MASA ORIENTASI SISWA SEKEDAR BUDAYA TANPA MAKNA

Tahun ajaran baru telah dimulai, siswa sekolah kembali ke rutinitasnya untuk menuntut ilmu. Ada juga siswa yang masuk ke sekolah baru, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan di tingkat yang lebih rendah. Siswa baru sekolah menengah akan mengikuti masa Orientasi Siswa.

Menurut KBBI, orientasi/ori·en·ta·si/ /oriéntasi/ n 1 peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yg tepat dan benar; 2 pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan;

Pada organisasi, masa orientasi adalah masa pengenalan norma, budaya, asas dan tujuan organisasi tersebut. Masa orientasi siswa berarti masa pengenalan sekolah, mencakup peraturan, lingkungan, guru, senior dan budaya yang berlaku di sekolah tersebut. Masa Orientasi Siswa (MOS) merupakan kerja bersama antara pengurus OSIS, anggota OSIS dan guru-guru sekolah tersebut. Idealnya, pada saat pelaksanaan MOS, siswa baru belajar memahami sekolah barunya.

Pada pelaksanaanya, MOS menjadi ajang bullying (penindasan) dari senior ke junior. MOS menjadi ajang balas dendam atau melampiaskan dendam karena dulunya dia mendapatkan perlakuan yang sama dari seniornya, lalu juniornya harus merasakan hal yang sama. Lebih parahnya lagi, mereka para senior berlindung dibalik alasan “Membentuk mental yang kuat”

Bullying atau penindasan adalah penggunaan kekerasan, ancaman dan paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Tugas-tugas yang aneh ketika MOS merupakan contoh pelaksanaan bullying. Iket rambut ampe belasan untuk yang cewek, kaos kaki beda warna, serta tugas-tugas aneh lainnya. Tak jarang junior dibentak, dimaki dan dilecehkan tetapi junior tidak bisa dan tidak berani melawan. Hal ini karena mental remaja masih mudah untuk diintimidasi.

Para senior masih melakukan hal yang sama seperti yang dilaksanakan oleh para pendahulunya ketika MOS. Mereka melakukan hal tersebut karena beberapa alasan. Pertama karena dahulu para senior juga melakukan hal yang sama. Kedua, mereka merasa ga rela kalau juniornya tidak merasakan apa yang dulu mereka rasakan.

Kita tidak boleh menyalahkan para siswa senior sekolah menengah itu. Mereka belum mampu untuk berpikir baik buruk serta konsekuensi dari tindakan mereka. Masa-masa remaja adalah masa dimana mereka masih mengikuti ego mereka dan semangat mereka yang meledak-ledak. Untuk itu diperlukan sosok pembimbing yang akan mengarahkan mereka ke cara berpikir yang benar.

Dalam pelaksanaan MOS, guru dan Pembina OSIS berperan besar menjaga supaya pelaksanaan MOS berjalan dengan baik dan dengan metode yang baik pula. Jangan sampai guru membiarkan para senior melakukan penindasan dan pelecehan terhadap juniornya.

Guru sekolah menengah dengan perannya sebagai pendidik bertanggung jawab membimbing masa remaja yang penuh gejolak dan semangat. Jika sejak remaja sudah diajarkan untuk memahami konsekuensi dan logika setiap perbuatannya, maka ketika semakin dewasa mereka mampu berpikir dan bertindak selayaknya orang dewasa yang beradab.

Jika sedari dini aktivitas bullying/penindasan ini dibiarkan, maka dewasanya siswa sekolah menengah ini akan terus melakukan penindasan. Ospek universitas akan selalu berisi kegiatan perploncoan yang lebih parah dari MOS sekolah menengah. Siswa akan menganggap kegiatan MOS yang bernuansa perploncoan sebagai kegiatan yang wajar dan dibolehkan.

Lindungi diri dan keluarga kita dari kegiatan perploncoan/penindasan dan pelecehan. Karena aksi bullying tidak hanya dari kegiatan fisik, tapi ucapan yang berupa hinaan, ancaman juga merupakan bentuk dari bullying.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s