Sepucuk Surat untuk Anakku (II) Menjelang Enam Bulan

Sepucuk Surat untuk Anakku (II)

Menjelang Enam Bulan

Surabaya, 27 Desember 2019

 

 

Dear Anakku, Daru Lintang Segara.

Tak terasa usiamu sudah hampir enam bulan. Saat tahun berganti menjadi 2020, saat itu pula usiamu genap enam bulan. Waktu memang terkadang bisa terasa berlalu begitu cepat.

Menjelang enam bulan ini, kepandaianmu sudah semakin banyak. Dimulai dari tersenyum, tertawa terkekeh, menelungkup, dan sekarang sudah bisa kembali ke posisi telentang. Tidurmu juga semakin lasak, tak bisa dan tak cukup lagi tidur di kasur berkelambu yang dahulu menemani sejak baru lahir. Pertumbuhanmu juga terlihat bagus, berat badan naik dengan baik, tidak ada cacat atau penyakit yang tampak. Mungkin masalah kulit yang sensitif (seperti abak) yang akan menjadi PR ke depannya.

Makin ke sini makin jelas terlihat bahwa engkau adalah Bundo versi cowok, yang ganteng dan manis. Abak cuma kebagian bibir saja. Tidak apa, semoga nanti engkau sangat sayang dan mencintai bundomu. Semoga engkau mewarisi sifat-sifat baik kami, sementara kami juga masih terus memperbaiki diri supaya mampu jadi orang tua yang bisa engkau banggakan.

Hampir setengah tahun ini, Abak dan Bundo masih terus belajar memaknai peran baru kami ini. Tentu saja, ini tidak semudah yang dibayangkan. Hadirnya seorang penghuni baru yang menggoyang rutinitas dan keseimbangan hidup kami yang sebelumnya cukup mengejutkan, bahkan hingga memberikan sebuah tekanan yang berbeda. Mungkin ada satu fase saat masing-masing kami, Abak dan Bundo, mencapai level gagap, stress, yang kalau istilah orang-orang disebut Baby Blue. Alhamdulillaah, kami berdua masih berusaha saling menguatkan. Semua penat seakan sirna saat melihat wajah kecilmu tertidur pulas.

Insya Allah mulai bulan depan, Bundomu akan selalu ada di sisimu, membersamai tumbuh kembangmu. Tidak lagi meninggalkanmu di pagi hari lalu baru pulang di sorenya. Bundomu akan mencurahkan hampir semua waktunya untuk mendidikmu menjadi seorang anak yang shaleh, tangguh, cerdas, dan penyayang. Namun, aku harap engkau bersabar, Nak. Karena aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, mencari nafkah untuk kalian. Maafkan Abakmu, jika tidak bisa makan malam bersama dirimu, mendengarkan ceritamu tentang hari-hari yang telah engkau jalani. Bukan karena tidak sayang, namun karena cintaku pada kalian berdua, maka jalan ini harus kutempuh. Insya Allah aku akan membersamaimu di pagi hari, menemanimu mandi pagi, sarapan, dan bermain. Akan kuusahakan selalu melewatkan hari Minggu bersamamu, bersama Bundomu, bersama kalian.

Daru, kami berjanji pada diri kami sendiri, tidak akan memaksamu menjadi seseorang yang bukan dirimu. Kami, Abak dan Bundo, akan membebaskanmu menentukan pilihan dalam hidupmu. Hendak menjadi siapa pun engkau kelak, insinyur, seniman, musisi, arsitek, atau bahkan naturalis, selama engkau menjalaninya dengan senang, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai yang benar, insya Allah akan kami izinkan. Kami hanya akan membantu membekalimu supaya engkau bisa memilih dengan benar, sesuai hati nurani dan minat bakatmu.

Kami akan memperkuat akarmu, supaya engkau tetap membumi, setinggi apa pun engkau terbang kelak dengan sayap yang kuat.

Teruslah tumbuh kuat, anakku, seperti pohon Dewandaru yang kuat dan dipercaya sakti. Tumbuhlah menjadi anak yang memiliki hati, kesabaran, dan pengetahuan yang luas, seluas seluas laut (segara) setinggi bintang (lintang).

Peluk cium.

 

Abakmu

 

 

Darma Eka Saputra

5 thoughts on “Sepucuk Surat untuk Anakku (II) Menjelang Enam Bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s