Baper oh Baper

Entah sejak kapan kata “Baper” merajalelala membahana di dunia percakapan Indonesia. Apalagi di dunia percakapan anak muda yang masih mencari jati diri (entah hilang dimana jati dirinya). Entah kenapa anak muda sekarang pada suka baper, mungkin masih belum pakai 4G, makanya suka bapering (itu BUFFERING OOIII BUFFER….).

Menurut Kamus Besar Bahasa Kekinian, Baper merupakan kependekan dari Bawa Perasaan. Sedih, dibilang baper, ngambek dibilang baper, marah dibilang baper. Dikit-dikit baper, dikit-dikit baper, makanya pake 4G doong! (BUFFER OII BUFFER… Oh ya, maaf.. hehehehe)

Pada akhirnya kata Baper meniadakan kata-kata emosi seperti sedih, marah, galau, kecewa dan lain-lain. Memang sih, salah seorang temanku yang kebetulan (atau kebenaran) kuliah di Jurusan Linguistik pernah berkata bahwa bahasa pada akhirnya akan terus mengalami perubahan. Bahasa Indonesia dari bentuk awalnya, bahasa Melayu Pasar, telah mengalami perubahan dan perkembangan hingga kini. Banyak kata-kata serapan baik dari bahasa asing ataupun bahasa daerah menjadi bagian dari Bahasa Indonesia.

Bahasa Inggris pun tidak jauh berbeda. Bahasa Inggris yang digunakan Shakespeare dan bahasa Inggris yang digunakan oleh Mr. Harry Potter juga mengalami perkembangan. Oxford bahkan telah memasukkan kata Googling ke dalam kamusnya sebagai kata kerja untuk kegiatan melakukan pencarian melalui Google. Bahkan, keberhasilan actor terkenal, Kang Leo menerima piala Oscar telah menjadi sebuah kata sifat. Konon. Katanya adalah Leoed, kalau tidak salah artinya adalah “keberhasilan melakukan/mendapatkan sesuatu setelah kegagalan yang berulang-ulang.”

Tapi perubahan bahasa ini jadi kebablasan. Bayangkan sebuah kalimat “Ani merasakan kesedihan yang amat besar setelah ditinggal pergi Andi merantau” menjadi “Ani merasakan baper yang amat besar setelah ditinggal pergi Andi merantau.”  Aneh kan ya? Aneh ga sih? Atau nggak aneh?

Atau seperti ini “Bapak baper karena anak gadisnya masih belum pulang hingga larut malam.” Pertanyaannya, emosi apakah yang diwakili oleh kata baper ini? Sedih, marah, cemas, galau, senang, atau gegana (tanya Cita Citata ya kepanjangannya.. hehehehe).

Makanya, kurang-kurangilah make kata baper. Jangan sering-sering, kasihan Bahasa Indonesia kita. Apa ga kasihan ama editor dan penyusun KBBI? Capek lho harus mendata kata-kata yang akan diubah, dihilangkan dan ditambah. Hehehehe.

Jadi, jangan baper lagi ya, coba pake 4G biar ga baper. (EBUSET DAH NI ORANG, BAPER DAN BUFFER ITU BEDA… Iya maaf, baperan ih kamu orangnya. Bawaan Laper ya. Hehehehe.)

2 thoughts on “Baper oh Baper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s