Sepucuk Surat Untuk (Calon) Anakku (I)

Dear Kamu yang saat ini masih berada di dalam Rahim.

Tak terasa sudah tujuh bulan kamu berada di dalam rahim bundomu. Insya Allah tak lama lagi kamu akan keluar dari tempat yang melindungimu, untuk menghirup udara di bumi yang keras ini.

Tahukah kamu, kenapa tempatmu berada sekarang disebut Rahim? Rahim berasal dari bahasa Arab yang berarti penyayang. Rahim atau uterus merupakan bukti bentuk kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Rahim melindungi, menyediakan nutrisi, dan memberikan lingkungan yang sangat ideal untuk pertumbuhanmu. Seorang ibu berjuang menanggung ketidaknyamanan, perubahan emosi akibat fluktuasi hormon, bahkan kehilangan selera makan akibat mual terus menerus.

Waktu itu bulan November, tahun 2018. Bundomu mengeluh mual-mual dan kehilangan selera makan. Waktu itu Abak pikir, karena nasi padang yang kami makan hari sebelumnya. Mungkin karena sudah firasat, bundomu melakukan pengetesan dengan test pack—garis dua, tapi salah satu garis masih samar.

Besoknya, bundomu harus pulang kampung untuk menghadiri pernikahan Mamakmu. Supaya tidak penasaran, ia memeriksakan lagi ke puskesmas, dan hasilnya positif. Sebelumnya sempat pesimis karena bundo mengalami pendarahan, tapi ternyata kamu kuat, Nak.

Saat dilakukan pemeriksaan lagi, ternyata kamu ditemani oleh dua monster, kista yang ternyata masih bersarang di ovarium. Menurut dokter, tunggu sampai setelah tiga bulan, untuk kemudian baru diputuskan perlakuan apa yang akan diberikan.

Alhamdulillah, setelah masuk bulan ke tiga, ternyata kamu kuat. Kamu adalah seorang pejuang yang tanpa ragu tumbuh besar mengalahkan dua monster itu. Tak perlu perlakuan apa pun, cukup sehat dan biarkan kamu tumbuh, kata dokter.

Doa kami untukmu, Nak. Semoga engkau jadi anak yang kuat, setangguh pohon Daru. Sejak di Rahim engkau telah membuktikannya, bahwa engkau itu kuat. Semoga engkau dianugerahi kebesaran jiwa, dada yang lapang, serta pikiran dan kesabaran yang luas seperti luasnya Segara (lautan), yang meLintang melingkupi bumi.

Kami, Abak dan Bundomu, akan berusaha terus memperbaiki diri, sehingga kami bisa menjadi orang tua yang layak dijadikan contoh dan panutan bagimu.

Ini merupakan surat pertama. Nanti, aka nada surat kedua, ketiga, dan seterusnya. Walau sekarang engkau masih belum bisa membaca, tapi mudah-mudahan kelak ini bisa menjadi cerita untukmu.

 

Surabaya, 15 April 2019.

(Calon) Abakmu

 

Darma Eka Saputra

4 thoughts on “Sepucuk Surat Untuk (Calon) Anakku (I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s