Aku, Sekolahku dan Makna Sekolah

 

Sudah lewat sebulan ga posting lagi, udah disindir-sindir nih di grup #1minggu1cerita. Seperti biasa, setiap awal bulan #1minggu1cerita selalu bertema. Tema untuk awal bulan September ini adalah Aku dan Sekolahku.

Cerita masa SMA, SMP dan SD telah kuceritakan sedikit di postingan-postingan yang lama. Tidak bercerita banyak sih, tapi mudah-mudahan sedikit memberikan gambaran kehidupanku di masa sekolah.

Tapi jika diingat-ingat lagi, memang masa SMA lah yang paling terkenang bagiku. Pada waktu SMA aku mengalami transformasi pertama, melewati masa puber yang penuh gejolak, energi yang meluap-luap dan arogansi senior yang terbawa hingga masa kuliah.

Ketika SMA, aku berubah dari siswa SMP yang introvert menjadi siswa SMA yang aktif dan (cukup) dikenal. Beberapa organisasi aku ikuti, beberapa lomba kujalani dan beberapa forum mengantarkanku melanglang buana hingga ke Yogyakarta.

Banyak faktor yang mengubahku ketika SMA. Salah satunya adalah KingStone yang mengubah Ksatria Baja Hitam menjadi Ksatria Baja Hitam RX. (Ya elaah, Cuma tahan serius 4 paragraf doang…) Oke, yang menjadi faktor penentu dalam perubahanku adalah teman-teman sekelas yang heboh, keluarga dan fakta bahwa siswa SMP 1 Padang kayak pindah kelas aja ke SMA 1 Padang.

Selain itu masa SMA mengajarkan banyak hal lho. Ketika SMA aku benar-benar mengenal komputer (dulu cuma saling lirik doing, ga sampai kenalan), belajar nge-game, mengenal jejaring sosial, gimana caranya ngeceng yang baik dan benar, mengambil hati guru, mencari tahu tempat baca komik yang murah dan rada tersembunyi, dan pelajaran-pelajaran lainnya.

Masa SMA tidak mengajarkanku menjadi dewasa, tentu saja. Selepas SMA aku tetaplah remaja tanggung yang mendadak merantau meninggalkan kampung halaman. Tapi masa SMA tetap masa paling indah, maklum, pertama kali pacaran, dan pertama kalinya (dan terakhir kali mungkin) punya fans. Heuheuheu.

Sejak kecil hingga lepas SMA, sekolah bagiku hanyalah sekolah formal. Sekolah informal hanyalah sebuah penambah keahlian semata.

Tetapi ketika telah menginjak usia dewasa (usia dewasa itu kapan ya? Atau lebih tepatnya menginjak usia tua mungkin ya) aku menyadari bahwa makna sekolah jauh lebih luas daripada hanya seputaran akademik belaka.

Sekolah ternyata berpengaruh besar bagiku, walau pengaruhnya tak bisa mengalahkan keluarga. Siapa aku saat ini tak lepas dari pengaruh pendidikan yang kuterima di sekolah. Pendidikan ya, bukan pengajaran.

Interaksi dengan guru, teman, penjaga sekolah bahkan dengan masyarakat sekitar sekolah berpengaruh terhadap pembentukan karakterku. Ekskul Paskibra-PBB SMA 1 Padang, OSIS SMA 1 Padang dan kawan-kawan ekskul lain yang berinteraksi denganku juga membawa pengaruh dalam perkembangan kepribadian.

Seluruh dunia yang aku lewati dan berinteraksi dengannya adalah sekolah. Bagiku seperti itu. Hingga sekarang, aku masih sekolah. Aku masih belajar dari setiap orang yang kutemui, setiap perjalanan yang kulalui serta buku-buku yang kubaca. Apalagi mantan, tentu saja membawa pengaruh dalam album kenangan-kenangan yang hampir dilupakan. Move dong sob, udah bukan JoNes lagi. (lirik si pacar. Heuheuheu)

Bukankah falsafah orang Minang adalah Alam Takambang Jadi Guru. Hadist menyatakan untuk menuntut ilmu hingga ke liang lahat, maka seumur hidup kita akan terus belajar, dari apapun dan siapapun.

Tapi kalau dipikir-pikir, mengenang lagi masa sekolah, jadi banyak malunya. Terlalu banyak hal-hal bodoh yang dulu kulakukan, setengah brengsek setengah jail setengahnya lagi ga jelas (lah, jadi satu setengah dong?)

Karena show must goes on, maka biarlah kesalahan masa lalu jadi pelajaran untuk masa depan. Ibaratnya ulangan, kesalahan-kesalahan tersebut ga boleh terjadi lagi ketika ujian kenaikan kelas. Ya kalau kejadian lagi, mungkin lupa. Hehehehe.

Yang pasti, memilihmu bukanlah sebuah kesalahan, ahahahahay…. #tabok

 

 

1minggu1ceritaa

 

8 thoughts on “Aku, Sekolahku dan Makna Sekolah

  1. Kirain mau lanjutin cerita masa SMA bersama Satria Baja Hitam..😀
    Iya tapi setuju sih… yang membentuk diri kita yang sekarang adalah pendidikan, bukan sekolahnya.

    • hahahahaha, iyap. sekolah, sejak sekolah dasar hingga menengah harusnya mendidik siswanya, sehingga ketika di perguruan tinggi, dosen cukup mengajar. biarkan mahasiswa mencari pendidikannya sendiri dengan jalan masing-masing. *sok2 bijaksana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s