Ayo Mendengar Silampukau

Silampukau.

Mungkin tidak banyak yang mengenal Duo beraliran Folks ini. Aku pertama kali mendengar mereka dari sebuah channel di youtube ketika sedang berselancar mencari-cari lagu-lagu yang enak di dengar ketika sudah berada di Surabaya.

Duo ini ternyata juga berasal dari Surabaya, dengan lirik-lirik yang mungkin terkesan nyeleneh, tapi menurutku mereka jujur mengutarakan realita. Di album Dosa, Kota & Kenangan mereka bercerita dengan jujur tentang Surabaya.

Musik mereka mengalir dengan lincah dan asyik, bercerita tentang realita, apa adanya. Beberapa artikel dan blog mengulas tentang mereka, diantaranya ini, ini dan ini.

Entah kenapa lagu-lagu mereka melekat di benak, lalu membuatku ketagihan mendengarkan celotehan Eki dan Kharis diiringi alunan gitar mereka. Mungkin sedikit mengingatkan kita dengan Kings of Convenience, tapi “rasa”nya berbeda.

Konon mereka berdua sudah pernah diundang ke Net. dan di Surabaya sendiri berkali-kali mengisi acara di beberapa tempat.

Aku tidak akan membahas satu persatu lagu-lagu mereka dan membedah dengan pisau semantik, sastra dan lain-lain. Bagiku, cukup dengarkan, nikmati, pahami dengan cara masing-masing.

Favoritku? Puan Kelana tentu saja. Penasaran? Beli dong Albumnya.

1minggu1ceritaa

FORGIVEN BUT NOT FORGOTTEN

Memaafkan Orang Lain

Jika temanmu menghilangkan sebuah barang milikmu, apakah kamu akan memaafkannya? Mungkin jika hanya barang kecil dan biasa, kamu akan maklum dan segera memaafkan. Bagaimana jika barang tersebut memiliki arti dan kisah tersendiri? Mungkin akan berat bagimu memaafkannya, bahkan bisa saja diawali dengan kemarahan terlebih dahulu.

Memaafkan orang lain bukan perkara sulit, tapi tidak mudah juga ternyata. Aku cepat memaafkan orang lain, tapi juga terkadang menyimpan ingatan terhadap hal-hal yang menyakiti atau menyinggungku, bahkan setelah bertahun-tahun. Aku bisa marah pada seseorang saat ini, tapi satu jam kemudian akan bercanda seperti biasa. Tapi aku juga bisa mendiamkan seseorang hingga berhari-hari karena perbuatan atau ucapan yang menyakitkan dan mengecewakan.

Kita sering memilih-milih hal yang kita maafkan dan yang tidak. Tak jarang kita pun memilih orang yang kita maafkan dan yang tidak. Adilkah kita?

Pram berkata untuk adil bahkan sejak dalam pikiran. Cobalah belajar memaafkan orang lain, selama ia tidak menyinggung agama, negara dan harga dirimu.

Meminta Maaf kepada Orang Lain

Bersediakah kamu menundukkan kepala mengakui kesalahanmu di hadapan orang lain? Pernahkah kamu dengan lantang meminta maaf secara tulus karena telah menyakiti perasaan orang lain? Atau kamu harus menunggu berhari-hari sebelum meminta maaf, itupun karena desakan orang lain?

Terkadang kita terlalu tinggi hati mengakui kesalahan diri. Begitu sulit rasanya melihat ke dalam diri, mengkaji kekeliruan, lalu mengakui dengan ksatria kesalahan itu. Ego ke-aku-an itu membesar dan mengakar kuat dalam diri, keras sehingga menolak menunduk pada kerendahan hati dan lapang dada.

Ke-aku-an yang meraksasa dalam diri sebenarnya sedang melahap sisi lembut hati perlahan-lahan. Hingga pada akhirnya meninggalkan hati yang keras dan mati, menolak semua kebaikan.

Bersedialah meminta maaf, supaya kamu tetap menjadi manusia.

Memaafkan Diri Sendiri

Tantangan terbesar ternyata bukanlah memaafkan atau meminta maaf kepada orang lain. Hal tersulit adalah memaafkan diri sendiri.

Sebelum mampu memaafkan diri sendiri, kita akan selalu melemparkan kesalahan kepada orang lain. Kegagalan, rencana yang tidak sesuai pasti karena pengaruh orang lain. Harus selalu ada yang disalahkan, ditunjuk dan dituding. Pada akhirnya kebaikan hati akan tercerabut lalu mati dan melayu.

Memaafkan diri sendiri merupakan kunci untuk meminta maaf bahkan memaafkan orang lain. Berdamai dengan diri sendiri merupakan awalnya, berkontemplasi, merefleksi diri, istilahnya Muhasabah Diri.

Aku bertahun-tahun bergulat dengan ini. Menganggap semua kegagalan dan kemalangan yang kualami karena orang lain. Bertahun-tahun aku hidup dalam pikiran negatif, selalu merasa benar, keras kepala dan berhati batu. Lari dari satu kenyataan untuk kemudian membentur kenyataan yang lain.

Bertahun-tahun, berkubang luka, yang ternyata kubuat sendiri. Hingga suatu saat aku diingatkan, untuk belajar memaafkan diri sendiri, berdamai dengan semuanya, bahkan masa lalu.

Forgiven but not Forgotten

Kita mungkin telah memaafkan diri sendiri dan orang lain, tapi bukan berarti setiap kesalahan itu akan dilupakan. Memaafkan kesalahan bukan berarti melupakannya.

Memaafkan berarti belajar dari kesalahan tersebut. Melupakannya adalah suatu kemustahilan. Melupakan tanpa memaafkan hanya seperti berlari dari bayang-bayang di siang terik. Seberapa pun kencangnya kamu berlari, bayanganmu akan terus melekat.

Melakukan kesalahan seperti menancapkan paku pada sepotong papan. Meminta maaf atau memaafkannya mencabut paku tersebut dari papan. Paku tercabut, tapi ada bekas yang tertinggal di papan. Lubang tersebut menjadi penanda untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut, atau menghindarinya.

Maafkan, tapi jangan lupakan. Belajarlah untuk tidak mengulanginya.

1minggu1ceritaa

Menyikapi Kehilangan

Kepergian Bapak membuatku memandang kehilangan dengan cara yang berbeda. (foto: koleksi keluarga)

Aku bukan tipe orang yang cepat berdamai dengan kehilangan, dan perpisahan. Khususnya dengan orang-orang terdekat. Karena itulah aku selalu gagap ketika memberikan ucapan bela sungkawa kepada kawan-kawan yang kehilanga orang-orang terdekatnya.

Bahkan ketika nenekku meninggal, aku tak sanggup datang ke pemakamannya. Aku takut, dan tidak tahu harus bersikap apa.

8 Nopember 2016, pagi-pagi sekali ketika aku akan berangkat ke Banjarmasin, kakakku menelepon dan mengabarkan bapak terjatuh ketika sedang sholat. Hatiku mencelos, padahal malam sebelumnya aku masih mengabarkan keberangkatanku untuk tugas kantor ke Banjarmasin ke Ibu.

Baa kaba Apa, Bu? (Bagaimana kabar Bapak, Bu?)”

Masih saroman biaso. (Masih seperti biasa)”

Lalu setelah itu aku hanya menitipkan salam, tak sempat berbicara dengan beliau.

Segera setelah aku mendarat di Kalimantan, kakakku yang lain mengabarkan Bapak sudah meninggal. Aku hanya diam, masih berusaha mencerna kabar yang kuterima. Nyaris tak ada air mata yang menetes (air mataku baru tumpah malamnya, setelah Isya).

Kusempatkan untuk pulang, walau tak bisa menghadiri pemakaman beliau. Setelah belasan tahun, aku melihat air mata Ibu lagi, ketika mengunjungi makam Bapak. Hanya isak tangis, nyaris tanpa suara. Ketika aku berpamitan kembali ke Surabaya, untuk pertama kalinya Ibu menangis melepasku (setelah itu aku berjanji untuk menelepon minimal dua minggu sekali).

Sepeninggal Bapak, aku menggali lagi ke dalam diri. Tidak ada di antara kami yang benar-benar dekat dengan beliau. Kedekatan kami pudar seiring bertambahnya usia, tak jarang aku dan kakak-kakakku berselisih pendapat dengan beliau. Hubungan kami dengan bapak tidaklah dingin, tapi juga tidak hangat dan sangat akrab seperti kisah orang lain. Kami (atau beberapa di antara kami) lebih banyak bercerita dengan Ibu.

Walau begitu, kepergian Bapak meninggalkan kekosongan. Tidak ada lagi nyinyiran-nyinyiran di rumah, atau nasihat-nasihat yang terkadang beliau sampaikan ketika kami tersambung di telepon. Setelah beliau tiada, aku sering mengulang-ulang kembali rekaman percakapan, nasihat, dan canda tawa bersama beliau.

Kepergian Bapak membuatku menyikapi kehilangan dengan cara yang berbeda. Terlebih lagi menyikapi keberadaan orang-orang terdekatku dengan kaca mata yang lain.

Setiap detik yang kita jalani bersama orang-orang tersayang sangat berharga. Tawa, omelan, tangis bahkan senyum mereka harus kita rekam dengan baik, karena tak ada satupun yang tahu kapan mereka akan dipisahkan dari kita.

Kehilangan itu rasanya tidak enak. Kehilangan pasti sesuatu yang tidak terelakkan, seperti halnya perpisahan. Bahkan ketika kita sudah berusaha mengikhlaskannya, tetap ada seberkas rasa pahit tertinggal. Selanjutnya adalah bagaimana cara kita berdamai dengan rasa pahit karena kekosongan tersebut.

“Hidup itu berpasangan, ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang muncul dan ada yang hilang. Tak ada orang yang hanya mengalami salah satu di antara dua.”

1minggu1ceritaa