FORGIVEN BUT NOT FORGOTTEN

Memaafkan Orang Lain

Jika temanmu menghilangkan sebuah barang milikmu, apakah kamu akan memaafkannya? Mungkin jika hanya barang kecil dan biasa, kamu akan maklum dan segera memaafkan. Bagaimana jika barang tersebut memiliki arti dan kisah tersendiri? Mungkin akan berat bagimu memaafkannya, bahkan bisa saja diawali dengan kemarahan terlebih dahulu.

Memaafkan orang lain bukan perkara sulit, tapi tidak mudah juga ternyata. Aku cepat memaafkan orang lain, tapi juga terkadang menyimpan ingatan terhadap hal-hal yang menyakiti atau menyinggungku, bahkan setelah bertahun-tahun. Aku bisa marah pada seseorang saat ini, tapi satu jam kemudian akan bercanda seperti biasa. Tapi aku juga bisa mendiamkan seseorang hingga berhari-hari karena perbuatan atau ucapan yang menyakitkan dan mengecewakan.

Kita sering memilih-milih hal yang kita maafkan dan yang tidak. Tak jarang kita pun memilih orang yang kita maafkan dan yang tidak. Adilkah kita?

Pram berkata untuk adil bahkan sejak dalam pikiran. Cobalah belajar memaafkan orang lain, selama ia tidak menyinggung agama, negara dan harga dirimu.

Meminta Maaf kepada Orang Lain

Bersediakah kamu menundukkan kepala mengakui kesalahanmu di hadapan orang lain? Pernahkah kamu dengan lantang meminta maaf secara tulus karena telah menyakiti perasaan orang lain? Atau kamu harus menunggu berhari-hari sebelum meminta maaf, itupun karena desakan orang lain?

Terkadang kita terlalu tinggi hati mengakui kesalahan diri. Begitu sulit rasanya melihat ke dalam diri, mengkaji kekeliruan, lalu mengakui dengan ksatria kesalahan itu. Ego ke-aku-an itu membesar dan mengakar kuat dalam diri, keras sehingga menolak menunduk pada kerendahan hati dan lapang dada.

Ke-aku-an yang meraksasa dalam diri sebenarnya sedang melahap sisi lembut hati perlahan-lahan. Hingga pada akhirnya meninggalkan hati yang keras dan mati, menolak semua kebaikan.

Bersedialah meminta maaf, supaya kamu tetap menjadi manusia.

Memaafkan Diri Sendiri

Tantangan terbesar ternyata bukanlah memaafkan atau meminta maaf kepada orang lain. Hal tersulit adalah memaafkan diri sendiri.

Sebelum mampu memaafkan diri sendiri, kita akan selalu melemparkan kesalahan kepada orang lain. Kegagalan, rencana yang tidak sesuai pasti karena pengaruh orang lain. Harus selalu ada yang disalahkan, ditunjuk dan dituding. Pada akhirnya kebaikan hati akan tercerabut lalu mati dan melayu.

Memaafkan diri sendiri merupakan kunci untuk meminta maaf bahkan memaafkan orang lain. Berdamai dengan diri sendiri merupakan awalnya, berkontemplasi, merefleksi diri, istilahnya Muhasabah Diri.

Aku bertahun-tahun bergulat dengan ini. Menganggap semua kegagalan dan kemalangan yang kualami karena orang lain. Bertahun-tahun aku hidup dalam pikiran negatif, selalu merasa benar, keras kepala dan berhati batu. Lari dari satu kenyataan untuk kemudian membentur kenyataan yang lain.

Bertahun-tahun, berkubang luka, yang ternyata kubuat sendiri. Hingga suatu saat aku diingatkan, untuk belajar memaafkan diri sendiri, berdamai dengan semuanya, bahkan masa lalu.

Forgiven but not Forgotten

Kita mungkin telah memaafkan diri sendiri dan orang lain, tapi bukan berarti setiap kesalahan itu akan dilupakan. Memaafkan kesalahan bukan berarti melupakannya.

Memaafkan berarti belajar dari kesalahan tersebut. Melupakannya adalah suatu kemustahilan. Melupakan tanpa memaafkan hanya seperti berlari dari bayang-bayang di siang terik. Seberapa pun kencangnya kamu berlari, bayanganmu akan terus melekat.

Melakukan kesalahan seperti menancapkan paku pada sepotong papan. Meminta maaf atau memaafkannya mencabut paku tersebut dari papan. Paku tercabut, tapi ada bekas yang tertinggal di papan. Lubang tersebut menjadi penanda untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut, atau menghindarinya.

Maafkan, tapi jangan lupakan. Belajarlah untuk tidak mengulanginya.

1minggu1ceritaa

Menyikapi Kehilangan

Kepergian Bapak membuatku memandang kehilangan dengan cara yang berbeda. (foto: koleksi keluarga)

Aku bukan tipe orang yang cepat berdamai dengan kehilangan, dan perpisahan. Khususnya dengan orang-orang terdekat. Karena itulah aku selalu gagap ketika memberikan ucapan bela sungkawa kepada kawan-kawan yang kehilanga orang-orang terdekatnya.

Bahkan ketika nenekku meninggal, aku tak sanggup datang ke pemakamannya. Aku takut, dan tidak tahu harus bersikap apa.

8 Nopember 2016, pagi-pagi sekali ketika aku akan berangkat ke Banjarmasin, kakakku menelepon dan mengabarkan bapak terjatuh ketika sedang sholat. Hatiku mencelos, padahal malam sebelumnya aku masih mengabarkan keberangkatanku untuk tugas kantor ke Banjarmasin ke Ibu.

Baa kaba Apa, Bu? (Bagaimana kabar Bapak, Bu?)”

Masih saroman biaso. (Masih seperti biasa)”

Lalu setelah itu aku hanya menitipkan salam, tak sempat berbicara dengan beliau.

Segera setelah aku mendarat di Kalimantan, kakakku yang lain mengabarkan Bapak sudah meninggal. Aku hanya diam, masih berusaha mencerna kabar yang kuterima. Nyaris tak ada air mata yang menetes (air mataku baru tumpah malamnya, setelah Isya).

Kusempatkan untuk pulang, walau tak bisa menghadiri pemakaman beliau. Setelah belasan tahun, aku melihat air mata Ibu lagi, ketika mengunjungi makam Bapak. Hanya isak tangis, nyaris tanpa suara. Ketika aku berpamitan kembali ke Surabaya, untuk pertama kalinya Ibu menangis melepasku (setelah itu aku berjanji untuk menelepon minimal dua minggu sekali).

Sepeninggal Bapak, aku menggali lagi ke dalam diri. Tidak ada di antara kami yang benar-benar dekat dengan beliau. Kedekatan kami pudar seiring bertambahnya usia, tak jarang aku dan kakak-kakakku berselisih pendapat dengan beliau. Hubungan kami dengan bapak tidaklah dingin, tapi juga tidak hangat dan sangat akrab seperti kisah orang lain. Kami (atau beberapa di antara kami) lebih banyak bercerita dengan Ibu.

Walau begitu, kepergian Bapak meninggalkan kekosongan. Tidak ada lagi nyinyiran-nyinyiran di rumah, atau nasihat-nasihat yang terkadang beliau sampaikan ketika kami tersambung di telepon. Setelah beliau tiada, aku sering mengulang-ulang kembali rekaman percakapan, nasihat, dan canda tawa bersama beliau.

Kepergian Bapak membuatku menyikapi kehilangan dengan cara yang berbeda. Terlebih lagi menyikapi keberadaan orang-orang terdekatku dengan kaca mata yang lain.

Setiap detik yang kita jalani bersama orang-orang tersayang sangat berharga. Tawa, omelan, tangis bahkan senyum mereka harus kita rekam dengan baik, karena tak ada satupun yang tahu kapan mereka akan dipisahkan dari kita.

Kehilangan itu rasanya tidak enak. Kehilangan pasti sesuatu yang tidak terelakkan, seperti halnya perpisahan. Bahkan ketika kita sudah berusaha mengikhlaskannya, tetap ada seberkas rasa pahit tertinggal. Selanjutnya adalah bagaimana cara kita berdamai dengan rasa pahit karena kekosongan tersebut.

“Hidup itu berpasangan, ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang muncul dan ada yang hilang. Tak ada orang yang hanya mengalami salah satu di antara dua.”

1minggu1ceritaa

Kapau, Bukan Sekedar Rumah Makan Padang

Rumah ini tempat tangisku pertama kali terdengar, setelah keluar dari rahim Ibu. (foro koleksi dewe)

Rumah ini tempat tangisku pertama kali terdengar, setelah keluar dari rahim Ibu. (foto koleksi dewe)

Awal tahun 2017, 1 Minggu 1 Cerita hadir dengan format baru dan anggota yang semakin banyak. Untuk memanaskan minggu pertama setoran, kita mulai dengan setoran bertema #SerunyaKampungku.

Kampung halaman bagiku bukanlah tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Saat ini, bagiku kampung halaman adalah tempat ibuku berada. Kebetulan ibuku sekarang berada di Kapau, tempat kelahiranku.

Kenalkan, Bapak (alm) dan Ibu. (foto koleksi dewe)

Kenalkan, Bapak (alm) dan Ibu. (foto koleksi dewe)

Bagi kalian penggemar masakan Padang dan pernah berkunjung ke Ranah Minang, Kapau adalah rumah makan. Beberapa rumah makan Padang menampilkan khas masakan Kapau. Tapi tahukah kalian apa itu Kapau?

Kapau adalah sebuah nagari di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, berjarak sekitar 10km dari pusat kota Bukittinggi. Topografi kenagarian Kapau cenderung datar, tidak ada perbukitan. Tapi daerah yang berada pada ketinggian  +700m dpl membuat iklim di kampung halamanku cenderung sejuk.

Jika kalian berkesempatan ke Sumbar dan main ke Bukittinggi, mampirlah ke Kapau. Saat ini banyak warga kapau yang mulai menanam buah naga di pekarangan, bahkan kebunnya. Tanaman ini lumayan menambah penghasilan warga selain bertani, berkebun dan berdagang.

Kapau adalah sebuah desa, seperti kebanyakan desa pada umumnya maka tetangga-tetangga terdekat masih keluarga. Bahkan, satu jorong (mungkin kalau disamakan, ini setingkat rw), pasti saling berkait hubungan kekeluargaannya. Seperti halnya keluarga, maka selalu saling membantu.

Aku merasakan langsung bagaimana keluarga saling membantu ketika pernikahan kakak tertuaku. Di kampungku, baik ada pesta pernikahan dengan pelaminan segala macamnya atau hanya syukuran maka keluarga terdekat pasti akan membantu menyiapkan hidangan. Belasan hingga puluhan orang bahu-membahu menyiapkan masakan, camilan bahkan membersihkan rumah menjelang acara.

Dapur atau halaman belakang yang disulap menjadi dapur riuh oleh celoteh, canda tawa dan gurauan ibu-ibu yang memasak. Pada umumnya ibu-ibu yang sibuk mempersiapkan semua, kaum bapak akan membantu untuk masakan yang membutuhkan tenaga seperti mangacau galamai, atau maaduak randang sakuali.

Gurauan-gurauan yang terlontar terkadang membuat jengah dan memerahkan telinga anak gadis atau bujang yang ikut membantu. Tapi gurauan di dapur hanya sampai di dapur, selepas acara tak lagi dilanjutkan.

Kampungku seperti itu, Kapau.

Jika kalian mendengar kata Kapau, ingatlah, Kapau bukan hanya sekedar rumah makan padang, melainkan sebuah desa/nagari dengan kekeluargaan yang masih kental.

1minggu1ceritaa

Bagaimana Jika

Bagaimana jika, seseorang yang selalu ramai, merupakan orang yang paling kesepian di antara kita?

Bagaimana jika, seseorang yang senang menyendiri, merupakan orang yang paling ramai dengan kesendiriannya?

Bagaimana jika, apa yang kita lihat, tidak seperti yang sebenarnya terjadi?

“Bagaimana jika,” kata yang membuat kita berpikir hal-hal yang tidak perlu. Kita berandai-andai, berharap mengubah sesuatu dengan pertanyaan tersebut.

Life is hard, don’t make it harder with unnecessary thinking.

Alam Takambang Jadi Guru

Alam terbentang menyediakan pelajaran yang berharga tentang hidup (Koleksi poto sorangan)

Alam terbentang menyediakan pelajaran yang berharga tentang hidup (Koleksi poto sorangan)

Untuk yang besar dan akrab dengan budaya Minangkabau pasti mengenal ini. Alam takambang jadi guru (Alam terbentang jadi guru). Peribahasa ini cukup berpengaruh bagiku, yang sering menghabiskan waktu di alam terbuka.

Bagi orang Minang, alam merupakan sebuah buku pelajaran yang terbentang, mengundang untuk dipelajari. Tidak hanya sebatas itu, ukiran pada rumah gadang pun mengambil pola dari alm, sebut saja itiak pulang patang (bebek pulang senja), kaluak paku (lekuk pakis), dan lainnya.

Dalam bidaran minang yang berjudul Pitaruah Ayah, Angku Yus Datuak Parpatiah menyampaikan beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari alam. Salah satunya belajar pada beringin. Pohon beringin tegak menjulang ke langit, dengan akar yang menghunjam dalam ke tanah. Beringin mengajarkan seorang pemimpin untuk teguh pendirian, mampu menjadi tempat berlindung dan bersandar orang yang dipimpinnya.

Beriringan dengan filsafah Minang, Al Quran juga mengajarkan kita untuk Iqra’, atau membaca. Ayat yang kita baca tidak hanya ayat yang tesurat, tapi juga y ang tersirat. Alam semesta merupakan salah satu ayat yang harus kita baca dan pelajari.

Salah satu ajaran alam yang melekat padaku adalah belajar dari lebah. Lebah mengumpulkan yang baik, yaitu sari bunga dan serbuk sari, lalu mengeluarkan yang baik pula. Sarang leba tidak pernah ada yang merusak tempat yang mereka tinggali. Manusia juga harus begitu, mencari rezeki dengan cara yang baik, mengeluarkannya pada kebaikan pula, dan tidak merusak lingkungan tempatnya hidup.

Aku menempatkan diriku sebagai seorang yang mau untuk terus belajar. Tapi cara belajar terbaikku adalah dengan berada di lapangan, merasakan sendiri pengalamannya atau mengamati hal-hal yang terjadi. Belajar di kelas makin ke sini terasa semakin sulit (emang dari dulu juga sih, hahahaha)

Melakukan perjalanan bagiku juga memberikan pelajaran hidup. Bahkan jika perjalanan dengan tujuan yang sama, tapi cerita yang muncul pasti akan berbeda. Obrolan dengan supir angkot, bapak-bapak yang sama-sama menumpang kereta, anak kecil yang sedang bermain gundu, kucing yang diam di atas pagar bahkan sebatang pohon mangga bisa memberikan hidup pelajaran yang berharga. Semua tergantung bagaimana kita bisa membuka mata lebar-lebar.

 

Alam Takambang Jadi Guru

Lapiak Takambang Main Kyukyu

Jimek Takambang Juara Satu

(Alam terbentang jadi guru

Tikar terbentang main kartu

Jimat (contekan) terbentang juara satu).

Dua bait terbawah adalah lelucon pas jaman-jaman sekolah.

 

Aku akan terus belajar, dan terus mencintai kamuuuu…

Ahahahahahay Icikiciw….

 

1minggu1ceritaa

Menulis itu (Ga) Gampang

 

 

Sudah beberapa minggu ini absen nulis, setoran ke #1Minggu1Cerita pun tersendat-sendat. Tidak hanya postingan pribadi, artikel harian untuk web kantor pun juga bolong-bolong. Lha, kenapa?

Entahlah, mungkin masalah mood, otaknya lagi blank, atau lagi banyak load kerjaan.

Dulu ketika lagi ngajar di Solok, di Rumah Belajar Kamil, aku mencoba membuat target, satu hari satu tulisan. Tapi ternyata ga bisa konsisten. Seringkali ketika sudah di depan laptop, mendadak nge-hang. Tidak tahu lagi apa yang akan ditulis.

Aku terkadang iri dengan beberapa orang teman yangbegitu lancar menumpahkan isi kepalanya dalam sebuah tulisan, baik itu postingan blog ataupun berupa karya seperti cerpen dan lain-lain. Mereka menuliskannya dengan baik dan enak dibaca.

Kalau kata mentor nulisku, “Ada orang yang ‘dicintai oleh kata-kata’. Ia bisa menulis dengan kalimat yang baik, kadang rumit kadang sederhana tapi membuat pembaca mengerti dengan apa yang ia maksud.”

Banyak teori menulis yang kubaca. “Tuliskan saja, sunting belakangan” itu hal pertama dari rules menulis. Jangan pikirkan tata bahasa, efektivitas kalimat atau bagus tidaknya pilihan kata. Nanti saja menyunting tulisannya.

Tapi ya teori tetap teori. Bagi sebagian orang, menulis itu butuh energi yang sangat besar. Berkisah dengan tulisan membuatnya harus berpikir keras.

Makanya menulis itu tidak selamamnya gampang, mungkin masalah membiasakan saja. Mulai dari Dipaksa, Terpaksa, lalu jadi terbiasa.

Jadi, menulislah walau 1Minggu1Cerita

Tulisan ini dibuat tanpa suntingan lebh lanjut, karena aku akan menyuntingmu secepatnyaa… #Eeaak

1minggu1ceritaa

Berhenti Mengeluh, SEKARANG JUGA

 

Mengeluh itu sepertinya enak ya. Protes cuaca, pekerjaan, penyakit, pasangan (atau ketidakpunyaan pasangan). Seakan seluruh dunia harus tahu apa yang sedang kita rasakan dan keluhkan.

Tempat mengeluh paling enak dan nyaman tentu saja di jejaring sosial. Seluruh jejaring yang terkait dengan kita harus tahu apa yang kita rasakan. Ya elaaah, apa ga sekalian curhat make toa masjid?

Tempat lain untuk mengeluh, tentu saja teman terdekat, rekan kerja, orang di sebelah ketika di bis, pak RT, pengurus masjid, atau siapapun yang kita temui dan ajak ngobrol.

Kebanyakan kita beranggapan dengan menyampaikan keluhan ke orang lain, mereka akan memberikan simpati/empatinya kepada kita. Tapi ternyata mengeluh hanya menyebarkan energi negatif ke sekitar kita. Orang-orang malah capek dan kesal mendengarkan keluhan-keluhan kita.

Mengeluh pada dasarnya adalah energi negatif, dan energi ini menyebar dengan cepat ke orang-orang di sekitar kita. Tapi kebiasaan mengeluh bisa dikurangi, bahkan dihentikan. Semuanya tergantung kamu, mau nggak untuk mengubahnya.

Mengubah kebiasaan mengeluh ga terlalu sulit, ga sesulit melupakan mantan yang semakin kece badai membahana. Karena mengeluh adalah energi negatif, maka untuk menguranginya kita harus memperbanyak energi positif dalam diri.

 

Bersyukur

Mengeluh timbul karena kita kurang bersyukur atas apa yang kita dapatkan dan alami. Bersyukur merupakan sikap menerima dan berterima kasih terhadap apa yang kita alami dan hadapi. Bersyukur bukan berarti pasrah atas keadaan, tapi berterima kasih.

Bersyukurlah, banyak metode bersyukur yang bisa kamu jalankan untuk melakukannya.

  1. Tiap pagi, syukuri hal-hal yang kamu miliki.

Memulai hari dengan mensyukuri hal-hal yang kamu miliki akan membuat harimu dimulai dengan baik. Bersyukur atas kesehatan, pekerjaan, kuliah atau keluarga, juga tidak lupa bersyukur karena punya pacar (ataupun tidak punya). Bersyukurlah setiap pagi, dan awali harimu dengan senyum.

  1. Temukan alasan untuk bersyukur dalam setiap kejadian buruk atau tidak menyenangkan yang mungkin menimpamu.

Terkadang ada saja hal-hal buruk yang terjadi. Temukan alasan untuk bersyukur. Contoh: ketika kamu dikejar deadline yang numpuk, bersyukurlah bahwa kamu memiliki pekerjaan yang stabil dengan pendapatan yang cukup. Jika suatu saat kamu melihat mantan jalan dengan pacarnya yang baru, bersyukurlah bahwa pacar barunya akan mengalami penderitaan yang sama denganmu (hehehehehehe). Selalu temukan alasan untuk bersyukur

  1. Setiap malam, bersyukurlah atas hal-hal baik yang terjadi hari ini

Tutup hari-harimu dengan bersyukur atas hal-hal baik yang terjadi hari ini. Bahkan jika ada hal buruk terjadi, bersyukurlah bahwa hal baik masih tetap lebih banyak daripada hal buruk.

 

Berpikir Positif

Berpikir positif sebenarnya susah-susah sulit. Bersyukur adalah salah satu metode dari mengembangkan energi positif dalam diri.

Berpikir dan bertindak positif berarti kita selalu melihat kebaikan dari orang lain, apa yang terjadi, dan kondisi yang kita alami. Contoh, jika kamu janjian dengan seorang teman, dan ia datang terlambat, positif aja. Bisa jadi dia di perjalanan harus membantu kucing yang harus melahirkan tanpa ditemani suaminya. Who knows, everything can be happen.

Bergaul dengan orang-orang positif memberikan pengaruh positif untuk dirimu (dipoto samo kawan juo)

Bergaul dengan orang-orang positif memberikan pengaruh positif untuk dirimu (dipoto samo kawan juo)

Bergaullah dengan orang-orang yang positif, karena energi positif itu menular. Jangan bergaul dengan orang yang suka mengeluh, karena kamu juga akan terpengaruh untuk ikut mengeluh juga.

Senyum

Kalo senyum jangan sendirian, ajak-ajak (dipoto ku batur, koleksi batur oge)

Kalo senyum jangan sendirian, ajak-ajak (dipoto ku batur, koleksi batur oge)

Selalu hiasi wajahmu dengan senyuman. Bukan senyam-senyum yang ga jelas, tapi pasang wajah ceria. Jangan sampai apapun yang terjadi merusak wajah ceriamu. Sebarkan senyum ke orang-orang di sekitarmu, tebarkan keramahan. Orang yang senang mengeluh biasanya jarang sekali menampilkan wajah ramah. Baginya hidup dipenuhi oleh hal-hal buruk yang harus dikeluhkan.

Keep smile, konon katanya senyum itu bikin awet muda. Awas, jangan senyum-senyum sendiri, nanti dikira orang gila. Kalau mau senyum-senyum, ajak-ajak temen biar ga sendirian banget.

Untuk referensi, coba baca buku No Complaining Rules dan Positive Dog karya Jon Gordon. Bahasanya ringan kok, dikemas dalam bentuk cerita yang enak untuk dibaca.

Masalahnya, apakah kamu mau dan siap berkomitmen untuk menjalaninya. Gitu lhooo…

Aduh, terlalu serius nih isi postingan, aku nulisnya jadi mabok. Mabok cinta.. Ahahahahaha….

1minggu1ceritaa