Surat-surat di Hari Senin

(pict : loveisnotabuse.com)

(pict : loveisnotabuse.com)

Jakarta, 5 April 2010

Dear Laras, kekasih tersayang.

Bagaimana kabarmu pada hari Senin ini?  Mudah-mudahan Seninmu selalu bahagia, walau selalu ada rindu di antara kita.

Seninku diisi dengan hujan deras, seakan langit menumpahkan air matanya akibat kerinduannya pada bumi. Setengah malas aku keluar dari dekapan selimut yang hangat, mengeliat lalu menyeduh segelas kopi pahit tanpa gula. Kaleng permen berkarat ini penuh dengan puntung rokok sisa semalam.

Tanganku masih terasa lembab berbau besi. Bukan, bukan dari baja dingin berkilat yang selalu kusimpan di pinggang celana atau terikat di betis. Adalah aroma darah yang lembab mengalir melewati sela-sela jari saat sebuah leher robek melepaskan sebuah nyawa.

Aku selalu bekerja di hari Minggu, bukan karena hari itu selalu menjadi hari yang santai untuk setiap orang, sehingga mengendurkan kewaspadaannya. Hari Minggu selalu menjadi hari yang tepat untuk bekerja, menyelesaikan pekerjaan dari klien yang cerewet dan murka penuh dendam.

Kemarin aku mengintai di sebuah taman, diantara pasangan-pasangan yang sedang piknik sejenak melepaskan tekanan pekerjaan yang menyesakkan. Kulihat targetku sedang duduk sendiri membaca sebuah buku di sudut taman. Dia berada di sudut itu setiap Minggu, selalu tanpa teman.

Yang menarik di taman ini, tidak jauh dari tempatnya duduk, ada sebuah tempat yang sepi dan cukup tertutup oleh semak dan pohon yang merimbun. Tapi di tengah-tengahnya terhampar sebuah area yang datar dan cukup lapang, akan selalu luput dari perhatian mata yang tidak jeli. Mungkin saja ada banyak pasangan yang bercumbu dengan liarnya di tempat ini. Lain kali engkau akan aku ajak kesini, kapan lagi kita bercinta di alam terbuka.

Targetku masih duduk membaca buku, tanpa menyadari suasana di sekitarnya. Mengendap, kudekati ia dari belakang dan kucekik lehernya yang tertutup jilbab putih. Kutusukkan pisau nomor tujuh puluh tiga di sela jari-jariku, langsung merobek leher melalui jilbabnya. Dengan sisa kekuatannya ia mendorongku ke belakang hingga terjajar hampir terjerembab. Lalu ia terjatuh menghantam tanah, ada warna yang indah tercetak. Merahnya darah, putihnya jilbab serta coklatnya tanah berbaur menjadi lukisan yang mengalahkan indahnya karya Picasso.

Bergetar, mengejang, matanya membeliak saat nyawanya mengalir keluar dibawa darah yang mengental. Saat ia berhenti bergerak, aku melenguh puas.

Aku tertidur dengan tangan berlumuran darah, nyenyak seperti bayi yang kenyang akan susu.

Selamat hari senin kekasih tersayang, semoga harimu menyenangkan.

 

Peluk cium

Kekasihmu, Zoni

Ps: aku memesan sebuah pisau baru, nanti akan jadi nomor delapan puluh enam.

 

Bukittinggi, 12 April 2010

Dear lelakiku tercinta

Bagaimana Seninmu? Seninku merindukanmu. Kangen aroma Cassablanca Aqua yang melekat di leher dan dadamu saat engkau kupeluk erat.

Satu bulan sudah berlalu sejak pertemuan terakhir kita. Pertemuan yang singkat tapi begitu menggebu-gebu. Lalu kau pergi begitu saja, meninggalkan wangimu pada sarung bantal. Mendadak kamarkmu dipenuhi oleh dirimu, dan aku langsung merindukanmu saat itu juga.

Beberapa hari yang lalu aku diundang untuk menerawang sebuah rumah tua di pusat kota (tentu saja untuk acara supranatural yang mulai marak di televisi). Dahulu pernah terjadi perampokan dan pembunuhan satu keluarga di rumah itu. Setelah kejadian, rumah itu terbengkalai karena ahli waris tidak mau menempati. Bertahun-tahun rumah itu dibiarkan kosong tak berpenghuni, sehingga aura negatif terasa kuat, bahkan ketika kami belum memasukinya.

Tak perlu dipanggil, entitas-entitas itu sudah ramai berkumpul, mengamati para “tamu” yang berkunjung. Ada yang berupa anak kecil, perempuan, laki-laki tua dan remaja, dengan bentuk yang tak karuan. Bahkan terlihat sebentuk makhluk yang tidak akan mau kau lihat di mimpi burukmu. Tekanannya sangat kuat, mencekik kesadaran hingga lenyap. Tak kuat, tiba-tiba gelap, aku pingsan. Untung saja mereka tidak berani merasukiku, mungkin karena “Inyiak” yang setia melindungiku.

Saat tersadar, aku sudah berada di klinik terdekat (mungkin kau ingat, klinik di sebelah Pasar Banto, tempat kita membeli jagung rebus di pertemuan pertama kita).

Sebenarnya aku sudah mulai lelah dengan peran ini, tapi apa daya. Ini jauh lebih baik daripada harus membaca aura orang-orang yang datang. Membaca aura jauh lebih melelahkan daripada sekedar menerawang rumah angker. Membaca aura membuatku merasakan diri orang yang kubaca, menyerap kegelapan dirinya, merasakan masa lalu sehingga membuatku melupakan eksistensi diri.

Ada yang belum aku ceritakan. Lelaki tua itu datang lagi, merayu membujuk supaya aku kembali ke pelukannya. Berbagai macam janji ia ucapkan, supaya ia bisa kembali menikmati tubuhku melepaskan nafsu kudanya (tentu saja dengan kemampuan kura-kura. Ia tak pernah bertahan lebih dari lima menit di ranjang, dasar laki-laki egois).

Tentu saja kurahasiakan hubungan kita. Kau adalah lelaki yang tidak pernah ada, hanya bayang-bayang dan jejakmu yang ada di dalam ketiadaanmu.  Mengungkapkan keberadaanmu hanya akan membuat dunia ribut mengejarmu.

Tapi kau adalah bayang-bayang yang lembut. Yang datang kepadaku dengan kelembutan dan kesabaran. Tak terburu-buru, dengan sabar membawaku ke langit ketujuh.

Selamat hari Senin lelakiku, aku merindukanmu, sangat

Wanitamu, Laras

Nb: oh ya, akhirnya aku membeli parfum kesukaanmu, Cassablanca Aqua, kusemprotkan ke guling setiap aku merindumu, kupeluk dan bermimpi bertemu denganmu.

 

Senin, 17 April 2010

Dear wanita kesayanganku.

Engkau masih ingat pertemuan pertama kita? Aku sedang menikmati secangkir kopi dan jagung rebus saat tiba-tiba engkau duduk di sebelahku dan berkata “Kau lelaki yang beraroma darah”

Aku tersentak, hanya tiga orang di dunia ini yang tahu siapa aku, dan saat itu kau bukanlah salah satunya. Kau adalah wajah asing yang mendadak muncul di sebelahku.

“Jangan takut, rahasia ini aku simpan untuk diriku sendiri. Tapi kalau kau hendak melenyapkanku sekarang, tidak apa-apa. Tidak ada salahnya kita bercengkerama dulu, bercerita tentang hari ini seperti dua sahabat yang sedang bertemu.” Seakan tahu isi hatiku (dan setelah mengenalmu, baru aku tahu bahwa kau memang membaca isi hatiku) kau berkata lembut sambil tersenyum.

“Aku rela engkaulah yang mengakhiri hariku. Mungkin tidak sekarang, bisa jadi beberapa tahun lagi. Aku menunggu.”

Aku terpikat padamu, dan kaupun menerimaku sebagai aku. Kita berpisah, merindu, bertemu, lalu berpisah dan merindu lagi.

Aku pun capai selalu berada dalam bayang-bayang. Aku ingin menikmati cahaya mentari, menjadi seseorang yang bernama dan berwajah. Mungkin menjadi seorang pemburu atau tukang daging (tentu saja, keahlian apa lagi yang aku punya selain menggunakan pisau), tapi hidup tanpa harus selalu melihat ke belakang penuh rasa curiga.

Satu pekerjaan terakhir, tapi sebelum itu aku akan mendatangimu, melepaskan kerinduan yang menggebu-gebu.

Satu lagi, dan kemudian aku akan lahir kembali, mungkin menjadi Jhoni, Rusdi atau Supardi.

Jangan kau tanya kapan aku akan datang, aku adalah pemburu, mengendap-endap mendatangimu dan memelukmu dari belakang.

Peluk-cium

Zoni

Nb: untuk pekerjaan terakhir ini, sepertinya aku akan memakai pisau pertama dan pisau terakhirku. Penutup cerita ini dan pembuka lembaran baru.

 

Rabu, 19 April 2010

Dear engkau (siapapun namamu setelah ini)

Terima kasih telah mendatangiku tiba-tiba, penuh kejutan seperti biasanya. Aku selalu sadar apabila ada orang yang mendekatiku, tapi kau adalah pemburu, selalu tahu kemana harus menyergap.

Terima kasih banyak telah menerima cintaku utuh. Bersamamu membuatku menjadi Laras, bukan pembaca aura atau “orang pintar”. Di pelukanmu, semua indraku hanya terisi rasamu, tubuhku mereguk dahaga akan kehadiranmu.

Sejak pertama bertemu aku tahu bahwa engkaulah yang akan menjadi akhir ceritaku. Hanya waktunya yang aku tidak yakin. Jangan kehilanganku setelah ini, aku akan selalu ada di sisimu, di hatimu.

Kumohon, lakukan dengan cepat, kita tidak sedang bercinta. Biarkan aku pergi dengan cepat dalam senyum di pelukanmu

Aku mencintaimu,

Laras

Nb: ambil saja rambutku yang selalu kau sukai wanginya.

***

Zoni melipat surat yang ia baca, menyimpannya dalam saku. Dengan cepat ia sayat leher Laras, lalu dengan pisau yang lain ia tusuk dadanya, tepat di jantung. Laras tergolek di pelukannya, dengan senyum lebar menghiasi mulutnya.

Lalu dengan sekali gerakan, ia memotong rambut panjang Laras. Meneteskan air mata, ia mencium rambut wangi Laras, lalu berjalan pelan keluar kamar.

6 thoughts on “Surat-surat di Hari Senin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s