Menulis itu (Ga) Gampang

 

 

Sudah beberapa minggu ini absen nulis, setoran ke #1Minggu1Cerita pun tersendat-sendat. Tidak hanya postingan pribadi, artikel harian untuk web kantor pun juga bolong-bolong. Lha, kenapa?

Entahlah, mungkin masalah mood, otaknya lagi blank, atau lagi banyak load kerjaan.

Dulu ketika lagi ngajar di Solok, di Rumah Belajar Kamil, aku mencoba membuat target, satu hari satu tulisan. Tapi ternyata ga bisa konsisten. Seringkali ketika sudah di depan laptop, mendadak nge-hang. Tidak tahu lagi apa yang akan ditulis.

Aku terkadang iri dengan beberapa orang teman yangbegitu lancar menumpahkan isi kepalanya dalam sebuah tulisan, baik itu postingan blog ataupun berupa karya seperti cerpen dan lain-lain. Mereka menuliskannya dengan baik dan enak dibaca.

Kalau kata mentor nulisku, “Ada orang yang ‘dicintai oleh kata-kata’. Ia bisa menulis dengan kalimat yang baik, kadang rumit kadang sederhana tapi membuat pembaca mengerti dengan apa yang ia maksud.”

Banyak teori menulis yang kubaca. “Tuliskan saja, sunting belakangan” itu hal pertama dari rules menulis. Jangan pikirkan tata bahasa, efektivitas kalimat atau bagus tidaknya pilihan kata. Nanti saja menyunting tulisannya.

Tapi ya teori tetap teori. Bagi sebagian orang, menulis itu butuh energi yang sangat besar. Berkisah dengan tulisan membuatnya harus berpikir keras.

Makanya menulis itu tidak selamamnya gampang, mungkin masalah membiasakan saja. Mulai dari Dipaksa, Terpaksa, lalu jadi terbiasa.

Jadi, menulislah walau 1Minggu1Cerita

Tulisan ini dibuat tanpa suntingan lebh lanjut, karena aku akan menyuntingmu secepatnyaa… #Eeaak

1minggu1ceritaa

Berhenti Mengeluh, SEKARANG JUGA

 

Mengeluh itu sepertinya enak ya. Protes cuaca, pekerjaan, penyakit, pasangan (atau ketidakpunyaan pasangan). Seakan seluruh dunia harus tahu apa yang sedang kita rasakan dan keluhkan.

Tempat mengeluh paling enak dan nyaman tentu saja di jejaring sosial. Seluruh jejaring yang terkait dengan kita harus tahu apa yang kita rasakan. Ya elaaah, apa ga sekalian curhat make toa masjid?

Tempat lain untuk mengeluh, tentu saja teman terdekat, rekan kerja, orang di sebelah ketika di bis, pak RT, pengurus masjid, atau siapapun yang kita temui dan ajak ngobrol.

Kebanyakan kita beranggapan dengan menyampaikan keluhan ke orang lain, mereka akan memberikan simpati/empatinya kepada kita. Tapi ternyata mengeluh hanya menyebarkan energi negatif ke sekitar kita. Orang-orang malah capek dan kesal mendengarkan keluhan-keluhan kita.

Mengeluh pada dasarnya adalah energi negatif, dan energi ini menyebar dengan cepat ke orang-orang di sekitar kita. Tapi kebiasaan mengeluh bisa dikurangi, bahkan dihentikan. Semuanya tergantung kamu, mau nggak untuk mengubahnya.

Mengubah kebiasaan mengeluh ga terlalu sulit, ga sesulit melupakan mantan yang semakin kece badai membahana. Karena mengeluh adalah energi negatif, maka untuk menguranginya kita harus memperbanyak energi positif dalam diri.

 

Bersyukur

Mengeluh timbul karena kita kurang bersyukur atas apa yang kita dapatkan dan alami. Bersyukur merupakan sikap menerima dan berterima kasih terhadap apa yang kita alami dan hadapi. Bersyukur bukan berarti pasrah atas keadaan, tapi berterima kasih.

Bersyukurlah, banyak metode bersyukur yang bisa kamu jalankan untuk melakukannya.

  1. Tiap pagi, syukuri hal-hal yang kamu miliki.

Memulai hari dengan mensyukuri hal-hal yang kamu miliki akan membuat harimu dimulai dengan baik. Bersyukur atas kesehatan, pekerjaan, kuliah atau keluarga, juga tidak lupa bersyukur karena punya pacar (ataupun tidak punya). Bersyukurlah setiap pagi, dan awali harimu dengan senyum.

  1. Temukan alasan untuk bersyukur dalam setiap kejadian buruk atau tidak menyenangkan yang mungkin menimpamu.

Terkadang ada saja hal-hal buruk yang terjadi. Temukan alasan untuk bersyukur. Contoh: ketika kamu dikejar deadline yang numpuk, bersyukurlah bahwa kamu memiliki pekerjaan yang stabil dengan pendapatan yang cukup. Jika suatu saat kamu melihat mantan jalan dengan pacarnya yang baru, bersyukurlah bahwa pacar barunya akan mengalami penderitaan yang sama denganmu (hehehehehehe). Selalu temukan alasan untuk bersyukur

  1. Setiap malam, bersyukurlah atas hal-hal baik yang terjadi hari ini

Tutup hari-harimu dengan bersyukur atas hal-hal baik yang terjadi hari ini. Bahkan jika ada hal buruk terjadi, bersyukurlah bahwa hal baik masih tetap lebih banyak daripada hal buruk.

 

Berpikir Positif

Berpikir positif sebenarnya susah-susah sulit. Bersyukur adalah salah satu metode dari mengembangkan energi positif dalam diri.

Berpikir dan bertindak positif berarti kita selalu melihat kebaikan dari orang lain, apa yang terjadi, dan kondisi yang kita alami. Contoh, jika kamu janjian dengan seorang teman, dan ia datang terlambat, positif aja. Bisa jadi dia di perjalanan harus membantu kucing yang harus melahirkan tanpa ditemani suaminya. Who knows, everything can be happen.

Bergaul dengan orang-orang positif memberikan pengaruh positif untuk dirimu (dipoto samo kawan juo)

Bergaul dengan orang-orang positif memberikan pengaruh positif untuk dirimu (dipoto samo kawan juo)

Bergaullah dengan orang-orang yang positif, karena energi positif itu menular. Jangan bergaul dengan orang yang suka mengeluh, karena kamu juga akan terpengaruh untuk ikut mengeluh juga.

Senyum

Kalo senyum jangan sendirian, ajak-ajak (dipoto ku batur, koleksi batur oge)

Kalo senyum jangan sendirian, ajak-ajak (dipoto ku batur, koleksi batur oge)

Selalu hiasi wajahmu dengan senyuman. Bukan senyam-senyum yang ga jelas, tapi pasang wajah ceria. Jangan sampai apapun yang terjadi merusak wajah ceriamu. Sebarkan senyum ke orang-orang di sekitarmu, tebarkan keramahan. Orang yang senang mengeluh biasanya jarang sekali menampilkan wajah ramah. Baginya hidup dipenuhi oleh hal-hal buruk yang harus dikeluhkan.

Keep smile, konon katanya senyum itu bikin awet muda. Awas, jangan senyum-senyum sendiri, nanti dikira orang gila. Kalau mau senyum-senyum, ajak-ajak temen biar ga sendirian banget.

Untuk referensi, coba baca buku No Complaining Rules dan Positive Dog karya Jon Gordon. Bahasanya ringan kok, dikemas dalam bentuk cerita yang enak untuk dibaca.

Masalahnya, apakah kamu mau dan siap berkomitmen untuk menjalaninya. Gitu lhooo…

Aduh, terlalu serius nih isi postingan, aku nulisnya jadi mabok. Mabok cinta.. Ahahahahaha….

1minggu1ceritaa

Apakah Aku Gagap Budaya atau Krisis Identitas Budaya

Merantau konon katanya menimbulkan gagap budaya (gambar koleksi batur univ.paris.fr)

Merantau konon katanya menimbulkan gagap budaya (gambar koleksi batur univ.paris.fr)

Merantau meninggalkan ranah Minang menuju tanah Sunda ternyata cukup mengguncang diriku. Saat itu aku merasa bisa beradaptasi di tempat yang baru. Tinggal di asrama, berteman dengan teman baru, bergaul bersama kawan-kawan sesama perantau Minang, membuatku tetap betah tinggal di Bandung.

Dari tahun 2005 hingga pertengahan 2016 tinggal di Bandung, aku bisa dibilang cukup berbaur dan beradaptasi dengan lingkungannya. Aku cukup menguasai bahasa Sunda (tapi belum bahasa halusnya), senang mendengarkan dan nonton acara wayang golek, bahkan berpikir pun terkadang dalam bahasa Sunda.

Ketika di Bandung, aku semakin menyenangi cerita-cerita pewayangan, Ramayana atau Mahabharata. Saking senangnya, aku cukup menguasai pengetahuan tentang tokoh-tokoh dan alur cerita kedua cerita tersebut.

Bagaimana dengan budaya asalku sendiri? Aku masih fasih berbahasa Minang, lengkap dengan umpatan-umpatan cantiknya. Tapi ternyata aku tidak begitu mengenal kisah-kisah lokal, seperti Anggun nan Tongga, Puti Subang Bagelang, dan tambo Minangkabau itu sendiri.

Apakah aku mengalami gagap budaya? Dalam sebuah artikel yang dishare di sini, gagap budaya adalah sebuah kondisi kecemasan yang dialami seseorang saat ia harus melakukan penyesuaian di tempat baru yang nilai budayanya tidak sesuai dengan nilai budaya yang lama. Kondisi ini lebih disebabkan ketidakmampuan suatu individu untuk segera beradaptasi dengan budaya barunya, sehingga terjadi kesenjangan antara nilai yang dia anut dengan yang berlaku di masyarakat baru.

Dalam waktu sepuluh tahun lebih aku tinggal di Bandung, aku tidak mengalami gagap budaya. Tidak ada kecemasan, keinginan yang kuat untuk kembali tinggal di Padang, bahkan homesick selama menjalani kehidupan sebagai perantau. Aku bisa beradaptasi dengan baik, mengenal budaya, bahasa dan berdamai dengan iklim kota Bandung yang berbeda dengan kondisi di Kota Padang.

Tapi selama berada di Bandung, aku merasa jauh lebih akrab dengan bahasa Sunda, legenda dan cerita-cerita lokal, daripada Minang. Aku merasa kehilangan identitas sebagai perantau yang berasal dari Minang, bahkan logat dan cengkok Minang yang khas ala abang-abang jualan kain di Gasibu atau Pasar Baru pun mulai terkikis dari lidahku.

Tapi aku sendiri tidak segitunya menguasai budaya Sunda. Hanya mengenal, tapi tidak sepenuhnya memahami. Masih bolehkah aku mengaku sebagai orang Minang? Sementara aku hanya menguasai sedikit sekali tentang budaya Minang. Bahkan adat pernikahan di kampungku saja, sama sekali tak kumengerti.

Padang Murtad, Bandung KW, Surabaya Imitasi (foto koleksi batur)

Padang Murtad, Bandung KW, Surabaya Imitasi (foto koleksi batur)

Tapi jika aku mengaku sebagai orang Sunda, darahku pedas gurih khas sambalado RM. Pagi Sore. Filosofi dasar orang Sunda sama sekali tidak kupahami. Jika dianalogikan, aku seperti tempe yang dibumbui kaldu ayam. Walaupun aku berasa sop ayam, tapi pada dasarnya aku adalah tempe.

“Padang Murtad, Bandung KW,” menjadi becandaan teman-teman kepadaku. Karena dulu memutuskan untuk menetap di Bandung, aku pindah kartu keluarga ke Bandung.

Ternyata becandaan itu membuatku berpikir lagi. Apakah aku mengalami krisis identitas budaya? Aku mengalami kebingungan budaya mana yang harus menjad tumpuan? Apakah budaya Minang atau ciri khas Sunda yang akan kutonjolkan?

Tulisan ini tidak menyimpulkan sebuah solusi, ini hanya satu isi kepala yang sempat berputar-putar, menghilang lalu muncul kembali di pikiran. Oh ya, tulisan ini dibuat dalam keadaan sadar dan waras sepenuhnya.

Satu hal yang tidak akan kulupakan, yaitu identitasku sebagai kekasihmu.. cihuuuuy……

1minggu1ceritaa

Aku, Sekolahku dan Makna Sekolah

 

Sudah lewat sebulan ga posting lagi, udah disindir-sindir nih di grup #1minggu1cerita. Seperti biasa, setiap awal bulan #1minggu1cerita selalu bertema. Tema untuk awal bulan September ini adalah Aku dan Sekolahku.

Cerita masa SMA, SMP dan SD telah kuceritakan sedikit di postingan-postingan yang lama. Tidak bercerita banyak sih, tapi mudah-mudahan sedikit memberikan gambaran kehidupanku di masa sekolah.

Tapi jika diingat-ingat lagi, memang masa SMA lah yang paling terkenang bagiku. Pada waktu SMA aku mengalami transformasi pertama, melewati masa puber yang penuh gejolak, energi yang meluap-luap dan arogansi senior yang terbawa hingga masa kuliah.

Ketika SMA, aku berubah dari siswa SMP yang introvert menjadi siswa SMA yang aktif dan (cukup) dikenal. Beberapa organisasi aku ikuti, beberapa lomba kujalani dan beberapa forum mengantarkanku melanglang buana hingga ke Yogyakarta.

Banyak faktor yang mengubahku ketika SMA. Salah satunya adalah KingStone yang mengubah Ksatria Baja Hitam menjadi Ksatria Baja Hitam RX. (Ya elaah, Cuma tahan serius 4 paragraf doang…) Oke, yang menjadi faktor penentu dalam perubahanku adalah teman-teman sekelas yang heboh, keluarga dan fakta bahwa siswa SMP 1 Padang kayak pindah kelas aja ke SMA 1 Padang.

Selain itu masa SMA mengajarkan banyak hal lho. Ketika SMA aku benar-benar mengenal komputer (dulu cuma saling lirik doing, ga sampai kenalan), belajar nge-game, mengenal jejaring sosial, gimana caranya ngeceng yang baik dan benar, mengambil hati guru, mencari tahu tempat baca komik yang murah dan rada tersembunyi, dan pelajaran-pelajaran lainnya.

Masa SMA tidak mengajarkanku menjadi dewasa, tentu saja. Selepas SMA aku tetaplah remaja tanggung yang mendadak merantau meninggalkan kampung halaman. Tapi masa SMA tetap masa paling indah, maklum, pertama kali pacaran, dan pertama kalinya (dan terakhir kali mungkin) punya fans. Heuheuheu.

Sejak kecil hingga lepas SMA, sekolah bagiku hanyalah sekolah formal. Sekolah informal hanyalah sebuah penambah keahlian semata.

Tetapi ketika telah menginjak usia dewasa (usia dewasa itu kapan ya? Atau lebih tepatnya menginjak usia tua mungkin ya) aku menyadari bahwa makna sekolah jauh lebih luas daripada hanya seputaran akademik belaka.

Sekolah ternyata berpengaruh besar bagiku, walau pengaruhnya tak bisa mengalahkan keluarga. Siapa aku saat ini tak lepas dari pengaruh pendidikan yang kuterima di sekolah. Pendidikan ya, bukan pengajaran.

Interaksi dengan guru, teman, penjaga sekolah bahkan dengan masyarakat sekitar sekolah berpengaruh terhadap pembentukan karakterku. Ekskul Paskibra-PBB SMA 1 Padang, OSIS SMA 1 Padang dan kawan-kawan ekskul lain yang berinteraksi denganku juga membawa pengaruh dalam perkembangan kepribadian.

Seluruh dunia yang aku lewati dan berinteraksi dengannya adalah sekolah. Bagiku seperti itu. Hingga sekarang, aku masih sekolah. Aku masih belajar dari setiap orang yang kutemui, setiap perjalanan yang kulalui serta buku-buku yang kubaca. Apalagi mantan, tentu saja membawa pengaruh dalam album kenangan-kenangan yang hampir dilupakan. Move dong sob, udah bukan JoNes lagi. (lirik si pacar. Heuheuheu)

Bukankah falsafah orang Minang adalah Alam Takambang Jadi Guru. Hadist menyatakan untuk menuntut ilmu hingga ke liang lahat, maka seumur hidup kita akan terus belajar, dari apapun dan siapapun.

Tapi kalau dipikir-pikir, mengenang lagi masa sekolah, jadi banyak malunya. Terlalu banyak hal-hal bodoh yang dulu kulakukan, setengah brengsek setengah jail setengahnya lagi ga jelas (lah, jadi satu setengah dong?)

Karena show must goes on, maka biarlah kesalahan masa lalu jadi pelajaran untuk masa depan. Ibaratnya ulangan, kesalahan-kesalahan tersebut ga boleh terjadi lagi ketika ujian kenaikan kelas. Ya kalau kejadian lagi, mungkin lupa. Hehehehe.

Yang pasti, memilihmu bukanlah sebuah kesalahan, ahahahahay…. #tabok

 

 

1minggu1ceritaa

 

TIPE-TIPE ANGGOTA TIM PENDAKIAN

Ada beberapa tipe anggota tim pendakian lho.. (foto: koleksi dewe)

Ada beberapa tipe anggota tim pendakian lho.. (foto: koleksi dewe)

Awal bulan Agustus ini aku diajak sama temen-temen kantor untuk muncak. Sudah lama vakum muncak, jadi rada keder juga. Tapi pengalaman nanjak ga akan aku bahas di postingan ini, Cuma sedikit hasil pengamatan aja dari beberapa kali muncak.

Berdasarkan pengalaman yang sedikit, aku menyimpulkan ada beberapa tipe orang dalam tim pendakian. Pada umumnya kalau muncak, memang selalu dalam satu tim, minimal berdua atau bertiga. Sama sekali tidak dianjurkan untuk muncak sendirian, kecuali kamu sudah sangat mengenal medannya dan punya keahlian serta mental yang mumpuni.

  1. Leader

Tipe Leader atau pemimpin merupakan orang yang merencanakan perjalanan, menyusun daftar perlengkapan dan peralatan dan ketua rombongan. Biasanya ia merupakan orang yang sudah berpengalaman muncak, akrab dengan kegiatan di alam bebas dan dipercaya oleh anggota tim lain.

Leader bertanggung jawab menjaga aura positif dalam tim. Jika timnya cukup gemuk, leader biasanya punya satu atau dua orang tempat ia berkonsultasi selama perjalanan. Mereka akan mengevaluasi perjalanan, mengubah dan menyesuaikan rencana perjalanan, tergantung kondisi tim dan medan serta cuaca.

Biasanya, tim leader berjalan paling depan. Jika trek yang ditempuh bukan jalur yang ramai dan sering dilewati, ia akan memberikan tanda dengan jarak tertentu. Biasanya dengan tali raffia yang berwarna cerah seperti merah, biru terang atau kuning. Ia menentukan tempat istirahat, tempat bermalam dan melakukan pembagian tugas ketika sampai di tempat kemping. Siapa yang membangun tenda, mencari kayu bakar, memasak dan lain-lain.

Kalau kamu beruntung, leader juga akan memimpin kamu ke masa depan yang cerah berdua. Icikiwir….

  1. Sweeper

Sweeper merupakan orang yang berada paling belakang dalam perjalanan. Tugasnya adalah memastikan tidak ada anggota tim dan barang-barang yang tercecer. Selain itu ia menjaga jarak antar anggota tim. Jika jarak terlalu jauh, ia akan memberi tahu leader dengan kode yang telah disepakati.

Di area kemping, sweeper memastikan tidak ada barang atau sampah yang tercecer, dan kelengkapan jumlah anggota tim. Sweeper juga biasanya orang yang telah berpengalaman muncak, dan akrab dengan kegiatan di alam bebas.

Beruntunglah punya pasangan bertipe sweeper, barang-barang aja ia jaga supaya tidak tercecer, apalagi kamuuuuu…. Tapi sayang, ia juga selalu menjaga kenangan-kenangan masa lalu tidak terlupakan.

  1. Porter
Kalok jadi porter, harus mampu membawa beban hidup yang teramat berat. ihik (poto: koleksi batur)

Kalok jadi porter, harus mampu membawa beban hidup yang teramat berat. ihik (poto: koleksi batur)

Tipe porter adalah anggota tim dengan kemampuan fisik paling mumpuni. Ia mampu membawa beban lebih banyak daripada yang lain dan mempunyai stamina yang paling kuat.

Ia membawa perlengkapan dan peralatan tim dalam tas ranselnya. Tenda, peralatan masak, bahkan persediaan makanan dan minuman. Bukan berarti seluruhnya diserahkan pada porter, tapi ia membawa beban yang lebih berat.

Dalam satu tim, bisa saja porter lebih dari seorang. Apalagi dalam tim yang cukup besar. Terkadang porter tidak hanya membawa beban kelompok, tapi membawa barang-barang anggota tim yang sudah kelelahan. Jika diperlukan, ia akan menjadi pengangkut tandu untuk anggota tim yang mengalami cidera dan harus segera dievakuasi.

Porter juga kuat kok, membawa beban hidupnya sendiri (mungkin). Punggungnya kuat jadi tempatmu bersandar. (Matek lah, makin ga jelas ini)

  1. Mood Booster

Selalu ada penggembira dalam tim. Ia seakan-akan tidak pernah bersedih. Celetukan-celetukannya selalu bisa mengangkat mood anggota tim lain yang sudah down karena letih sepanjang perjalanan.

Tanpa kehadirannya, tim pendakian terasa sepi sunyi,. Tidak ada lelucon-lelucon dan celetukan renyah, hilang nyanyian-nyanyian yang walau geje tapi menghibur, sepi rasanya tak ada tawa riangnya.

  1. Lebah Pekerja

Lebah pekerja bukan tipe pemimpin, ia follower sejati. Umumnya pendaki newbie jadi tipe ini. Ia nurut jika disuruh oleh leader. Apakah itu membangun tenda, mencari kayu bakar, mengambil air atau mencuci peralatan masak. Tapi tak jarang pula pendaki veteran yang lebih memilih jadi lebah pekerja. Ia dengan rendah hati menuruti komando dari leader, tak membantah.

  1. Dapur Umum

Tipe ini tidak boleh tidak ada dalam tim pendakian. Urusan perut dan energi pendakian tergantung padanya. Ia menyusun menu, bahan makanan dan mendiskusikannya dengan team leader.

Urusan perut dalam pendakian bukan hal sepele. Enak tidaknya makanan berperan penting dalam menaikkan mental selama pendakian. Walaupun ketika pendakian, makanan cuma ada dua: enak dan enak banget. Tapi menu yang bervariasi dengan rasa yang lezat bisa jadi penambah semangat sepanjang perjalanan.

  1. Manja dan Pengeluh

Ini termasuk tipe yang harus dihindari untuk dibawa pendakian. Orang manja dan pengeluh membawa aura negatif dalam tim. Ia mengeluh hampir setiap waktu, entah itu kepanasan, kehujanan, serangga, berat beban, masa lalu, mantan dan lain-lain. Seakan-akan ia orang yang paling menderita dalam pendakian tersebut.

Ia menuntut perhatian semua orang kepada dirinya. Kalau bisa semua orang melakukan apapun untuknya.

  1. Sompral dan takabbur

Orang-orang seperti ini juga sebaiknya tidak dibawa. Mulutnya berceloteh tak terkendali, bahkan terkadang nantang dan meremehkan. Selama berkegiatan di alam, sompral dan takabbur adalah dua hal sangat terlarang.

Kata-kata, “Ah, Kunti mah takut ama gue,” atau “Ya elah, gunung segini doing,” dan sejenisnya terlarang diucapkan. Percaya atau tidak, kata-kata bernada seperti itu akan mencelakakan tim lain selama pendakian.

  1. Malas

Orang malas juga jangan sampai dibawa muncak. Ia paling malas melakukan pekerjaan-pekerjaan tim seperti membangun tenda, mengambil air dan sebagainya. Ia selalu berusaha mencari alasan, entah itu mau kencing lah, sakit kepala, sakit gigi, masuk anjing atau teringat mantan.

Bahkan, ia terkadang berusaha supaya beban dalam carriernya paling ringan. Orang seperti ini seakan punya stok alasan tak terbatas. Membawa orang malas hanya akan memancing amarah dan konflik, hal yang harus dihindari selama perjalanan.

Tipe-tipe tersebut tidak dikategorikan ya, seingetnya saja. Tapi setidaknya bisa jadi gambaran kira-kira orang seperti apa yang harus kamu ajak jadi anggota tim pendakianmu.

Sudah siap muncak?

Sudah siap muncak? (foto: koleksi batur oge)

Sudah siap muncak? (foto: koleksi batur oge)

MuntCakkan pernah berhenti mencintaimuuuuuu….

 

 

 

 

 

 

 

dipost untuk #1minggu1cerita

1minggu1cerita

Serial Televisi Barat Rekomendasi Pribadi

Menonton serial televisi barat menjadi hiburan alternatif bagi sebagian orang. Mereka yang sudah lelah melihat acara televisi nasional yang dipenuhi program-program tidak bermutu, menonjolkan cara hidup hedon, cerita-cerita tak bermutu dengan efek kayak tai.

Aku termasuk salah satu dari orang-orang yang menikmati tontonan serial televisi barat. Ceritanya lebih banyak variasi, dengan efek yang serius digarap, terkadang plotnya bikin kesel.

Berikut serial yang kurekomendasikan untuk ditonton, bagi yang minat dan mau memulai nonton serial. Khusus serial barat ya, sayangnya aku bukan penggemar serial Korea, kalau Jepang, paling yang berbau detektif, kedokteran, sejarah atau Tokusatsu. Hehehe.

Game of Throne

Tentu saja, serial ini wajib ditonton para penggemar cerita kerajaan abad pertengahan. Termasuk serial paling popular dengan jutaan penonton. Serial ini merupakan adaptasi dari seri novel Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin

Tidak hanya peperangan yang ditampilkan, tapi juga konflik dan intrik politik, kisah cinta serta kisah-kisah lain. Plot ceritanya menarik, penulis serial ini berhasil memelintir konfliknya jadi tidak tertebak.

Jika kamu menonton episode-episode awal, jangan bosan dan kaget dengan adegan-adegan “uhuy” yang ada. Bersabarlah, maka kamu setelah itu akan tersedot ke dalam ceritanya

Leverage

Serial ini campuran antara komedi dan action. Bercerita tentang sekelompok penipu yang menipu penipu (apa cobak). Masing-masing anggota tim mempunyai spesialisasinya sendiri. Ada thief, grafter, hitter, hacker dan seorang mastermind.

Bersama-sama mereka membantu orang-orang yang dirugikan oleh berbagai macam scam dan con. Serial ini menarik untuk ditonton, tiap-tiap episode biasanya hanya mengangkat satu kasus, tapi ada juga yang bersambung. Ada komedi, aksi, intrik dan konflik tersaji dalam serial ini.

DC Series

Untuk penggemar super heroes, serial yang mengangkat tokoh-tokoh DC juga menarik untuk diikuti. Ada Green Arrow dalam serial Arrow, The Flash, Supergirl, dan DC: The Legend Of Tomorrow.

Cerita yang diangkat sedikit berbeda dari komik yang telah beredar. Bagi kamu penggemar komik DC, akan melihat sisi lain dari para superheroes ini. Oh ya, selain itu juga ada serial Gotham (tapi aku ga nonton)

Marvel Series

Marvel juga tidak mau kalah, mengeluarkan serial tersendiri. Ada Marvel: Agent of S.H.I.E.L.D, Marvel’s Agent Carter, Daredevil.

Aku cuma ngikutin Agent of Shield dan Daredevil sih. Yang menarik dari Agent of Shield ini, bukan mengangkat superheroesnya, tapi yang diangkat cerita dalam S.H.I.E.L.D-nya sendiri. Kita akan melihat kembali Agen Coulson, jatuh dan bangunnya organisasi ini. Jika mengikuti seri film-film Marvel seperti Ironman, Captain America, The Avenger dll, nanti akan nyambung dengan beberapa kisah yang diangkat dalam serial ini.

Hannibal

Kalian yang pernah nonton film atau baca  novel yang berjudul Silence of The Lamb dan Hannibal akan akrab dengan tokoh dalam serial ini. Serial ini bercerita tentang Dr. Hannibal Lecter psikiater jenius tapi psikopat. Waktu dalam serial ini sebelum fase di novel.

Jangan nonton jika kamu tidak kuat dengan kesadisan dan kegelapan serial ini, jangan nonton. Kebahagiaanmu serasa terhisap setelah menonton serial ini.

Person of Interest

Serial ini basisnya adalah action dan sci-fi. Sebuah ASI (Artificial Super Intellegent) yang mengamati seluruh aktivitas manusia, bertugas mencegah tindak terorisme. Tapi ceritanya bukan terkait hal tersebut.

Konflik dan keseruan serial ini akan memikat Anda. Membuat susah berhenti.

Sherlock

Mengangkat kembali tokoh Sherlock Holmes tapi pada masa sekarang, zaman modern. Diperankan oleh Benedict Cumberbatch dengan skill aktingnya yang apik, membuat banyak orang langsung jatuh cinta dengan tokoh Holmes.

Sebenarnya masih ada beberapa lagi serial-serial yang direkomendasikan, tapi entar-entar aja deh. Kalo lagi sadar, disambung di postingan (entah kapan) selanjutnya.

Selamat mengunduh, atau membeli DVD bajakannya, dan selamat menonton.

Percayalah, serial yang aku rekomendasikan ini ga ada yang jelek. Hehehehehe

MOS, ADA DAN TIADA

(gambar dari osolihin.wordpress.com)

(gambar dari osolihin.wordpress.com)

Pak Anies Baswedan melarang diadakannya Masa Orientasi Siswa yang mengandung unsur penindasan atau bullying. Terakhir aku baca sebuah artikel, pak Anies melarang siswa/anggota OSIS untuk menjadi panitia MOS, biarkan kegiatan ini diatur oleh guru-guru.

Masa Orientasi Sekolah atau MOS merupakan masa pengenalan bagi siswa baru. Tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tapi juga budaya dari sekolah tersebut. Sayangnya dalam pelaksanaan, kegiatan ini menjadi ajang penindasan oleh senior kepada yuniornya. Berbagai macam tugas yang tidak masuk akal, peralatan aneh-aneh yang harus dibawa ke sekolah serta kegiatan-kegiatan yang tidak mendidik seorang siswa.

Dulu ketika masih sekolah, aku (ketika itu menjadi pengurus OSIS) selalu mencaoba mencari pembenaran atas setiap tugas dan tindakan yang kami berikan kepada adik-adik yunior kami. Tes mentallah, membentuk supaya tahan banting atau hal-hal lain. Tapi ada beberapa hal yang waktu itu aku coba ubah.

Ketika aku kelas tiga SMA, aku melarang para senior untuk meminta coklat kepada yuniornya. Hal itu berhasil kami jalankan, tapi tugas-tugas lain yang aneh-aneh masih tetap berlaku. Namanya juga tradisi, susah untuk diubah.

Dahulu kami sangat yakin bahwa apa yang kami lakukan adalah demi kebaikan adik-adik yunior kami. Kami yakin bahwa kegiatan ini akan membentuk mental mereka sehingga siap menghadapi kerasnya dunia. Padahal, apa sih yang kami, anak SMA, pahami tentang kerasnya hidup? Bagi sebagian besar anak SMA, kerasnya hidup adalah tugas sekolah yang tak kelar dikerjakan, guru fisika yang galak atau persaingan mendapatkan idola sekolah. Paling banter tentu saja perseteruan abadi dengan sekolah musuh.

Di tahun-tahun akhirku di kampus, kusadari bahwa pelaksanaan MOS dan ospek tak lebih hanya sebuah misi balas dendam atas apa yang kami terima sebelumnya. Menjalankan tradisi yang tidak kami pahami maknanya, sekedar kesenangan mengisengi anak baru atau menunjukkan siapa yang berkuasa di sekolah/kampus.

Bagiku, MOS idealnya adalah sebuah wahana untuk mengenalkan anak-anak baru dengan sekolahnya, mengenal kakak kelas (dengan cara yang baik) serta memahami budaya dan tata karma yang berlaku di sekolah. MOS harus banyak diisi dengan permainan-permainan yang menyenangkan, menumbuhkan keakraban antara sesama anak baru, menjalin kerja sama dan belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Idealnya, MOS mempersiapkan adik-adik siswa baru supaya tidak gagap bersekolah di tempat yang baru.

MOS yang diisi dengan penindasan, bullying dan tugas-tugas tidak masuk akal, hanya akan melahirkan generasi penindas yang baru. Generasi yang hanya berani ngebully di jejaring sosial, tapi bungkam untuk berpendapat di dunia nyata.

Pengurus OSIS sebagai panitia MOS, bekerja sama dengan guru-guru harus mau dan mampu menjadi teladan untuk adik-adiknya. Bahkan sekolah yang pendidikannya semi-militer pun, kedisiplinan tidak boleh diajarkan dengan kekerasan.

Hukuman yang diberikan karena kesalahan siswa, harus yang mendidik tapi membuat jera. Hukuman fisik boleh diberikan, tetapi tidak boleh merendahkan martabat dan bertujuan menyakiti. Push-up, bending, lari keliling lapangan merupakan hukuman yang wajar, tapi tamparan, cacian, memberikan julukan-julukan yang tidak pantas bukanlah sesuatu yang mendidik.

Sekolah juga berperan dalam membentuk karakter seorang anak, apalagi sekolah menengah. Usia remaja merupakan usia yang kritis. Hormon, darah dan energi mereka masih sangat bergolak. Keingintahuan mencoba hal-hal baru harus disalurkan ke jalan yang benar.

Masa MOS bisa sangat menyenangkan. Belajarlah dari fasilitator-fasilitator training atau outbond. Mereka dituntut menguasai permainan-permainan yang membentuk kebersamaan, kerja sama atau hal-hal positif lainnya.

Bersyukurlah sekolah yang sudah bisa menjalankan MOS tanpa kekerasan dan penindasan. Untuk sekolah yang masih belum, inilah saatnya untuk berubah menjadi lebih baik.

Sejujurnya, saya menyesali apa yang pernah saya lakukan ketika menjadi panitia MOS, Ospek, PPAB atau apapun namanya ketika jaman sekolah dan kuliah. Pada akhirnya kami waktu itu hanya menjalankan tradisi, tapi membalutnya dengan seribu satu alasan untuk pembenaran kegiatan kami.

Mudah-mudahan niat baik pak Anies bisa diterima dan dijalankan dengan baik oleh siswa-siswa sekolah menengah di seluruh Indonesia

 

Darma Eka Saputra

SMP 1 Padang 1999-2002

SMA 1 Padang 2002-2005

Tek. Mesin ITB 2005

UKM-ITB 2005

KAM-Bumi Ganesha 2005