Secangkir kopi tanpa gula

April-mei 2012

Secangkir kopi tanpa gula disaat hujan merana

sebatang kretek tanpa filter terbakar diam-diam tanpa suara

 

secangkir kopi tanpa gula menyisakan ampas di dasar cangkir

dan getir di pangkal lidah

apalagi yang terkenang?

Titik-titik hujan pada jendela?  Atau gelegar guruh mengguntur dada?

 

Secangkir kopi tanpa gula, dingin dan mulai asam

Seekor lalat terjebak, tertatih timbul tenggelam

Sebuah buku bersampul biru terbuka, setengah terisi

Kenapa tak kau teruskan puisimu? Haruskah menunggu hujan reda?

Haruskah saat pelangi menjembatani hati?

 

Secangkir kopi tanpa gula di tepi perapian menyala

Samar-samar suara biola menyayat-nyayat hati

Menjeritkah karena tanpamu? Melengking tanpa kata

Menangiskah karena rindu? Saat satu dua senar putus

 

Secangkir kopi tanpa gula, jatuh dan pecah

Tumpah pada karpet merah, hitam membuat naik pitam

Pada siapa harus marah? Pada nasib burukkah?

Atau pada waktu yang melesat seperti anak panah?

Setelah Fajar

Tak terpejam mata

nyalang setelah subuh

ditiup-tiup dingin

menunggu mentari terbit

 

Sayup-sayup suara lelaki

mengaji menyambut pagi

lamat-lamat terdengar tangis

bocah kecil kehilangan hangat peluk ibunya

 

Ambil cangkul, dahului sang Surya

berjalan tertatih menuju ladang

berharap panen

 

Di pantai, pulang melaut

dan tangkapan diborong tengkulak

menyisakan sedikit dibawa pulang

sekedar makan beberapa hari

 

Begitu juga wanita bergincu merah

membuka pintu rumah

setelah pintu kamar ditutup oleh pelanggan terakhir

tertidur letih memeluk si kecil

 

Gelandangan meringkuk di emperan

dihembus-hembus dinginnya pagi

berselimut koran yang tertiup entah kemana

 

Tak lama lagi matahari terbit

Tak lama lagi jalanan ramai

Tak lama lagi pintu-pintu dibuka

Tak lama lagi orang lalu lalang

 

dan pada saat itulah…….

Hidup dan Perjalanan

Ketika perjalanan harus berhenti

lalu apa yang harus kulakukan?

Aku hidup karena perjalana

Aku berjalan karena hidup

Aku berjalan karena harus

Aku berjalan karena ingin

Aku berjalan bukan lari

Aku terbakar dan berjalan

Aku bersinar dan berjalan

Aku hidup

Aku berjalan

Burangrang, 09062012

25

rasanya masih jauh dari dewasa

masih jauh dari cita-cita

masih jauh dan jauh.

sementara waktu terus berlari meninggalkan yang terdiam

kaki ini berat melangkah

angan-angan terbang tinggi padahal

rasanya memang harus meminta maaf

kepada semua, semua dan semua

lalu bangkit dan berlari mengejar ketinggalan

biarkan saja luka, nanti sembuh sendiri

biarkan saja perih, nanti hilang sendiri

biarkan saja sepi, akan ada yang menemani

tapi jangan biarkan cinta

kejar dan harus kukejar

tangkap dan jangan lepaskan lagi

jangan biarkan sahabat

genggam erat hingga akhir perjalanan

18031987 – 18032012

Untuk Kawanku

Selamat malam

Mari bercerita lagi

tentang hari-harimu, tentang aku, kamu, dia, dan lainnya

 

Ditemani secangkir kopi panas, wangi mengepul.

Bir dingin?

Terdengar cukup nikmat di malam yang cukup panas ini,

tapi maaf, aku tidak minum

 

Masihkah kau terjebak diantara si Rubah dan si Kucing?

Memang tidak mudah melupakan cerita yang kau susun

beberapa belas purnama.

 

Ah sudahlah, nikmati saja malam ini

lebih baik kita bercerita saja

tentang negeri kita yang semakin kocak.

 

Di negara manalagi kau akan menemukan lumpur membanjiri kota,

tiba-tiba menyembur dari dalam tanah seperti mata air?

Di negara mana lagi akan kau temukan sebuah berita tiba-tiba mendominasi

mengalihkan perhatian dari berita sebelumnya?

Tak akan pernah kau temukan di tempat lain, tiba-tiba seseorang lari ke luar negeri

hanya untuk memeriksa tukak lambung.

Hanya disini, pemimpin yang katanya pelayan rakyat,

tapi malah bikin repot rakyatnya saat dia berkunjung.

 

Jenuh?

Sama, aku juga jenuh dan muak.

Tapi apa hendak dikata

Hanya disini tempatku, kamu, dan mereka berpijak.

 

Aku tahu kamu gatal hendak bergerak

tapi harus bagaimana.

Kau punya anak dan istri dengan segala kebutuhannya..

Atasanmu berkacak pinggang di saat dead-line.

Mertuamu dirawat karena stroke.

 

Engkau terikat diantara idealisme dan realita.

Engkau mantan pejuang, tombak terdepan setiap aksi

sekarang menundukkan kepala di depan orang-orang yang kau teriaki dulu

 

Lihat, perutmu semakin membuncit

serupa bapak-bapak yang engkau ejek-ejek dahulu

Suaramu semakin pelat sobat,

langkahmu semakin lambat,

otakmu tumpul matamu kabur buram oleh jabatan.

tumpul karena lagu-lagu indah itu.

 

Kenapa engkau malu bercerita tentang masa lalu kita?

saat-saat kita bergerak, berteriak bersama.

Ingatkah engkau lagu yang kita nyanyikan dulu?

“Kita muda, beda dan berbahaya”

 

Engkau sekarang lebih asyik bercerita

tentang proyek 9 digitmu, hobi barumu, cicilan rumah, atasan.

Tak apa, aku tetap jadi pendengar setiamu

sampai kau berbuih bercerita.

 

Tak apa, aku masih disini kok,

menantimu dikedai kopi ini.

Duduk diam dalam damai,

sambil menyesap kopi kesukaanku

Hitam, pahit, dan panas.

Anak-anak Ibu Pertiwi

Duhai Ibu Pertiwi

lihatlah kami anak-anakmu,

terlena dimanja teknologi

disuapi informasi terus menerus tanpa jeda

tertipu ilusi maya, dan tenggelam dalam hayal tak tentu

mencari kesenangan dalam mimpi

 

Perhatikan kami Ibu

kami generasi yang bermain-main dengan kelamin

berlari-lari dalam pelacuran, berbayar atau tidak

terjebak kubangan nafsu purba

 

Kami adalah anak-anakmu yang anarkis

kesenangan kami adalah merusak,

kecintaan kami adalah penindasan

Kekasih kami perkelahian, dan

bercumbu dengan keegoisan kami

 

Cintai kami Ibu, Generasi yang religius.

arta adalah tuhan untuk kami,

tahta tujuan kami, surga kami,

bernabikan kekuasaan

ibadah dengan pesta pora

 

perhatikan kami berenang dalam kabut mariyuana

tertidur nyenyak di atas kasur candu

dalam nyamannya selimut narkotika

 

Jangan takut Ibu Pertiwi

walau kami dibutakan harta dan tahta

tak lupa kami bersedekah dalam keapatisan

keegoisan dan ketidakpedulian

Popularitaslah jalan Sufi kami

kecantikanlah “Rumi” kami

 

Saat kami terbelenggu kemiskinan, rendah terhina

kami masih bebas merampok, mencoleng

tak terhalang memperkosa

 

Banggakah engaku pada kami Ibu?

Tubuh-tubuh indah, rambut cantik

kami pamerkan, kami tunjukkan, kami pertontonkan

kami terpelajar, berpendidikan tinggi

bekerja di perusahaan multi-nasional.

walau kami terjebak kebodohan

selalu ada jalan untuk hidup

di lorong-lorong selokan, berteman dengan tikus-tikus berdasi

menjadi budak coro-coro dunia hitam

 

Siapakah bapak kami wahai Ibu yang Bijaksana

para pendahulu kami adalah anak perjuangan

dan engkau melahirkan Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir, Diponegoro dan Hasanuddin

 

Siapakah ayah kami wahai ibu yang selalu dian?

sehingga kami menganut ajaran kekerasan

berkiblat materialistis, menjadi budak Eros

 

Kenapa setelah engkau menikah dengan Kemerdekaan

engkau melahirkan anak-anak seperti kami?

dan anakmu yang lurus terkucilkan

bersusah payah  berjuang melawan arus

 

Tertawakan kami ibu

saat terseok berjalan lurus

saat serak suara kami meneriakkan kebenaran

karena tidak ada yang membimbing, mendengan, melihat, memperhatikan

 

Biarkan saja

ketika kami terjebak roman picisan

terpaku romantisme masa lalu

 

lalu sadarkan

ketuk jantung hati

sembuhkan impotensi kami

sehingga anak-anak kami bangga.

 

Dharma Poetra

Februrari 2011

Secangkir doa

Usia semakin bertambah, umur makin berkurang.

Waktu berlari tanpa henti, tanpa menoleh

tak sigap, dan akan terseret tanpa ampun


Ya Rabb

terkadang aku mendekati-Mu, tapi lebih sering aku lari menjauh

aku ingat, tapi lebih sering aku lupa

tapi kasih sayang-Mu tidak pernah menjauh, Rahmat-Mu tidak pernah lupa


Ya Khalik Yang Maha Perkasa, Yang Maha Membolak-balikkan Hati

tetapkanlah hatiku untuk selalu di jalan-Mu

tetapkan wajahku sehingga tidak pernah berpaling dari-Mu

bimbing hatiku sehingga selalu mengingat-Mu

bangunkan malamku sehingga kuhiasi dengan air mataku

pelihara lidahku tidak pernah henti membaca ayat-Mu

tuntun langkahku di jalan-Mu

jalan orang-orang yang beriman,

bukan jalan yang Engkau murkai, dan bukan jalan yang sesat


kumohon dengan sangat

kumohon dengan sangat

kumohon dengan sangat

kumohon dengan sangat

kumohon dengan sangat