Pamasak Kambiang, Penyelamat Berbagai Masakan di Rumah

Nah, ceritanya kan sekarang aku sudah MENIQA (ini istilahnya teh Anil), tinggal di kontrakan dan sehingga udah ga perlu lagi beli makanan jadi, tinggal masak.

Nah, di rumah, ga melulu istri yang masak. Kadang-kadang aku juga masak, atau masak bareng. Kadang ketika ga sempat belanja di pasar (atau lagi hoream), cuma ada telur untuk dimasak, kadang-kadang ditambah kentang atau mie.

Supaya ga tawar-tawar amat, masak telur orak-arik atau dadar, maka ditambahkanlah bumbu spesial khas, Pamasak Kambiang

Pamasak Kambiang, sang penyelamat

Pamasak Kambiang adalah bumbu bubuk yang dibuat dari berbagai rempah-rempah, biasanya dipakai untuk membumbui kambing (sesuai namanya, Pemasak Kambing), bumbu cancang, kadang-kadang kalau yg mau, dimasukkan ke rendang.

Ternyata, dicampurkan ke adonan dadar, orak-arik, juga oke. Memberikan rasa rempah yang ga terlalu mengganggu (jangan kebanyakan) dengan aroma yang wangi.

Yang belum dicoba adalah dicoba dicampurkan ke adonan berkuah seperti bihun, mie, atau gulai. Ya emang belum mau nyoba aja, hahahaha.

Ada ide dicampurkan ke masakan apa lagi? Minangkabaunese?

Go Back Couple, Pasutri yang Dikembalikan Ke Masa Lalu

 

Jadi ceritanya istriku menggemari K-Drama, dan sempat berikrar akan membuatku ikut nonton K-Drama. Baiklah, awalnya kumulai dengan yang lagi ngetren saat itu (telat sih), Goblik, eh, Goblin. Setelah dua episode, akhirnya aku drop, karena ga dapet feel-nya (gaya amat ya..).

Lalu, doi minta aku mengunduh beberapa serial baru, tentu saja, K-Drama. Salah satunya berjudul Go Back Couple. Menurut istri, ceritanya oke, tentang pasutri yang dikembalikan ke masa lalu. Aku coba nonton episode pertama dengan istri, lalu… “Eh, oke juga nih keknya.”

Serial ini bercerita tentang sepasang suami istri, Cho Ban Do dan Ma Jin Joo yang telah menikah selama belasan tahun. Di episode pertama, diceritakan mereka kemudian bercerai, karena mereka berdua menganggap tidak bahagia dalam pernikahan mereka.

Biasa, drama-dama, nangis-nangis, keduanya melepaskan lalu membuang cincin kawin. Ketika terbangun di pagi hari, mereka dikembalikan ke tahun 1999, saat mereka masih jadi mahasiswa baru. Cerita berlanjut, mereka menjalani hidup sebagai mahasiswa baru dengan usia mental 38 tahun.

Serial ini menarik karena alurnya oke. Ada cuplikan-cuplikan kejadian di masa lalu tapi setelah tahun 1999, yang kemudian menjadi benang merah konflik mereka. Penyusunan skenarionya memancing keinginan penonton untuk terus lanjut ke episode berikutnya. IMO, ceritanya tidak cheesy, cukup dewasa dan (agak) masuk akal (kecuali bagian kembali ke masa lalu.)

Kenapa aku suka sama serial ini? Sebagai pasutri baru, serial ini mengajarkan banyak hal. Hal terpentingnya adalah, komunikasi adalah hal terpenting sebagai suami-istri. Banyak konflik terjadi karena komunikasi yang tidak lancar dalam keluarga. Komedi dan drama dalam serial ini pas, tidak berlebihan dan dikemas dengan baik.

Eciyeee, lanjut nonton K-Drama dong sekarang? Ya, kalau emang oke dan layak ditonton, gapapa lah ya. Oke-oke aja mun ceuk saya mah. Heuheuheuheu.

Mun Kepo Hungkul Mah, Ulah Sok Tatanya Sagala

Warning, tulisan ini tidak ditulis dalam bahasa Sunda. melainkan dalam bahasa Indonesia yang (mungkin) baik dan (entah) benar.

Pernah ga sih, dihantui pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada ujungnya.

  • kapan lulus?
  • (udah lulus) kapan kerja?
  • (udah kerja) kapan nikah?
  • (udah nikah) kapan punya momongan?
  • (punya anak 1) ga nambah lagi? biar si kakak ada temennya.
  • (punya anak 2) sepasang doang? ramein atuh rumahnya..
  • (punya anak 3) ga tau sih pertanyaan berikutnya apa, tapi pasti selalu ada pertanyaan-pertanyaan

Pasti tidak sedikit yang mengelus dada menahan sakit (atau jengkel) mendengarkan pertanyaan-pertanyaan ini. Alasannya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak berdiri sendiri, pasti ada lanjutannya. Misal, “Kapan lulus, itu teman-temannya udah pada lulus, udah mapan, masa kamu belum?”, “Kapan nikah, anak Ibu C anaknya udah nikah dan punya anak, padahal lebih muda dari kamu.”

Jujur saja, pertanyaan-pertanyaan itu sempat menjengkelkanku (oke, tiga pertanyaan teratas.) Masalahnya, yang mengajukan pertanyaan bukanlah keluarga terdekat, atau sahabat karib, melainkan hanya teman, kenalan, ya gitu deh.

“Ngapain sih nanya-nanya, kepo doang atau beneran peduli?” itu yang kurasakan dalam hati.

Tidak semua orang senang ditanya-tanya seperti itu, apalagi hanya sekedar pertanyaan “basa-basi” dan “kepo” saja. Apa manfaat jawaban pertanyaan itu untuk penanya? Atau penanya memang benar-benar peduli pada yang ditanya?

Kalau memang peduli, tunjukkan, jangan hanya dijadikan pertanyaan sambil lalu saja.

“Kenapa masih belum nikah? Dalam pandanganku kamu sudah siap secara usia dan finansial, sekarang apa yang menghalangi? Apa yang bisa aku bantu?”

“Kalian sudah menikah sekian tahun, tapi belum dikaruniai momongan. Apakah memang sengaja menunda atau gimana? Aku punya beberapa artikel, dokter yang mungkin bisa membantu”

Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan yang kadang kita tanyakan sambil lalu, menyakiti perasaan orang lain. Kalau ditanya balik “Kapan mati?” sama orang lain, senang ga?

Kita sering dinasihati seperti ini, “Kalau kamu sakit dicubit, maka orang lain juga akan sakit kalau dicubit.” Menurutku lebih tepatnya, “Coba tanya ke orang lain apakah dia kalau dicubit sakit, atau jangan-jangan malah ada luka yang terbuka kalau kita cubit?”

Cara kita bereaksi terhadap sesuatu pasti berbeda dengan orang lain. Jadi tidak bisa disamakan.

“Ah pertanyaan itu doang, lebay banget sih ampe sakit hati segala.”

Jangan-jangan dia punya kisah yang menyakitkan, yang akan mengorek luka jika kita menanyakan suatu pertanyaan. Jangan-jangan pertanyaan kapan nikah mengorek lagi luka karena kegagalannya bersanding dengan seseorang, dan luka itu belum sembuh benar.

Jadi, mun kepo hungkul mah, ulah sok tatanya lah. Mending cicing we, mun teu boga solusi atau teu paduli-paduli pisan mah. Kitu, ngartos teu, **d?

Tiga Puluh

18 Maret 1987, Ibu Yulismar melahirkanku. Alhamdulillah persalinannya lancar, di rumah dengan bantuan bidan. Hari itu Rabu, (alm) bapak baru saja mulai masuk kerja lagi, setelah sebelumnya cuti seminggu menunggu aku nongol. Bapak lalu memberikanku nama Darma Eka Saputra

Tiga puluh tahun setelah itu berbagai pengalaman dan kejadian membentukku sehingga menjadi orang yang seperti ini. Waktu juga membentukku sehingga seperti sekarang.

Usia tiga puluh bukan lagi usia “mentah” saat keputusan yang kuambil hanya didasari emosi belaka, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Usia segini harus diikuti dengan kedewasaan.

Kuakui, aku yang sekarang (mungkin) jauh lebih baik dari aku pada lima hingga sepuluh tahun yang lalu. Tapi apakah aku yang sekarang sudah baik? Entahlah, mungkin kalian yang mengenal dan berinteraksi denganku lebih bisa menilai.

Tiga puluh tahun ini banyak hal yang telah kulalui, tempat yang kudatangi, orang yang kutemui dan kebodohan yang kulakoni. Tak bisa disangkal banyak hal-hal yang pernah kulakukan dan menunjukkan kebodohan serta kualitas burukku. Hal-hal itu harus menjadi pelajaran untukku di masa mendatang.

Saat memasuki usia tiga puluh ini, aku harus tetap berusaha memperbaiki diri. Perjalanan hidupku masih panjang (aamiin), ada mimpi dan cita-cita yang sedang berusaha kugapai. Suatu saat aku akan menjadi Imam, Suami, Abak. Memikirkan ini membuatku melakukan refleksi diri, “Sudah siapkah? Sudah Pantaskah”

Yang kutakutkan adalah ketika suatu saat diriku tidak menjadi lebih baik, kehilangan kualitas-kualitas baik yang selama ini kucoba tumbuhkan. Yang pasti aku memohon kepada-Nya untuk diberikan punggung yang lebih kuat menahan beban, kaki yang lebih tangguh melangkah dan diri yang lebih mampu menapaki jalan yang mungkin tidak lebih mudah.

Dalam usia tiga puluh ini, terima kasih kuucapkan sebanyak-banyaknya kepada ibu dan bapak, mencurahkan cinta kasihnya. Mohon maafku, hingga sekarang mungkin belum bisa memenuhi harapan. Terima kasih juga atas doa yang selalu diucapkan untuk kami, anak-anakmu.

Juga untuk kakak-kakakku, kerabat, keponakan, kawan-kawan terdekat, sahabat, fans, haters, pokoknya semua. Tanpa kalian semua, aku yang sekarang tidak akan seperti ini.

Tentu saja, untuk kamu. Iya kamu, yang mengirimkan e-mail berisi ucapan dan doa untukku. Kamu yang insya Allah akan menemaniku menjalani hidup.

Aku, Sekolahku dan Makna Sekolah

 

Sudah lewat sebulan ga posting lagi, udah disindir-sindir nih di grup #1minggu1cerita. Seperti biasa, setiap awal bulan #1minggu1cerita selalu bertema. Tema untuk awal bulan September ini adalah Aku dan Sekolahku.

Cerita masa SMA, SMP dan SD telah kuceritakan sedikit di postingan-postingan yang lama. Tidak bercerita banyak sih, tapi mudah-mudahan sedikit memberikan gambaran kehidupanku di masa sekolah.

Tapi jika diingat-ingat lagi, memang masa SMA lah yang paling terkenang bagiku. Pada waktu SMA aku mengalami transformasi pertama, melewati masa puber yang penuh gejolak, energi yang meluap-luap dan arogansi senior yang terbawa hingga masa kuliah.

Ketika SMA, aku berubah dari siswa SMP yang introvert menjadi siswa SMA yang aktif dan (cukup) dikenal. Beberapa organisasi aku ikuti, beberapa lomba kujalani dan beberapa forum mengantarkanku melanglang buana hingga ke Yogyakarta.

Banyak faktor yang mengubahku ketika SMA. Salah satunya adalah KingStone yang mengubah Ksatria Baja Hitam menjadi Ksatria Baja Hitam RX. (Ya elaah, Cuma tahan serius 4 paragraf doang…) Oke, yang menjadi faktor penentu dalam perubahanku adalah teman-teman sekelas yang heboh, keluarga dan fakta bahwa siswa SMP 1 Padang kayak pindah kelas aja ke SMA 1 Padang.

Selain itu masa SMA mengajarkan banyak hal lho. Ketika SMA aku benar-benar mengenal komputer (dulu cuma saling lirik doing, ga sampai kenalan), belajar nge-game, mengenal jejaring sosial, gimana caranya ngeceng yang baik dan benar, mengambil hati guru, mencari tahu tempat baca komik yang murah dan rada tersembunyi, dan pelajaran-pelajaran lainnya.

Masa SMA tidak mengajarkanku menjadi dewasa, tentu saja. Selepas SMA aku tetaplah remaja tanggung yang mendadak merantau meninggalkan kampung halaman. Tapi masa SMA tetap masa paling indah, maklum, pertama kali pacaran, dan pertama kalinya (dan terakhir kali mungkin) punya fans. Heuheuheu.

Sejak kecil hingga lepas SMA, sekolah bagiku hanyalah sekolah formal. Sekolah informal hanyalah sebuah penambah keahlian semata.

Tetapi ketika telah menginjak usia dewasa (usia dewasa itu kapan ya? Atau lebih tepatnya menginjak usia tua mungkin ya) aku menyadari bahwa makna sekolah jauh lebih luas daripada hanya seputaran akademik belaka.

Sekolah ternyata berpengaruh besar bagiku, walau pengaruhnya tak bisa mengalahkan keluarga. Siapa aku saat ini tak lepas dari pengaruh pendidikan yang kuterima di sekolah. Pendidikan ya, bukan pengajaran.

Interaksi dengan guru, teman, penjaga sekolah bahkan dengan masyarakat sekitar sekolah berpengaruh terhadap pembentukan karakterku. Ekskul Paskibra-PBB SMA 1 Padang, OSIS SMA 1 Padang dan kawan-kawan ekskul lain yang berinteraksi denganku juga membawa pengaruh dalam perkembangan kepribadian.

Seluruh dunia yang aku lewati dan berinteraksi dengannya adalah sekolah. Bagiku seperti itu. Hingga sekarang, aku masih sekolah. Aku masih belajar dari setiap orang yang kutemui, setiap perjalanan yang kulalui serta buku-buku yang kubaca. Apalagi mantan, tentu saja membawa pengaruh dalam album kenangan-kenangan yang hampir dilupakan. Move dong sob, udah bukan JoNes lagi. (lirik si pacar. Heuheuheu)

Bukankah falsafah orang Minang adalah Alam Takambang Jadi Guru. Hadist menyatakan untuk menuntut ilmu hingga ke liang lahat, maka seumur hidup kita akan terus belajar, dari apapun dan siapapun.

Tapi kalau dipikir-pikir, mengenang lagi masa sekolah, jadi banyak malunya. Terlalu banyak hal-hal bodoh yang dulu kulakukan, setengah brengsek setengah jail setengahnya lagi ga jelas (lah, jadi satu setengah dong?)

Karena show must goes on, maka biarlah kesalahan masa lalu jadi pelajaran untuk masa depan. Ibaratnya ulangan, kesalahan-kesalahan tersebut ga boleh terjadi lagi ketika ujian kenaikan kelas. Ya kalau kejadian lagi, mungkin lupa. Hehehehe.

Yang pasti, memilihmu bukanlah sebuah kesalahan, ahahahahay…. #tabok

 

 

1minggu1ceritaa

 

Ketika Keselamatan Diri Diabaikan

Dalam beberapa minggu ini aku akan berkegiatan di sebuah universitas negeri di sebuah kota di Jawa Tengah. Satu hal yang mencolok yang aku perhatikan adalah bahwa mereka, para mahasiswa berkendara roda dua tidak memakai helm. Sebagian besar aku lihat, hilir mudik tidak memakai helm.

Berdasarkan UU Lalu Lintas no 22 tahun 2009, pengendara speda motor wajib memakai helm SNI, membawa SIM dan STNK motor. Peraturan ini bertujuan untuk keselamatan dan kenyamanan dalam berkendara. Jika pengendara tidak memakai helm, akan dikenai pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda maksimal Rp. 250.000. jika pengendara tidak membawa STNK, akan dikenai pidana kurungan dua bulan atau denda maksimal Rp. 500.000. Pengendara yang tidak memiliki SIM akan dikenai pidana kurungan empat bulan atau denda maksimal Rp. 1.000.000.

Mungkin mereka memakai helm karena takut akan polisi, bukan karena takut cidera jika terjatuh dan mengalami kecelakaan. Padahal, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di jalan. Seyakin-yakinnya kita akan kemampuan kita berkendara, tapi siapa tahu ada pengendara lain yang meleng, ngantuk atau mabuk dan tiba-tiba menyambar kendaraan kita.

Jumlah kendaraan roda dua di Indonesia sangat banyak. Hadirnya motor transmisi otomatis (matic) disertai gampangnya memperoleh motor dengan kredit menambah banyaknya pemakai kendaraan roda dua ini. Pengurusan SIM yang gampang (apalagi kalau lewat jalur belakang) mengakibatkan kesadaran pengendara akan keselamatan dan rambu-rambu lalu lintas sangat rendah.

Faktor-faktor ini akhirnya memunculkan pengendara-pengendara sembrono yang mengendarai kendaraan seenaknya, tanpa memperhatikan keselamatan diri dan orang lain. Pengendara-pengendara seperti inilah yang menimbulkan banyaknya korban jiwa dalam setiap kecelakaan. Pemakaian helm dalam berkendara sepeda motor, mengurangi cedera kepala 75% jika dibandingkan tidak memakai helm. Helm yang sudah memenuhi SNI mampu menahan benturan yang cukup keras jika pengendara terjatuh saat mengendarai sepeda motor.

Jadi mulai sekarang, biasakan berkendara dengan tertib, utamakan keselamatan.

Kereta Api

Aku menyenangi melakukan perjalanan dengan kereta api. Banyak buku-buku yang bercerita tentang perjalanan dengan kereta api. Ada banyak cerita bisa tertulis, ada banyak pembicaraan terjadi dan banyak renungan yang terjadi di dalam gerbong kereta. Novel Moechtar Loebis, Balada si Roy nya Gola Gong, hingga novel 5 Cm mempunyai adegan yang bercerita di dalam kereta.

Untukku pribadi tidak jauh berbeda. Gerbong kereta bagiku menjadi sebuah ruang meditasi, ruang inspirasi dan chat room jika tidak melakukan perjalanan sendiri. Suatu kali aku pernah “kabur” dari Bandung ke Yogyakarta dengan kereta sehingga aku bisa punya waktu untuk berpikir dalam perjalanan delapan jam Bandung-Yogya.

Dahulu kereta api masih belum sebaik sekarang. Kelas ekonomi apalagi, tidak ada aturan nomor tempat duduk, tidak ada pembatasan penumpang sehingga gerbong kereta sangat penuh, bahkan untuk lewat pun sangat sulit. Sekarang sudah jauh lebih baik, kereta ekonomi sudah melakukan pembatasan penumpang disertai nomor tiket, tidak ada lagi yang merokok di dalam gerbong. Baik dulu ataupun sekarang, perjalanan dengan kereta api selalu menyenangkan, selalu ada cerita baru, selalu ada renungan di dalamnya.

Perjalanan selama beberapa belas jam pun tidak akan terasa terlalu melelahkan. Aku bisa meluruskan kaki kapan saja, bisa berdiri dan berjalan untuk sekedar melancarkan kembali aliran darah ke dan dari kaki. Jendela kereta yang luas menyuguhkan pemadangan yang beragam. Sawah, hutan, kota dan pedesaan berganti-ganti seperti screen saver yang indah.

Jika engkau belum pernah bepergian dengan kereta api, cobalah. Pengalaman yang akan engkau dapatkan akan sangat berbeda. Jika engkau pernah bepergian dengan kapal laut, mungkin engkau akan merasakan pengalaman yang agak mirip, kecuali bagian pemandangan.

Tapi melakukan perjalanan dengan kendaraan apapun, pasti selalu ada cerita baru dalam hidupmu. Tak pernah ada perjalanan yang membawa cerita yang sama, walau arah yang dituju dan orang yang menemanimu sama. Nikmati saja. Enjoy your trip

Bandung-Semarang

4 Mei 2015