubuhnya sendiri tertelungkup layu.

 

Fiksi #5 Jatuh

Gatotkaca melayang jatuh. Tombak Kunta telah kembali ke sarangnya dan mengambil nyawanya sendiri. Menuju alam kematiannya, ia melepas semua pakaian saktinya. Ia mengenang masa kecil yang tidak pernah dialaminya, mengenang panasnya Kawah Candradimuka, rindu belaian Ibu yang tak pernah dirasakannya, kangen bermain-main dengan Antasena dan Antareja.

Sungguh para Dewa sedang bermain-main dengan nasibnya.

 

Fiksi #6 Dinner

Ia memotong-motong sirloin, memisahkan lemak dari daging, mengeluarkan jantung, lidah, paru, usus, hati. Iga, paha, dan kepala mendesis terbakar bara.

Dan anak-anaknya sedang menggerogoti tulang betis ayahnya.

 

Fiksi #7 Blind

Gelap merampas penglihatannya, senyap merampas pendengarannya. Ia bahkan tidak bisa melihat tangannya sendiri. Gelap, sunyi, dingin, pengap. Sempit dan lembab.

Ia terkubur.

 

Fiksi #8 Judi

Bharatayuda berkecamuk. Gatotkaca tewas, Mahaguru Bisma Wafat, Guru Dorna gugur, Abimanyo dikeroyok, Dursasana mati konyol, Karna dibunuh Arjuna. Ribuan bahkan jutaan prajurit tinggal nama.

Dan di Kahyangan para Dewa bertaruh.

 

 

Fiksi #9 Freedom

Terkungkung dalam ruangan sempit, gelap, pengap, bahkan untuk bernapas pun sulit. lalu ia merobek, menendang, memukul, berusaha keluar lepas dan terbebas. Terasa aliran udara, ia menerobos menembus celah sempit.

lalu ia lepas, bebas, dan mengembangkan sayapnya. Ia kupu-kupu.

 

Fiksi #10 Laron

Merangkak keluar dari kantong tidurnya nan hangat tapi mulai menyempit. Gelap, pengap. Ia mencoba keluar dari lubangnya yang lembab beraroma tanah.

Kepalanya muncul setengah, antena merasa-rasai udara nan segar. Matanya tertumbuk pada cahaya yang terlihat hangat dan melambai-lambaikan tangan merayu. Bergegas kembangkan sayap, terbang memutar mengamati cahaya terang tersebut. Serasa hangat, ia segera hinggap..

Lalu terbakar menjadi abu

 

Fiksi #11 Kamu

Kamu sangat baik, sungguh. Perhatian, lembut, dan paling mengerti aku. Kamu paling tahu kalau aku sedang sedih atau senang. Kamu tampan, baik hati, nyaris tanpa kekurangan.

Maaf, saat kamu menyatakan cintamu aku terpaksa menolak. Aku bukan lawan jenismu

Inspired by Efek Rumah Kaca’s song

 

Fiksi #12 Dialog

“Kumohon jangan ganggu dulu, aku sedang bercerita. Masih banyak yang ingin kusampaikan. Tunggu sebentar kumohon”

Dan Malaikat Maut dengan sabar menunggu aku selesai berdoa.

 

Fiksi #13 Penulis

Dia terus menulis tanpa henti. Terus menerus, tintanya tak pernah habis. Catatannya menumpuk semakin tinggi. Bahkan walau tangannya pegal dan letih, pena nya harus terus bergerak.

Dia terus mencatat dosa….

 

Fiksi #14 Rindu

Tak akan ada lagi suapan dari tangannya. Hilang sudah pelukan hangatnya. Dongeng sebelum tidur tak terdengar lagi. Dia sendirian, seperti api unggun yang menyala bara.

Sisa tubuh Ibunya tergeletak tinggal separuh. Ia masih mengunyah-ngunyah iga.

 

Fiksi #15 Dewabrata

Ratusan panah menghunjam tubuhnya. Nyaris tak seincipun yang tak tertembus anak panah. Badannya tak menyentuh tanah, tertahan panah Arjuna dan Srikandi. Ia mengerang menahan sengatan perih.

Di ujung nyawa, ia mulai menyalahkan dewa. Kenapa harus ia yang mengalah meletakkan jabatan putra mahkota, kenapa harus ia yang bersumpah untuk tidak menikah dan menghancurkan cinta nya kepada Amba. Dan kenapa harus titisan Amba yang mencabut nyawanya.

Ia terus mengerang, dan onani dalam pikiran sebelum Baratha Yudha berakhir.

 

Fiksi #16 Akad

Semua orang berteriak “Sah” dengan keras. Anak-anak bernyanyi dan menari riang gembira. Ayah menitikkan air mata, entah bahagia atau sedih.

Pasangannya mengangguk-angguk, dan mulai mengunyah sepotong daging. Ia pun menghambur ke api yang menyala.

 

Fiksi #17 Missing

Ia meraba-raba menyusuri jalannya yang lalu. Mencari dengan gundah, setengah meratap dan menderita. Hendak bertanya tapi tak bisa bersuara.

Hilang entah dimana. Ia mencari kepalanya

 

Fiksi #18 Kuyup

Ia basah kuyup kehujanan terduduk terdiam termangu. Rambutnya lepek tersiram air hujan. Setengah menggigil ia masih duduk menatap hujan. Setengah sadar ia menggumam, seakan merapal mantra.

Ia menunggu pelangi.

terinspirasi dari lagu Efek Rumah Kaca “Desember”

 

Fiksi #19 Pakansi

Ia berbaring menikmati cahaya bulan. Semilir angin menembus merasuk mendamaikan. Serasa hilang semua masalah, serasa terangkat semua beban. Setengah mengantuk matanya terpejam.

Tiba-tiba ia mendengar ayam berkokok. Ia harus kembali ke tubuhnya.

 

Fiksi #20 Kereta

Ia duduk di pintu kereta. Angin menerpa mukanya, dan ia lupa mengikat rambut panjangnya. Tatapannya jauh ke ufuk barat, mengamati mentari segera berselimut malam. Pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat lagi semua kenangan.

Ia akan berhenti di stasiun terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s