Mun Kepo Hungkul Mah, Ulah Sok Tatanya Sagala

Warning, tulisan ini tidak ditulis dalam bahasa Sunda. melainkan dalam bahasa Indonesia yang (mungkin) baik dan (entah) benar.

Pernah ga sih, dihantui pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada ujungnya.

  • kapan lulus?
  • (udah lulus) kapan kerja?
  • (udah kerja) kapan nikah?
  • (udah nikah) kapan punya momongan?
  • (punya anak 1) ga nambah lagi? biar si kakak ada temennya.
  • (punya anak 2) sepasang doang? ramein atuh rumahnya..
  • (punya anak 3) ga tau sih pertanyaan berikutnya apa, tapi pasti selalu ada pertanyaan-pertanyaan

Pasti tidak sedikit yang mengelus dada menahan sakit (atau jengkel) mendengarkan pertanyaan-pertanyaan ini. Alasannya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak berdiri sendiri, pasti ada lanjutannya. Misal, “Kapan lulus, itu teman-temannya udah pada lulus, udah mapan, masa kamu belum?”, “Kapan nikah, anak Ibu C anaknya udah nikah dan punya anak, padahal lebih muda dari kamu.”

Jujur saja, pertanyaan-pertanyaan itu sempat menjengkelkanku (oke, tiga pertanyaan teratas.) Masalahnya, yang mengajukan pertanyaan bukanlah keluarga terdekat, atau sahabat karib, melainkan hanya teman, kenalan, ya gitu deh.

“Ngapain sih nanya-nanya, kepo doang atau beneran peduli?” itu yang kurasakan dalam hati.

Tidak semua orang senang ditanya-tanya seperti itu, apalagi hanya sekedar pertanyaan “basa-basi” dan “kepo” saja. Apa manfaat jawaban pertanyaan itu untuk penanya? Atau penanya memang benar-benar peduli pada yang ditanya?

Kalau memang peduli, tunjukkan, jangan hanya dijadikan pertanyaan sambil lalu saja.

“Kenapa masih belum nikah? Dalam pandanganku kamu sudah siap secara usia dan finansial, sekarang apa yang menghalangi? Apa yang bisa aku bantu?”

“Kalian sudah menikah sekian tahun, tapi belum dikaruniai momongan. Apakah memang sengaja menunda atau gimana? Aku punya beberapa artikel, dokter yang mungkin bisa membantu”

Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan yang kadang kita tanyakan sambil lalu, menyakiti perasaan orang lain. Kalau ditanya balik “Kapan mati?” sama orang lain, senang ga?

Kita sering dinasihati seperti ini, “Kalau kamu sakit dicubit, maka orang lain juga akan sakit kalau dicubit.” Menurutku lebih tepatnya, “Coba tanya ke orang lain apakah dia kalau dicubit sakit, atau jangan-jangan malah ada luka yang terbuka kalau kita cubit?”

Cara kita bereaksi terhadap sesuatu pasti berbeda dengan orang lain. Jadi tidak bisa disamakan.

“Ah pertanyaan itu doang, lebay banget sih ampe sakit hati segala.”

Jangan-jangan dia punya kisah yang menyakitkan, yang akan mengorek luka jika kita menanyakan suatu pertanyaan. Jangan-jangan pertanyaan kapan nikah mengorek lagi luka karena kegagalannya bersanding dengan seseorang, dan luka itu belum sembuh benar.

Jadi, mun kepo hungkul mah, ulah sok tatanya lah. Mending cicing we, mun teu boga solusi atau teu paduli-paduli pisan mah. Kitu, ngartos teu, **d?

Jadilah Wisatawan yang Disiplin

 

Indonesia terkenal karena banyaknya tempat wisata yang tersebar di seluruh negeri, mulai dari ujung Sumatra hingga pojok Papua. Tidak hanya terkenal di dalam negeri, beberapa tempat wisata bahkan telah menjadi tujuan favorit wisatawan asing.

Pertanyaannya adalah, “Dari sekian banyak objek wisata tersebut, berapakah yang sangat bersih, tertib dan nyaman?” Tebakanku, tidak terlalu banyak. Pertanyaan berikutnya, “Dari yang tidak terlalu banyak itu, berapakah yang benar-benar bersih karena pengunjungnya yang tertib, bukan karena tenaga kebersihannya sigap?” Pasti sedikit sekali.

Pada awal Juli aku berkesempatan mengunjungi salah satu pantai yang cukup terkenal di kota Padang. Ceritanya sih, ngajak istri jalan-jalan, lagi butuh vitamin sea katanya. Tempatnya agak sulit dijangkau, terletak di pinggiran kota, harus naik dan turun bukit supaya bisa sampai di sana. Untungnya pakai kendaraan sendiri, jadi tidak terburu-buru oleh waktu.

Pantainya sih indah, tapi banyak sampah. (foto koleksi dewe)

Tempatnya bagus, kami menikmati indahnya matahari terbenam ditemani deburan ombak yang merdu dan segarnya air kelapa muda. Tapi sayang sekali, hampir sepanjang mata memandang di tepi pantai itu, banyak sekali sampah berserakan. Sampah-sampah yang berserakan itu bervariasi, mulai dari bekas makanan, minuman, bahkan popok bayi…!!!. Man, popok bayi…..!!

Betapa kita sama sekali tidak disiplin sebagai wisatawan. Sebegitu sulitkah menyimpan sementara sampah yang kita hasilkan, sampai nanti menemukan tempat sampah. Istriku dulu pernah bilang kalau orang yang membuang sampah sembarangan itu merupakan orang primitive. Orang-orang primitive membuang sampahnya sembarangan karena semua sampahnya adalah sampah organik yang kemudian akan hancur menjadi tanah. Ya berarti di masih banyak orang primitif di negeri ini.

Pantainya sih indah, tapi banyak sampah. (foto koleksi dewe)

Tidak hanya masalah sampah, kita sebagai wisatawan sangat sulit sekali mematuhi peraturan yang telah ditetapkan di tempat-tempat wisata. Misalkan, di Candi Borobudur itu ada peraturan yang melarang wisatawan duduk di areal tertentu. Di beberapa gunung ada larangan memetik bunga, menyalakan api, membawa barang-barang tertentu.

Coba lah, kita sebagai wisatawan mulai belajar disiplin diri. Patuhi peraturan-peraturan yang berlaku di tempat-tempat wisata tersebut. Peraturan-peraturan tersebut bertujuan untuk kenyamanan, keselamatan dan keamanan kita,

Sama sekali tidak sulit mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Mungkin akan terlihat merepotkan pada awalnya. Kalau gak mau repot, jalan-jalannya pakai VR aja, sambil malas-malasan di rumah. Atau kalau bener-bener gak mau repot, telen granat aja sana.

Menikah

Udah halal euy. (difoto ku batur, azra photoworks)

2 Juli 2017 pukul 09.00 WIB, aku duduk berhadapan dengan penghulu dan wali dari seorang perempuan bernama Ratih Dwi Furwanti. Bertempat di Masjid Jami’ Pandan Basasak Kenagarian Kapau, Kabupaten Agam, aku mengucapkan ijab qabul yang resmi mengikatku dan Ratih menjadi suami istri, secara agama ataupun negara.

Segera setelah saksi nikah mengatakan, “Sah,” seakan seember air dingin menyiram tengkuk, memberikan kelegaan setelah tegang menjelang akad nikah. Berikutnya adalah prosesi secara adat, yang kami berdua ingin dijadikan sederhana saja.

Yang akan aku bahas bukan hal itu, tapi tentang aku menikah.

Aku dan Ratih telah menjalani hubungan (kata anak muda: pacaran) selama kurang lebih empat tahun. Dalam waktu yang tidak sebentar itu banyak hal yang telah kami lewati: duka, tawa, marah, kecewa, bahkan ragu. Tapi kami yakin semua itu sesungguhnya sedang menempa kami menjadi siap.

Apakah benar-benar siap? Entahlah, menurutku tidak ada yang benar-benar seratus persen siap menikah. Pasti selalu saja ada sedikit (atau banyak, tergantung orang) hal yang membuat kita bertanya, “Bener sudah siap?”, baik fisik, atau mental.

Aku sekarang telah menjadi seorang imam, kepala keluarga. Sebuah gelar yang luar biasa dengan tanggung jawab dahsyat. Hidupku sekarang bukan lagi milikku seorang, tapi ada istri (dan insya Allah anak) yang kemudian menjadi tanggunganku. Aku pasti akan terus berusaha belajar menjadi suami, imam, kemudian bapak (atau Abak) yang bisa menjadi contoh teladan.

Selain itu, aku semakin belajar menghargai kawan-kawan yang belum menemukan pasangan hidupnya. Terkadang bukan mereka tidak siap atau tidak mau, perjalanan hidup terkadang membuat mereka harus berpikir ulang tentang banyak hal. Aku tahu karena aku menjalani hidup yang (mungkin) sama, tidak terlalu lancar dan mudah.

Mudah-mudahan kami sekeluarga diberikan punggung yang lebih kuat menanggung beban yang pasti tidak lebih ringan, tapi jika ditanggung bersama maka kami akan kuat menjalani hidup bersama, hingga maut memisahkan kami.

Semoga saudara-saudara kami yang masih belum menemukan pasangan hidup mereka, diberikan kemudahan dan waktu yang tepat menjalani biduk rumah tangga.

Cerita di Masjid Salman ITB

#TehSalmanManis
Lucu ya, ketika Masjid Salman ITB, atau kami sering menyebutnya Salman saja, dituduh menjadi tempat penyebaran paham radikal.
Selama di kuliah, aku tidak “dibesarkan” di Salman. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di sisi tenggara kampus, tempat sekretariat unit kegiatan mahasiswa berada.
Hingga tahun 2009 aku mengikuti Pendidikan Dasar Korps Relawan Salman ITB angkatan ke-II. Ketika diksar masih berjalan, gempa melanda Jawa Barat dan mengakibatkan kerusakan di beberapa daerah. Tidak lama setelah lebaran, gempa berikutnya melanda Sumatra Barat. Di dua bencana ini aku pertama kali turun menjadi seorang relawan. 
Setelah gempa tahun 2009, aku menghilang sejenak dari Korsa, menghabiskan waktu kembali dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Lalu ketika erupsi merapi tahun 2010, aku kembali ke Salman, membantu kawan2 relawan yang turun ke bencana dengan mengurusi posko pusat.
Awal 2011, aku memutuskan untuk fokus berkegiatan di Korps Relawan Salman, turun ke kegiatan rehabilitasi di Yogya, turut membantu korban banjir di Jawa Barat, erupsi gunung Kelud dan bencana lainnya.
Tidak ada yang menyangka aku merupakan salah satu aktivis Salman, bahkan pernah menjabat sebagai Komandan Korsa periode 2011-2013. Tampilanku ya masih tetap seperti biasanya, gondrong, celana lapangan atau jeans, kaos, bahkan dulu masih ngerokok.
 Salman tidak pernah memandang seseorang dari penampilannya. Selama kamu mau berkontribusi dan belajar di Salman, silakan, diterima dengan tangan terbuka.
Bahkan aku dan beberapa orang aktivis merupakan “anak nakal”. Kami menyebut diri Salman Kiri, para “rebel” yang suka memberontak, blak-blakan, karena kebanyakan anak lapangan.
Tapi Salman mengajarkan banyak hal. Ketika aku berada di kondisi terendah kehidupan, Salman dan saudara2 aktivis di sana yang mengulurkan tangan. Berkegiatan di Salman melembutkan hatiku, mengajarkanku jadi lebih sabar, mendengar, dan berpikir.
Banyak hal yang bisa diceritakan tentang Salman, karena Salman merupakan “Banyak hal dalam satu masjid”, tapi radikalisme bukan satu di antaranya. Salman adalah tempat belajar, tempat keluarga berada, dan tempat merenung. Kamu harus merasakan nikmatnya berada di puncak menara salman.

Aku pernah jadi foto model untuk kegiatan Salman lho.

 

 

ya, ini pemandangan dari puncak menara Salman

ini pemandangan yang akan kamu lihat dari puncak menara Salman

Surau dan Silek, Serta Pesan Di Dalamnya

 

 

Surau dan Silek, Film keluarga yang sarat pesan

Hari Rabu lalu aku berkesempatan mengikuti acara nonton bareng film Surau dan Silek yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Minangkabau Surabaya. Film buatan anak negeri ini memang sudah kunanti-nanti, bukan karena film ini mengangkat budaya Minangkabau, tapi karena film ini sepertinya akan penuh makna.

Di adegan awal-awal, hal pertama yang muncul di pikiran adalah taragak jo kampuang (rindu dengan kampung halaman). Arief Malin Mudo sebagai sutradara berhasil menggambarkan suasana kampuang khususnya Bukittinggi dan sekitarnya dengan baik. Tidak hanya gambar pedesaan yang asri dengan sawah menghampar hijau seperti permadani, tapi juga dengan obrolan-obrolan khas masyarakat di nagari Minangkabau. Salah satu lokasi syutingnya ternyata memang ada di kampung halaman (alm) bapak di Kanagarian Kamang, Kabupaten Agam.

Landmark khas Bukittinggi seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok dan Great Wall sudah pasti tak akan ketinggalan. Lalu rumah panggung khas masyarakat dataran tinggi di Sumatra Barat tak ketinggalan mengingatkan para perantau akan rumah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Mungkin tak satu atau dua orang yang menitikka air mata karena mendadak disergap rasa rindu rumah.

Hal berikutnya yang melekat di pikiran adalah pesan-pesan yang terkandung dalam film ini, baik tersurat dan tersirat.

Menurutku film ini jalan ceritanya sederhana. Tiga orang anak SD–Adil, Dayat, dan Kurip–yang mencari guru silek (silat) setelah guru mereka sebelumnya memutuskan untuk merantau. Tapi perjalanan mereka mencari guru, ketika berguru dan hingga pertandingan silek terakhir itulah yang penuh makna. Kalau boleh membandingkan, tipe alur ceritanya tidak jauh berbeda dengan film Karate Kid yang dibintangi Jaden Smith dan Jackie Chan.

Film ini sangat bagus ditonton bersama anak-anak yang masih berada di sekolah dasar. Surau dan Silek mengajarkan kita (tidak hanya anak) tentang sportivitas, memaafkan, berbakti kepada ibu dan persahabatan. Selain itu berkali-kali disebutkan dalam film ini tiga amal yang pahalanya tidak terputus: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.

Aku tidak begitu mengerti filosofi silat dalam kebudayaan Minangkabau. Tapi yang pasti adalah, film ini mengingatkan kembali kepada masyarakat Minangkabau pada khususnya, bahwa Minangkabau tak bisa terlepas dari Islam. Bukankah Minangkabau itu Adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. 

Tapi mungkin tidak banyak yang memperhatikan pesan-pesan tersembunyi yang dihadirkan Arief Malin Mudo dalam film ini. Entah hanya perasaanku saja, tapi menurutku ada tiga pesan tersembunyi dalam film ini.

1. Budaya merantau

Dalam film ini, guru silek pertama Adil, Dayat dan Kurip–Mak Rustam (Gilang Dirga)–memutuskan untuk pergi merantau. Ia memutuskan untuk pergi merantau setelah merasa iri akan kesuksesan teman seumurannya Irman (Komo Ricky) yang telah terlebih dahulu merantau. Ia merasa perannya di kampung belum ada. Salah seorang warga bahkan nyeletuk “Rustam hanya memenuh-menuhi kampung saja”

Bagi masyarakat Minangkabau, merantau merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh pemuda. Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun. (Keratau madang di hulu, berbuah berbunga belum. Merantau bujang dahulu, di rumah berguna belum).

Merantau tidak hanya mencari harta tapi juga ilmu dan pengalaman. Dengan merantau, bertemu banyak orang dan menambah pengalaman hidup, seorang pemuda ditempa menjadi pribadi yang lebih baik.

2. Pulang membangun nagari

Salah seorang tokoh dalam film ini adalah seorang pensiunan dosen yang memutuskan pulang kampung. Kurasa film ini mengajarkan para perantau untuk tidak merantau cino. Merantau Cino adalah istilah untuk perantau yang tidak pulang-pulang.

Perantau yang telah menimba kebijaksanaan dan keberhasilan di tanah rantau hendaknya pulang kembali membangun nagarinya. Ketika semua SDM berkualitas merantau dan tidak kembali, lalu siapakah yang akan membangun dan mengembangkan nagari Minangkabau?

3. Masyarakat Minangkabau dan PRRI

Dalam salah satu adegan di film ini, Kurip terlihat sedang membaca buku yang (kalau tidak salah) berjudul “PRRI, Pemberontakan atau Bukan?” Menurutku ini adalah kegelisahan seorang Arief Malin Mudo menuntut diluruskannya kembali sejarah mengenai PRRI/Permesta ini.

Dahulu pada pelajaran sejarah PRRI/Permesta diceritakan merupakan sebuah gerakan pemberontakan di Sumatra Tengah (wilayah Sumbar dan sekitarnya) serta Sulawesi Selatan. Setelah kuliah dan banyak membaca tulisan-tulisan tentang PRRI/Permesta ini, gerakan ini bukanlah sebuah pemberontakan, melainkan sebuah gerakan pengkoreksian terhadap pemerintahan Presiden Soekarno yang dianggap sudah melenceng dari jalurnya. Penunjukan dirinya sebagai presiden seumur hidup, kedekatan dengan PKI serta politik mercusuar yang dilakukannya dianggap tidak memihak rakyat kecil.

Penumpasan gerakan PRRI/Permesta ini menimbulkan luka yang mendalam bagi rakyat Sumatra Barat khususnya. Setelah kejadian ini konon cap pemberontak melekat pada masyarakat Minangkabau. Karena itulah anak-anak yang lahir setelah tahun 57 banyak yang berbau Jawa, supaya mereka masih bisa diterima menjadi tentara, polisi atau bekerja di Jawa.

Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang gigih melawan penjajahan. Sejak zaman perang Bonjol, lalu Perang Kamang, hingga perang kemerdekaan, masyarakat Minangkabau gigih memperjuangkan hak kemerdekaan mereka. Tidak sedikit tokoh dari Minangkabau yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mulai dari Tan Malaka, Agus Salim, Hamka, Syahrir, Natsir, bahkan salah satu proklamator, Hatta, lahir dan dibesarkan di ranah Minang.

Dalam film Surau dan Silek mungkin Arief Malin Mudo memberontak menuntut dibersihkannya nama masyarakat Minangkabau terkait PRRI. Masyarakat Minangkabau mencintai Republik ini yang telah mereka perjuangkan mati-matian, oleh karena itu mereka dulu tidak bisa diam saja melihat negara ini melenceng dari cita-cita di awal berdirinya negara ini.

Tapi terlepas dari pesan tersembunyi yang mungkin bisa kita tafsirkan berbeda untuk masing-masing orang, film Surau dan Silek ini sangat layak dan direkomendasikan untuk ditonton bersama keluarga. Indonesia butuh lebih banyak film yang mengangkat budaya lokal, tapi dengan makna yang universal bisa diterima oleh semua suku bangsa.

Semoga semakin banyak film-film keluarga yang penuh makna dan mengangkat kearifan lokal seperti ini. Ari Sihasale dan Nia Zulkarnain telah memulai dulu dengan Denias, Kita tunggu karya sineas Indonesia berikutnya.

Si Hitam yang Beraneka Rasa

Aku telah menyukai kopi sejak lama. Minuman yang dikenal berasa pahit  dan memiliki manfaat ini sejak sekolah menengah hampir selalu mengawali hari-hari penting seperti ujian, ujian olahraga atau kegiatan yang membutuhkan booster.

Ketika masih sekolah menengah, minuman kopiku berbentuk kopi telur (Kopi Talua). Aku tidak tahu ini minuman khas mana, tapi di Sumatra Barat, minuman teh telur dan kopi telur merupakan minuman yang umum dipakai sebagai booster, atau hanya sebagai teman ngobrol di kedai bersama rekan-rekan.

Beranjak kuliah, kopiku bergeser menjadi kopi hitam manis. Pergeseran ini lebih karena males repot membuat kopi telur. Maklum, prosesnya cukup panjang: memisahkan kuning dan putih telur, mengaduk kuning telur dan gula hingga cukup mengembang, lalu memasukkan kopi kental panas ke adonan tersebut.

Kopi hitam manis cukup gampang didapatkan, cukup bermodalkan air panas (dispenser) dan kopi instan. Lalu aku akan mendapatkan asupan kafein untuk hari itu.

Seiring waktu, aku berangsur mengurangi gula dalam kopiku. Hingga suatu hari seorang kawan mengenalkanku pada kopi yang spesial.

Kopi spesial yang kumaksud adalah kopi single origin. Kopi single origin ini mungkin gampangnya kopi varietas tunggal dari daerah tertentu, Misalkan kopi Flores Bajawa, Dolok Sanggul dan lain lain. Tidak hanya varietas, tapi proses pasca panen pun bermacam-macam, seperti full washed, natural honey dll.

Kopi mah ya.. Kopi (foto by dewe)

Cara penyajiannya pun bermacam-macam, tapi aku dikenalkan dengan cara penyajian manual brew. Cara penyajian ini tidak memakai mesin kecuali mesin penggiling kopi (grinder). Cara penyajian manual brew ini contohnya pour over (v60), aeropress, syphon, french press, vietnam drip atau tubruk biasa.

Kopi yang berbeda-beda dan cara penyajian yang beraneka rupa ini ternyata memberikan karakter rasa berbeda-beda. Dulu aku pikir kopi cuma ada dua rasa, pahit (bitter) dan asam (acid). Karakter rasa kopi berbeda-beda tergantung proses pasca panen, roasting dan penyajian. selain rasa bitter dan acid yang mendominasi, ada rasa-rasa lain yang muncul dalam kopi ini. Ada rasa nutty, fruity, earthy, chocholaty, winey, atau honey.

Sekarang jika aku ngopi di tempat yang menyajikan kopi single origin manual brew ini, aku selalu bertanya karakter rasa kopi yang ingin kupesan. Walau sebenarnya aku hampir selalu menyukai kopi, tapi favoritku adalah kopi dengan karakter rasa honey dan fruity.

Jangan salah, aku sama sekali tidak ahli tentang perkopian. Aku tidak bisa membuat kopi v60 dengan perbandingan air dan kopi sekian, temperatur air sekian, waktu pouring sekian detik de el el. Yang aku tahu, kopi enak. Udah gitu aja.

Tapi sekarang aku sudah tidak mau lagi mengonsumsi kopi instan, ga masuk ke seleraku. Kopi item tradisional masih mending, walau rasa dominannya lebih ke pahit dengan roastingan yang dark bangeeet.

Sudah Benarkah Shalat Kita?

Sudah benarkah sholat kita? (Gambar dicomot dari http://oktadwianggoro.blogspot.co.id)

Dalam Islam, sholat merupakan unsur terpenting setelah Syahadat. Jika syahadat diumpamakan sebagai pondasi Islam, maka sholat merupakan tiang yang menjaga tegaknya Islam. Tidak sedikit ayat Al-Quran dan hadits yang membahas tentang perintah dan keutamaan sholat.

Dinyatakan bahwa sesungguhnya sholat itu mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Sholat seperti apa yang mencegah dari perbuatan keji dan munkar? Sholat yang dilaksanakan dengan benar sesuai yang dilakukan Rasulullah SAW.

Lalu, sudah benarkah sholat kita?

Pertanyaan ini beberapa waktu ke belakang terus melayang di pikiranku. Benarnya sholat tidak hanya masalah gerakan, tapi sependek ilmu ku lebih dari itu.

Dimulai dari pakaian yang dikenakan ketika melaksanakan sholat, apakah yakin tidak terkena najis, terpercik  atau terkena najis baik ringan atau sedang yang tidak disadari. Kalau najis berat mungkin sudah pasti disadari.

Berikutnya cara kita bersuci. Apakah cara kita bersuci sudah seperti yang dicontohkan, membersihkan diri dari najis dan hadas?

Wudhu. Apakah kita sudah yakin wudhu kita benar? Tidak ada bagian yang wajib luput terkena air wudhu.

Sholat. Apakah gerakan sholat kita sudah benar? Bacaan sholat telah benar. Karena dalam bahasa Arab, beda panjang dan pendek, lalu cara pengucapan bisa menyebabkan beda arti.

Apakah sholat yang kita lakukan telah sesuai dengan fiqihnya? Sholat yang kita lakukan sekarang masih seperti dulu diajarkan oleh guru ngaji kita (insya Allah yang diajarkan guru ngaji mah bener ya).

Ada banyak kursus cepat membaca Al-Quran, kursus kilat Bahasa Arab, Kelas Tahfidz, tapi sedikiiit sekali kelas belajar (kembali) sholat.

Hati-hati kawan-kawan, jangan merasa sholat kita sudah benar kecuali kita sudah sebelumnya melongok kembali ke tuntunan.

Insya Allah jika sholat kita benar, maka hidup kita ke depannya akan benar juga.

*Tulisan ini merupakan renungan dan tamparan untuk diri sendiri. Syukur-syukur bisa jadi bahan renungan untuk kawan-kawan.