Sepucuk Surat Untuk (Calon) Anakku (II)

Dear Kamu yang saat ini masih berada dalam Rahim.

Bundomu terkadang sering tertawa terkekeh sendiri, ketika merasakan gerakan-gerakanmu yang kuat di dalam perutnya. “Geli-geli ngilu,” ujar bundomu padaku. Lalu ia letakkan tanganku di perutnya, sehingga aku bisa merasakan kuatnya gerakanmu di dalam sana.

Pertama kali merasakan gerakanmu di dalam perut bundomu, sama saat pertama kali mendengarkan detak jantungmu saat diperiksa di rumah sakit. Mengharukan, menimbulkan sensasi di dada yang merambat membasahi mata.

Aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang bapak. Aku yang sejak dulu hidup untuk hari itu saja. Besok, ya pikirkan saja besok. Pernah dulu aku membayangkan menikah, tapi tak pernah membayangkan hidup seperti apa yang akan kujalani setelahnya, dan bagaimana diriku sebagai seorang bapak.

Bertemu dengan bundomu mengubah semuanya. Bundomu adalah katalisku menjadi pribadi yang lebih baik. Karena bundomu, aku sadar bahwa hidup bukanlah tentang hari ini saja—ada hari esok, lusa, dan seterusnya yang masih harus dipikirkan. Karena bundomu jugalah, aku merasa harus memperbaiki diri. Menjadi pemimpin rumah tangga haruslah orang yang terus-menerus memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Apakah aku yang sekarang telah menjadi seorang suami dan (calon) abak yang baik? Tentu saja belum, Nak. Aku masih terus berusaha menurunkan ego, memperbesar hati, meningkatkan sabar, dan memperbaiki ibadahku. Kami berdua akan terus belajar menjadi lebih baik, seiring berjalannya waktu, seiring nanti engkau lahir dan tumbuh bersama kami.

Nak, tumbuhlah dengan baik di dalam Rahim bundomu. Lahirlah dengan selamat, sehat, dan kuat. Lalu ingatlah bahwa bundomulah yang membawamu berbulan-bulan dalam rahimnya. Jangan pernah sekali pun terlintas dalam pikiranmu untuk melawannya. Jangan pernah sakiti diri dan hatinya, sengaja atau tidak. Bergunung-gunung kekayaan yang nanti kau berikan padanya, tidak akan cukup membayar pengorbanannya dalam mengandung, melahirkan, dan membesarkanmu kelak.

Tumbuhlah dengan baik, lalu jadilah anak tangguh dalam menghadapi kerasnya dunia, tapi tetap memiliki hati lembut yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Tumbuhlah menjadi anak yang memiliki pendirian teguh, tapi tetap terbuka hatinya menerima kebenaran. Tumbuhlah menjadi anak yang tak ragu berjuang membela agama-Nya.

Semoga kami berdua mampu menjadi contoh yang baik, teman bercerita, dan tempat berkeluh-kesah bagimu kelak. Semoga nanti engkau mau menerima dan memaafkan ketidaksempurnaan kami dalam mengasuhmu. Semoga kami berdua terus diberikan ketetapan hati untuk terus berusaha memperbaiki diri.

Surabaya, 24 Mei 2019.

(Calon) Abakmu

 

Darma Eka Saputra

 

Sepucuk Surat Untuk (Calon) Anakku (I)

Dear Kamu yang saat ini masih berada di dalam Rahim.

Tak terasa sudah tujuh bulan kamu berada di dalam rahim bundomu. Insya Allah tak lama lagi kamu akan keluar dari tempat yang melindungimu, untuk menghirup udara di bumi yang keras ini.

Tahukah kamu, kenapa tempatmu berada sekarang disebut Rahim? Rahim berasal dari bahasa Arab yang berarti penyayang. Rahim atau uterus merupakan bukti bentuk kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Rahim melindungi, menyediakan nutrisi, dan memberikan lingkungan yang sangat ideal untuk pertumbuhanmu. Seorang ibu berjuang menanggung ketidaknyamanan, perubahan emosi akibat fluktuasi hormon, bahkan kehilangan selera makan akibat mual terus menerus.

Waktu itu bulan November, tahun 2018. Bundomu mengeluh mual-mual dan kehilangan selera makan. Waktu itu Abak pikir, karena nasi padang yang kami makan hari sebelumnya. Mungkin karena sudah firasat, bundomu melakukan pengetesan dengan test pack—garis dua, tapi salah satu garis masih samar.

Besoknya, bundomu harus pulang kampung untuk menghadiri pernikahan Mamakmu. Supaya tidak penasaran, ia memeriksakan lagi ke puskesmas, dan hasilnya positif. Sebelumnya sempat pesimis karena bundo mengalami pendarahan, tapi ternyata kamu kuat, Nak.

Saat dilakukan pemeriksaan lagi, ternyata kamu ditemani oleh dua monster, kista yang ternyata masih bersarang di ovarium. Menurut dokter, tunggu sampai setelah tiga bulan, untuk kemudian baru diputuskan perlakuan apa yang akan diberikan.

Alhamdulillah, setelah masuk bulan ke tiga, ternyata kamu kuat. Kamu adalah seorang pejuang yang tanpa ragu tumbuh besar mengalahkan dua monster itu. Tak perlu perlakuan apa pun, cukup sehat dan biarkan kamu tumbuh, kata dokter.

Doa kami untukmu, Nak. Semoga engkau jadi anak yang kuat, setangguh pohon Daru. Sejak di Rahim engkau telah membuktikannya, bahwa engkau itu kuat. Semoga engkau dianugerahi kebesaran jiwa, dada yang lapang, serta pikiran dan kesabaran yang luas seperti luasnya Segara (lautan), yang meLintang melingkupi bumi.

Kami, Abak dan Bundomu, akan berusaha terus memperbaiki diri, sehingga kami bisa menjadi orang tua yang layak dijadikan contoh dan panutan bagimu.

Ini merupakan surat pertama. Nanti, aka nada surat kedua, ketiga, dan seterusnya. Walau sekarang engkau masih belum bisa membaca, tapi mudah-mudahan kelak ini bisa menjadi cerita untukmu.

 

Surabaya, 15 April 2019.

(Calon) Abakmu

 

Darma Eka Saputra

AKU MENOLAK PEMILU

 

Aku menolak pemilu,

yang membuat saudaraku memanggil saudaranya

dengan panggilan yang buruk,

cebong,

kampret.

 

Aku menolak pemilu,

yang selalu dipenuhi kecurigaan,

berita-berita bohong,

fitnah,

buzzer,

akun palsu.

 

Aku menolak pemilu,

yang diwarnai persekusi,

penindasan,

perundungan,

 

Aku menolak pemilu,

yang memisahkan seorang anak dari bapaknya,

hanya karena memilih pilihan yang berbeda,

membuat mereka tak lagi menyapa.

Yang membuat seorang kakak memaki adiknya,

hanya karena warnanya tak sama.

 

 

Aku menolak pemilu,

yang membuat seseorang tega menghabisi nyawa saudaranya,

karena bertengkar akibat perbedaan pilihan,

 

Aku hanya ingin kedamaian,

ketika media sosial kembali dipenuhi info bermakna,

warung kopi hangat oleh perdebatan sengit berakhir tawa,

keluarga tetap bersama walau berbeda warna.

 

Aku hanya ingin kedamaian,

ketika para pemimpin mencerdaskan,

bukan berdebat tanpa arah di layar kaca,

atau menyindir tajam di media.

 

Aku rindu kedamaian.

Surabaya, 2 Desember 2018

Liam dan Naila, Sebuah Cerita yang Terburu-buru

Awas, postingan ini mengandung spoiler.

Sineas Minangkabau kembali menelurkan sebuah film yang berlatar belakang Minangkabau. Setelah berhasil dengan Silek dan Surau, Arief Malinmudo kembali menyuguhkan film bertema Minangkabau kepada khalayak pecinta film Indonesia.

Film ini berjudul Liam dan Laila, bercerita tentang perjuangan Liam (Jonatan Cerrada), seorang pria Prancis untuk menikahi wanita idamannya, Laila (Nirina Zubir) yang merupakan gadis Minang. Seperti halnya pernikahan beda budaya, maka pasti ada pertentangan dari pihak keluarga, dalam hal ini keluarga Laila. Keluarga besar Laila, yang dipimpin oleh Mak Tuo Naizar, tidak serta merta menyetujui dan menerima pinangan Liam.

Kemudian cerita berlanjut ke perjuangan Liam untuk bisa menikahi Laila. Liam hanya memiliki waktu tiga puluh hari, sesuai dengan lama visa kunjungannya. Ia mulai dengan bersyahadat, mengikrarkan diri sebagai muslim, bersunat, serta melengkapi surat-surat kelengkapan untuk KUA.

Secara umum, tema yang diangkat oleh film ini sangat menarik. Menampakkan bahwa masyarakat Minangkabau terbuka terhadap pernikahan berbeda budaya, tapi tidak begitu saja menerima. Ada hal-hal yang harus diperhatikan, baik secara adat ataupun hukum.

Namun, terasa beberapa kejanggalan dan plot hole dalam film ini yang terasa mengganggu.

Yang pertama, perubahan sikap Mak Tuo Naizar yang semula menentang pernikahan Liam dan Laila, lalu kemudian ia menerima. Tidak ada kejelasan apa yang menyebabkan perubahan sikap itu. Ia juga diceritakan menolak dua calon yang sebelumnya meminang Laila. Apalagi di akhir Mak Jamil (David Chalik), salah satu mamak Laila berkata bahwa Mak Tuo Naizar adalah orang yang berpegang pada kebenaran. Kebenaran apa yang dimaksud? Lubang pada cerita ini membingungkan penonton.

Kedua, penggunaan nama daerah fiktif yang terkesan dipaksakan. Mungkin bertujuan supaya tidak mendiskreditkan salah satu daerah, tapi terkesan dipaksakan. Mungkin jika tidak usah dinampakkan nama daerahnya masih memungkinkan. Banyak kok rasanya film yang tidak menunjukkan nama daerah yang menjadi latar belakang ceritanya.

Secara umum, tidak ada puncak konflik dalam film ini. Film ini cenderung berjalan datar, tanpa ada lonjakan konflik. Penyelesaian konflik utama pun, terkesan buru-buru. Memang ada hambatan dalam usaha Liam melengkapi persyaratan pernikahan, tapi tidak terlalu penting dan menegangkan.

Isu yang diangkat oleh Liam dan Laila sangat bagus, tapi sayang penceritaan dan alur yang terkesan terburu-buru mengurangi kedalaman pesan yang ingin disampaikan oleh film ini. Namun, film kedua yang benar-benar mengangkat budaya Minang ini sangat patut diapresiasi. Masyarakat Minang perlu lebih banyak sineas yang mampu mengangkat isu-isu terkini yang dialami oleh masyarakat.

Jika kamu berseluncur lama di Youtube, ada banyak film pendek karya sineas Minang, umumnya mahasiswa ISI Padang Panjang. Kadang cerita yang mereka angkat bagus dan orisinal, tapi mungkin karena keterbatasan, sinematografinya tidak terlalu memukau. Mereka ini sangat perlu disokong oleh banyak pihak.

Nonton deh, Surau dan Silek, lalu Liam dan Laila. Minang banget lah.

Aftertaste Asian Games 2018

Para penggemar kopi pasti akrab dengan istilah aftertaste. Aftertaste adalah istilah yang digunakan menggambarkan “kesan rasa kedua” dari aroma dan rasa  cairan seduhan kopi. Gampangnya, astertaste adalah rasa yang tertinggal di lidah atau ujung lidah setelah kita menyesap/meminum kopi.

Asian Games 2018 yang berakhir pada tanggal 2 September lalu menyisakan aftertaste dalam pikiranku.

Semua bermula setelah jagad dunia maya riuh setelah kemenangan Jonathan Christie a.k.a Jojo di pertandingan bulutangkis. Lini masa riuh ramai dengan hastag #RahimAnget #OvariumMeledak #PeranakanBergetar #SelTelurMembelah dan yang sejenisnya. Mungkin kalian juga pernah menyimak, membaca, ikut ketawa, ikut me-reply, posting, atau hanya mengurut dada melihat kelakuan netijen ini.

Aku tidak akan membahas secara panjang lebar, tapi ini adalah aftertaste yang menghasilkan pertanyaan mengganjal di dalam pikiran. Pandangan orang akan berbeda-beda, bahkan tirto.id sendiri membahasnya dalam dua artikel khusus.

https://tirto.id/rahim-anget-karena-jojo-pelecehan-seksual-atau-bukan-cVVs

https://tirto.id/menelanjangi-jojo-dan-kehebohan-soal-rahim-anget-cVNc

Tapi, bagiku Asian Games 2018 memberikan rasa manis atas prestasi atlet Indonesia, tapi menyisakan aftertaste earthy di ujungnya. IMO, you girls should be have more respect for yourself.

 

 

Pada Pagi Berkabut

Pada pagi berkabut kita bercerita.

Dengan secangkir kopi berasap, kita mencandai dingin yang terasa.

Andai masih ada tawa yang tersisa.

Dari masa kanak-kanak yang hampir tanpa luka.

Tak ada beban yang terasa.

Hanya bahagia menyambut pagi yang membawa warna.

 

Pada pagi berkabut kita terpana.

Menghitung waktu yang tersisa,

ditandai putih mulai mendatangi kepala.

Dulu seringkali kita lupa,

bahwa tua tak selalu dewasa.

Banyak kanak-kanak yang tua

Tapi sedikit muda yang dewasa

Lalu sampai kapan kita akan terpana

Acuh terhadap masa depan yang pasti ada

 

Pada pagi berkabut, tinggal cerita,

kita diangkut dalam keranda.

Lalu apa yang tersisa?

Hanya kenangan dan nama.

Nonton di Bioskop Bawa Anak? Mikiiir..!!

Jangan keliru, bukan berarti aku yang pergi nonton di bioskop bawa anak. Fenomena membawa anak ke bioskop ini pernah dibahas di beberapa blog, bahkan salah seorang artis (siapa ya? Lupa. Leony apa Chelsea Olivia ya?) Gara-gara mengalaminya sendiri, akhirnya aku jadi ingin menuliskan tentang fenomena ini.

Jadi ceritanya, aku dan istri akhirnya nonton The Avenger: Infinity Wars (Iya telat, tau kook. Hehehehe). Nonton di Sutos (Surabaya Town Square), salah satu mall di kota ini. Karena memang sudah lewat tiga minggu sejak premiere-nya, jadi studionya tidak terlalu ramai.  Separuh saja ga sampai.

Menariknya, ada beberapa penonton yang membawa anaknya menonton film ini. Ada yang membawa anak usia sekolah dasar (6-12 tahun), tetapi ada juga yang membawa anak-anak di bawah lima tahun.

Namanya anak-anak, dengan energi yang melimpah ruah dan ga bisa diam, pasti akan ribut dan mengganggu penonton yang lain dong. Apalagi film ini, yang kalau ngedip aja bisa kelewat adegan-adegan penting. Menariknya, ada satu ibu-ibu membawa dua anaknya, satu usia SD dan satu lagi masih balita, nonton di studio yang sama. Di tengah film, anak bungsunya kebelet pipis, dan anak tertuanya disuruh nganterin adiknya pipis. Eealaah, ga mau kelewat banget ya? Hahahaha

Yang jadi bahan pikiran

Pertama, film ini rate-nya R13, berarti minimal yang boleh nonton adalah remaja, karena ada unsur kekerasan. Anak yang nonton minimal sudah mengerti bahwa kekerasan ini hanya ada di film saja, bukan terjadi di dunia nyata. Rasanya ga bijak mengajak anak usia di bawah 13 tahun menonton film ini. Anak usia ini masih rentan meniru apa yang ditontonnya. Tidak satu atau dua kali kasus anak kecil meniru adegan kekerasan yang ditontonnya kepada temannya.

Kedua, namanya anak kecil ya pasti ga bisa diem kan ya. Mereka pasti akan berisik, menangis, berlarian di dalam ruangan bioskop. Hal ini pasti mengganggu penonton lainnya yang ingin mendapatkan ketenangan menikmati film favorit mereka. Makanya jadi pertanyaan lagi, bijak ga sih bawa anak kecil nonton di bioskop? Bukankan kita membayar harga tiket yang sama untuk nonton film tersebut? Berarti penonton yang lain berhak dong mendapatkan suasana nonton yang tenang, bisa fokus menikmati filmnya.

Berarti aku melarang mengajak anak kecil nonton di bioskop? Ga lah. Boleh saja membawa anak kecil ke bioskop, asalkan filmnya memang sesuai usianya. Tapi kalau bukan, alangkah baiknya para orangtua menahan diri dulu untuk ga memaksa menonton film yang sudah ditunggu-tunggu. Toh masih bisa menunggu blue-ray nya di banyak situs. Atau kalau memang ga sabar dan pengen banget nonton, ya anaknya ditinggal saja. Salah seorang teman pernah cerita kalau ia dan suaminya selalu gantian nonton. Suaminya nonton, ia jaga anak, dan sebaliknya. Atau jika bisa, si kecil dititipkan dulu ke sanak kerabat.

Rasanya, ga apa-apa kita memikirkan kesenangan pribadi. Tapi jangan sampai kesenangan kita malah mengganggu kesenangan orang lain.

Mbok ya otaknya dipakai, jangan di-gulai. Kalau kata ust. Evie Evendi. Mikiiiil…!!