Pada Pagi Berkabut

Pada pagi berkabut kita bercerita.

Dengan secangkir kopi berasap, kita mencandai dingin yang terasa.

Andai masih ada tawa yang tersisa.

Dari masa kanak-kanak yang hampir tanpa luka.

Tak ada beban yang terasa.

Hanya bahagia menyambut pagi yang membawa warna.

 

Pada pagi berkabut kita terpana.

Menghitung waktu yang tersisa,

ditandai putih mulai mendatangi kepala.

Dulu seringkali kita lupa,

bahwa tua tak selalu dewasa.

Banyak kanak-kanak yang tua

Tapi sedikit muda yang dewasa

Lalu sampai kapan kita akan terpana

Acuh terhadap masa depan yang pasti ada

 

Pada pagi berkabut, tinggal cerita,

kita diangkut dalam keranda.

Lalu apa yang tersisa?

Hanya kenangan dan nama.

Nonton di Bioskop Bawa Anak? Mikiiir..!!

Jangan keliru, bukan berarti aku yang pergi nonton di bioskop bawa anak. Fenomena membawa anak ke bioskop ini pernah dibahas di beberapa blog, bahkan salah seorang artis (siapa ya? Lupa. Leony apa Chelsea Olivia ya?) Gara-gara mengalaminya sendiri, akhirnya aku jadi ingin menuliskan tentang fenomena ini.

Jadi ceritanya, aku dan istri akhirnya nonton The Avenger: Infinity Wars (Iya telat, tau kook. Hehehehe). Nonton di Sutos (Surabaya Town Square), salah satu mall di kota ini. Karena memang sudah lewat tiga minggu sejak premiere-nya, jadi studionya tidak terlalu ramai.  Separuh saja ga sampai.

Menariknya, ada beberapa penonton yang membawa anaknya menonton film ini. Ada yang membawa anak usia sekolah dasar (6-12 tahun), tetapi ada juga yang membawa anak-anak di bawah lima tahun.

Namanya anak-anak, dengan energi yang melimpah ruah dan ga bisa diam, pasti akan ribut dan mengganggu penonton yang lain dong. Apalagi film ini, yang kalau ngedip aja bisa kelewat adegan-adegan penting. Menariknya, ada satu ibu-ibu membawa dua anaknya, satu usia SD dan satu lagi masih balita, nonton di studio yang sama. Di tengah film, anak bungsunya kebelet pipis, dan anak tertuanya disuruh nganterin adiknya pipis. Eealaah, ga mau kelewat banget ya? Hahahaha

Yang jadi bahan pikiran

Pertama, film ini rate-nya R13, berarti minimal yang boleh nonton adalah remaja, karena ada unsur kekerasan. Anak yang nonton minimal sudah mengerti bahwa kekerasan ini hanya ada di film saja, bukan terjadi di dunia nyata. Rasanya ga bijak mengajak anak usia di bawah 13 tahun menonton film ini. Anak usia ini masih rentan meniru apa yang ditontonnya. Tidak satu atau dua kali kasus anak kecil meniru adegan kekerasan yang ditontonnya kepada temannya.

Kedua, namanya anak kecil ya pasti ga bisa diem kan ya. Mereka pasti akan berisik, menangis, berlarian di dalam ruangan bioskop. Hal ini pasti mengganggu penonton lainnya yang ingin mendapatkan ketenangan menikmati film favorit mereka. Makanya jadi pertanyaan lagi, bijak ga sih bawa anak kecil nonton di bioskop? Bukankan kita membayar harga tiket yang sama untuk nonton film tersebut? Berarti penonton yang lain berhak dong mendapatkan suasana nonton yang tenang, bisa fokus menikmati filmnya.

Berarti aku melarang mengajak anak kecil nonton di bioskop? Ga lah. Boleh saja membawa anak kecil ke bioskop, asalkan filmnya memang sesuai usianya. Tapi kalau bukan, alangkah baiknya para orangtua menahan diri dulu untuk ga memaksa menonton film yang sudah ditunggu-tunggu. Toh masih bisa menunggu blue-ray nya di banyak situs. Atau kalau memang ga sabar dan pengen banget nonton, ya anaknya ditinggal saja. Salah seorang teman pernah cerita kalau ia dan suaminya selalu gantian nonton. Suaminya nonton, ia jaga anak, dan sebaliknya. Atau jika bisa, si kecil dititipkan dulu ke sanak kerabat.

Rasanya, ga apa-apa kita memikirkan kesenangan pribadi. Tapi jangan sampai kesenangan kita malah mengganggu kesenangan orang lain.

Mbok ya otaknya dipakai, jangan di-gulai. Kalau kata ust. Evie Evendi. Mikiiiil…!!

Pamasak Kambiang, Penyelamat Berbagai Masakan di Rumah

Nah, ceritanya kan sekarang aku sudah MENIQA (ini istilahnya teh Anil), tinggal di kontrakan dan sehingga udah ga perlu lagi beli makanan jadi, tinggal masak.

Nah, di rumah, ga melulu istri yang masak. Kadang-kadang aku juga masak, atau masak bareng. Kadang ketika ga sempat belanja di pasar (atau lagi hoream), cuma ada telur untuk dimasak, kadang-kadang ditambah kentang atau mie.

Supaya ga tawar-tawar amat, masak telur orak-arik atau dadar, maka ditambahkanlah bumbu spesial khas, Pamasak Kambiang

Pamasak Kambiang, sang penyelamat

Pamasak Kambiang adalah bumbu bubuk yang dibuat dari berbagai rempah-rempah, biasanya dipakai untuk membumbui kambing (sesuai namanya, Pemasak Kambing), bumbu cancang, kadang-kadang kalau yg mau, dimasukkan ke rendang.

Ternyata, dicampurkan ke adonan dadar, orak-arik, juga oke. Memberikan rasa rempah yang ga terlalu mengganggu (jangan kebanyakan) dengan aroma yang wangi.

Yang belum dicoba adalah dicoba dicampurkan ke adonan berkuah seperti bihun, mie, atau gulai. Ya emang belum mau nyoba aja, hahahaha.

Ada ide dicampurkan ke masakan apa lagi? Minangkabaunese?

Go Back Couple, Pasutri yang Dikembalikan Ke Masa Lalu

 

Jadi ceritanya istriku menggemari K-Drama, dan sempat berikrar akan membuatku ikut nonton K-Drama. Baiklah, awalnya kumulai dengan yang lagi ngetren saat itu (telat sih), Goblik, eh, Goblin. Setelah dua episode, akhirnya aku drop, karena ga dapet feel-nya (gaya amat ya..).

Lalu, doi minta aku mengunduh beberapa serial baru, tentu saja, K-Drama. Salah satunya berjudul Go Back Couple. Menurut istri, ceritanya oke, tentang pasutri yang dikembalikan ke masa lalu. Aku coba nonton episode pertama dengan istri, lalu… “Eh, oke juga nih keknya.”

Serial ini bercerita tentang sepasang suami istri, Cho Ban Do dan Ma Jin Joo yang telah menikah selama belasan tahun. Di episode pertama, diceritakan mereka kemudian bercerai, karena mereka berdua menganggap tidak bahagia dalam pernikahan mereka.

Biasa, drama-dama, nangis-nangis, keduanya melepaskan lalu membuang cincin kawin. Ketika terbangun di pagi hari, mereka dikembalikan ke tahun 1999, saat mereka masih jadi mahasiswa baru. Cerita berlanjut, mereka menjalani hidup sebagai mahasiswa baru dengan usia mental 38 tahun.

Serial ini menarik karena alurnya oke. Ada cuplikan-cuplikan kejadian di masa lalu tapi setelah tahun 1999, yang kemudian menjadi benang merah konflik mereka. Penyusunan skenarionya memancing keinginan penonton untuk terus lanjut ke episode berikutnya. IMO, ceritanya tidak cheesy, cukup dewasa dan (agak) masuk akal (kecuali bagian kembali ke masa lalu.)

Kenapa aku suka sama serial ini? Sebagai pasutri baru, serial ini mengajarkan banyak hal. Hal terpentingnya adalah, komunikasi adalah hal terpenting sebagai suami-istri. Banyak konflik terjadi karena komunikasi yang tidak lancar dalam keluarga. Komedi dan drama dalam serial ini pas, tidak berlebihan dan dikemas dengan baik.

Eciyeee, lanjut nonton K-Drama dong sekarang? Ya, kalau emang oke dan layak ditonton, gapapa lah ya. Oke-oke aja mun ceuk saya mah. Heuheuheuheu.

Mobil Impian

Apakah kamu memiliki mobil impian? Mungkin mobil impianmu adalah mobil sport mewah seperti Lamborghini, Ferrari, Porsche, atau bahkan Koenigsegg. Atau bisa saja mobil impianmu adalah mobil mewah nan anggun seperti Rolls Royce, Jaguar, atau Alphard.

Aku berbeda, mobil impianku (saat ini) adalah Mitsubishi Colt L300 Starwagon. Ya elaaah, itu mah mobil travel Padang—Pekanbaru sejak tahun 90-an. Memang, mobil ini telah ada sejak tahun 80-an, dipakai sebagai angkutan niaga dan penumpang, tapi mobil ini punya banyak kelebihan.

 

L300 Diesel impianku (sumber: comot dari Mitsubishi)

L300 telah terbukti sebagai mobil solar yang tangguh. Mesin solar 2.500cc standard Euro-2 terkenal irit dengan tenaga yang oke. Dimensi kabin yang cukup besar cocok menjadi alternatif mobil keluarga. Selain itu, harga yang masih terjangkau (di bawah 250 juta-an) jadi salah satu alasan mobil ini cukup oke.

Tapi bukankah mobil ini cenderung tidak nyaman? Memang, l300 standard memang kurang nyaman, apalagi untuk touring jauh dan panjang.

Karena itu mobil impianku bukanlah L300 standard, tapi dimodifikasi menjadi Recreational Vehicle. Dimensi mobil yang cukup besar dengan kabin yang luas bisa disulap menjadi RV yang nyaman dan aman untuk keluarga bepergian jauh.

Tidak sedikit contoh desain minibus RV yang bisa diaplikasikan pada L300 ini. Untuk kenyamanan selama perjalanan, cukup memodifikasi kaki-kaki, mengubah pintu samping jadi sliding door, mengganti jok dengan yang lebih nyaman dan ditambahkan sarana hiburan yang membuat perjalanan panjang Anda tidak akan membosankan.

Banyak kok desain RV untuk minibus yang bisa ditiru. (comot dari: pinterest)

Kenapa aku memilih mobil dengan desain seperti ini?

Merantau di ujung timur pulau jawa membuat mudik menjadi sesuatu yang harus dipikirkan panjang kali lebar. Apalagi jika nanti tidak hanya berdua saja, tapi pasukan di rumah udah bertambah. Melakukan perjalanan panjang, tidak hanya mudik tapi juga bisa perjalanan keluarga bisa menjadi lebih menyenangkan jika ditunjang dengan kendaraan yang nyaman.

Tak lagi repot-repot mencari penginapan jika kemalaman atau terlalu capek melanjutkan perjalanan. Cukup menepi entah di SPBU, rumah makan, atau tempat yang aman, lalu nikmati istirahat di dalam mobil.

Ah, namanya juga impian, mudah-mudahan bisa terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kalau impian ini udah tercapai, tinggal cari impian yang lebih tinggi lagi, ya ngga?

Jangan Berlindung di Balik Hasil Tes Psikologi

“Aku kan Sanguin, jadi ya wajar aja ceroboh,”

“Ya aku kan ENTP, jadi kalau kata-kataku tajam, maklumi aja.”

Sering ga kita denger kalimat-kalimat senada dari orang-orang di sekitar kita? Orang-orang di sekitar kita itu mungkin telah mengikuti psiko tes (yang kemungkinan besar on line) dan mendapatkan hasilnya. Sayangnya, kebanyakan dari mereka menjadikan hasil tes tersebut sebagai dalih atas kelakuan mereka.

Misalkan, si A menurut hasil tes Galenus, kepribadiannya yang dominan adalah Sanguin. Tipe sanguin merupakan tipe yang tidak bisa diam, aktif, optimis dan ceroboh serta tidak teliti. Ia kemudian menjadikan hasil tesnya ini sebagai dalih atas kecerobohan yang ia lakukan.

Menurutku, menjadikan hasil tes sebagai dalih atas sikap dan kelakuan kita adalah hal yang bodoh. Berarti kita terlalu pengecut mengakui kesalahan, dan tidak mau memperbaikinya. Hasil tes psikologi seperti itu (misalpun hasilnya memang benar) bukan untuk diumbar ke khalayak umum. Harusnya hasil tes itu dijadikan refleksi untuk memperbaiki diri.

Contoh, seorang ENFP yang sulit berkomitmen harus mulai melatih dirinya supaya bisa dipercaya orang lain. Kecenderungannya terlalu terlibat bisa membuat orang lain terintimidasi, ia harus menjaga jarak yang pas, supaya tidak terlalu jauh tapi tidak terlalu merapat.

Ayolah, dewasalah dengan kekurangan dan kelebihan diri. Jika Anda sering melupakan sesuatu seperti janji, buatlah catatan pengingat, bukan menyalahkan ke-Sanguin-an Anda. Jika Anda memiliki kecenderungan berkata-kata tajam kepada orang lain, diamlah jika tidak bisa berbicara baik, Menyalahkan kepribadian ENTP Anda tidak akan mengurangi sakit hati orang-orang yang Anda omongkan.

Hadapi kekurangan Anda, lalu jadikan sebagai alat pertumbuhan diri. Berlindung di balik kekurangan diri bukan hal yang bijak, malah bodoh dilakukan.

Jadi…………..

Mun Kepo Hungkul Mah, Ulah Sok Tatanya Sagala

Warning, tulisan ini tidak ditulis dalam bahasa Sunda. melainkan dalam bahasa Indonesia yang (mungkin) baik dan (entah) benar.

Pernah ga sih, dihantui pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada ujungnya.

  • kapan lulus?
  • (udah lulus) kapan kerja?
  • (udah kerja) kapan nikah?
  • (udah nikah) kapan punya momongan?
  • (punya anak 1) ga nambah lagi? biar si kakak ada temennya.
  • (punya anak 2) sepasang doang? ramein atuh rumahnya..
  • (punya anak 3) ga tau sih pertanyaan berikutnya apa, tapi pasti selalu ada pertanyaan-pertanyaan

Pasti tidak sedikit yang mengelus dada menahan sakit (atau jengkel) mendengarkan pertanyaan-pertanyaan ini. Alasannya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak berdiri sendiri, pasti ada lanjutannya. Misal, “Kapan lulus, itu teman-temannya udah pada lulus, udah mapan, masa kamu belum?”, “Kapan nikah, anak Ibu C anaknya udah nikah dan punya anak, padahal lebih muda dari kamu.”

Jujur saja, pertanyaan-pertanyaan itu sempat menjengkelkanku (oke, tiga pertanyaan teratas.) Masalahnya, yang mengajukan pertanyaan bukanlah keluarga terdekat, atau sahabat karib, melainkan hanya teman, kenalan, ya gitu deh.

“Ngapain sih nanya-nanya, kepo doang atau beneran peduli?” itu yang kurasakan dalam hati.

Tidak semua orang senang ditanya-tanya seperti itu, apalagi hanya sekedar pertanyaan “basa-basi” dan “kepo” saja. Apa manfaat jawaban pertanyaan itu untuk penanya? Atau penanya memang benar-benar peduli pada yang ditanya?

Kalau memang peduli, tunjukkan, jangan hanya dijadikan pertanyaan sambil lalu saja.

“Kenapa masih belum nikah? Dalam pandanganku kamu sudah siap secara usia dan finansial, sekarang apa yang menghalangi? Apa yang bisa aku bantu?”

“Kalian sudah menikah sekian tahun, tapi belum dikaruniai momongan. Apakah memang sengaja menunda atau gimana? Aku punya beberapa artikel, dokter yang mungkin bisa membantu”

Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan yang kadang kita tanyakan sambil lalu, menyakiti perasaan orang lain. Kalau ditanya balik “Kapan mati?” sama orang lain, senang ga?

Kita sering dinasihati seperti ini, “Kalau kamu sakit dicubit, maka orang lain juga akan sakit kalau dicubit.” Menurutku lebih tepatnya, “Coba tanya ke orang lain apakah dia kalau dicubit sakit, atau jangan-jangan malah ada luka yang terbuka kalau kita cubit?”

Cara kita bereaksi terhadap sesuatu pasti berbeda dengan orang lain. Jadi tidak bisa disamakan.

“Ah pertanyaan itu doang, lebay banget sih ampe sakit hati segala.”

Jangan-jangan dia punya kisah yang menyakitkan, yang akan mengorek luka jika kita menanyakan suatu pertanyaan. Jangan-jangan pertanyaan kapan nikah mengorek lagi luka karena kegagalannya bersanding dengan seseorang, dan luka itu belum sembuh benar.

Jadi, mun kepo hungkul mah, ulah sok tatanya lah. Mending cicing we, mun teu boga solusi atau teu paduli-paduli pisan mah. Kitu, ngartos teu, **d?