Abak dan Motor Tuanya

Bulan Juni tahun 2022 Bundo Daru akhirnya bekerja lagi, setelah 2,5 tahun menjadi fulltime mother untuk Daru. Karena motor di rumah hanya ada satu, dan jam kerja kami tidak sama, maka perlu dibeli satu motor lagi untuk menunjang transportasi kami. Motor baru bukanlah alternatif, karena tidak sesuai budget dan aku sedang berusaha menghindari membeli sesuatu dengan sistem kredit. Oleh karena itu, maka aku mencari beberapa alternatif motor bekas.

Setelah mencari beberapa saat, aku menemukan iklan motor Honda win 100 tahun 1994. Kondisi masih bagus, mesin lancar dengan suara yang masih merdu. Setelah dilihat dan dicoba dikendarai, maka besoknya langsung dibayara dan diambil.
Mengapa harus motor lama? Bukankah motor bekas banyak pilihan dengan tahun yang lebih muda?

Sebenarnya aku sudah lama mengidamkan membeli motor laki (motor kopling) tua, yaitu Honda GL Max. Dulu tahun 2014 sempat ditawarin sama salah seorang senior, dan langsung suka. Tetapi karena waktu itu belum ada dananya, dipendam dulu jadi cita-cita.

Ada beberapa alasan mengapa harus motor tua jenis ini. Pertama karena bentuknya retro, dan menarik menurutku. Bentuk tangkinya yang cukup datar dan tidak terlalu besar, menambah kenyamanan berkendara. Kedua, motor ini nyaris tanpa komponen elektronik yang rumit, semua manual. Beberapa kerusakan minor bisa diperbaiki sendiri.

Komentar pertama Bundo Daru adalah, “Cocok, Bak. Retro, sama kayak Abak. Hahahaha” Ini antara ejekan dan pujian, tapi tidak apa.

Memiliki motor tua itu, ada perasaan berbeda. Ketika hampir semua orang memakai motor matic, bebek, atau motor sport, aku dengan santai memakai motor tua membelah kota ini. Ternyata, populasi Honda Win 100 di kota ini tidak terlalu banyak. Selama berkendara bolak-balik kantor–rumah, jarang sekali aku berpapasan dengan motor yang sama. Kalau Honda GL, cukup sering.

Apakah memiliki motor tua itu merepotkan? Iya dan tidak. Harus diakui, barang tua tidak sesempurna barang baru. Ada saja masalah (untungnya minor) selama beberapa bulan memiliki motor tua. Mungkin karena pemilik lama cukup resik dalam memelihara motornya, jadi tidak terlalu banyak masalah di motornya.

Mungkin karena ini termasuk hobi dan memang suka, jadinya segala masalah dihadapi dengan senang saja, tidak usah mengeluh panjang lebar. Banyak lihat video di Youtube, baca artikel, dan tidak usah terlalu agresif dalam mengendarai motor. Biar motor tua tidak semakin ringkih dan renta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s