Sepucuk Surat untuk Anakku (VI): Pindah Rumah

23 Mei 2021

Kepada Daru Lintang Segara, bintang kejora hidupku.

Saat Abak menulis surat ini, kita tidak lagi tinggal di daerah Kampung Malang, Surabaya. Kita sekarang tinggal di kabupaten Sidoarjo, di sebuah perumahan baru tidak jauh dari Bandara Juanda. Sebenarnya kita bertiga pindah sudah sejak Maret, namun Abak baru sempat menulis surat ini dan bercerita padamu.

Rumah kita kali ini (walau masih ngontrak) lebih lapang ke belakang, terbuka sampai ke dapur. Rumah ini juga memiliki carpod sehingga jika kita akan jalan-jalan dan Abak meminjam mobil, tak lagi harus parkir jauh-jauh. Selain itu, karena merupakan perumahan baru yang berada di pedesaan dekat perbatasan Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, maka lingkungannya lebih sepi, udara lebih bersih, jika dibandingkan dengan di Surabaya. Engkau pun bisa berjalan-jalan setiap pagi, yang hampir menjadi rutinitas pagimu sebelum mandi, atau ikut Bundo gowes sore-sore. Lingkungan yang lebih sepi ini membuat kita agak merasa sedikit lebih aman dari serangan virus Covid-19 yang mutasinya katanya semakin mengganas. Kalau engkau ingin lihat bagaimana bentuk rumah kita ini, coba tanya ke Bundo. Bundo yang paling rajin mendokumentasikan semua perjalanan hidup kita.

Dulu, tahun-tahun awal pernikahan Abak dan Bundo, kami tinggal di rumah yang terletak di gang sempit, hanya muat masuk motor. Rumahnya tidak besar, memanjang, dengan dua kamar tidur. Di depan rumah langsung berhadapan dengan dinding rumah orang lain. Setelah dua tahun ngontrak, lalu kami pindah ke rumah yang lebih besar, tapi masih berada di daerah tengah kota Surabaya. Pindah rumah ini bersamaan dengan kehamilan Bundo yang semakin besar, memasuki bulan ke delapan. Tak lama setelah pindah, engkau lahir, kemudian Covid-19 menyerang. Engkau nyaris tidak kami bawa ke luar rumah. Engkau tumbuh dan berkembang di rumah berukuran 6 x 12 saja, baru berani kami bawa keluar setelah usiamu satu tahun.

Dengan mempertimbangkan tumbuh kembangmu, kami memutuskan pindah ke lingkungan yang lebih sepi dan sehat. Alhamdulillaah di lingkungan sekarang, banyak anak-anak seusiamu. Mudah-mudahan membawa pengaruh yang lebih baik. Tidak apa Abak harus berkendara sejauh beberapa belas kilometer ke tempat kerja, bukankah setiap perkembangan memiliki harga yang harus dibayar?

Bundomu pernah berkata bahwa kita harus bersyukur hidup kita terus berkembang ke arah yang lebih baik. Ada peningkatan yang terus terjadi, tiap kali kita pindah rumah. Mudah-mudahan nanti juga kita akan pindah ke kondisi yang jauh lebih baik juga.

Oh ya, Daru. Kira-kira rumah kita nanti akan kita beri nama apa ya? Nama yang catchy, mudah diingat, tapi keren.

Sepucuk Surat untuk Anakku (V): 1,5 Tahun, Daru si Petualang, Sobat Hujan

1 Januari 2021

Dear Daru Lintang Segara,

anak laki-lakiku.

Tak terasa, usiamu sudah delapan belas bulan. Kepandaianmu sudah bertambah, sudah bisa jalan, sudah semakin cerewet, dan sudah bisa berhitung satu sampai delapan. Engkau tumbuh dengan sehat, sepertinya akan jangkung (kakimu terlihat panjang, seperti kaki bundomu).

Sejak ulang tahun pertamamu hingga sekarang, kita telah melakukan petualangan ke beberapa tempat. Kita sempat kabur sejenak, staycation sehari saja menjauhi keramaian dan pandemi tanpa akhir ini di Pandaan. Kemudian, kita ke Malang Selatan, ke pantai, menjauhi keramaian lagi. Kita berusaha menjaga agar tetap sehat, dan juga tetap waras, sesekali menjauhi peradaban menuju tempat yang sepi. Mungkin akan ada lagi petualangan-petualangan yang akan kita jalani lagi, bersama, jika Allah melimpahkan rezekinya ke kita.

Perkembanganmu luar biasa. Melihatmu belajar berjalan, menirukan ucapan-ucapan kami, lalu sekarang bisa menyebutkan angka satu hingga delapan dengan urut. Bahkan, sekarang engkau sudah belajar menyuap makanan sendiri. Tidak hanya engkau yang bertumbuh, kami pun tanpa disadari bertumbuh sebagai orang tua.

Engkau tumbuh menjadi anak yang menyukai hujan. Setiap kali hujan turun, engkau akan berkata “ujan”, lalu berlari ke jendela, atau ke halaman belakang, lalu diam menatap hujan lama. Abak dan Bundo menyebutmu sebagai Sobat Hujan, lelaki pecinta hujan.

Harapan kami, engkau tumbuh menjadi anak yang mencintai dan menghargai alam. Tidak hanya mencintai hujan, tapi engkau harus mencintai pantai, hutan, sungai, gunung, dan seluruh alam semesta ini. Mudah-mudahan engkau tumbuh menjadi anak yang bijaksana karena selalu mampu belajar dari kearifan alam ini.

Semoga kita semua bisa menghadapi tahun 2021 ini yang sepertinya masih akan dhantui pandemi Covid-19 ini dengan baik, dan selalu dilimpahkan kesehatan. Semoga hidup kita selalu dilimpahkan kebahagiaan dan keberkahan.

Jangan lupa bahagia, Nak. Hidup terlalu indah untuk diisi dengan kesedihan.

Abak

Darma Eka Saputra

Sepucuk Surat untuk Anakku (IV) Selamat Satu Tahun

Sepucuk Surat untuk Anakku (IV)

Selamat Satu Tahun

1 Juli 2020

Untuk Putra Pertamaku

Daru Lintang Segara

 

Hari ini tepat satu tahun kamu menghirup udara di dunia ini. Tepat setahun yang lalu, menjelang subuh aku mengantarkan bundomu ke Puskesmas Sidomulyo. Tepat 365 hari yang lalu, tangisan pertamamu diiringi tangis bahagiaku.

Membersamaimu tumbuh selama ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Ada tangis, tawa, marah, kecewa, dan bahagia hadir di antara kami. Hidup kami makin seperti roller coaster, naik turun dengan berbagai emosi campur aduk. Apakah kami tidak bahagia? Kehadiranmu menambah dosis kebahagiaan kami, berkali lipat. Tingkah polahmu yang berbagai macam, selalu berhasil membuatku ingin cepat pulang, bermain bersamamu.

Satu tahun kehadiranmu di antara kami adalah waktu yang luar biasa. Kami berdua berjuang menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai orang tua. Sungguh, kami belajar banyak hal dalam waktu setahun ini, tidak hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai manusia. Kehadiranmu makin menambah makna dalam hidup kamu, aku khususnya. Ketika engkau lahir, maka kami berdua juga terlahir kembali. Kami berdua terlahir kembali menjadi pribadi yang baru, yang mungkin lebih baik, sebagai orang tua.

Anak lelakiku, ada beberapa hal yang aku dan bundomu sepakati. Kami sepakat untuk mencoba membuatmu mencintai buku, seperti halnya kami. Kami tidak akan memaksakan pilihan kami, kami akan biarkan engkau memilih jalan hidupmu. Kami hanya akan memberikanmu bekal untuk memilih dengan benar. Kami tidak ingin engkau memiliki masa kecil yang sama dengan kami. Mungkin masa kecil kami tidak ideal untuk pertumbuhan fisik dan mentalmu, oleh karena itu kami ingin masa kecilmu bertumbuh lebih baik dari kami.

Dear Daru, kita tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang mana. Tapi kita bisa memilih bagaimana bersikap terhadap orang tua kita, dan akan menjadi orang tua yang seperti apa. Kami memilih menjadi orang tua yang ingin mengembangkan potensialmu setinggi mungkin, apa pun minatmu nanti. Tapi satu hal, kami mewajibkan engkau untuk kuliah. Kuliah tidak hanya sekadar mendapatkan ilmu, karena ilmu bisa didapatkan dari mana saja. Kuliah adalah membentuk pola pikir, membentuk pribadi. Kami merasa mendapatkan banyak hal, banyak pengalaman, dan berubah pola pikir di perguruan tinggi yang kami ikuti.

Nak, mungkin engkau akan bertanya, kenapa surat ini terlambat di post. Ada hal-hal yang terjadi, yang mungkin akan atau tidak akan kuceritakan padamu kelak, sehingga membuat surat ini terlambat kutuliskan. Satu hal yang pasti, bahwa kami berdua mencintaimu, sangat. Entah nanti kemudian engkau punya adik, tapi cinta kami padamu akan tetap, insya Allah. Ada banyak doa-doa yang kami sampaikan untukmu, Nak. Semua untuk kebaikanmu, tentu saja.

Mudah-mudahan kami mampu terus menjadi orang tua yang lebih baik, seiring pertumbuhanmu.

Peluk, cium.

Abak

 

 

Darma Eka Saputra

Sepucuk Surat Untuk Anakku (III)

Sepucuk Surat Untuk Anakku (III)

Pandemi Corona

 

17 April 2020

Kepada Daru Lintang Segara,

anakku tersayang.

 

Usiamu sudah lewat sepuluh bulan, kepandaianmu makin bertambah. Selain engkau sedang menjalani fase tumbuh gigi yang menyebalkan, bahkan membuatmu demam, sepertinya engkau sedang berusaha belajar merangkak. Sekarang engkau sudah menyeret-nyeret badan, mengeksplorasi tiap sudut. Abak dan Bundo nyaris tidak bisa melepaskan pandangan darimu, takut engkau menjamah atau mengigit hal-hal berbahaya.

Entah apa yang terjadi, engkau mulai memasuki fase mogok makan. Engkau melakukan Gerakan Tutup Mulut, tidak mau makan makanan yang sudah disiapkan oleh Bundo. Hal ini benar-benar menguji kesabaran dan kewarasan kami. Kami takut engkau mengalami kurang gizi, stunting, sehingga tidak bisa tumbuh normal. Kami memutar otak mencari cara supaya engkau mau makan makanan bergizi yang sudah disiapkan, tidak hanya bergantung pada susu belaka.

Anakku, saat ini bumi sedang dilanda krisis besar. Hampir sebagian bumi dilanda wabah Covid-19. Wabah yang diakibatkan virus corona ini berkembang sangat pesat, dengan pertumbuhan eksponensial. Negara pertama yang terserang wabah ini adalah China, lalu menyebar ke seantero dunia. pada bulan keempat, sudah lebih satu juta jiwa menderita penyakit ini. Penyakit ini seperti flu, tapi cepat menyerang sistem pernapasan, khususnya yang daya tahan tubuh lemah.

Akibat pandemi ini, seluruh dunia menyerukan physical distancing atau penjarak-an fisik. Masyarakat diserukan untuk tetap berada di rumah, tidak berkumpul dan membuat keramaian, bahkan kantor-kantor disarankan untuk menjalankan WFH (work from home, atau bekerja dari rumah). Bahkan, orang-orang tidak disarankan untuk bepergian, guna mencegah persebaran penyakit ini.

Dunia ini sedang sakit, penyakit ini menyebar seperti film zombie apocalypse. Jangan-jangan bumi sedang melakukan penyembuhan, karena sebelumnya ia sakit dieksploitasi secara besar-besaran oleh manusia. Jangan-jangan kitalah, penduduk bumi yang menjadi virus penyakit bagi Ibu Bumi, dan sekarang Dewi Gaia sedang melakukan detoksifikasi dan pembersihan diri.

Nanti akan Abak dan Bundo ceritakan panjang lebar apa yang terjadi pada dunia selama mewabahnya virus ini. Kita akan bercerita ditemani minuman hangat, camilan, dan suasana rumah yang menyenangkan.

Mudah-mudahan pandemi ini bisa segera berlalu, karena Ramadhan akan segera tiba. Wabah ini menyebabkan semua orang harus beribadah dari rumah, supaya persebaran penyakit ini tidak semakin meluas. Sungguh akan sepi sekali Ramadhan kali ini, tanpa ramainya kehebohan bulan puasa. Ramadhan yang sepi merupakan Ramadhan yang sedih. Tapi kami yakin, wabah ini pasti merupakan skenario terbaik Allah untuk hamba-hambanya. Mudah-mudahan kita semua bisa melewatinya dengan sabar dan ikhlas.

Tumbuhlah dengan sehat, baik, dan kuat, anakku. Tumbuhlah menjadi anak yang elok laku, baiak budi, dan indah baso. Semoga engkau selalu dilimpahkan keberkahan dan kebahagiaan sepanjang hidupmu.

 

Peluk Cium

Abak

 

 

Sepucuk Surat untuk Anakku (II) Menjelang Enam Bulan

Sepucuk Surat untuk Anakku (II)

Menjelang Enam Bulan

Surabaya, 27 Desember 2019

 

 

Dear Anakku, Daru Lintang Segara.

Tak terasa usiamu sudah hampir enam bulan. Saat tahun berganti menjadi 2020, saat itu pula usiamu genap enam bulan. Waktu memang terkadang bisa terasa berlalu begitu cepat.

Menjelang enam bulan ini, kepandaianmu sudah semakin banyak. Dimulai dari tersenyum, tertawa terkekeh, menelungkup, dan sekarang sudah bisa kembali ke posisi telentang. Tidurmu juga semakin lasak, tak bisa dan tak cukup lagi tidur di kasur berkelambu yang dahulu menemani sejak baru lahir. Pertumbuhanmu juga terlihat bagus, berat badan naik dengan baik, tidak ada cacat atau penyakit yang tampak. Mungkin masalah kulit yang sensitif (seperti abak) yang akan menjadi PR ke depannya.

Makin ke sini makin jelas terlihat bahwa engkau adalah Bundo versi cowok, yang ganteng dan manis. Abak cuma kebagian bibir saja. Tidak apa, semoga nanti engkau sangat sayang dan mencintai bundomu. Semoga engkau mewarisi sifat-sifat baik kami, sementara kami juga masih terus memperbaiki diri supaya mampu jadi orang tua yang bisa engkau banggakan.

Hampir setengah tahun ini, Abak dan Bundo masih terus belajar memaknai peran baru kami ini. Tentu saja, ini tidak semudah yang dibayangkan. Hadirnya seorang penghuni baru yang menggoyang rutinitas dan keseimbangan hidup kami yang sebelumnya cukup mengejutkan, bahkan hingga memberikan sebuah tekanan yang berbeda. Mungkin ada satu fase saat masing-masing kami, Abak dan Bundo, mencapai level gagap, stress, yang kalau istilah orang-orang disebut Baby Blue. Alhamdulillaah, kami berdua masih berusaha saling menguatkan. Semua penat seakan sirna saat melihat wajah kecilmu tertidur pulas.

Insya Allah mulai bulan depan, Bundomu akan selalu ada di sisimu, membersamai tumbuh kembangmu. Tidak lagi meninggalkanmu di pagi hari lalu baru pulang di sorenya. Bundomu akan mencurahkan hampir semua waktunya untuk mendidikmu menjadi seorang anak yang shaleh, tangguh, cerdas, dan penyayang. Namun, aku harap engkau bersabar, Nak. Karena aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, mencari nafkah untuk kalian. Maafkan Abakmu, jika tidak bisa makan malam bersama dirimu, mendengarkan ceritamu tentang hari-hari yang telah engkau jalani. Bukan karena tidak sayang, namun karena cintaku pada kalian berdua, maka jalan ini harus kutempuh. Insya Allah aku akan membersamaimu di pagi hari, menemanimu mandi pagi, sarapan, dan bermain. Akan kuusahakan selalu melewatkan hari Minggu bersamamu, bersama Bundomu, bersama kalian.

Daru, kami berjanji pada diri kami sendiri, tidak akan memaksamu menjadi seseorang yang bukan dirimu. Kami, Abak dan Bundo, akan membebaskanmu menentukan pilihan dalam hidupmu. Hendak menjadi siapa pun engkau kelak, insinyur, seniman, musisi, arsitek, atau bahkan naturalis, selama engkau menjalaninya dengan senang, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai yang benar, insya Allah akan kami izinkan. Kami hanya akan membantu membekalimu supaya engkau bisa memilih dengan benar, sesuai hati nurani dan minat bakatmu.

Kami akan memperkuat akarmu, supaya engkau tetap membumi, setinggi apa pun engkau terbang kelak dengan sayap yang kuat.

Teruslah tumbuh kuat, anakku, seperti pohon Dewandaru yang kuat dan dipercaya sakti. Tumbuhlah menjadi anak yang memiliki hati, kesabaran, dan pengetahuan yang luas, seluas seluas laut (segara) setinggi bintang (lintang).

Peluk cium.

 

Abakmu

 

 

Darma Eka Saputra

Kepada Para Pengemudi Ojek Online

Dear Bapak, Ibu, Mas, Mbak pengemudi ojek online.

Aku adalah satu di antara jutaan masyarakat Indonesia yang bersyukur atas kehadiran transportasi dalam aplikasi di Indonesia. Mau disebut Gojek, Grab, atau Uber (yang sekarang sudah tidak ada), kehadirannya memang sangat memudahkan dalam berbagai aktivitas.

Terlepas dari kontroversi yang timbul sejak awal munculnya, kehadiran Ojek Online (ojol) sangat membantu dalam banyak hal. Transportasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya, mengantarkan barang, dokumen, paket dalam kota tanpa harus pergi ke tujuan, bahkan membeli makanan di tengah malam buta sekali pun.

Perkembangan jumlah pengemudi ojol pun meningkat pesat. Terlepas dari beberapa kota (dan masyarakatnya) yang masih menolak kehadiran ojol, hampir di semua kota di Indonesia jaket-jaket hijau bertebaran di setiap sudut keramaian. Tak hanya bertambah jumlah saja, tapi mereka berkumpul membentuk paguyuban, perkumpulan, atau organisasi yang bertujuan melindungi satu sama lain.

Seperti biasa, suatu hal yang berkembang pesat pasti membawa masalah yang bisa berujung konflik. Sering terjadi perselisihan antara pengemudi ojol dan ojek pangkalan, bahkan hingga memakan korban. Selain itu banyak juga terjadi konflik dengan pengemudi kendaraan pribadi lain.

Aku paham bahwa bapak, ibu, mas dan mbak sedang mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga. Namun yang aku harapkan adalah kalian mau dan mampu berkendara dengan tertib.

Tak sekali atau dua kali aku nyaris celaka gara-gara kalian. Entah yang melawan arus, menerobos lampu merah, atau menyalip dalam sudut yang sempit. Lalu ketika kalian ditegur, muncullah pengemudi-pengemudi lain yang membela kalian, walau kalian jelas-jelas di posisi yang salah. Solidaritas kalian buta, tak mau melihat kebenaran.

Ingatlah bahwa kalian membawa penumpang, yang harus kalian jaga keselamatannya. Kalian juga bisa mencelakai orang lain. Bagaimana jika penumpang atau orang lain yang kalian celakai itu adalah seorang calon ayah yang sedang menanti kelahiran putranya, atau seorang calon ibu yang telah menunggu bertahun-tahun sebelum mendapatkan kabar bahagia adanya nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Tegakah kalian merenggut kebahagiaan itu darinya?

Bahagiakah kalian mendapatkan rezeki tapi dengan mendzhalimi orang lain? Jika kalian adalah orang-orang yang beragama, harusnya kalian sadar bahwa aktivitas kalian tidak boleh merugikan orang lain. Apa pun agama kalian, seharusnya tidak ada agama yang mengajarkan bahwa boleh merugikan orang lain asalkan kalian mendapatkan untung.

Semoga kita semua selalu diberikan hidayah, keselamatan, dan perlindungan.

SEORANG AYAH YANG BERANGKAT MELAUT

SEORANG AYAH YANG BERANGKAT MELAUT

Dharma Poetra

Seorang ayah berangkat melaut

membawa bekal yang telah disediakan

disertai doa supaya pulang membawa banyak ikan

dan juga tetap pulang dalam keadaan hidup, karena tidak ada yang sepadan

dari nyawa tetap melekat di badan.

 

Seorang ayah berangkat melaut

melangkah menuju perahu sedikit kalut

karena tak lama lagi uang kuliah anak menuntut.

Ia berharap pada tangkapan yang semakin lama semakin surut

entah ikan-ikan bosan pada umpan yang tak pernah menurut

atau habis oleh kapal-kapal besar milik tuan berperut gendut.

 

Seorang ayah berangkat melaut

bercerita bangga, anaknya hari ini turun ke jalan

menuntut keadilan

memperjuangkan kebenaran

mengoreksi kerja anggota dewan

dan menjadi sejarah perlawanan

 

Seorang ayah berangkat melaut

agak resah karena cuaca yang terlalu tenang

serta ikan yang tak kunjung datang.

Entah karena bulan yang makin menghilang

atau badai yang akan menerjang.

 

Seorang ayah berangkat melaut

lalu pulang dan terkejut

melihat banyak orang-orang menyambut

dengan air mata dan pelukan lembut

lalu berbisik “Anakmu telah dijemput maut”

 

Seorang ayah pulang melaut

hanya mampu terperangah

melihat anaknya bersimbah darah

dadanya bolong oleh peluru yang marah

Hanya karena menyuarakan yang salah

akhirnya ia benar menjadi sejarah

yang ditulis dengan tinta merah.

 

Seorang ayah pulang melaut

Berteriak lantang merobek langit

tak tahu lagi ke siapa harus menjerit

meminta keadilan di negeri yang sakit.

 

Seorang ayah pulang melaut

remuk redam duduk bersimpuh

terisak berdoa dengan hati yang runtuh

mencoba menggoyang Arsy milik Yang Menciptakan Ruh.

 

Seorang ayah berhenti melaut

kehilangan anak laki-lakinya

dalam perjuangan dengan beribu mahasiswa lainnya

menegakkan kebenaran pada penguasa

namun harus dibayar dengan nyawa.

 

Seorang ayah berhenti melaut

pipinya basah oleh air mata

hatinya hancur oleh duka

tak mampu bicara dalam nestapa.

 

Duka terdalam untuk

kawan-kawan korban penembakan

Immawan Randi dan Yusuf Kardawi.

Doa kami untuk para ayah

yang ditinggal mati anaknya.

Keadilan harus ditegakkan

Kebenaran harus diperjuangkan

Sepucuk Surat untuk Anakku (I)

Surabaya, 28 Juli 2019

Dear Anakku.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, akhirnya kamu lahir dalam keadaan sehat dan lengkap tanpa cacat.

Pada tanggal 1 Juli 2019 pukul 3 pagi, bundomu terbangun dan mulai merasakan mulas-mulas parah. Kami sepakat akan memeriksakannya pada pukul 8 pagi itu, untuk mengecek apakah sudah ada tanda-tanda bukaan atau belum. Namun, pukul setengah lima, mulai ada cairan merembes. Tanpa ragu, aku langsung membawa bundomu ke Puskesmas Simomulyo.

Ketika diperiksa oleh bidan di sana, ternyata sudah masuk pembukaan kedua atau ketiga. Kata bidan tersebut, tunggu aja empat hingga enam jam, kalau tidak ada perubahan, akan dirujuk ke rumah sakit. Aku menemani bundomu di dalam ruang bersalin, memijat, mengelus, menggosok untuk meringankan sensasi “gelombang cinta” yang menyerang secara periodik.

Waktu terus berjalan, bukaan pun akhirnya bertambah perlahan. Hingga pukul dua belas siang, gelombang itu datang semakin intens dan mendesak-desak. Tetapi karena belum lengkap, bundomu tidak diperbolehkan mengejan, harus ditahan. Susah payah bundomu menahan, bercucuran keringat.

Akhirnya pukul setengah dua lebih, bukaannya lengkap (istilah para bidan). Dibantu tiga orang, bundomu berjuang keras supaya engkau lahir selamat. Dengan penuh perjuangan dan dorongan, akhirnya engkau lahir, merengek, dan menangis cukup keras.

Spontan, kupeluk bundomu, sebagai bentuk sayang dan rasa terima kasih karena telah berjuang keras melahirkanmu. Ada rasa hangat mendesak dari dalam dada. Saat kulantunkan azan di telingamu, suaraku tercekat oleh tangis haru yang bahagia, akhirnya kami berdua resmi menjadi orang tua.

Sebelum engkau lahir, kami telah sepakat akan memberimu nama Daru Lintang Segara, nama yang disertai doa supaya engkau tumbuh kuat dengan hati, jiwa, kesabaran, dan pengetahuan seluas samudra yang melintang menyelimuti bumi.

Nak, kami berdoa semoga engkau tumbuh sehat dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kami juga berdoa semoga engkau menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari kami berdua. Tentu saja, kami juga harus terus memperbaiki diri, supaya bisa menjadi teladan yang baik.

Kami tidak ingin engkau tumbuh dengan cara kami dibesarkan, apalagi di zaman serba modern seperti saat ini. Entah sudah sejauh apa teknologi berkembang saat kau membaca tulisan ini.

Kami akan membekalimu dengan sayap, supaya engkau bisa terbang tinggi mengelilingi dunia ini. tapi kami juga akan menanamkan akar yang kuat, supaya engkau punya nilai-nilai luhur yang akan selalu kau pegang, di mana pun engkau berada.

Saat ini kami berdua sedang berusaha beradaptasi dengan peran baru sebagai orang tua. Mudah-mudahan kami mampu menjadikan rumah sebagai sekolahmu yang pertama dan utama.

Peluk cium.

 

Abakmu

 

 

Darma Eka Saputra

Sepucuk Surat Untuk (Calon) Anakku (II)

Dear Kamu yang saat ini masih berada dalam Rahim.

Bundomu terkadang sering tertawa terkekeh sendiri, ketika merasakan gerakan-gerakanmu yang kuat di dalam perutnya. “Geli-geli ngilu,” ujar bundomu padaku. Lalu ia letakkan tanganku di perutnya, sehingga aku bisa merasakan kuatnya gerakanmu di dalam sana.

Pertama kali merasakan gerakanmu di dalam perut bundomu, sama saat pertama kali mendengarkan detak jantungmu saat diperiksa di rumah sakit. Mengharukan, menimbulkan sensasi di dada yang merambat membasahi mata.

Aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang bapak. Aku yang sejak dulu hidup untuk hari itu saja. Besok, ya pikirkan saja besok. Pernah dulu aku membayangkan menikah, tapi tak pernah membayangkan hidup seperti apa yang akan kujalani setelahnya, dan bagaimana diriku sebagai seorang bapak.

Bertemu dengan bundomu mengubah semuanya. Bundomu adalah katalisku menjadi pribadi yang lebih baik. Karena bundomu, aku sadar bahwa hidup bukanlah tentang hari ini saja—ada hari esok, lusa, dan seterusnya yang masih harus dipikirkan. Karena bundomu jugalah, aku merasa harus memperbaiki diri. Menjadi pemimpin rumah tangga haruslah orang yang terus-menerus memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Apakah aku yang sekarang telah menjadi seorang suami dan (calon) abak yang baik? Tentu saja belum, Nak. Aku masih terus berusaha menurunkan ego, memperbesar hati, meningkatkan sabar, dan memperbaiki ibadahku. Kami berdua akan terus belajar menjadi lebih baik, seiring berjalannya waktu, seiring nanti engkau lahir dan tumbuh bersama kami.

Nak, tumbuhlah dengan baik di dalam Rahim bundomu. Lahirlah dengan selamat, sehat, dan kuat. Lalu ingatlah bahwa bundomulah yang membawamu berbulan-bulan dalam rahimnya. Jangan pernah sekali pun terlintas dalam pikiranmu untuk melawannya. Jangan pernah sakiti diri dan hatinya, sengaja atau tidak. Bergunung-gunung kekayaan yang nanti kau berikan padanya, tidak akan cukup membayar pengorbanannya dalam mengandung, melahirkan, dan membesarkanmu kelak.

Tumbuhlah dengan baik, lalu jadilah anak tangguh dalam menghadapi kerasnya dunia, tapi tetap memiliki hati lembut yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Tumbuhlah menjadi anak yang memiliki pendirian teguh, tapi tetap terbuka hatinya menerima kebenaran. Tumbuhlah menjadi anak yang tak ragu berjuang membela agama-Nya.

Semoga kami berdua mampu menjadi contoh yang baik, teman bercerita, dan tempat berkeluh-kesah bagimu kelak. Semoga nanti engkau mau menerima dan memaafkan ketidaksempurnaan kami dalam mengasuhmu. Semoga kami berdua terus diberikan ketetapan hati untuk terus berusaha memperbaiki diri.

Surabaya, 24 Mei 2019.

(Calon) Abakmu

 

Darma Eka Saputra

 

Sepucuk Surat Untuk (Calon) Anakku (I)

Dear Kamu yang saat ini masih berada di dalam Rahim.

Tak terasa sudah tujuh bulan kamu berada di dalam rahim bundomu. Insya Allah tak lama lagi kamu akan keluar dari tempat yang melindungimu, untuk menghirup udara di bumi yang keras ini.

Tahukah kamu, kenapa tempatmu berada sekarang disebut Rahim? Rahim berasal dari bahasa Arab yang berarti penyayang. Rahim atau uterus merupakan bukti bentuk kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Rahim melindungi, menyediakan nutrisi, dan memberikan lingkungan yang sangat ideal untuk pertumbuhanmu. Seorang ibu berjuang menanggung ketidaknyamanan, perubahan emosi akibat fluktuasi hormon, bahkan kehilangan selera makan akibat mual terus menerus.

Waktu itu bulan November, tahun 2018. Bundomu mengeluh mual-mual dan kehilangan selera makan. Waktu itu Abak pikir, karena nasi padang yang kami makan hari sebelumnya. Mungkin karena sudah firasat, bundomu melakukan pengetesan dengan test pack—garis dua, tapi salah satu garis masih samar.

Besoknya, bundomu harus pulang kampung untuk menghadiri pernikahan Mamakmu. Supaya tidak penasaran, ia memeriksakan lagi ke puskesmas, dan hasilnya positif. Sebelumnya sempat pesimis karena bundo mengalami pendarahan, tapi ternyata kamu kuat, Nak.

Saat dilakukan pemeriksaan lagi, ternyata kamu ditemani oleh dua monster, kista yang ternyata masih bersarang di ovarium. Menurut dokter, tunggu sampai setelah tiga bulan, untuk kemudian baru diputuskan perlakuan apa yang akan diberikan.

Alhamdulillah, setelah masuk bulan ke tiga, ternyata kamu kuat. Kamu adalah seorang pejuang yang tanpa ragu tumbuh besar mengalahkan dua monster itu. Tak perlu perlakuan apa pun, cukup sehat dan biarkan kamu tumbuh, kata dokter.

Doa kami untukmu, Nak. Semoga engkau jadi anak yang kuat, setangguh pohon Daru. Sejak di Rahim engkau telah membuktikannya, bahwa engkau itu kuat. Semoga engkau dianugerahi kebesaran jiwa, dada yang lapang, serta pikiran dan kesabaran yang luas seperti luasnya Segara (lautan), yang meLintang melingkupi bumi.

Kami, Abak dan Bundomu, akan berusaha terus memperbaiki diri, sehingga kami bisa menjadi orang tua yang layak dijadikan contoh dan panutan bagimu.

Ini merupakan surat pertama. Nanti, aka nada surat kedua, ketiga, dan seterusnya. Walau sekarang engkau masih belum bisa membaca, tapi mudah-mudahan kelak ini bisa menjadi cerita untukmu.

 

Surabaya, 15 April 2019.

(Calon) Abakmu

 

Darma Eka Saputra