Menyikapi Kehilangan

Kepergian Bapak membuatku memandang kehilangan dengan cara yang berbeda. (foto: koleksi keluarga)

Aku bukan tipe orang yang cepat berdamai dengan kehilangan, dan perpisahan. Khususnya dengan orang-orang terdekat. Karena itulah aku selalu gagap ketika memberikan ucapan bela sungkawa kepada kawan-kawan yang kehilanga orang-orang terdekatnya.

Bahkan ketika nenekku meninggal, aku tak sanggup datang ke pemakamannya. Aku takut, dan tidak tahu harus bersikap apa.

8 Nopember 2016, pagi-pagi sekali ketika aku akan berangkat ke Banjarmasin, kakakku menelepon dan mengabarkan bapak terjatuh ketika sedang sholat. Hatiku mencelos, padahal malam sebelumnya aku masih mengabarkan keberangkatanku untuk tugas kantor ke Banjarmasin ke Ibu.

Baa kaba Apa, Bu? (Bagaimana kabar Bapak, Bu?)”

Masih saroman biaso. (Masih seperti biasa)”

Lalu setelah itu aku hanya menitipkan salam, tak sempat berbicara dengan beliau.

Segera setelah aku mendarat di Kalimantan, kakakku yang lain mengabarkan Bapak sudah meninggal. Aku hanya diam, masih berusaha mencerna kabar yang kuterima. Nyaris tak ada air mata yang menetes (air mataku baru tumpah malamnya, setelah Isya).

Kusempatkan untuk pulang, walau tak bisa menghadiri pemakaman beliau. Setelah belasan tahun, aku melihat air mata Ibu lagi, ketika mengunjungi makam Bapak. Hanya isak tangis, nyaris tanpa suara. Ketika aku berpamitan kembali ke Surabaya, untuk pertama kalinya Ibu menangis melepasku (setelah itu aku berjanji untuk menelepon minimal dua minggu sekali).

Sepeninggal Bapak, aku menggali lagi ke dalam diri. Tidak ada di antara kami yang benar-benar dekat dengan beliau. Kedekatan kami pudar seiring bertambahnya usia, tak jarang aku dan kakak-kakakku berselisih pendapat dengan beliau. Hubungan kami dengan bapak tidaklah dingin, tapi juga tidak hangat dan sangat akrab seperti kisah orang lain. Kami (atau beberapa di antara kami) lebih banyak bercerita dengan Ibu.

Walau begitu, kepergian Bapak meninggalkan kekosongan. Tidak ada lagi nyinyiran-nyinyiran di rumah, atau nasihat-nasihat yang terkadang beliau sampaikan ketika kami tersambung di telepon. Setelah beliau tiada, aku sering mengulang-ulang kembali rekaman percakapan, nasihat, dan canda tawa bersama beliau.

Kepergian Bapak membuatku menyikapi kehilangan dengan cara yang berbeda. Terlebih lagi menyikapi keberadaan orang-orang terdekatku dengan kaca mata yang lain.

Setiap detik yang kita jalani bersama orang-orang tersayang sangat berharga. Tawa, omelan, tangis bahkan senyum mereka harus kita rekam dengan baik, karena tak ada satupun yang tahu kapan mereka akan dipisahkan dari kita.

Kehilangan itu rasanya tidak enak. Kehilangan pasti sesuatu yang tidak terelakkan, seperti halnya perpisahan. Bahkan ketika kita sudah berusaha mengikhlaskannya, tetap ada seberkas rasa pahit tertinggal. Selanjutnya adalah bagaimana cara kita berdamai dengan rasa pahit karena kekosongan tersebut.

“Hidup itu berpasangan, ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang muncul dan ada yang hilang. Tak ada orang yang hanya mengalami salah satu di antara dua.”

1minggu1ceritaa

23 thoughts on “Menyikapi Kehilangan

  1. Setuju banget bak!! Kehilangan ato perpisahan itu ga enak banget rasanya..tp berusaha untuk menyikapi dengan lapang dada dan bijak kali ya yg paling tepat 🙂

  2. Reblogged this on The Frozen Tears and commented:
    Tidak ada yang bisa terlepas dari kehilangan. Akan selalu ada perpisahan, dengan orang tua, saudara, teman atau lainnya. Semua tergantung bagaimana menyikapi sebuah kehilangan, sebuah perpisahan. Hargai dan sayangi mereka selagi bisa melakukannya.

  3. Akkk, apa ini?
    Tulisan singkat yang bikin tersedu-sedu 😥
    Aku takut sekali kehilangan, kadang merasa tidak siap..
    Tapi ini salah satu bagian kehidupan, yang siap tidak siap, akan datang saatnya, karena semua hanya titipan-Nya :((

  4. Pingback: Yuk Mari Memilih Tulisan Terfavorit Minggu ke-2 – 1minggu1cerita

  5. Cuma mau bilang: idem. Masih berusaha juga menerima kenyataan kehilangan ayah. Konon katanya, kita tidak akan pernah pulih. Ruang kosongnya bakal ada terus. Kalopun ada “yang baru” datang, ruang yang kosong itu tetap kosong karena memang spesial buat yg udh pergi, tapi kita akan terbiasa hidup dengan kekosongan itu.
    *kitu ceunah

  6. Pingback: Tulisan Terfavorit Minggu ke-2 : Menyikapi Kehilangan – 1minggu1cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s