Good Leader Good Follower

Seorang good leader harus bisa menjadi good follower. Setidaknya begitu yang dulu diajarkan pada setiap pelatihan/training kepemimpinan yang kita ikuti di sekolah atau di kampus. Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, seseorang harus bisa menjadi bawahan yang baik. Dengan menjadi bawahan, ia akan mengerti bagaimana kondisi bawahan sehingga bisa memimpin dengan baik. Sebelum menjadi pemimpin, ia harus merasakan menjadi bawahan.

Pada umumnya seorang pemimpin sebelumnya menjadi bawahan terlebih dahulu. Ia bisa jadi seorang bawahan yang baik, lalu menjadi pemimpin yang baik pula. Tapai bagaimana jika setelah sekian lama jadi pemimpin ia menjadi bawahan lagi? Bisakah ego nya ikut merendahkan diri untuk tidak menantang dan menegakkan kepala dengan angkuh?

Jarang sekali seseorang yang cukup lama jadi pemimpin lalu kembali menjadi bawahan bisa menjalaninya dengan baik. Ada ego yang besar yang menolak untuk mematuhi perintah, apalagi jika pemimpinnya sekarang itu adalah mantan bawahannya. Kadang apa yang dilakukannya selalu salah, karena ia masih memandang dengan kacamata ia yang belum tentu benar.

Aku rasa salah satu ujian terbesar seorang pemimpin adalah kembali menjadi bawahan. Apakah dia adalah seorang yang memiliki hati yang besar dan mampu rendah hati? Orang-orang di sekitarnya lah yang akan menjawabnya.

28 Oktober 2014

Ospek Atau Hanya sekedar Budaya

Weekend yang lalu aku diajak untuk menjadi tenaga Bantuan Medis pelantikan asalah satu himpunan mahasiswa jurusan di ITB. Bersama tiga orang lainnya dari Korsa dan dua orang dari Unpad kami berangkat ke suatu daerah di utara Bandung.

Selalu timbul pertanyaan di setiap acara-acara seperti ini, yang mereka bilang bagian dari kaderisasi, bagian dari pembinaan. Apakah metode seperti ini bisa membentuk mahasiswa menjadi manusia sipil yang terdidik?

Metode seperti apa yang dilakukan oleh organisasi-organisasi mahasiswa ini? Pada umumnya di setiap pelantikan selau ada agitasi, metode stressing dan pressing. Calon anggota dibariskan di depan danlap, dibentak-bentak dan di”ceramahi” sehingga (harapannya) materi yang diberikan dipahami dan bisa diimplementasikan. Para senior mengelilingi barisan, menambah tekanan dengan bentakan dan celetukan-celetukan yang kadang-kadang tidak cerdas.

Metoda kolosal seperti ini apakah cukup untuk “menggugah” sisi kemahasiswaan para calon anggota? Apakah metode seperti ini sukses membentuk sekelompok mahasiswa sehingga bisa bertindak dan bergerak selaras dengan visi organisasinya?

Pertanyaannya mungkin harus ditanyakan kepada anggota organisasi tersebut. Metode yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan metoda yang mereka terima ketika menjadi calon anggota. Apakah metode yang diterima dulu sukses membentuk mereka menjadi anggota organisasi itu sesuai dengan visi dan tujuan organisasi itu? Kenapa mereka masih melakukan metode tersebut? Apakah karena dulu mereka menerima perlakuan yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab dengan jujur, jangan dijawab dengan ego atau sekedar kebanggan tak beralasan.

Suatu kali di suatu tempat aku pernah bertanya kepada kawan-kawan di organisasi yang pernah aku ikuti dahulu di kampus. “apakah metoda yang akan kalian terima dulu ketika menjadi calon anggota sukses membentuk kalian menjadi generasi yang berhasil? Kalau tidak kenapa masih kalian jalankan kepda calon anggota yang sekarang?”

Berarti ketika sebuah organisasi mahasiswa melakukan sebuah kegiatan yang sama dari setiap tahun, apalagi kegiatan pembinaan karakter lebih karena budaya, pembinaan yang dilakukan tiap tahun tidak berhasil. Idealnya adalah harus ada alasan yang jelas kenapa metode itu masih dilakukan. Metode tahun-tahun sebelumnya harus selalu dievaluasi, karena mahasiswa selalu harus mampu belajar dari evaluasi yang lalu.

Jika tidak mampu melakukan seperti itu, berarti organisasi kemahasiswaan tidak jauh berbeda dengan organisasi di SMA yang melakukan suatu kegiatan karena tahun lalu juga dilakukan hal yang sama.

 

27 Oktober 2014