Sepucuk Surat untuk Anakku (I)

Surabaya, 28 Juli 2019

Dear Anakku.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, akhirnya kamu lahir dalam keadaan sehat dan lengkap tanpa cacat.

Pada tanggal 1 Juli 2019 pukul 3 pagi, bundomu terbangun dan mulai merasakan mulas-mulas parah. Kami sepakat akan memeriksakannya pada pukul 8 pagi itu, untuk mengecek apakah sudah ada tanda-tanda bukaan atau belum. Namun, pukul setengah lima, mulai ada cairan merembes. Tanpa ragu, aku langsung membawa bundomu ke Puskesmas Simomulyo.

Ketika diperiksa oleh bidan di sana, ternyata sudah masuk pembukaan kedua atau ketiga. Kata bidan tersebut, tunggu aja empat hingga enam jam, kalau tidak ada perubahan, akan dirujuk ke rumah sakit. Aku menemani bundomu di dalam ruang bersalin, memijat, mengelus, menggosok untuk meringankan sensasi “gelombang cinta” yang menyerang secara periodik.

Waktu terus berjalan, bukaan pun akhirnya bertambah perlahan. Hingga pukul dua belas siang, gelombang itu datang semakin intens dan mendesak-desak. Tetapi karena belum lengkap, bundomu tidak diperbolehkan mengejan, harus ditahan. Susah payah bundomu menahan, bercucuran keringat.

Akhirnya pukul setengah dua lebih, bukaannya lengkap (istilah para bidan). Dibantu tiga orang, bundomu berjuang keras supaya engkau lahir selamat. Dengan penuh perjuangan dan dorongan, akhirnya engkau lahir, merengek, dan menangis cukup keras.

Spontan, kupeluk bundomu, sebagai bentuk sayang dan rasa terima kasih karena telah berjuang keras melahirkanmu. Ada rasa hangat mendesak dari dalam dada. Saat kulantunkan azan di telingamu, suaraku tercekat oleh tangis haru yang bahagia, akhirnya kami berdua resmi menjadi orang tua.

Sebelum engkau lahir, kami telah sepakat akan memberimu nama Daru Lintang Segara, nama yang disertai doa supaya engkau tumbuh kuat dengan hati, jiwa, kesabaran, dan pengetahuan seluas samudra yang melintang menyelimuti bumi.

Nak, kami berdoa semoga engkau tumbuh sehat dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kami juga berdoa semoga engkau menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari kami berdua. Tentu saja, kami juga harus terus memperbaiki diri, supaya bisa menjadi teladan yang baik.

Kami tidak ingin engkau tumbuh dengan cara kami dibesarkan, apalagi di zaman serba modern seperti saat ini. Entah sudah sejauh apa teknologi berkembang saat kau membaca tulisan ini.

Kami akan membekalimu dengan sayap, supaya engkau bisa terbang tinggi mengelilingi dunia ini. tapi kami juga akan menanamkan akar yang kuat, supaya engkau punya nilai-nilai luhur yang akan selalu kau pegang, di mana pun engkau berada.

Saat ini kami berdua sedang berusaha beradaptasi dengan peran baru sebagai orang tua. Mudah-mudahan kami mampu menjadikan rumah sebagai sekolahmu yang pertama dan utama.

Peluk cium.

 

Abakmu

 

 

Darma Eka Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s