Kompilasi DharmaFiksi part. 2

Berikut kompilasi cerita (super) pendek yang dipublish di akun tumblrku dengan tag #DharmaFiksi.

Fiksi #21 Pagi

Ia tersentak, alarm berdenging berbunyi di telinga. Ia segera bangun, bersiap-siap. Ia mandi, berhias dengan pakaian terbaiknya. Tak lupa ia memercikkan parfum terbaiknya yang ia simpan untuk saat-saat istimewa.

Ini adalah hari spesial untuknya, hari kematiannya.

 

Fiksi #22 Antareja

Ia terdiam mendengar keputusan yang diambil Sri Krisna. Ia lihat saudaranya, Antasena yang biasanya blak-blakan sekarang menunduk pasrah. Dewata telah bertitah seperti itu, demi kemenangan Pandawa. Harus ada yang dikorbankan.

Ia punya cita-cita yang tinggi, mencapai kebijaksanaan pada usia tua dengan tapa brata menyepi di suatu hutan terpencil. Tapi cita-cita itu terkubur dalam sekarang.

Dan ia menjilat jejak kakinya sendiri.

 

Fiksi #23 Putri dan Naga

Selalu aku yang disalahkan. Selalu saja aku, Sang Naga dianggap sebagai penculik Sang Putri. Apa untungnya aku menangkap Manusia? Bahkan tak mengenyangkan nafsu makanku. Lebih baik aku berburu seekor kerbau yang gemuk, atau gajah muda.

Tak ada yang percaya kalau aku adalah sahabat sang putri. Dia kabur kemari karena tidak mau dijodohkan dengan Pangeran Tampan yang satria tapi kelakuan memuakkan itu. Si Playboy Tampan itu memaksanya menjadi istri, dan dikurung selamanya di istananya.

Putri ke sarangku untuk berlindung. Tapi sekarang aku yang dianggap menculik.

Ah tak usah meratapi nasib. Terima saja keadaan sekarang.

Aku melamun sambil menatap badanku yang tergeletak di sudut sarangku.

 

 

 

Fiksi #24 Serpih

Ini bukan lagi retak, tapi pecah berhamburan. Seperti gelas dihantam badai.

Ia sibuk mengumpulkan serpihan-serpihan pecahannya. Berharap masih bisa disusun kembali, walau ia tahu tak akan sempurna.

Dikumpulkannya serpihan hatinya yang hancur berkeping-keping.

 

Fiksi #25 Gasiang

Telinganya masih panas terasa akibat kata-kata gadis itu. Seumur-umur baru kali itu ia dihina oleh seorang wanita.

Ia hanya mengungkapkan perasaannya dengan baik-baik, diterima atau ditolak itu masalah nanti. Tapi reaksinya sangat berlebihan, seakan-akan ia adalah seorang lelaki yang sangat hina dan tak berguna.

Bau kemenyan pekat di udara, dan ia mulai memutar gasiang tangkurak dan membaca mantra.

gasiang tangkurak

 

Fiksi #26 Resepsi

Ia sudah memakai pakaian terbaiknya. Bercukur rapi, memotong rambutnya dan mandi sehingga wangi. Ditatapnya dirinya di depan cermin, memasang senyum terbaik dan muka yang cerah. Hari ini hari spesial.

Hari ini tunangannya menikah.

 

Fiksi #27 Senyum

Senyummu, ya senyummu yang manis terbayang selalu. Tawamu, ya tawamu yang renyah terngiang terus. Ayo kita bercerita lagi tentang cita-cita kita.

Senyummu, ya senyummu. Terbayang saat ku berdiri di pusaramu.

Selamat jalan adinda Indah. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya

 

Fiksi #28 Surat

Kekasihku tersayang.

Mungkin surat ini tiba ketika senja menjelang. Tataplah ke barat, ingat saat-saat kita sering menatap senja.

Saat aku tulis surat ini, aku juga sedang menatap senja. Tapi kali ini tidak setenang dahulu. Aku menatap senja ditemani suara letusan dan siulan mortir. Dan yang terakhir terasa jatuh begitu dekat.

Kekasihku, seminggu lagi aku akan pulang dan bertemu kamu. Dan akan kupenuhi janjiku untuk

Gadis itu melipat surat yang ia baca, bercak merah kehitaman yang mengering di akhir suratnya membuat tulisannya tak terbaca lagi. Dan kekasihnya tak pernah kembali

 

Fiksi #29 Hilang

Hujan lebat, arus deras dan pencarian masih berlanjut. Teman-teman dan keluarga menyusuri pinggiran sungai.Tak dihiraukan angin hujan yang menerpa mereka.

Aku mencoba membantu, menunjukkan dimana jasadku berada.

 

 

Fiksi #30 Penari

Tangannya bergerak lincah seirama dengan langkah kakinya. Pinggulnya melenggak-lenggok seiring alunan musik di kepalanya. Ia menari seakan tiada hari esok. Ia menari seanggun merak, selincah kijang dan sebuas macan.

Ia menari di hari pemakaman suaminya, akhirnya borgol di kaki dan tangannya terlepas.

 

 

Fiksi #31 Sujud

Malam menuju akhirnya, hening meraja. Bahkan suara jangkrik pun tak ada, seakan ikut membisu bersama malam. Angin tak berhembus, hanya dingin yang menyelinap usil membelai tengkuk.

Lama ia bersujud, lama dia mengadu. Ia curahkan seluruh masalahnya, ia mengaku seluruh dosanya. Ia takut hatinya membatu, ia takut akalnya membeku. Kepalanya serasa meledak. Begitu lama ia tidak bercerita, begitu jauh ia meninggalkan, dan sekarang ia mengadu ketika asa semakin genting.

Air mata menganak-sungai. Tersedu-sedan memohon ampun. Tak jua ia angkat kepalanya.

Hanya kepada-Mu aku menyembah, danhanya kepada-Mu aku memohon pertolongan

 

 

Fiksi #32 Arjuna

Ia adalah Arjuna, yang dikenal sebagai Playboy diantara para Pandawa. Sesungguhnya ia hanyalah seseorang yang tidak bisa berkata tidak akan lamaran orang lain. Setiap kali ia bersemedi, setiap kali ia menikah. Bukan salahnya berwajah tampan rupawan dengan perangai yang baik, bukan salahnya sehingga banyak yang ingin menjadikannya menantu.

Ketika Bharatayudha dimulai, semua anaknya datang memberikan bantuan untuk kemenangan Pandawa atas Kurawa. Semua.

Dan kini, juga semuanya gugur.

 

 

Fiksi #33 Kelahiran

Mondar-mandir ia di koridor rumah sakit. Keringat dingin mengucur deras sebadan. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Istrinya berteriak keras sekali di ruang bersalin.

Telah lama ia tunggu-tunggu kehadiran si kecil yang akan meramaikan rumahnya yang sederhana. Tak sabar ia bermain dengan celoteh tawa riang polosnya.

Tiba-tiba ruang bersalin diam sejenak, dan terdengar tangis. Tangis istrinya.

 

 

Fiksi #34 Perjanjian

Kedua belah pihak telah sama-sama sepakat. Ia pun menandatangani perjanjiannya.

Ia membuat perjanjian dengan Iblis

 

 

 

Fiksi #35 Malam Jumat

Malam ini cerah berawan, malam Jumat Kliwon. Malam yang pas untuk keluar dan bersenang-senang.

Ah, kain kafannya masih belum kering, tergantung di jemuran.

 

 

Fiksi #36 Pengukuhan

Ia berlutut saat mahkota kerajaan dipakaikan ke kepalanya. Ia genggam kuat-kuat keris pusaka kerajaannya.

Sekarang ia menjadi raja dan sekarang ia menjadi bukan dirinya.

selamat atas terpilihnya Datuak UKM 12/13 yang baru, M. Ihsan Hardiputra (UKM ‘10, M ‘10)

 

Fiksi #37 Sesajen

Bau kemenyan santer menyengat hidung. Pedupaan menyala merah membara. Kembang tujuh rupa, air tujuh sumur dan pasir tujuh muara dalam tujuh jambangan.

Sekarang ia mempersembahkan anak keduanya.

 

 

Fiksi #38 Princess

Putri Raja itu cantik, langsing dan menawan. Ia akan dijodohkan dengan pangeran yang tampan mempesona dari kerajaan sebelah.

karena itu ia diasingkan oleh ayahnya, lalu beliau mengangkat seorang anak.

 

Fiksi #39 Sleeping Beauty

Sang Pangeran belum datang mengecup bibirnya dan membangunkannya. Sudah terlalu lama ia menunggu dan bermimpi. Entah tidak berani atau tidak mampu untuk datang menjemputnya.

Ia menggeliat, menguap lalu bangkit dari ranjangnya yang berkelambu sutra.

 

Fiksi #40 Sarapan

Aroma kopi dan nasi goreng menggelitik sel-sel penciumannya. Terasa hangat di ujung lidahnya, terasa hangat seakan pelukan ibunda.

Ia mendorong kursi rodanya menuju ruang makan, anak dan istrinya telah menunggu dengan senyuman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s