TIPE-TIPE ANGGOTA TIM PENDAKIAN

Ada beberapa tipe anggota tim pendakian lho.. (foto: koleksi dewe)

Ada beberapa tipe anggota tim pendakian lho.. (foto: koleksi dewe)

Awal bulan Agustus ini aku diajak sama temen-temen kantor untuk muncak. Sudah lama vakum muncak, jadi rada keder juga. Tapi pengalaman nanjak ga akan aku bahas di postingan ini, Cuma sedikit hasil pengamatan aja dari beberapa kali muncak.

Berdasarkan pengalaman yang sedikit, aku menyimpulkan ada beberapa tipe orang dalam tim pendakian. Pada umumnya kalau muncak, memang selalu dalam satu tim, minimal berdua atau bertiga. Sama sekali tidak dianjurkan untuk muncak sendirian, kecuali kamu sudah sangat mengenal medannya dan punya keahlian serta mental yang mumpuni.

  1. Leader

Tipe Leader atau pemimpin merupakan orang yang merencanakan perjalanan, menyusun daftar perlengkapan dan peralatan dan ketua rombongan. Biasanya ia merupakan orang yang sudah berpengalaman muncak, akrab dengan kegiatan di alam bebas dan dipercaya oleh anggota tim lain.

Leader bertanggung jawab menjaga aura positif dalam tim. Jika timnya cukup gemuk, leader biasanya punya satu atau dua orang tempat ia berkonsultasi selama perjalanan. Mereka akan mengevaluasi perjalanan, mengubah dan menyesuaikan rencana perjalanan, tergantung kondisi tim dan medan serta cuaca.

Biasanya, tim leader berjalan paling depan. Jika trek yang ditempuh bukan jalur yang ramai dan sering dilewati, ia akan memberikan tanda dengan jarak tertentu. Biasanya dengan tali raffia yang berwarna cerah seperti merah, biru terang atau kuning. Ia menentukan tempat istirahat, tempat bermalam dan melakukan pembagian tugas ketika sampai di tempat kemping. Siapa yang membangun tenda, mencari kayu bakar, memasak dan lain-lain.

Kalau kamu beruntung, leader juga akan memimpin kamu ke masa depan yang cerah berdua. Icikiwir….

  1. Sweeper

Sweeper merupakan orang yang berada paling belakang dalam perjalanan. Tugasnya adalah memastikan tidak ada anggota tim dan barang-barang yang tercecer. Selain itu ia menjaga jarak antar anggota tim. Jika jarak terlalu jauh, ia akan memberi tahu leader dengan kode yang telah disepakati.

Di area kemping, sweeper memastikan tidak ada barang atau sampah yang tercecer, dan kelengkapan jumlah anggota tim. Sweeper juga biasanya orang yang telah berpengalaman muncak, dan akrab dengan kegiatan di alam bebas.

Beruntunglah punya pasangan bertipe sweeper, barang-barang aja ia jaga supaya tidak tercecer, apalagi kamuuuuu…. Tapi sayang, ia juga selalu menjaga kenangan-kenangan masa lalu tidak terlupakan.

  1. Porter
Kalok jadi porter, harus mampu membawa beban hidup yang teramat berat. ihik (poto: koleksi batur)

Kalok jadi porter, harus mampu membawa beban hidup yang teramat berat. ihik (poto: koleksi batur)

Tipe porter adalah anggota tim dengan kemampuan fisik paling mumpuni. Ia mampu membawa beban lebih banyak daripada yang lain dan mempunyai stamina yang paling kuat.

Ia membawa perlengkapan dan peralatan tim dalam tas ranselnya. Tenda, peralatan masak, bahkan persediaan makanan dan minuman. Bukan berarti seluruhnya diserahkan pada porter, tapi ia membawa beban yang lebih berat.

Dalam satu tim, bisa saja porter lebih dari seorang. Apalagi dalam tim yang cukup besar. Terkadang porter tidak hanya membawa beban kelompok, tapi membawa barang-barang anggota tim yang sudah kelelahan. Jika diperlukan, ia akan menjadi pengangkut tandu untuk anggota tim yang mengalami cidera dan harus segera dievakuasi.

Porter juga kuat kok, membawa beban hidupnya sendiri (mungkin). Punggungnya kuat jadi tempatmu bersandar. (Matek lah, makin ga jelas ini)

  1. Mood Booster

Selalu ada penggembira dalam tim. Ia seakan-akan tidak pernah bersedih. Celetukan-celetukannya selalu bisa mengangkat mood anggota tim lain yang sudah down karena letih sepanjang perjalanan.

Tanpa kehadirannya, tim pendakian terasa sepi sunyi,. Tidak ada lelucon-lelucon dan celetukan renyah, hilang nyanyian-nyanyian yang walau geje tapi menghibur, sepi rasanya tak ada tawa riangnya.

  1. Lebah Pekerja

Lebah pekerja bukan tipe pemimpin, ia follower sejati. Umumnya pendaki newbie jadi tipe ini. Ia nurut jika disuruh oleh leader. Apakah itu membangun tenda, mencari kayu bakar, mengambil air atau mencuci peralatan masak. Tapi tak jarang pula pendaki veteran yang lebih memilih jadi lebah pekerja. Ia dengan rendah hati menuruti komando dari leader, tak membantah.

  1. Dapur Umum

Tipe ini tidak boleh tidak ada dalam tim pendakian. Urusan perut dan energi pendakian tergantung padanya. Ia menyusun menu, bahan makanan dan mendiskusikannya dengan team leader.

Urusan perut dalam pendakian bukan hal sepele. Enak tidaknya makanan berperan penting dalam menaikkan mental selama pendakian. Walaupun ketika pendakian, makanan cuma ada dua: enak dan enak banget. Tapi menu yang bervariasi dengan rasa yang lezat bisa jadi penambah semangat sepanjang perjalanan.

  1. Manja dan Pengeluh

Ini termasuk tipe yang harus dihindari untuk dibawa pendakian. Orang manja dan pengeluh membawa aura negatif dalam tim. Ia mengeluh hampir setiap waktu, entah itu kepanasan, kehujanan, serangga, berat beban, masa lalu, mantan dan lain-lain. Seakan-akan ia orang yang paling menderita dalam pendakian tersebut.

Ia menuntut perhatian semua orang kepada dirinya. Kalau bisa semua orang melakukan apapun untuknya.

  1. Sompral dan takabbur

Orang-orang seperti ini juga sebaiknya tidak dibawa. Mulutnya berceloteh tak terkendali, bahkan terkadang nantang dan meremehkan. Selama berkegiatan di alam, sompral dan takabbur adalah dua hal sangat terlarang.

Kata-kata, “Ah, Kunti mah takut ama gue,” atau “Ya elah, gunung segini doing,” dan sejenisnya terlarang diucapkan. Percaya atau tidak, kata-kata bernada seperti itu akan mencelakakan tim lain selama pendakian.

  1. Malas

Orang malas juga jangan sampai dibawa muncak. Ia paling malas melakukan pekerjaan-pekerjaan tim seperti membangun tenda, mengambil air dan sebagainya. Ia selalu berusaha mencari alasan, entah itu mau kencing lah, sakit kepala, sakit gigi, masuk anjing atau teringat mantan.

Bahkan, ia terkadang berusaha supaya beban dalam carriernya paling ringan. Orang seperti ini seakan punya stok alasan tak terbatas. Membawa orang malas hanya akan memancing amarah dan konflik, hal yang harus dihindari selama perjalanan.

Tipe-tipe tersebut tidak dikategorikan ya, seingetnya saja. Tapi setidaknya bisa jadi gambaran kira-kira orang seperti apa yang harus kamu ajak jadi anggota tim pendakianmu.

Sudah siap muncak?

Sudah siap muncak? (foto: koleksi batur oge)

Sudah siap muncak? (foto: koleksi batur oge)

MuntCakkan pernah berhenti mencintaimuuuuuu….

 

 

 

 

 

 

 

dipost untuk #1minggu1cerita

1minggu1cerita

Serial Televisi Barat Rekomendasi Pribadi

Menonton serial televisi barat menjadi hiburan alternatif bagi sebagian orang. Mereka yang sudah lelah melihat acara televisi nasional yang dipenuhi program-program tidak bermutu, menonjolkan cara hidup hedon, cerita-cerita tak bermutu dengan efek kayak tai.

Aku termasuk salah satu dari orang-orang yang menikmati tontonan serial televisi barat. Ceritanya lebih banyak variasi, dengan efek yang serius digarap, terkadang plotnya bikin kesel.

Berikut serial yang kurekomendasikan untuk ditonton, bagi yang minat dan mau memulai nonton serial. Khusus serial barat ya, sayangnya aku bukan penggemar serial Korea, kalau Jepang, paling yang berbau detektif, kedokteran, sejarah atau Tokusatsu. Hehehe.

Game of Throne

Tentu saja, serial ini wajib ditonton para penggemar cerita kerajaan abad pertengahan. Termasuk serial paling popular dengan jutaan penonton. Serial ini merupakan adaptasi dari seri novel Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin

Tidak hanya peperangan yang ditampilkan, tapi juga konflik dan intrik politik, kisah cinta serta kisah-kisah lain. Plot ceritanya menarik, penulis serial ini berhasil memelintir konfliknya jadi tidak tertebak.

Jika kamu menonton episode-episode awal, jangan bosan dan kaget dengan adegan-adegan “uhuy” yang ada. Bersabarlah, maka kamu setelah itu akan tersedot ke dalam ceritanya

Leverage

Serial ini campuran antara komedi dan action. Bercerita tentang sekelompok penipu yang menipu penipu (apa cobak). Masing-masing anggota tim mempunyai spesialisasinya sendiri. Ada thief, grafter, hitter, hacker dan seorang mastermind.

Bersama-sama mereka membantu orang-orang yang dirugikan oleh berbagai macam scam dan con. Serial ini menarik untuk ditonton, tiap-tiap episode biasanya hanya mengangkat satu kasus, tapi ada juga yang bersambung. Ada komedi, aksi, intrik dan konflik tersaji dalam serial ini.

DC Series

Untuk penggemar super heroes, serial yang mengangkat tokoh-tokoh DC juga menarik untuk diikuti. Ada Green Arrow dalam serial Arrow, The Flash, Supergirl, dan DC: The Legend Of Tomorrow.

Cerita yang diangkat sedikit berbeda dari komik yang telah beredar. Bagi kamu penggemar komik DC, akan melihat sisi lain dari para superheroes ini. Oh ya, selain itu juga ada serial Gotham (tapi aku ga nonton)

Marvel Series

Marvel juga tidak mau kalah, mengeluarkan serial tersendiri. Ada Marvel: Agent of S.H.I.E.L.D, Marvel’s Agent Carter, Daredevil.

Aku cuma ngikutin Agent of Shield dan Daredevil sih. Yang menarik dari Agent of Shield ini, bukan mengangkat superheroesnya, tapi yang diangkat cerita dalam S.H.I.E.L.D-nya sendiri. Kita akan melihat kembali Agen Coulson, jatuh dan bangunnya organisasi ini. Jika mengikuti seri film-film Marvel seperti Ironman, Captain America, The Avenger dll, nanti akan nyambung dengan beberapa kisah yang diangkat dalam serial ini.

Hannibal

Kalian yang pernah nonton film atau baca  novel yang berjudul Silence of The Lamb dan Hannibal akan akrab dengan tokoh dalam serial ini. Serial ini bercerita tentang Dr. Hannibal Lecter psikiater jenius tapi psikopat. Waktu dalam serial ini sebelum fase di novel.

Jangan nonton jika kamu tidak kuat dengan kesadisan dan kegelapan serial ini, jangan nonton. Kebahagiaanmu serasa terhisap setelah menonton serial ini.

Person of Interest

Serial ini basisnya adalah action dan sci-fi. Sebuah ASI (Artificial Super Intellegent) yang mengamati seluruh aktivitas manusia, bertugas mencegah tindak terorisme. Tapi ceritanya bukan terkait hal tersebut.

Konflik dan keseruan serial ini akan memikat Anda. Membuat susah berhenti.

Sherlock

Mengangkat kembali tokoh Sherlock Holmes tapi pada masa sekarang, zaman modern. Diperankan oleh Benedict Cumberbatch dengan skill aktingnya yang apik, membuat banyak orang langsung jatuh cinta dengan tokoh Holmes.

Sebenarnya masih ada beberapa lagi serial-serial yang direkomendasikan, tapi entar-entar aja deh. Kalo lagi sadar, disambung di postingan (entah kapan) selanjutnya.

Selamat mengunduh, atau membeli DVD bajakannya, dan selamat menonton.

Percayalah, serial yang aku rekomendasikan ini ga ada yang jelek. Hehehehehe

MOS, ADA DAN TIADA

(gambar dari osolihin.wordpress.com)

(gambar dari osolihin.wordpress.com)

Pak Anies Baswedan melarang diadakannya Masa Orientasi Siswa yang mengandung unsur penindasan atau bullying. Terakhir aku baca sebuah artikel, pak Anies melarang siswa/anggota OSIS untuk menjadi panitia MOS, biarkan kegiatan ini diatur oleh guru-guru.

Masa Orientasi Sekolah atau MOS merupakan masa pengenalan bagi siswa baru. Tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tapi juga budaya dari sekolah tersebut. Sayangnya dalam pelaksanaan, kegiatan ini menjadi ajang penindasan oleh senior kepada yuniornya. Berbagai macam tugas yang tidak masuk akal, peralatan aneh-aneh yang harus dibawa ke sekolah serta kegiatan-kegiatan yang tidak mendidik seorang siswa.

Dulu ketika masih sekolah, aku (ketika itu menjadi pengurus OSIS) selalu mencaoba mencari pembenaran atas setiap tugas dan tindakan yang kami berikan kepada adik-adik yunior kami. Tes mentallah, membentuk supaya tahan banting atau hal-hal lain. Tapi ada beberapa hal yang waktu itu aku coba ubah.

Ketika aku kelas tiga SMA, aku melarang para senior untuk meminta coklat kepada yuniornya. Hal itu berhasil kami jalankan, tapi tugas-tugas lain yang aneh-aneh masih tetap berlaku. Namanya juga tradisi, susah untuk diubah.

Dahulu kami sangat yakin bahwa apa yang kami lakukan adalah demi kebaikan adik-adik yunior kami. Kami yakin bahwa kegiatan ini akan membentuk mental mereka sehingga siap menghadapi kerasnya dunia. Padahal, apa sih yang kami, anak SMA, pahami tentang kerasnya hidup? Bagi sebagian besar anak SMA, kerasnya hidup adalah tugas sekolah yang tak kelar dikerjakan, guru fisika yang galak atau persaingan mendapatkan idola sekolah. Paling banter tentu saja perseteruan abadi dengan sekolah musuh.

Di tahun-tahun akhirku di kampus, kusadari bahwa pelaksanaan MOS dan ospek tak lebih hanya sebuah misi balas dendam atas apa yang kami terima sebelumnya. Menjalankan tradisi yang tidak kami pahami maknanya, sekedar kesenangan mengisengi anak baru atau menunjukkan siapa yang berkuasa di sekolah/kampus.

Bagiku, MOS idealnya adalah sebuah wahana untuk mengenalkan anak-anak baru dengan sekolahnya, mengenal kakak kelas (dengan cara yang baik) serta memahami budaya dan tata karma yang berlaku di sekolah. MOS harus banyak diisi dengan permainan-permainan yang menyenangkan, menumbuhkan keakraban antara sesama anak baru, menjalin kerja sama dan belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Idealnya, MOS mempersiapkan adik-adik siswa baru supaya tidak gagap bersekolah di tempat yang baru.

MOS yang diisi dengan penindasan, bullying dan tugas-tugas tidak masuk akal, hanya akan melahirkan generasi penindas yang baru. Generasi yang hanya berani ngebully di jejaring sosial, tapi bungkam untuk berpendapat di dunia nyata.

Pengurus OSIS sebagai panitia MOS, bekerja sama dengan guru-guru harus mau dan mampu menjadi teladan untuk adik-adiknya. Bahkan sekolah yang pendidikannya semi-militer pun, kedisiplinan tidak boleh diajarkan dengan kekerasan.

Hukuman yang diberikan karena kesalahan siswa, harus yang mendidik tapi membuat jera. Hukuman fisik boleh diberikan, tetapi tidak boleh merendahkan martabat dan bertujuan menyakiti. Push-up, bending, lari keliling lapangan merupakan hukuman yang wajar, tapi tamparan, cacian, memberikan julukan-julukan yang tidak pantas bukanlah sesuatu yang mendidik.

Sekolah juga berperan dalam membentuk karakter seorang anak, apalagi sekolah menengah. Usia remaja merupakan usia yang kritis. Hormon, darah dan energi mereka masih sangat bergolak. Keingintahuan mencoba hal-hal baru harus disalurkan ke jalan yang benar.

Masa MOS bisa sangat menyenangkan. Belajarlah dari fasilitator-fasilitator training atau outbond. Mereka dituntut menguasai permainan-permainan yang membentuk kebersamaan, kerja sama atau hal-hal positif lainnya.

Bersyukurlah sekolah yang sudah bisa menjalankan MOS tanpa kekerasan dan penindasan. Untuk sekolah yang masih belum, inilah saatnya untuk berubah menjadi lebih baik.

Sejujurnya, saya menyesali apa yang pernah saya lakukan ketika menjadi panitia MOS, Ospek, PPAB atau apapun namanya ketika jaman sekolah dan kuliah. Pada akhirnya kami waktu itu hanya menjalankan tradisi, tapi membalutnya dengan seribu satu alasan untuk pembenaran kegiatan kami.

Mudah-mudahan niat baik pak Anies bisa diterima dan dijalankan dengan baik oleh siswa-siswa sekolah menengah di seluruh Indonesia

 

Darma Eka Saputra

SMP 1 Padang 1999-2002

SMA 1 Padang 2002-2005

Tek. Mesin ITB 2005

UKM-ITB 2005

KAM-Bumi Ganesha 2005

 

Surat dari Mang Kepada Keponakannya

Dear keponakan-keponakan Mang. Apa kabarnya kalian? Apakah kalian dalam keadaan sehat? Mengisi waktu liburan dengan 3M (Makan, Molor, Mo*ol), hehehehehe. Tapi yang pasti, kalian pasti kangen Mang Darma kaaaan? Ha… ha…. Ha….

Sudah hampir sebulan ya, sejak pertemuan terakhir kita di Learning Camp Sinergi Sumedang 2016?

Besok kan ya, tanggal 28 pengumuman hasil ujian SBMPTN yang kalian ikuti? Deg-degan? (ya iyalah deg-degan, da hirup.)

Sementara pengumumannya belum keluar, kalau boleh Mang minta kalian baca/simak baik-baik apa yang akan mang sampaikan.

Sekarang tinggal waktunya berserah, mempasrahkan semua keputusan di tangan-Nya. Tidak ada lagi  yang bisa kalian perbuat, hanya menunggu.

Apapun itu hasilnya, apakah sesuai dengan yang kalian harapkan atau tidak, itulah jalan terbaik yang disediakan oleh Allah. Percayalah bahwa ada skenario indah yang disiapkan-Nya untuk kalian.

Jika kalian memang telah berusaha dengan maksimal, lalu tidak lupa berdoa akan pertolongan-Nya, maka apapun hasilnya, ikhlaslah dan bersyukur. Jika baik, maka itulah buah kerja keras kalian, jika belum baik, berarti kalian sedang diuji supaya menjadi semakin kuat.

Jika memang kalian belum maksimal perjuangannya, ya terima saja apapun hasilnya. Jika baik, mungkin kalian beruntung, jika tidak ya wajar.

Apapun hasilnya, jangan sampai memalingkan kalian dari cita-cita yang kalian impikan.

Jika kalian diterima di PTN yang kalian inginkan, jadikan langkah ini sebagai titik tolak kalian menggapai cita-cita. Simpan cita-cita kalian, jangan lupakan. Jika suatu saat kalian merasa lelah dan jenuh, ingat lagi cita-citanya, hingga menjadi bahan bakar untuk semangat kalian.

Jika ternyata kalian belum diterima di PTN, jangan menyerah, jangan lupakan mimpi kalian. Bisa saja Tuhan sedang mempersiapkan jalan lebih panjang dengan ending yang lebih indah. Atau bisa saja kau merasa congkak dengan capaianmu jika masuk PTN, hingga kau abai terhadap cita-citamu. Berbaik sangka pada-Nya.

Surat ini hanya bisa Mang tulis di sini, soalnya kalau dikirim surat satu-satu ke alamat kalian, Mang ga tahu alamat lengkap kalian semua, dan lumayan juga ngirim surat Surabaya-Jawa Barat.

Jangan pacaran mulu, (mungkin) belum waktunya, jangan lupa bahagia, doa Mang untuk diri Mang sendiri lah, yeee. Hahahahaha, Doa semoga kalian selalu mendapatkan yang terbaik.

 

Salam

Mang Darma

Sudah Pernah Kemana Saja?

Ketika masih kanak-kanak, tak pernah sedikitpun terpikir untuk merantau, mengunjungi tempat-tempat baru. Tak sedikitpun terbersit rasa iri kepada kakak-kakakku yang sudah pernah mengunjungi kota lain, bahkan di luar propinsi dan luar pulau Sumatra ini. Gimana mau keluar kota, naik bus Padang—Bukittinggi aja yang hanya tiga jam (waktu itu) sudah mabok (harusnya naik bus diharamkan ya, karena memabukkan. Hahaha). Pada waktu itu aku masih jadi anak bungsu yang manja, tak terbayangkan rasanya jauh dari orang tua.

Ternyata takdir memberikanku kesempatan untuk mengunjungi beberapa kota di Indonesia, melakukan perjalanan dan mengambil pelajaran darinya.

Padang, 1990-2005

Aku tidak dilahirkan di kota ini, tapi tumbuh besar di sini. Kota yang terletak di pantai Barat Sumatra ini menjadi saksi pertumbuhan dan perkembangan diriku.

Kota ini melihatku tumbuh mencintai buku dan kata-kata. Kota ini juga mungkin turut berbahagia tatkala aku menemukan sahabat karib,berbagi cerita,duka dan suka bersama. Di kota ini, aku pertama kali jatuh cinta (atau saat itu aku rasa aku jatuh cinta)

Pekanbaru, 1995 dan 1996.

Perjalanan pertamaku adalah ke Pekanbaru, mengunjungi kakak sepupu, dan kakak tertua yang tinggal di sana. Bersama dengan Bapak dan Ni Roza, aku mengunjungi kota Lancang Kuning itu selama seminggu. Tidak hanya sekali aku melakukan perjalanan ke kota ini, berikutnya adalah saat wisuda dan nikahnya kakak tertuaku. Tidak banyak yang bisa kuingat, selain karena sudah sangat lama, juga karena sudah lupa (ya, ga inget itu namanya lupa om..).

Jakarta, 1999.

Perjalanan ke Jakarta ini sebenarnya cukup mengagetkan dan mendebarkan. Aku sama sekali tidak menyangka akan lolos ke Lomba Bidang Studi tingkat Nasional waktu itu. Orang tuaku tidak mau melepasku begitu saja, jika Guru Pembimbingku tidak ikut mendampingi. Untunglah pihak sekolah bersedia membiayainya, kalau tidak, sayang juga.

Kalau tidak salah, sekitar seminggu aku ada di Ibukota. Pertama kalinya melakukan perjalanan lebih dari delapan jam, pertama kali juga naik kapal feri, dan pertama kali ke luar pulau Sumatra. Awalnya deg-degan, soalnya meninggalkan rumah, orang tua menuju ke daerah yang sama sekali asing.

Alhamdulillah aku menjalaninya dengan baik, tanpa mengalami homesick dan pulang membawa prestasi (yang waktu itu) cukup membanggakan.

Setelah aku dewasa dan merantau. Aku mengunjungi kota ini cukup sering dengan berbagai keperluan dan pertemuan.

Yogyakarta, 2004

Menjabat sebagai ketua OSIS pada waktu SMA memberikanku akses untuk mengikuti berbagai kegiatan, salah satunya mengantarkanku ke Kota Pelajar. Diawali dengan Kongres Anak Propinsi Sumbar, dipilihlah beberapa orang yang diutus sebagai Duta Anak untuk mengikuti Kongres Anak Nasional di Yogyakarta.

Lagi-lagi aku tidak membayangkan akan terpilih menjadi Duta Anak Sumbar lalu mengikuti kegiatan tingkat Nasional di Yogyakarta. Sebelumnya, teman-teman seangkatan mengikuti Study Tour mengunjungi beberapa perguruan tinggi di pulau Jawa, hingga ke Yogyakarta juga kalau tidak salah. Sempat iri juga, tapi apa daya, mahil kalau mau ikutan. Pendapatan Bapak sebagai supir angkot tidak memungkinkan membiayai perjalanan tersebut.

Tapi kalau emang Tuhan berkehendak, pasti terjadi. Aku terpilih menjadi Duta Anak mewakili organisasi OSIS dan Pramuka. Kurang lebih seminggu kami mengikuti kegiatan di Yogyakarta, berjalan-jalan ke Borobudur dan pusat kerajinan perak Kuto Gede.

Hei, tahukah? Itu adalah pengalaman pertamaku melakukan perjalanan dengan pesawat. Gitu ya rasanya naik pesawat, hmm, kayak ada manis-manisnya gitu (pramugarinya ya? Hahaha).

Di sana aku berkenalan dengan teman-teman baru, beberapa ada yang gokil, beberapa ada yang cantik. Heuheuheu. Salah satu duta anak menjadi yuniorku di Teknik Mesin ITB, dan juga di UKM-ITB. Sebut sama namanya Catra, bukan nama samaran.

Temanku yang lain sesama Duta Anak ternyata teman sekelasnya mantan, melanjutkan kuliah di FK Unand, berkenalan dengan teman-teman SMA ku yang (kayak) pindah kelas kuliah di FK. Namanya Laura, Duta Anak dari Jambi.

Bandung, 2005-2016.

Bandung, kota penuh kenangan,kota yang kucintai seperti kampung halaman kedua.

Merantau, kata yang tidak asing untuk orang-orang yang berdarah dan berasal dari daerah Minangkabau (Sumbar). Kuberanikan diri untuk mencoba melanjutkan pendidikan di Kota Kembang ini, mengadu peruntungan di negeri orang. Aku bertahan hampir sebelas tahun, merangkai banyak kisah di dalamnya.

Banyak cerita dan kenangan yang terjadi selama satu dekade lebih itu. Ada kisah cinta, patah hati, persahabatan, pertengkaran, perjuangan bahkan depresi yang menekan. Sepertiga usia ku kulewati di ibukota Parahyangan.

Kota ini sangat memikat, membuatmu akan jatuh cinta pada kota ini, dengan segala baik buruknya. Kota ini menyediakan “Rumah” untukku, salah satu alternatifku untuk “Pulang”

Pulau Sempu, Malang, 2010.

Sebuah ajakan untuk ngetrip bareng dengan seniorku dan teman-temannya. Sebuah pulau di Selatan kota Malang, menawarkan keindahan pantai yang masih asri, laguna dengan pasir putih, tanpa ada listrik, tanpa ada perumahan. Menatap bintang yang berkelip genit, mendengarkan debur ombak membuai membawa lelap.

Malang—Bali, 2010

Lebaran mendekat, tapi aku sedang tidak ingin pulang. Sedikit impulsif, karena rencana ngetrip hingga Lombok dengan seorang sahabatku batal, aku melakukan perjalanan ke Malang, mengunjungi seorang teman.

Menjelang lebaran aku sudah diterima dengan hangat di rumah keluarganya. Tapi rasa bersalah mendadak menghantuiku karena melewatkan hari raya di rumah keluarga orang lain, bukan bersama keluargaku.

Hari terakhir puasa, mendadak kuputuskan aku akan ke Bali. Sedikit nekat, aku berjalan (well, pake bis sih) menuju pulau Dewata. Saat aku menginjakkan kaki di destinasi wisata paling terkenal di Indonesia ini, lebaran telah menjelang. Kuhabiskan hari-hari lebaran mengelilingi beberapa tempat di Denpasar, lalu aku kembali ke Malang.

Untungnya aku dijemput oleh Mas Dhani, calon kakak iparku. Oke, sebenarnya bukan kakak kandungku yang akan (dan sekarang telah) menikah dengannya. Tapi seorang senior di kampus yang sudah kuanggap seperti kakak perempuanku sendiri. Sedikit sombong, aku punya peran (sedikit juga sih) sehingga mereka berdua menjadi sepasang kekasih lalu suami-istri. Dikit tapi, dikiiiiit bgt. Hahahahaha.

Yogyakarta, 2011

Saat Gunung Merapi Yogya meletus, kawan-kawan dari Korps Relawan Salman langsung terjun ke lokasi, memberikan bantuan sesuai keahlian  mereka. Waktu itu aku tetap berada di Bandung, membantu di posko pusat.

Tahun 2011 Korsa merencanakan membuat program lanjutan, aku diajak untuk membantu di sana. Maret 2011 aku dan teman-teman relawan melaksanakan program Rumah Bimbingan Belajar-Tanggap Darurat Merapi Yogya. Lebih dari tiga minggu aku disana, dibantu teman-teman relawan lokal melaksanakan program bimbingan belajar untuk siswa SMP yang akan melaksanakan UN.

Bulan Juni aku ke sana lagi, kabur sejenak dari Bandung, terdampar di kosan seorang sahabat. Hanya beberapa hari saja, sekedar memberikan ruang untuk berpikir. Beberapa jam perjalanan kereta memberikanku waktu untuk sejenak berkontemplasi dengan diri sendiri, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu.

Makassar 2015

Sekitar awal 2015 aku diajak untuk membantu sebuah sekolah Swasta di Makassar mempersiapkan murid-muridnya menjelang Olimpiade Sains Nasional. Dengan beberapa orang yang lain, kami menjadi mentor siswa sekolah tersebut yang akan dikirim mengikuti seleksi OSN tingkat kabupaten/kota.

Empat minggu aku di sana, lagi-lagi bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Mengunjungi kota pelabuhan, menikmati kuliner khas daerah pantai tersebut dan menuliskan cerita baru dalam catatan perjalanan hidupku.

Beberapa bulan setelah itu, lagi-lagi aku berkesempatan mengunjungi Makassar sekali lagi. Sebuah tawaran menjadi surveyor untuk penyusunan RDTR kota Makassar mengharuskanku kembali ke kota ini. hanya lima hari, tapi cukup menyenangkan.

Semarang 2015

Menjelang SBMPTN 2015, aku ditawarkan untuk membantu di Learning Camp perintis cabang Unnes Semarang. Tidak hanya mengajar, utamanya adalah memastikan LC tersebut berjalan dengan baik. Hanya dua minggu aku di sana, tapi ku akhiri dengan membuat kegiatan outdoor games yang menyenangkan. Sayang, tidak sempat untuk berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat di kota ini.

Surabaya 2016

Disinilah aku sekarang, di Kota Pahlawan. Tidak tahu entah sampai kapan aku akan menetap di kota ini. Satu hal yang pasti adalah, aku pindah ke kota ini bukan untuk kalah begitu saja. Aku harus mau dan mampu bertahan, menulis episode baru dalam kehidupanku.

Sejauh ini, tiga minggu lebih aku berada di kota ini, semua berjalan baik-baik saja. Pekerjaanku menyenangkan dan menuntutku untuk terus belajar dan berkembang. Seorang sahabat pernah berkata “Pekerjaan harusnya tidak hanya memberikan gaji, tapi juga kesempatan untuk terus mengembangkan diri.”

Aku bersyukur diberikan kesempatan untuk mengunjungi berbagai tempat di negara ini. Mungkin belum semua kudatangi, tapi kesempatan tersebut mengajarkanku banyak hal. Aku selalu percaya bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, dan didalamnya kita mengumpulkan keping-keping kearifan. Perjalanan-perjalanan itu membentukku menjadi aku yang sekarang, dengan lebih dan kurangnya.

Jangan takut untuk bertualang, mengunjungi tempat baru, dan bertemu orang-orang baru. Kita tidak pernah tahu kemana hidup akan membawa kita. Kita juga tidak akan tahu, siapakah dari orang-orang yang kita temui dalam hidup memberikan manfaat dan pertolongan di masa depan.

Surat-surat di Hari Senin

(pict : loveisnotabuse.com)

(pict : loveisnotabuse.com)

Jakarta, 5 April 2010

Dear Laras, kekasih tersayang.

Bagaimana kabarmu pada hari Senin ini?  Mudah-mudahan Seninmu selalu bahagia, walau selalu ada rindu di antara kita.

Seninku diisi dengan hujan deras, seakan langit menumpahkan air matanya akibat kerinduannya pada bumi. Setengah malas aku keluar dari dekapan selimut yang hangat, mengeliat lalu menyeduh segelas kopi pahit tanpa gula. Kaleng permen berkarat ini penuh dengan puntung rokok sisa semalam.

Tanganku masih terasa lembab berbau besi. Bukan, bukan dari baja dingin berkilat yang selalu kusimpan di pinggang celana atau terikat di betis. Adalah aroma darah yang lembab mengalir melewati sela-sela jari saat sebuah leher robek melepaskan sebuah nyawa.

Aku selalu bekerja di hari Minggu, bukan karena hari itu selalu menjadi hari yang santai untuk setiap orang, sehingga mengendurkan kewaspadaannya. Hari Minggu selalu menjadi hari yang tepat untuk bekerja, menyelesaikan pekerjaan dari klien yang cerewet dan murka penuh dendam.

Kemarin aku mengintai di sebuah taman, diantara pasangan-pasangan yang sedang piknik sejenak melepaskan tekanan pekerjaan yang menyesakkan. Kulihat targetku sedang duduk sendiri membaca sebuah buku di sudut taman. Dia berada di sudut itu setiap Minggu, selalu tanpa teman.

Yang menarik di taman ini, tidak jauh dari tempatnya duduk, ada sebuah tempat yang sepi dan cukup tertutup oleh semak dan pohon yang merimbun. Tapi di tengah-tengahnya terhampar sebuah area yang datar dan cukup lapang, akan selalu luput dari perhatian mata yang tidak jeli. Mungkin saja ada banyak pasangan yang bercumbu dengan liarnya di tempat ini. Lain kali engkau akan aku ajak kesini, kapan lagi kita bercinta di alam terbuka.

Targetku masih duduk membaca buku, tanpa menyadari suasana di sekitarnya. Mengendap, kudekati ia dari belakang dan kucekik lehernya yang tertutup jilbab putih. Kutusukkan pisau nomor tujuh puluh tiga di sela jari-jariku, langsung merobek leher melalui jilbabnya. Dengan sisa kekuatannya ia mendorongku ke belakang hingga terjajar hampir terjerembab. Lalu ia terjatuh menghantam tanah, ada warna yang indah tercetak. Merahnya darah, putihnya jilbab serta coklatnya tanah berbaur menjadi lukisan yang mengalahkan indahnya karya Picasso.

Bergetar, mengejang, matanya membeliak saat nyawanya mengalir keluar dibawa darah yang mengental. Saat ia berhenti bergerak, aku melenguh puas.

Aku tertidur dengan tangan berlumuran darah, nyenyak seperti bayi yang kenyang akan susu.

Selamat hari senin kekasih tersayang, semoga harimu menyenangkan.

 

Peluk cium

Kekasihmu, Zoni

Ps: aku memesan sebuah pisau baru, nanti akan jadi nomor delapan puluh enam.

 

Bukittinggi, 12 April 2010

Dear lelakiku tercinta

Bagaimana Seninmu? Seninku merindukanmu. Kangen aroma Cassablanca Aqua yang melekat di leher dan dadamu saat engkau kupeluk erat.

Satu bulan sudah berlalu sejak pertemuan terakhir kita. Pertemuan yang singkat tapi begitu menggebu-gebu. Lalu kau pergi begitu saja, meninggalkan wangimu pada sarung bantal. Mendadak kamarkmu dipenuhi oleh dirimu, dan aku langsung merindukanmu saat itu juga.

Beberapa hari yang lalu aku diundang untuk menerawang sebuah rumah tua di pusat kota (tentu saja untuk acara supranatural yang mulai marak di televisi). Dahulu pernah terjadi perampokan dan pembunuhan satu keluarga di rumah itu. Setelah kejadian, rumah itu terbengkalai karena ahli waris tidak mau menempati. Bertahun-tahun rumah itu dibiarkan kosong tak berpenghuni, sehingga aura negatif terasa kuat, bahkan ketika kami belum memasukinya.

Tak perlu dipanggil, entitas-entitas itu sudah ramai berkumpul, mengamati para “tamu” yang berkunjung. Ada yang berupa anak kecil, perempuan, laki-laki tua dan remaja, dengan bentuk yang tak karuan. Bahkan terlihat sebentuk makhluk yang tidak akan mau kau lihat di mimpi burukmu. Tekanannya sangat kuat, mencekik kesadaran hingga lenyap. Tak kuat, tiba-tiba gelap, aku pingsan. Untung saja mereka tidak berani merasukiku, mungkin karena “Inyiak” yang setia melindungiku.

Saat tersadar, aku sudah berada di klinik terdekat (mungkin kau ingat, klinik di sebelah Pasar Banto, tempat kita membeli jagung rebus di pertemuan pertama kita).

Sebenarnya aku sudah mulai lelah dengan peran ini, tapi apa daya. Ini jauh lebih baik daripada harus membaca aura orang-orang yang datang. Membaca aura jauh lebih melelahkan daripada sekedar menerawang rumah angker. Membaca aura membuatku merasakan diri orang yang kubaca, menyerap kegelapan dirinya, merasakan masa lalu sehingga membuatku melupakan eksistensi diri.

Ada yang belum aku ceritakan. Lelaki tua itu datang lagi, merayu membujuk supaya aku kembali ke pelukannya. Berbagai macam janji ia ucapkan, supaya ia bisa kembali menikmati tubuhku melepaskan nafsu kudanya (tentu saja dengan kemampuan kura-kura. Ia tak pernah bertahan lebih dari lima menit di ranjang, dasar laki-laki egois).

Tentu saja kurahasiakan hubungan kita. Kau adalah lelaki yang tidak pernah ada, hanya bayang-bayang dan jejakmu yang ada di dalam ketiadaanmu.  Mengungkapkan keberadaanmu hanya akan membuat dunia ribut mengejarmu.

Tapi kau adalah bayang-bayang yang lembut. Yang datang kepadaku dengan kelembutan dan kesabaran. Tak terburu-buru, dengan sabar membawaku ke langit ketujuh.

Selamat hari Senin lelakiku, aku merindukanmu, sangat

Wanitamu, Laras

Nb: oh ya, akhirnya aku membeli parfum kesukaanmu, Cassablanca Aqua, kusemprotkan ke guling setiap aku merindumu, kupeluk dan bermimpi bertemu denganmu.

 

Senin, 17 April 2010

Dear wanita kesayanganku.

Engkau masih ingat pertemuan pertama kita? Aku sedang menikmati secangkir kopi dan jagung rebus saat tiba-tiba engkau duduk di sebelahku dan berkata “Kau lelaki yang beraroma darah”

Aku tersentak, hanya tiga orang di dunia ini yang tahu siapa aku, dan saat itu kau bukanlah salah satunya. Kau adalah wajah asing yang mendadak muncul di sebelahku.

“Jangan takut, rahasia ini aku simpan untuk diriku sendiri. Tapi kalau kau hendak melenyapkanku sekarang, tidak apa-apa. Tidak ada salahnya kita bercengkerama dulu, bercerita tentang hari ini seperti dua sahabat yang sedang bertemu.” Seakan tahu isi hatiku (dan setelah mengenalmu, baru aku tahu bahwa kau memang membaca isi hatiku) kau berkata lembut sambil tersenyum.

“Aku rela engkaulah yang mengakhiri hariku. Mungkin tidak sekarang, bisa jadi beberapa tahun lagi. Aku menunggu.”

Aku terpikat padamu, dan kaupun menerimaku sebagai aku. Kita berpisah, merindu, bertemu, lalu berpisah dan merindu lagi.

Aku pun capai selalu berada dalam bayang-bayang. Aku ingin menikmati cahaya mentari, menjadi seseorang yang bernama dan berwajah. Mungkin menjadi seorang pemburu atau tukang daging (tentu saja, keahlian apa lagi yang aku punya selain menggunakan pisau), tapi hidup tanpa harus selalu melihat ke belakang penuh rasa curiga.

Satu pekerjaan terakhir, tapi sebelum itu aku akan mendatangimu, melepaskan kerinduan yang menggebu-gebu.

Satu lagi, dan kemudian aku akan lahir kembali, mungkin menjadi Jhoni, Rusdi atau Supardi.

Jangan kau tanya kapan aku akan datang, aku adalah pemburu, mengendap-endap mendatangimu dan memelukmu dari belakang.

Peluk-cium

Zoni

Nb: untuk pekerjaan terakhir ini, sepertinya aku akan memakai pisau pertama dan pisau terakhirku. Penutup cerita ini dan pembuka lembaran baru.

 

Rabu, 19 April 2010

Dear engkau (siapapun namamu setelah ini)

Terima kasih telah mendatangiku tiba-tiba, penuh kejutan seperti biasanya. Aku selalu sadar apabila ada orang yang mendekatiku, tapi kau adalah pemburu, selalu tahu kemana harus menyergap.

Terima kasih banyak telah menerima cintaku utuh. Bersamamu membuatku menjadi Laras, bukan pembaca aura atau “orang pintar”. Di pelukanmu, semua indraku hanya terisi rasamu, tubuhku mereguk dahaga akan kehadiranmu.

Sejak pertama bertemu aku tahu bahwa engkaulah yang akan menjadi akhir ceritaku. Hanya waktunya yang aku tidak yakin. Jangan kehilanganku setelah ini, aku akan selalu ada di sisimu, di hatimu.

Kumohon, lakukan dengan cepat, kita tidak sedang bercinta. Biarkan aku pergi dengan cepat dalam senyum di pelukanmu

Aku mencintaimu,

Laras

Nb: ambil saja rambutku yang selalu kau sukai wanginya.

***

Zoni melipat surat yang ia baca, menyimpannya dalam saku. Dengan cepat ia sayat leher Laras, lalu dengan pisau yang lain ia tusuk dadanya, tepat di jantung. Laras tergolek di pelukannya, dengan senyum lebar menghiasi mulutnya.

Lalu dengan sekali gerakan, ia memotong rambut panjang Laras. Meneteskan air mata, ia mencium rambut wangi Laras, lalu berjalan pelan keluar kamar.

Baper oh Baper

Entah sejak kapan kata “Baper” merajalelala membahana di dunia percakapan Indonesia. Apalagi di dunia percakapan anak muda yang masih mencari jati diri (entah hilang dimana jati dirinya). Entah kenapa anak muda sekarang pada suka baper, mungkin masih belum pakai 4G, makanya suka bapering (itu BUFFERING OOIII BUFFER….).

Menurut Kamus Besar Bahasa Kekinian, Baper merupakan kependekan dari Bawa Perasaan. Sedih, dibilang baper, ngambek dibilang baper, marah dibilang baper. Dikit-dikit baper, dikit-dikit baper, makanya pake 4G doong! (BUFFER OII BUFFER… Oh ya, maaf.. hehehehe)

Pada akhirnya kata Baper meniadakan kata-kata emosi seperti sedih, marah, galau, kecewa dan lain-lain. Memang sih, salah seorang temanku yang kebetulan (atau kebenaran) kuliah di Jurusan Linguistik pernah berkata bahwa bahasa pada akhirnya akan terus mengalami perubahan. Bahasa Indonesia dari bentuk awalnya, bahasa Melayu Pasar, telah mengalami perubahan dan perkembangan hingga kini. Banyak kata-kata serapan baik dari bahasa asing ataupun bahasa daerah menjadi bagian dari Bahasa Indonesia.

Bahasa Inggris pun tidak jauh berbeda. Bahasa Inggris yang digunakan Shakespeare dan bahasa Inggris yang digunakan oleh Mr. Harry Potter juga mengalami perkembangan. Oxford bahkan telah memasukkan kata Googling ke dalam kamusnya sebagai kata kerja untuk kegiatan melakukan pencarian melalui Google. Bahkan, keberhasilan actor terkenal, Kang Leo menerima piala Oscar telah menjadi sebuah kata sifat. Konon. Katanya adalah Leoed, kalau tidak salah artinya adalah “keberhasilan melakukan/mendapatkan sesuatu setelah kegagalan yang berulang-ulang.”

Tapi perubahan bahasa ini jadi kebablasan. Bayangkan sebuah kalimat “Ani merasakan kesedihan yang amat besar setelah ditinggal pergi Andi merantau” menjadi “Ani merasakan baper yang amat besar setelah ditinggal pergi Andi merantau.”  Aneh kan ya? Aneh ga sih? Atau nggak aneh?

Atau seperti ini “Bapak baper karena anak gadisnya masih belum pulang hingga larut malam.” Pertanyaannya, emosi apakah yang diwakili oleh kata baper ini? Sedih, marah, cemas, galau, senang, atau gegana (tanya Cita Citata ya kepanjangannya.. hehehehe).

Makanya, kurang-kurangilah make kata baper. Jangan sering-sering, kasihan Bahasa Indonesia kita. Apa ga kasihan ama editor dan penyusun KBBI? Capek lho harus mendata kata-kata yang akan diubah, dihilangkan dan ditambah. Hehehehe.

Jadi, jangan baper lagi ya, coba pake 4G biar ga baper. (EBUSET DAH NI ORANG, BAPER DAN BUFFER ITU BEDA… Iya maaf, baperan ih kamu orangnya. Bawaan Laper ya. Hehehehe.)