Sepucuk Surat Untuk Anakku (III)

Sepucuk Surat Untuk Anakku (III)

Pandemi Corona

 

17 April 2020

Kepada Daru Lintang Segara,

anakku tersayang.

 

Usiamu sudah lewat sepuluh bulan, kepandaianmu makin bertambah. Selain engkau sedang menjalani fase tumbuh gigi yang menyebalkan, bahkan membuatmu demam, sepertinya engkau sedang berusaha belajar merangkak. Sekarang engkau sudah menyeret-nyeret badan, mengeksplorasi tiap sudut. Abak dan Bundo nyaris tidak bisa melepaskan pandangan darimu, takut engkau menjamah atau mengigit hal-hal berbahaya.

Entah apa yang terjadi, engkau mulai memasuki fase mogok makan. Engkau melakukan Gerakan Tutup Mulut, tidak mau makan makanan yang sudah disiapkan oleh Bundo. Hal ini benar-benar menguji kesabaran dan kewarasan kami. Kami takut engkau mengalami kurang gizi, stunting, sehingga tidak bisa tumbuh normal. Kami memutar otak mencari cara supaya engkau mau makan makanan bergizi yang sudah disiapkan, tidak hanya bergantung pada susu belaka.

Anakku, saat ini bumi sedang dilanda krisis besar. Hampir sebagian bumi dilanda wabah Covid-19. Wabah yang diakibatkan virus corona ini berkembang sangat pesat, dengan pertumbuhan eksponensial. Negara pertama yang terserang wabah ini adalah China, lalu menyebar ke seantero dunia. pada bulan keempat, sudah lebih satu juta jiwa menderita penyakit ini. Penyakit ini seperti flu, tapi cepat menyerang sistem pernapasan, khususnya yang daya tahan tubuh lemah.

Akibat pandemi ini, seluruh dunia menyerukan physical distancing atau penjarak-an fisik. Masyarakat diserukan untuk tetap berada di rumah, tidak berkumpul dan membuat keramaian, bahkan kantor-kantor disarankan untuk menjalankan WFH (work from home, atau bekerja dari rumah). Bahkan, orang-orang tidak disarankan untuk bepergian, guna mencegah persebaran penyakit ini.

Dunia ini sedang sakit, penyakit ini menyebar seperti film zombie apocalypse. Jangan-jangan bumi sedang melakukan penyembuhan, karena sebelumnya ia sakit dieksploitasi secara besar-besaran oleh manusia. Jangan-jangan kitalah, penduduk bumi yang menjadi virus penyakit bagi Ibu Bumi, dan sekarang Dewi Gaia sedang melakukan detoksifikasi dan pembersihan diri.

Nanti akan Abak dan Bundo ceritakan panjang lebar apa yang terjadi pada dunia selama mewabahnya virus ini. Kita akan bercerita ditemani minuman hangat, camilan, dan suasana rumah yang menyenangkan.

Mudah-mudahan pandemi ini bisa segera berlalu, karena Ramadhan akan segera tiba. Wabah ini menyebabkan semua orang harus beribadah dari rumah, supaya persebaran penyakit ini tidak semakin meluas. Sungguh akan sepi sekali Ramadhan kali ini, tanpa ramainya kehebohan bulan puasa. Ramadhan yang sepi merupakan Ramadhan yang sedih. Tapi kami yakin, wabah ini pasti merupakan skenario terbaik Allah untuk hamba-hambanya. Mudah-mudahan kita semua bisa melewatinya dengan sabar dan ikhlas.

Tumbuhlah dengan sehat, baik, dan kuat, anakku. Tumbuhlah menjadi anak yang elok laku, baiak budi, dan indah baso. Semoga engkau selalu dilimpahkan keberkahan dan kebahagiaan sepanjang hidupmu.

 

Peluk Cium

Abak

 

 

4 thoughts on “Sepucuk Surat Untuk Anakku (III)

  1. Pingback: Tulisan Minggu #16 2020 - 1 Minggu 1 Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s