Liam dan Laila, Sebuah Cerita yang Terburu-buru

Awas, postingan ini mengandung spoiler.

Sineas urang awak kembali menelurkan sebuah film yang berlatar belakang Minangkabau. Setelah berhasil dengan Silek dan Surau, Arief Malinmudo kembali menyuguhkan film bertema Minangkabau kepada khalayak pecinta film Indonesia.

Film ini berjudul Liam dan Laila, bercerita tentang perjuangan Liam (Jonatan Cerrada), seorang pria Prancis untuk menikahi wanita idamannya, Laila (Nirina Zubir) yang merupakan gadis Minang. Seperti halnya pernikahan beda budaya, maka pasti ada pertentangan dari pihak keluarga, dalam hal ini keluarga Laila. Keluarga besar Laila, yang dipimpin oleh Mak Tuo Naizar, tidak serta merta menyetujui dan menerima pinangan Liam.

Kemudian cerita berlanjut ke perjuangan Liam untuk bisa menikahi Laila. Liam hanya memiliki waktu tiga puluh hari, sesuai dengan lama visa kunjungannya. Ia mulai dengan bersyahadat, mengikrarkan diri sebagai muslim, bersunat, serta melengkapi surat-surat kelengkapan untuk KUA.

Secara umum, tema yang diangkat oleh film ini sangat menarik. Menampakkan bahwa masyarakat Minangkabau terbuka terhadap pernikahan berbeda budaya, tapi tidak begitu saja menerima. Ada hal-hal yang harus diperhatikan, baik secara adat ataupun hukum.

Namun, terasa beberapa kejanggalan dan plot hole dalam film ini yang terasa mengganggu.

Yang pertama, perubahan sikap Mak Tuo Naizar yang semula menentang pernikahan Liam dan Laila, lalu kemudian ia menerima. Tidak ada kejelasan apa yang menyebabkan perubahan sikap itu. Ia juga diceritakan menolak dua calon yang sebelumnya meminang Laila. Apalagi di akhir Mak Jamil (David Chalik), salah satu mamak Laila berkata bahwa Mak Tuo Naizar adalah orang yang berpegang pada kebenaran. Kebenaran apa yang dimaksud? Lubang pada cerita ini membingungkan penonton.

Kedua, penggunaan nama daerah fiktif yang terkesan dipaksakan. Mungkin bertujuan supaya tidak mendiskreditkan salah satu daerah, tapi terkesan dipaksakan. Mungkin jika tidak usah dinampakkan nama daerahnya masih memungkinkan. Banyak kok rasanya film yang tidak menunjukkan nama daerah yang menjadi latar belakang ceritanya.

Secara umum, tidak ada puncak konflik dalam film ini. Film ini cenderung berjalan datar, tanpa ada lonjakan konflik. Penyelesaian konflik utama pun, terkesan buru-buru. Memang ada hambatan dalam usaha Liam melengkapi persyaratan pernikahan, tapi tidak terlalu penting dan menegangkan.

Isu yang diangkat oleh Liam dan Laila sangat bagus, tapi sayang penceritaan dan alur yang terkesan terburu-buru mengurangi kedalaman pesan yang ingin disampaikan oleh film ini. Namun, film kedua yang benar-benar mengangkat budaya Minang ini sangat patut diapresiasi. Masyarakat Minang perlu lebih banyak sineas yang mampu mengangkat isu-isu terkini yang dialami oleh masyarakat.

Jika kamu berseluncur lama di Youtube, ada banyak film pendek karya sineas Minang, umumnya mahasiswa ISI Padang Panjang. Kadang cerita yang mereka angkat bagus dan orisinal, tapi mungkin karena keterbatasan, sinematografinya tidak terlalu memukau. Mereka ini sangat perlu disokong oleh banyak pihak.

Nonton deh, Surau dan Silek, lalu Liam dan Laila. Minang banget lah.