MOS, ADA DAN TIADA

(gambar dari osolihin.wordpress.com)

(gambar dari osolihin.wordpress.com)

Pak Anies Baswedan melarang diadakannya Masa Orientasi Siswa yang mengandung unsur penindasan atau bullying. Terakhir aku baca sebuah artikel, pak Anies melarang siswa/anggota OSIS untuk menjadi panitia MOS, biarkan kegiatan ini diatur oleh guru-guru.

Masa Orientasi Sekolah atau MOS merupakan masa pengenalan bagi siswa baru. Tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tapi juga budaya dari sekolah tersebut. Sayangnya dalam pelaksanaan, kegiatan ini menjadi ajang penindasan oleh senior kepada yuniornya. Berbagai macam tugas yang tidak masuk akal, peralatan aneh-aneh yang harus dibawa ke sekolah serta kegiatan-kegiatan yang tidak mendidik seorang siswa.

Dulu ketika masih sekolah, aku (ketika itu menjadi pengurus OSIS) selalu mencaoba mencari pembenaran atas setiap tugas dan tindakan yang kami berikan kepada adik-adik yunior kami. Tes mentallah, membentuk supaya tahan banting atau hal-hal lain. Tapi ada beberapa hal yang waktu itu aku coba ubah.

Ketika aku kelas tiga SMA, aku melarang para senior untuk meminta coklat kepada yuniornya. Hal itu berhasil kami jalankan, tapi tugas-tugas lain yang aneh-aneh masih tetap berlaku. Namanya juga tradisi, susah untuk diubah.

Dahulu kami sangat yakin bahwa apa yang kami lakukan adalah demi kebaikan adik-adik yunior kami. Kami yakin bahwa kegiatan ini akan membentuk mental mereka sehingga siap menghadapi kerasnya dunia. Padahal, apa sih yang kami, anak SMA, pahami tentang kerasnya hidup? Bagi sebagian besar anak SMA, kerasnya hidup adalah tugas sekolah yang tak kelar dikerjakan, guru fisika yang galak atau persaingan mendapatkan idola sekolah. Paling banter tentu saja perseteruan abadi dengan sekolah musuh.

Di tahun-tahun akhirku di kampus, kusadari bahwa pelaksanaan MOS dan ospek tak lebih hanya sebuah misi balas dendam atas apa yang kami terima sebelumnya. Menjalankan tradisi yang tidak kami pahami maknanya, sekedar kesenangan mengisengi anak baru atau menunjukkan siapa yang berkuasa di sekolah/kampus.

Bagiku, MOS idealnya adalah sebuah wahana untuk mengenalkan anak-anak baru dengan sekolahnya, mengenal kakak kelas (dengan cara yang baik) serta memahami budaya dan tata karma yang berlaku di sekolah. MOS harus banyak diisi dengan permainan-permainan yang menyenangkan, menumbuhkan keakraban antara sesama anak baru, menjalin kerja sama dan belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Idealnya, MOS mempersiapkan adik-adik siswa baru supaya tidak gagap bersekolah di tempat yang baru.

MOS yang diisi dengan penindasan, bullying dan tugas-tugas tidak masuk akal, hanya akan melahirkan generasi penindas yang baru. Generasi yang hanya berani ngebully di jejaring sosial, tapi bungkam untuk berpendapat di dunia nyata.

Pengurus OSIS sebagai panitia MOS, bekerja sama dengan guru-guru harus mau dan mampu menjadi teladan untuk adik-adiknya. Bahkan sekolah yang pendidikannya semi-militer pun, kedisiplinan tidak boleh diajarkan dengan kekerasan.

Hukuman yang diberikan karena kesalahan siswa, harus yang mendidik tapi membuat jera. Hukuman fisik boleh diberikan, tetapi tidak boleh merendahkan martabat dan bertujuan menyakiti. Push-up, bending, lari keliling lapangan merupakan hukuman yang wajar, tapi tamparan, cacian, memberikan julukan-julukan yang tidak pantas bukanlah sesuatu yang mendidik.

Sekolah juga berperan dalam membentuk karakter seorang anak, apalagi sekolah menengah. Usia remaja merupakan usia yang kritis. Hormon, darah dan energi mereka masih sangat bergolak. Keingintahuan mencoba hal-hal baru harus disalurkan ke jalan yang benar.

Masa MOS bisa sangat menyenangkan. Belajarlah dari fasilitator-fasilitator training atau outbond. Mereka dituntut menguasai permainan-permainan yang membentuk kebersamaan, kerja sama atau hal-hal positif lainnya.

Bersyukurlah sekolah yang sudah bisa menjalankan MOS tanpa kekerasan dan penindasan. Untuk sekolah yang masih belum, inilah saatnya untuk berubah menjadi lebih baik.

Sejujurnya, saya menyesali apa yang pernah saya lakukan ketika menjadi panitia MOS, Ospek, PPAB atau apapun namanya ketika jaman sekolah dan kuliah. Pada akhirnya kami waktu itu hanya menjalankan tradisi, tapi membalutnya dengan seribu satu alasan untuk pembenaran kegiatan kami.

Mudah-mudahan niat baik pak Anies bisa diterima dan dijalankan dengan baik oleh siswa-siswa sekolah menengah di seluruh Indonesia

 

Darma Eka Saputra

SMP 1 Padang 1999-2002

SMA 1 Padang 2002-2005

Tek. Mesin ITB 2005

UKM-ITB 2005

KAM-Bumi Ganesha 2005

 

5 thoughts on “MOS, ADA DAN TIADA

  1. Gak pernah jadi panitia MOS

    Dan merasa MOS dengan model yang aneh-aneh asa gak perlu (selain boros uang dan waktu karena masih harus beli ini itu) dan merasa kasian sama kaka-kaka ospek (komo bagian komdis) yang kayanya riweuh weh harus tiap hari marah-marah dan pake sandiwara2an. CIYAN DEH~

    Dan, secara ga sadar, budaya MOS menjadi ajang pengenalan budaya nyampah secara berjamaah. SEREM AMET YA?

    Dulu aku pernah nulis tentang hal tsb >> selamat menyimak! http://www.kompasiana.com/anil_nw/pengenalan-budaya-nyampah-dalam-mos_5500fb10a33311c56f512c63

  2. Ada tmn saya yg ngmg gini wahai Sutan..
    MOS dan segala bentuk ospek itu berguna, biar mereka ga sembarangan dan hormat kepada yg lebih tua serta saling menghargai.. Beliau ini angkatan 96 ketika masuk kuliah. Cewek. Dan bukan pengurus ospek2an. Beliau merasa manfaat dari ospek benar2 terasa. Apalagi ketika beliau membandingkan dengan anak2 jalan sekarang, generasi baru yg mulai tidak ada pengospekan. Jadi beliau merasa anak2 jaman skrg, apalagi ada kasus Luar biasa macam anak smp yg melapor karena dicubit, salah satu penyebabnya adalah karena tidak ada ospek ini. Bagaimana pendapat Sutan?

    • dulu mungkin memang bisa om, tapi apakah bentuk2 bullying itu benar2 mendidik? hormat dan menghargai itu awal mulanya dari rumah.. sekolah dan lingkungan membantu membentuk karakter. apa ya.. entahlah, saya merasa pasti ada metode yg lain. keteladanan sih rasanya yg paling penting.

  3. Halo Darma *baru pertama komen*
    Dulu jaman ospek mau kuliah pun sebal dengan banyaknya tugas dan printilan yang harus dibeli *maklum..mahasiswa miskin”. Bagus juga sekarang banyak yg menyoroti..biar hal2 yg ga manfaat di cut aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s