Sepucuk Surat untuk Anakku (VI): Pindah Rumah

23 Mei 2021

Kepada Daru Lintang Segara, bintang kejora hidupku.

Saat Abak menulis surat ini, kita tidak lagi tinggal di daerah Kampung Malang, Surabaya. Kita sekarang tinggal di kabupaten Sidoarjo, di sebuah perumahan baru tidak jauh dari Bandara Juanda. Sebenarnya kita bertiga pindah sudah sejak Maret, namun Abak baru sempat menulis surat ini dan bercerita padamu.

Rumah kita kali ini (walau masih ngontrak) lebih lapang ke belakang, terbuka sampai ke dapur. Rumah ini juga memiliki carpod sehingga jika kita akan jalan-jalan dan Abak meminjam mobil, tak lagi harus parkir jauh-jauh. Selain itu, karena merupakan perumahan baru yang berada di pedesaan dekat perbatasan Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, maka lingkungannya lebih sepi, udara lebih bersih, jika dibandingkan dengan di Surabaya. Engkau pun bisa berjalan-jalan setiap pagi, yang hampir menjadi rutinitas pagimu sebelum mandi, atau ikut Bundo gowes sore-sore. Lingkungan yang lebih sepi ini membuat kita agak merasa sedikit lebih aman dari serangan virus Covid-19 yang mutasinya katanya semakin mengganas. Kalau engkau ingin lihat bagaimana bentuk rumah kita ini, coba tanya ke Bundo. Bundo yang paling rajin mendokumentasikan semua perjalanan hidup kita.

Dulu, tahun-tahun awal pernikahan Abak dan Bundo, kami tinggal di rumah yang terletak di gang sempit, hanya muat masuk motor. Rumahnya tidak besar, memanjang, dengan dua kamar tidur. Di depan rumah langsung berhadapan dengan dinding rumah orang lain. Setelah dua tahun ngontrak, lalu kami pindah ke rumah yang lebih besar, tapi masih berada di daerah tengah kota Surabaya. Pindah rumah ini bersamaan dengan kehamilan Bundo yang semakin besar, memasuki bulan ke delapan. Tak lama setelah pindah, engkau lahir, kemudian Covid-19 menyerang. Engkau nyaris tidak kami bawa ke luar rumah. Engkau tumbuh dan berkembang di rumah berukuran 6 x 12 saja, baru berani kami bawa keluar setelah usiamu satu tahun.

Dengan mempertimbangkan tumbuh kembangmu, kami memutuskan pindah ke lingkungan yang lebih sepi dan sehat. Alhamdulillaah di lingkungan sekarang, banyak anak-anak seusiamu. Mudah-mudahan membawa pengaruh yang lebih baik. Tidak apa Abak harus berkendara sejauh beberapa belas kilometer ke tempat kerja, bukankah setiap perkembangan memiliki harga yang harus dibayar?

Bundomu pernah berkata bahwa kita harus bersyukur hidup kita terus berkembang ke arah yang lebih baik. Ada peningkatan yang terus terjadi, tiap kali kita pindah rumah. Mudah-mudahan nanti juga kita akan pindah ke kondisi yang jauh lebih baik juga.

Oh ya, Daru. Kira-kira rumah kita nanti akan kita beri nama apa ya? Nama yang catchy, mudah diingat, tapi keren.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s