Ospek Atau Hanya sekedar Budaya

Weekend yang lalu aku diajak untuk menjadi tenaga Bantuan Medis pelantikan asalah satu himpunan mahasiswa jurusan di ITB. Bersama tiga orang lainnya dari Korsa dan dua orang dari Unpad kami berangkat ke suatu daerah di utara Bandung.

Selalu timbul pertanyaan di setiap acara-acara seperti ini, yang mereka bilang bagian dari kaderisasi, bagian dari pembinaan. Apakah metode seperti ini bisa membentuk mahasiswa menjadi manusia sipil yang terdidik?

Metode seperti apa yang dilakukan oleh organisasi-organisasi mahasiswa ini? Pada umumnya di setiap pelantikan selau ada agitasi, metode stressing dan pressing. Calon anggota dibariskan di depan danlap, dibentak-bentak dan di”ceramahi” sehingga (harapannya) materi yang diberikan dipahami dan bisa diimplementasikan. Para senior mengelilingi barisan, menambah tekanan dengan bentakan dan celetukan-celetukan yang kadang-kadang tidak cerdas.

Metoda kolosal seperti ini apakah cukup untuk “menggugah” sisi kemahasiswaan para calon anggota? Apakah metode seperti ini sukses membentuk sekelompok mahasiswa sehingga bisa bertindak dan bergerak selaras dengan visi organisasinya?

Pertanyaannya mungkin harus ditanyakan kepada anggota organisasi tersebut. Metode yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan metoda yang mereka terima ketika menjadi calon anggota. Apakah metode yang diterima dulu sukses membentuk mereka menjadi anggota organisasi itu sesuai dengan visi dan tujuan organisasi itu? Kenapa mereka masih melakukan metode tersebut? Apakah karena dulu mereka menerima perlakuan yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab dengan jujur, jangan dijawab dengan ego atau sekedar kebanggan tak beralasan.

Suatu kali di suatu tempat aku pernah bertanya kepada kawan-kawan di organisasi yang pernah aku ikuti dahulu di kampus. “apakah metoda yang akan kalian terima dulu ketika menjadi calon anggota sukses membentuk kalian menjadi generasi yang berhasil? Kalau tidak kenapa masih kalian jalankan kepda calon anggota yang sekarang?”

Berarti ketika sebuah organisasi mahasiswa melakukan sebuah kegiatan yang sama dari setiap tahun, apalagi kegiatan pembinaan karakter lebih karena budaya, pembinaan yang dilakukan tiap tahun tidak berhasil. Idealnya adalah harus ada alasan yang jelas kenapa metode itu masih dilakukan. Metode tahun-tahun sebelumnya harus selalu dievaluasi, karena mahasiswa selalu harus mampu belajar dari evaluasi yang lalu.

Jika tidak mampu melakukan seperti itu, berarti organisasi kemahasiswaan tidak jauh berbeda dengan organisasi di SMA yang melakukan suatu kegiatan karena tahun lalu juga dilakukan hal yang sama.

 

27 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s