Please be Nice, Surabaya

 

Berderak pelan, kereta api Pasundan bergerak menjauhi Stasiun Kiara Condong. Matahari belum juga terbit, fajar saja yang telah menyingsing sebagai pertanda hari baru menjelang. Memantapkan langkah, kutinggalkan kota ini, Bandung. Kota yang penuh cerita dan kenangan. Kota pertama menerimaku sebagai perantau. Lalu  perantau ini kembali merantau, menjauh dari kampung halaman.

Berikut adalah contoh tulisan seseorang yang berpisah dengan kota yang ia cintai.

Akhirnya aku kembali merantau, setelah menjadikan Bandung sebagai kampung halaman kedua. Statusku menjadi “Perantau yang Merantau dari tanah Rantau.” Apaan sih?

Meninggalkan kota B yang sangat nyaman, tentu saja tidak mudah. Siapa sih yang bisa meninggalkan kota yang dipenuhi para penggemar fanatik? Meninggalkan kota yang penuh kisah cinta walau ada duka dalam ceritanya. Meninggalkan Cokotetra dan Rian yang selalu setia menyambut dengan senyum lebar menyapa. Meninggalkan kamu, yang berusaha menahan air mata melepasku (ini bukan tukang kredit yang nangis karena hutangnya belum kulunasi ya).

Berawal dari postingan di grup WhatsApp, kuberanikan mengajukan lamaran mengisi posisi Editor Penerjemah di sebuah perusahaan penerbit di Kota Pahlawan. Setelah penantian penuh harap, akhirnya aku harus pindah, mengadu nasib di kotanya Bu Risma.

Tak usah kuceritakan proses dari awal mengajukan lamaran, tes, hingga wawancara. Ga penting dan ga menarik juga sih. Nanti kalian malah bosan dan memutuskan untuk tidak lagi membaca postingan-postingan di blogku ini.

Baru seminggu lebih aku ada di kota ini. Surabaya. Kota yang panas. Aku yang berprinsip bahwa mandi sore adalah pilihan, mau tidak mau harus menyerah pada keadaan. Tidak mandi sore di kota ini, berarti menikmati malam-malam yang gelisah, jemari yang sibuk disertai sedikit umpatan-umpatan imut.

Tidak pernah terpikirkan untuk meninggalkan Bandung dan segala daya tariknya. Tapi ternyata Dia punya cerita lain untuk hidupku, diberikan-Nya jalan supaya aku meninggalkan Bandung untuk berjuang di Surabaya.

Pindah ke Surabaya berarti menambah jarak ke Jakarta. Apalagi ke Sumatra Barat. LDR, vLDR malahan, ditambah kata very. Impulsif ke Jakarta, berangkat pagi, lalu malamnya balik lagi semakin susah. Bisa mah bisa saja, tapi berat di ongkos. Mungkin suatu saat, kala rindu menumpuk tak tertahan. Mungkin. Entahlah.

Tapi yang pasti, “please, be nice Surabaya.” Mudah-mudahan aku selalu diberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan di sini. Demi masa depan yang lebih asik.

 

6 thoughts on “Please be Nice, Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s