Menikah

Udah halal euy. (difoto ku batur, azra photoworks)

2 Juli 2017 pukul 09.00 WIB, aku duduk berhadapan dengan penghulu dan wali dari seorang perempuan bernama Ratih Dwi Furwanti. Bertempat di Masjid Jami’ Pandan Basasak Kenagarian Kapau, Kabupaten Agam, aku mengucapkan ijab qabul yang resmi mengikatku dan Ratih menjadi suami istri, secara agama ataupun negara.

Segera setelah saksi nikah mengatakan, “Sah,” seakan seember air dingin menyiram tengkuk, memberikan kelegaan setelah tegang menjelang akad nikah. Berikutnya adalah prosesi secara adat, yang kami berdua ingin dijadikan sederhana saja.

Yang akan aku bahas bukan hal itu, tapi tentang aku menikah.

Aku dan Ratih telah menjalani hubungan (kata anak muda: pacaran) selama kurang lebih empat tahun. Dalam waktu yang tidak sebentar itu banyak hal yang telah kami lewati: duka, tawa, marah, kecewa, bahkan ragu. Tapi kami yakin semua itu sesungguhnya sedang menempa kami menjadi siap.

Apakah benar-benar siap? Entahlah, menurutku tidak ada yang benar-benar seratus persen siap menikah. Pasti selalu saja ada sedikit (atau banyak, tergantung orang) hal yang membuat kita bertanya, “Bener sudah siap?”, baik fisik, atau mental.

Aku sekarang telah menjadi seorang imam, kepala keluarga. Sebuah gelar yang luar biasa dengan tanggung jawab dahsyat. Hidupku sekarang bukan lagi milikku seorang, tapi ada istri (dan insya Allah anak) yang kemudian menjadi tanggunganku. Aku pasti akan terus berusaha belajar menjadi suami, imam, kemudian bapak (atau Abak) yang bisa menjadi contoh teladan.

Selain itu, aku semakin belajar menghargai kawan-kawan yang belum menemukan pasangan hidupnya. Terkadang bukan mereka tidak siap atau tidak mau, perjalanan hidup terkadang membuat mereka harus berpikir ulang tentang banyak hal. Aku tahu karena aku menjalani hidup yang (mungkin) sama, tidak terlalu lancar dan mudah.

Mudah-mudahan kami sekeluarga diberikan punggung yang lebih kuat menanggung beban yang pasti tidak lebih ringan, tapi jika ditanggung bersama maka kami akan kuat menjalani hidup bersama, hingga maut memisahkan kami.

Semoga saudara-saudara kami yang masih belum menemukan pasangan hidup mereka, diberikan kemudahan dan waktu yang tepat menjalani biduk rumah tangga.

2 thoughts on “Menikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s