Go Back Couple, Pasutri yang Dikembalikan Ke Masa Lalu

 

Jadi ceritanya istriku menggemari K-Drama, dan sempat berikrar akan membuatku ikut nonton K-Drama. Baiklah, awalnya kumulai dengan yang lagi ngetren saat itu (telat sih), Goblik, eh, Goblin. Setelah dua episode, akhirnya aku drop, karena ga dapet feel-nya (gaya amat ya..).

Lalu, doi minta aku mengunduh beberapa serial baru, tentu saja, K-Drama. Salah satunya berjudul Go Back Couple. Menurut istri, ceritanya oke, tentang pasutri yang dikembalikan ke masa lalu. Aku coba nonton episode pertama dengan istri, lalu… “Eh, oke juga nih keknya.”

Serial ini bercerita tentang sepasang suami istri, Cho Ban Do dan Ma Jin Joo yang telah menikah selama belasan tahun. Di episode pertama, diceritakan mereka kemudian bercerai, karena mereka berdua menganggap tidak bahagia dalam pernikahan mereka.

Biasa, drama-dama, nangis-nangis, keduanya melepaskan lalu membuang cincin kawin. Ketika terbangun di pagi hari, mereka dikembalikan ke tahun 1999, saat mereka masih jadi mahasiswa baru. Cerita berlanjut, mereka menjalani hidup sebagai mahasiswa baru dengan usia mental 38 tahun.

Serial ini menarik karena alurnya oke. Ada cuplikan-cuplikan kejadian di masa lalu tapi setelah tahun 1999, yang kemudian menjadi benang merah konflik mereka. Penyusunan skenarionya memancing keinginan penonton untuk terus lanjut ke episode berikutnya. IMO, ceritanya tidak cheesy, cukup dewasa dan (agak) masuk akal (kecuali bagian kembali ke masa lalu.)

Kenapa aku suka sama serial ini? Sebagai pasutri baru, serial ini mengajarkan banyak hal. Hal terpentingnya adalah, komunikasi adalah hal terpenting sebagai suami-istri. Banyak konflik terjadi karena komunikasi yang tidak lancar dalam keluarga. Komedi dan drama dalam serial ini pas, tidak berlebihan dan dikemas dengan baik.

Eciyeee, lanjut nonton K-Drama dong sekarang? Ya, kalau emang oke dan layak ditonton, gapapa lah ya. Oke-oke aja mun ceuk saya mah. Heuheuheuheu.

Mobil Impian

Apakah kamu memiliki mobil impian? Mungkin mobil impianmu adalah mobil sport mewah seperti Lamborghini, Ferrari, Porsche, atau bahkan Koenigsegg. Atau bisa saja mobil impianmu adalah mobil mewah nan anggun seperti Rolls Royce, Jaguar, atau Alphard.

Aku berbeda, mobil impianku (saat ini) adalah Mitsubishi Colt L300 Starwagon. Ya elaaah, itu mah mobil travel Padang—Pekanbaru sejak tahun 90-an. Memang, mobil ini telah ada sejak tahun 80-an, dipakai sebagai angkutan niaga dan penumpang, tapi mobil ini punya banyak kelebihan.

 

L300 Diesel impianku (sumber: comot dari Mitsubishi)

L300 telah terbukti sebagai mobil solar yang tangguh. Mesin solar 2.500cc standard Euro-2 terkenal irit dengan tenaga yang oke. Dimensi kabin yang cukup besar cocok menjadi alternatif mobil keluarga. Selain itu, harga yang masih terjangkau (di bawah 250 juta-an) jadi salah satu alasan mobil ini cukup oke.

Tapi bukankah mobil ini cenderung tidak nyaman? Memang, l300 standard memang kurang nyaman, apalagi untuk touring jauh dan panjang.

Karena itu mobil impianku bukanlah L300 standard, tapi dimodifikasi menjadi Recreational Vehicle. Dimensi mobil yang cukup besar dengan kabin yang luas bisa disulap menjadi RV yang nyaman dan aman untuk keluarga bepergian jauh.

Tidak sedikit contoh desain minibus RV yang bisa diaplikasikan pada L300 ini. Untuk kenyamanan selama perjalanan, cukup memodifikasi kaki-kaki, mengubah pintu samping jadi sliding door, mengganti jok dengan yang lebih nyaman dan ditambahkan sarana hiburan yang membuat perjalanan panjang Anda tidak akan membosankan.

Banyak kok desain RV untuk minibus yang bisa ditiru. (comot dari: pinterest)

Kenapa aku memilih mobil dengan desain seperti ini?

Merantau di ujung timur pulau jawa membuat mudik menjadi sesuatu yang harus dipikirkan panjang kali lebar. Apalagi jika nanti tidak hanya berdua saja, tapi pasukan di rumah udah bertambah. Melakukan perjalanan panjang, tidak hanya mudik tapi juga bisa perjalanan keluarga bisa menjadi lebih menyenangkan jika ditunjang dengan kendaraan yang nyaman.

Tak lagi repot-repot mencari penginapan jika kemalaman atau terlalu capek melanjutkan perjalanan. Cukup menepi entah di SPBU, rumah makan, atau tempat yang aman, lalu nikmati istirahat di dalam mobil.

Ah, namanya juga impian, mudah-mudahan bisa terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kalau impian ini udah tercapai, tinggal cari impian yang lebih tinggi lagi, ya ngga?

Jangan Berlindung di Balik Hasil Tes Psikologi

“Aku kan Sanguin, jadi ya wajar aja ceroboh,”

“Ya aku kan ENTP, jadi kalau kata-kataku tajam, maklumi aja.”

Sering ga kita denger kalimat-kalimat senada dari orang-orang di sekitar kita? Orang-orang di sekitar kita itu mungkin telah mengikuti psiko tes (yang kemungkinan besar on line) dan mendapatkan hasilnya. Sayangnya, kebanyakan dari mereka menjadikan hasil tes tersebut sebagai dalih atas kelakuan mereka.

Misalkan, si A menurut hasil tes Galenus, kepribadiannya yang dominan adalah Sanguin. Tipe sanguin merupakan tipe yang tidak bisa diam, aktif, optimis dan ceroboh serta tidak teliti. Ia kemudian menjadikan hasil tesnya ini sebagai dalih atas kecerobohan yang ia lakukan.

Menurutku, menjadikan hasil tes sebagai dalih atas sikap dan kelakuan kita adalah hal yang bodoh. Berarti kita terlalu pengecut mengakui kesalahan, dan tidak mau memperbaikinya. Hasil tes psikologi seperti itu (misalpun hasilnya memang benar) bukan untuk diumbar ke khalayak umum. Harusnya hasil tes itu dijadikan refleksi untuk memperbaiki diri.

Contoh, seorang ENFP yang sulit berkomitmen harus mulai melatih dirinya supaya bisa dipercaya orang lain. Kecenderungannya terlalu terlibat bisa membuat orang lain terintimidasi, ia harus menjaga jarak yang pas, supaya tidak terlalu jauh tapi tidak terlalu merapat.

Ayolah, dewasalah dengan kekurangan dan kelebihan diri. Jika Anda sering melupakan sesuatu seperti janji, buatlah catatan pengingat, bukan menyalahkan ke-Sanguin-an Anda. Jika Anda memiliki kecenderungan berkata-kata tajam kepada orang lain, diamlah jika tidak bisa berbicara baik, Menyalahkan kepribadian ENTP Anda tidak akan mengurangi sakit hati orang-orang yang Anda omongkan.

Hadapi kekurangan Anda, lalu jadikan sebagai alat pertumbuhan diri. Berlindung di balik kekurangan diri bukan hal yang bijak, malah bodoh dilakukan.

Jadi…………..

Mun Kepo Hungkul Mah, Ulah Sok Tatanya Sagala

Warning, tulisan ini tidak ditulis dalam bahasa Sunda. melainkan dalam bahasa Indonesia yang (mungkin) baik dan (entah) benar.

Pernah ga sih, dihantui pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada ujungnya.

  • kapan lulus?
  • (udah lulus) kapan kerja?
  • (udah kerja) kapan nikah?
  • (udah nikah) kapan punya momongan?
  • (punya anak 1) ga nambah lagi? biar si kakak ada temennya.
  • (punya anak 2) sepasang doang? ramein atuh rumahnya..
  • (punya anak 3) ga tau sih pertanyaan berikutnya apa, tapi pasti selalu ada pertanyaan-pertanyaan

Pasti tidak sedikit yang mengelus dada menahan sakit (atau jengkel) mendengarkan pertanyaan-pertanyaan ini. Alasannya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak berdiri sendiri, pasti ada lanjutannya. Misal, “Kapan lulus, itu teman-temannya udah pada lulus, udah mapan, masa kamu belum?”, “Kapan nikah, anak Ibu C anaknya udah nikah dan punya anak, padahal lebih muda dari kamu.”

Jujur saja, pertanyaan-pertanyaan itu sempat menjengkelkanku (oke, tiga pertanyaan teratas.) Masalahnya, yang mengajukan pertanyaan bukanlah keluarga terdekat, atau sahabat karib, melainkan hanya teman, kenalan, ya gitu deh.

“Ngapain sih nanya-nanya, kepo doang atau beneran peduli?” itu yang kurasakan dalam hati.

Tidak semua orang senang ditanya-tanya seperti itu, apalagi hanya sekedar pertanyaan “basa-basi” dan “kepo” saja. Apa manfaat jawaban pertanyaan itu untuk penanya? Atau penanya memang benar-benar peduli pada yang ditanya?

Kalau memang peduli, tunjukkan, jangan hanya dijadikan pertanyaan sambil lalu saja.

“Kenapa masih belum nikah? Dalam pandanganku kamu sudah siap secara usia dan finansial, sekarang apa yang menghalangi? Apa yang bisa aku bantu?”

“Kalian sudah menikah sekian tahun, tapi belum dikaruniai momongan. Apakah memang sengaja menunda atau gimana? Aku punya beberapa artikel, dokter yang mungkin bisa membantu”

Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan yang kadang kita tanyakan sambil lalu, menyakiti perasaan orang lain. Kalau ditanya balik “Kapan mati?” sama orang lain, senang ga?

Kita sering dinasihati seperti ini, “Kalau kamu sakit dicubit, maka orang lain juga akan sakit kalau dicubit.” Menurutku lebih tepatnya, “Coba tanya ke orang lain apakah dia kalau dicubit sakit, atau jangan-jangan malah ada luka yang terbuka kalau kita cubit?”

Cara kita bereaksi terhadap sesuatu pasti berbeda dengan orang lain. Jadi tidak bisa disamakan.

“Ah pertanyaan itu doang, lebay banget sih ampe sakit hati segala.”

Jangan-jangan dia punya kisah yang menyakitkan, yang akan mengorek luka jika kita menanyakan suatu pertanyaan. Jangan-jangan pertanyaan kapan nikah mengorek lagi luka karena kegagalannya bersanding dengan seseorang, dan luka itu belum sembuh benar.

Jadi, mun kepo hungkul mah, ulah sok tatanya lah. Mending cicing we, mun teu boga solusi atau teu paduli-paduli pisan mah. Kitu, ngartos teu, **d?

Biodata Taaruf yang Viral

Beberapa hari ke belakang dunia per-WA-an dan per-IG-an heboh karena satu postingan di akun Instagram bernama s**trinasionalis. Dalam postingan tersebut terpampang foto seorang perempuan berjilbab, lalu di captionnya diawali dengan “TA’ARUF. Barangkali ada yang serius. Monggo…” dan dilanjutkan dengan biodata atas nama seorang perempuan dengan penjabaran yang luar biasa. Perempuan ini dijabarkan nyaris sempurna, hafalan sekian juz, mencari calon suami sekaligus imam, asal sholeh dan tidak mempermasalahkan apakah lelaki itu sudah bekerja atau belum.

Siapa yang tidak tertarik memperistri perempuan nyaris sempurna seperti ini. Bahkan dicantumkan pula no HP untuk dihubungi. Akan tetapi, di akhir caption ditulis “Tulisan ini hanyalah contoh penulisan biodata Ta’aruf Akhwat siap nikah….”

Sebenarnya sih caption seperti ini sudah pernah beredar sangat lama, di grup WA apalagi. Kami yang membacanya pasti akan tertawa kecut, mengetahui diri telah terpedaya, bahkan berharap mendapatkan calon bidadari surga. Akan tetapi ketika dipost di IG disertai foto seorang perempuan cantik berkerudung, apalagi diposting oleh sebuah akun yang mengaku berafiliasi dengan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, lelucon ini terasa ga lucu dan menyedihkan.

Pertama, apakah si admin akun publik ini telah meminta izin kepada si empunya wajah untuk dipajang di akun dengan belasan ribu follower?

Bahkan seandainya diizinkan pun, pantaskah sebuah akun yang mengaku-ngaku berafiliasi dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia memajang foto seorang perempuan. Postingan-postingan yang lain dari akun ini didominasi hal-hal yang bermanfaat. Isinya entah tentang ulama, mengenang sejarah ulama atau hal-hal lain yang kiranya bermanfaat (mungkin). Pantaskah?

Dalam nilai moralku, postingan seperti ini sama sekali tidak menghormati kaum perempuan. Padahal Islam adalah agama yang sangat menghormati perempuan. Islam menghormati, melindungi dan meninggikan perempuan.

Bahkan seandainya memang ada perempuan yang seperti digambarkannya, ia tentu tidak akan mengumbar data dirinya di jejaring sosial. Ia atau orang tuanya pasti akan meminta guru ngajinya mencarikan lelaki yang paling cocok untuknya. Lalu segala sesuatunya akan berjalan seperti yang telah diatur, yang pasti tentu saja menjaga kehormatan perempuan.

Atau memang selera humorku yang aneh, tidak melihat lucunya di mana, atau menghiburnya di mana. Banyak orang yang memandang postingan ini sangat lucu, menghibur, bahkan ada yang bilang mendapatkan ilmu darinya.

Dalam buku Bercanda Ala Rasulullah, telah ditunjukkan contoh-contoh bagaimana Rasulullah bercanda. Beliau bercanda tanpa mengandung kebohongan, tidak merendahkan, dan tidak berlebihan. Beliau pernah bercanda dengan Ali bin Abi Thalib r.a dengan memanggilnya “Wahai pemilik dua mata” Rasul adalah seseorang yang humoris.

Entahlah ya, Wallaahu ‘alam bissawab.

Oh ya, jika ada yang hendak berkomentar aku munafik, sok-sokan, ngomong doing, silakan aja. Bahkan mungkin aku tidak akan membantah.  Aku hanya menyampaikan pendapat.

Aku tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai seorang sholeh. Ibadahku aja masih amburadul. Diriku masih belum jadi pribadi yang sangat Islami, masih berusaha. Lagian, penilaian manusia tidak ada pengaruhnya. Jika Allah yang menilai, baru aku akan sangat peduli.

Update: ternyata gambar tersebut tidak hanya di share satu akun IG, tapi lebih dari satu akun yang mengaku-ngaku muslim, santri, muslimah. Pemilik foto itu adalah seorang wanita asal Malaysia. Ia berkata, “SEMOGA SEMUANYA MERANGKAK DI PADANG MAHSYAR NANTI DAN MEMOHON MAAF DARI AKU KERANA SUDAH MENYEBAR FITNAH DAN MENGAIBKAN AKU… AKU TIDAK AKAN MAAFKAN SEMUA IG INDONESIA YANG MENGGUNAKAN GAMBAR AKU”

Beberapa akun telah menarik/menghapus postingan itu. But the damage can’t be undone.. Shame you guys, menganggap itu lelucon.

Jadilah Wisatawan yang Disiplin

 

Indonesia terkenal karena banyaknya tempat wisata yang tersebar di seluruh negeri, mulai dari ujung Sumatra hingga pojok Papua. Tidak hanya terkenal di dalam negeri, beberapa tempat wisata bahkan telah menjadi tujuan favorit wisatawan asing.

Pertanyaannya adalah, “Dari sekian banyak objek wisata tersebut, berapakah yang sangat bersih, tertib dan nyaman?” Tebakanku, tidak terlalu banyak. Pertanyaan berikutnya, “Dari yang tidak terlalu banyak itu, berapakah yang benar-benar bersih karena pengunjungnya yang tertib, bukan karena tenaga kebersihannya sigap?” Pasti sedikit sekali.

Pada awal Juli aku berkesempatan mengunjungi salah satu pantai yang cukup terkenal di kota Padang. Ceritanya sih, ngajak istri jalan-jalan, lagi butuh vitamin sea katanya. Tempatnya agak sulit dijangkau, terletak di pinggiran kota, harus naik dan turun bukit supaya bisa sampai di sana. Untungnya pakai kendaraan sendiri, jadi tidak terburu-buru oleh waktu.

Pantainya sih indah, tapi banyak sampah. (foto koleksi dewe)

Tempatnya bagus, kami menikmati indahnya matahari terbenam ditemani deburan ombak yang merdu dan segarnya air kelapa muda. Tapi sayang sekali, hampir sepanjang mata memandang di tepi pantai itu, banyak sekali sampah berserakan. Sampah-sampah yang berserakan itu bervariasi, mulai dari bekas makanan, minuman, bahkan popok bayi…!!!. Man, popok bayi…..!!

Betapa kita sama sekali tidak disiplin sebagai wisatawan. Sebegitu sulitkah menyimpan sementara sampah yang kita hasilkan, sampai nanti menemukan tempat sampah. Istriku dulu pernah bilang kalau orang yang membuang sampah sembarangan itu merupakan orang primitive. Orang-orang primitive membuang sampahnya sembarangan karena semua sampahnya adalah sampah organik yang kemudian akan hancur menjadi tanah. Ya berarti di masih banyak orang primitif di negeri ini.

Pantainya sih indah, tapi banyak sampah. (foto koleksi dewe)

Tidak hanya masalah sampah, kita sebagai wisatawan sangat sulit sekali mematuhi peraturan yang telah ditetapkan di tempat-tempat wisata. Misalkan, di Candi Borobudur itu ada peraturan yang melarang wisatawan duduk di areal tertentu. Di beberapa gunung ada larangan memetik bunga, menyalakan api, membawa barang-barang tertentu.

Coba lah, kita sebagai wisatawan mulai belajar disiplin diri. Patuhi peraturan-peraturan yang berlaku di tempat-tempat wisata tersebut. Peraturan-peraturan tersebut bertujuan untuk kenyamanan, keselamatan dan keamanan kita,

Sama sekali tidak sulit mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Mungkin akan terlihat merepotkan pada awalnya. Kalau gak mau repot, jalan-jalannya pakai VR aja, sambil malas-malasan di rumah. Atau kalau bener-bener gak mau repot, telen granat aja sana.

Menikah

Udah halal euy. (difoto ku batur, azra photoworks)

2 Juli 2017 pukul 09.00 WIB, aku duduk berhadapan dengan penghulu dan wali dari seorang perempuan bernama Ratih Dwi Furwanti. Bertempat di Masjid Jami’ Pandan Basasak Kenagarian Kapau, Kabupaten Agam, aku mengucapkan ijab qabul yang resmi mengikatku dan Ratih menjadi suami istri, secara agama ataupun negara.

Segera setelah saksi nikah mengatakan, “Sah,” seakan seember air dingin menyiram tengkuk, memberikan kelegaan setelah tegang menjelang akad nikah. Berikutnya adalah prosesi secara adat, yang kami berdua ingin dijadikan sederhana saja.

Yang akan aku bahas bukan hal itu, tapi tentang aku menikah.

Aku dan Ratih telah menjalani hubungan (kata anak muda: pacaran) selama kurang lebih empat tahun. Dalam waktu yang tidak sebentar itu banyak hal yang telah kami lewati: duka, tawa, marah, kecewa, bahkan ragu. Tapi kami yakin semua itu sesungguhnya sedang menempa kami menjadi siap.

Apakah benar-benar siap? Entahlah, menurutku tidak ada yang benar-benar seratus persen siap menikah. Pasti selalu saja ada sedikit (atau banyak, tergantung orang) hal yang membuat kita bertanya, “Bener sudah siap?”, baik fisik, atau mental.

Aku sekarang telah menjadi seorang imam, kepala keluarga. Sebuah gelar yang luar biasa dengan tanggung jawab dahsyat. Hidupku sekarang bukan lagi milikku seorang, tapi ada istri (dan insya Allah anak) yang kemudian menjadi tanggunganku. Aku pasti akan terus berusaha belajar menjadi suami, imam, kemudian bapak (atau Abak) yang bisa menjadi contoh teladan.

Selain itu, aku semakin belajar menghargai kawan-kawan yang belum menemukan pasangan hidupnya. Terkadang bukan mereka tidak siap atau tidak mau, perjalanan hidup terkadang membuat mereka harus berpikir ulang tentang banyak hal. Aku tahu karena aku menjalani hidup yang (mungkin) sama, tidak terlalu lancar dan mudah.

Mudah-mudahan kami sekeluarga diberikan punggung yang lebih kuat menanggung beban yang pasti tidak lebih ringan, tapi jika ditanggung bersama maka kami akan kuat menjalani hidup bersama, hingga maut memisahkan kami.

Semoga saudara-saudara kami yang masih belum menemukan pasangan hidup mereka, diberikan kemudahan dan waktu yang tepat menjalani biduk rumah tangga.