Badai dan Kolor

 

WARNING: membaca postingan ini mungkin bertentangan dengan norma yang anda anut, serta bisa menimbulkan kegeleuhan tiada tara. Jika tidak kuat mental, silahkan abaikan postingan ini dan tunggu saja postingan berikutnya.

Kemaren sore hujan badai besar melanda daerah bandung dan sekitarnya. Hujan lebat disertai angina kencang menyebabkan pohon tumbang dan longsor di beberapa titik.

Apa hubungannya badai dan kolor?

Bagi warga Asrama Bumi Ganesha, khususnya yang mencuci pakaiannya sendiri, hujan angin ini merupakan momok yang ditakuti. Hujan angina yang terjadi siang hari akan merusak masa depan mereka. Lho, kok gitu?

Gini ceritanya.

Asrama Bumi Ganesha merupakan asrama mahasiswa ITB yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa yang menjadi penghuninya. Pengurus asrama berupaya menjalankan pengelolaan asrama ini sehingga tetap bisa bertahan di dunia yang semakin keras (apalagi dengan harga minyak yang sudah memakan korban, entah apa hubungannya dengan asrama). Salah satu yang diunggulkan di asrama ini adalah biaya sewanya yang cukup murah, dua ratus ribuan per bulan untuk mahasiswa, dan empat ratus ribuan untuk alumni yang masih mau tinggal di asrama.

Biaya asrama yang murah ini sangat membantu mahasiswa dengan uang kiriman yang tidak besar, yang lebih memilih asrama bernuansa apartemen (atau rumah susun) daripada kos-kosan yang nyaman tapi mahal dan sepi. Bagi mereka yang ingin lebih berhemat, ada yang memilih untuk memasak sendiri daripada membeli makanan di warung-warung yang cukup banyak ada di sekitaran asrama (maklum, daerah kos-kosan mahasiswa juga).

Lalu apa hubungannya, Asrama, Badai, Kolor dan masa depan yang terancam?

Nah, beberapa penghuni dan calon penghuni asrama memilih untuk mencuci sendiri pakaian mereka, termasuk kolor a.k.a celana dalam. Mereka bisa menghemat lebih lima puluh ribu per bulan untuk biaya cuci. Dengan dua ribu rupiah per bulan, dan sedikit tenaga serta waktu ekstra, pakaian bersih dan wangi membuat mereka tetap PD ke kampus menghadiri kuliah (dan ngecengin teman sejurusan atau tetangga jurusan yang makin tahun makin kece badai).

Hujan lebat disertai badai akan membuat pakaian yang sudah mereka cuci bersih berterbangan dan kotor kembali. Apalagi celana dalam atau biasa disebut kolor oleh rekan-rekannya merupakan jenis pakaian yang sangat mudah diterbangkan angin.

Jika kolor mereka kotor dan basah, ada beberapa pilihan yang harus diambil. Satu, mencuci lagi kolor yang basah dan kotor, lalu dikeringkan seadanya dan besok paginya sebelum kuliah dipakai dalam keadaan lembab. Tahukah anda, memakai kolor lembab tidak baik untuk kesehatan dan merusak konsentrasi. Jika konsentrasi rusak, baik itu karena gatal atau rasa tidak nyaman, maka hal-hal lain juga tidak akan berjalan dengan baik. Ujian tidak berhasil, gebetan anda menjauh karena tangan anda sibuk menghilangkan rasa gatal dan tidak nyaman yang mengusik ”Si Jagoan”, maka bisa dipastikan masa depan anda akan meredup dengan sendirinya.

Pilihan kedua adalah, mencuci lagi kolor yang basah dan kotor, lalu ke kampus tanpa memakai selembar kain yang membatasi antara “Si Jagoan” dengan celana. Ini juga sama berbahayanya dengan pilihan sebelumnya. Celana dalam yang sudah ada sejak zaman Mesir Kuno memberikan perlindungan ekstra terhadap masa depan anda. Mencegah gesekan-gesekan menyakitkan yang menimbulkan lepuh dan tidak diinginkan.

Jadi kesimpulannya adalah: ya elah, loe nulis apaan sih, ga penting banget tentang kolor. Maafkan pembaca, tulisan ini hanyalah ide-ide liar yang berkembang pesat di dalam kepala, kalau ga dituliskan takutnya jadi jerawat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s