Biodata Taaruf yang Viral

Beberapa hari ke belakang dunia per-WA-an dan per-IG-an heboh karena satu postingan di akun Instagram bernama s**trinasionalis. Dalam postingan tersebut terpampang foto seorang perempuan berjilbab, lalu di captionnya diawali dengan “TA’ARUF. Barangkali ada yang serius. Monggo…” dan dilanjutkan dengan biodata atas nama seorang perempuan dengan penjabaran yang luar biasa. Perempuan ini dijabarkan nyaris sempurna, hafalan sekian juz, mencari calon suami sekaligus imam, asal sholeh dan tidak mempermasalahkan apakah lelaki itu sudah bekerja atau belum.

Siapa yang tidak tertarik memperistri perempuan nyaris sempurna seperti ini. Bahkan dicantumkan pula no HP untuk dihubungi. Akan tetapi, di akhir caption ditulis “Tulisan ini hanyalah contoh penulisan biodata Ta’aruf Akhwat siap nikah….”

Sebenarnya sih caption seperti ini sudah pernah beredar sangat lama, di grup WA apalagi. Kami yang membacanya pasti akan tertawa kecut, mengetahui diri telah terpedaya, bahkan berharap mendapatkan calon bidadari surga. Akan tetapi ketika dipost di IG disertai foto seorang perempuan cantik berkerudung, apalagi diposting oleh sebuah akun yang mengaku berafiliasi dengan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, lelucon ini terasa ga lucu dan menyedihkan.

Pertama, apakah si admin akun publik ini telah meminta izin kepada si empunya wajah untuk dipajang di akun dengan belasan ribu follower?

Bahkan seandainya diizinkan pun, pantaskah sebuah akun yang mengaku-ngaku berafiliasi dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia memajang foto seorang perempuan. Postingan-postingan yang lain dari akun ini didominasi hal-hal yang bermanfaat. Isinya entah tentang ulama, mengenang sejarah ulama atau hal-hal lain yang kiranya bermanfaat (mungkin). Pantaskah?

Dalam nilai moralku, postingan seperti ini sama sekali tidak menghormati kaum perempuan. Padahal Islam adalah agama yang sangat menghormati perempuan. Islam menghormati, melindungi dan meninggikan perempuan.

Bahkan seandainya memang ada perempuan yang seperti digambarkannya, ia tentu tidak akan mengumbar data dirinya di jejaring sosial. Ia atau orang tuanya pasti akan meminta guru ngajinya mencarikan lelaki yang paling cocok untuknya. Lalu segala sesuatunya akan berjalan seperti yang telah diatur, yang pasti tentu saja menjaga kehormatan perempuan.

Atau memang selera humorku yang aneh, tidak melihat lucunya di mana, atau menghiburnya di mana. Banyak orang yang memandang postingan ini sangat lucu, menghibur, bahkan ada yang bilang mendapatkan ilmu darinya.

Dalam buku Bercanda Ala Rasulullah, telah ditunjukkan contoh-contoh bagaimana Rasulullah bercanda. Beliau bercanda tanpa mengandung kebohongan, tidak merendahkan, dan tidak berlebihan. Beliau pernah bercanda dengan Ali bin Abi Thalib r.a dengan memanggilnya “Wahai pemilik dua mata” Rasul adalah seseorang yang humoris.

Entahlah ya, Wallaahu ‘alam bissawab.

Oh ya, jika ada yang hendak berkomentar aku munafik, sok-sokan, ngomong doing, silakan aja. Bahkan mungkin aku tidak akan membantah.  Aku hanya menyampaikan pendapat.

Aku tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai seorang sholeh. Ibadahku aja masih amburadul. Diriku masih belum jadi pribadi yang sangat Islami, masih berusaha. Lagian, penilaian manusia tidak ada pengaruhnya. Jika Allah yang menilai, baru aku akan sangat peduli.

Update: ternyata gambar tersebut tidak hanya di share satu akun IG, tapi lebih dari satu akun yang mengaku-ngaku muslim, santri, muslimah. Pemilik foto itu adalah seorang wanita asal Malaysia. Ia berkata, “SEMOGA SEMUANYA MERANGKAK DI PADANG MAHSYAR NANTI DAN MEMOHON MAAF DARI AKU KERANA SUDAH MENYEBAR FITNAH DAN MENGAIBKAN AKU… AKU TIDAK AKAN MAAFKAN SEMUA IG INDONESIA YANG MENGGUNAKAN GAMBAR AKU”

Beberapa akun telah menarik/menghapus postingan itu. But the damage can’t be undone.. Shame you guys, menganggap itu lelucon.

Jadilah Wisatawan yang Disiplin

 

Indonesia terkenal karena banyaknya tempat wisata yang tersebar di seluruh negeri, mulai dari ujung Sumatra hingga pojok Papua. Tidak hanya terkenal di dalam negeri, beberapa tempat wisata bahkan telah menjadi tujuan favorit wisatawan asing.

Pertanyaannya adalah, “Dari sekian banyak objek wisata tersebut, berapakah yang sangat bersih, tertib dan nyaman?” Tebakanku, tidak terlalu banyak. Pertanyaan berikutnya, “Dari yang tidak terlalu banyak itu, berapakah yang benar-benar bersih karena pengunjungnya yang tertib, bukan karena tenaga kebersihannya sigap?” Pasti sedikit sekali.

Pada awal Juli aku berkesempatan mengunjungi salah satu pantai yang cukup terkenal di kota Padang. Ceritanya sih, ngajak istri jalan-jalan, lagi butuh vitamin sea katanya. Tempatnya agak sulit dijangkau, terletak di pinggiran kota, harus naik dan turun bukit supaya bisa sampai di sana. Untungnya pakai kendaraan sendiri, jadi tidak terburu-buru oleh waktu.

Pantainya sih indah, tapi banyak sampah. (foto koleksi dewe)

Tempatnya bagus, kami menikmati indahnya matahari terbenam ditemani deburan ombak yang merdu dan segarnya air kelapa muda. Tapi sayang sekali, hampir sepanjang mata memandang di tepi pantai itu, banyak sekali sampah berserakan. Sampah-sampah yang berserakan itu bervariasi, mulai dari bekas makanan, minuman, bahkan popok bayi…!!!. Man, popok bayi…..!!

Betapa kita sama sekali tidak disiplin sebagai wisatawan. Sebegitu sulitkah menyimpan sementara sampah yang kita hasilkan, sampai nanti menemukan tempat sampah. Istriku dulu pernah bilang kalau orang yang membuang sampah sembarangan itu merupakan orang primitive. Orang-orang primitive membuang sampahnya sembarangan karena semua sampahnya adalah sampah organik yang kemudian akan hancur menjadi tanah. Ya berarti di masih banyak orang primitif di negeri ini.

Pantainya sih indah, tapi banyak sampah. (foto koleksi dewe)

Tidak hanya masalah sampah, kita sebagai wisatawan sangat sulit sekali mematuhi peraturan yang telah ditetapkan di tempat-tempat wisata. Misalkan, di Candi Borobudur itu ada peraturan yang melarang wisatawan duduk di areal tertentu. Di beberapa gunung ada larangan memetik bunga, menyalakan api, membawa barang-barang tertentu.

Coba lah, kita sebagai wisatawan mulai belajar disiplin diri. Patuhi peraturan-peraturan yang berlaku di tempat-tempat wisata tersebut. Peraturan-peraturan tersebut bertujuan untuk kenyamanan, keselamatan dan keamanan kita,

Sama sekali tidak sulit mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Mungkin akan terlihat merepotkan pada awalnya. Kalau gak mau repot, jalan-jalannya pakai VR aja, sambil malas-malasan di rumah. Atau kalau bener-bener gak mau repot, telen granat aja sana.