Surat-surat di Hari Senin

(pict : loveisnotabuse.com)

(pict : loveisnotabuse.com)

Jakarta, 5 April 2010

Dear Laras, kekasih tersayang.

Bagaimana kabarmu pada hari Senin ini?  Mudah-mudahan Seninmu selalu bahagia, walau selalu ada rindu di antara kita.

Seninku diisi dengan hujan deras, seakan langit menumpahkan air matanya akibat kerinduannya pada bumi. Setengah malas aku keluar dari dekapan selimut yang hangat, mengeliat lalu menyeduh segelas kopi pahit tanpa gula. Kaleng permen berkarat ini penuh dengan puntung rokok sisa semalam.

Tanganku masih terasa lembab berbau besi. Bukan, bukan dari baja dingin berkilat yang selalu kusimpan di pinggang celana atau terikat di betis. Adalah aroma darah yang lembab mengalir melewati sela-sela jari saat sebuah leher robek melepaskan sebuah nyawa.

Aku selalu bekerja di hari Minggu, bukan karena hari itu selalu menjadi hari yang santai untuk setiap orang, sehingga mengendurkan kewaspadaannya. Hari Minggu selalu menjadi hari yang tepat untuk bekerja, menyelesaikan pekerjaan dari klien yang cerewet dan murka penuh dendam.

Kemarin aku mengintai di sebuah taman, diantara pasangan-pasangan yang sedang piknik sejenak melepaskan tekanan pekerjaan yang menyesakkan. Kulihat targetku sedang duduk sendiri membaca sebuah buku di sudut taman. Dia berada di sudut itu setiap Minggu, selalu tanpa teman.

Yang menarik di taman ini, tidak jauh dari tempatnya duduk, ada sebuah tempat yang sepi dan cukup tertutup oleh semak dan pohon yang merimbun. Tapi di tengah-tengahnya terhampar sebuah area yang datar dan cukup lapang, akan selalu luput dari perhatian mata yang tidak jeli. Mungkin saja ada banyak pasangan yang bercumbu dengan liarnya di tempat ini. Lain kali engkau akan aku ajak kesini, kapan lagi kita bercinta di alam terbuka.

Targetku masih duduk membaca buku, tanpa menyadari suasana di sekitarnya. Mengendap, kudekati ia dari belakang dan kucekik lehernya yang tertutup jilbab putih. Kutusukkan pisau nomor tujuh puluh tiga di sela jari-jariku, langsung merobek leher melalui jilbabnya. Dengan sisa kekuatannya ia mendorongku ke belakang hingga terjajar hampir terjerembab. Lalu ia terjatuh menghantam tanah, ada warna yang indah tercetak. Merahnya darah, putihnya jilbab serta coklatnya tanah berbaur menjadi lukisan yang mengalahkan indahnya karya Picasso.

Bergetar, mengejang, matanya membeliak saat nyawanya mengalir keluar dibawa darah yang mengental. Saat ia berhenti bergerak, aku melenguh puas.

Aku tertidur dengan tangan berlumuran darah, nyenyak seperti bayi yang kenyang akan susu.

Selamat hari senin kekasih tersayang, semoga harimu menyenangkan.

 

Peluk cium

Kekasihmu, Zoni

Ps: aku memesan sebuah pisau baru, nanti akan jadi nomor delapan puluh enam.

 

Bukittinggi, 12 April 2010

Dear lelakiku tercinta

Bagaimana Seninmu? Seninku merindukanmu. Kangen aroma Cassablanca Aqua yang melekat di leher dan dadamu saat engkau kupeluk erat.

Satu bulan sudah berlalu sejak pertemuan terakhir kita. Pertemuan yang singkat tapi begitu menggebu-gebu. Lalu kau pergi begitu saja, meninggalkan wangimu pada sarung bantal. Mendadak kamarkmu dipenuhi oleh dirimu, dan aku langsung merindukanmu saat itu juga.

Beberapa hari yang lalu aku diundang untuk menerawang sebuah rumah tua di pusat kota (tentu saja untuk acara supranatural yang mulai marak di televisi). Dahulu pernah terjadi perampokan dan pembunuhan satu keluarga di rumah itu. Setelah kejadian, rumah itu terbengkalai karena ahli waris tidak mau menempati. Bertahun-tahun rumah itu dibiarkan kosong tak berpenghuni, sehingga aura negatif terasa kuat, bahkan ketika kami belum memasukinya.

Tak perlu dipanggil, entitas-entitas itu sudah ramai berkumpul, mengamati para “tamu” yang berkunjung. Ada yang berupa anak kecil, perempuan, laki-laki tua dan remaja, dengan bentuk yang tak karuan. Bahkan terlihat sebentuk makhluk yang tidak akan mau kau lihat di mimpi burukmu. Tekanannya sangat kuat, mencekik kesadaran hingga lenyap. Tak kuat, tiba-tiba gelap, aku pingsan. Untung saja mereka tidak berani merasukiku, mungkin karena “Inyiak” yang setia melindungiku.

Saat tersadar, aku sudah berada di klinik terdekat (mungkin kau ingat, klinik di sebelah Pasar Banto, tempat kita membeli jagung rebus di pertemuan pertama kita).

Sebenarnya aku sudah mulai lelah dengan peran ini, tapi apa daya. Ini jauh lebih baik daripada harus membaca aura orang-orang yang datang. Membaca aura jauh lebih melelahkan daripada sekedar menerawang rumah angker. Membaca aura membuatku merasakan diri orang yang kubaca, menyerap kegelapan dirinya, merasakan masa lalu sehingga membuatku melupakan eksistensi diri.

Ada yang belum aku ceritakan. Lelaki tua itu datang lagi, merayu membujuk supaya aku kembali ke pelukannya. Berbagai macam janji ia ucapkan, supaya ia bisa kembali menikmati tubuhku melepaskan nafsu kudanya (tentu saja dengan kemampuan kura-kura. Ia tak pernah bertahan lebih dari lima menit di ranjang, dasar laki-laki egois).

Tentu saja kurahasiakan hubungan kita. Kau adalah lelaki yang tidak pernah ada, hanya bayang-bayang dan jejakmu yang ada di dalam ketiadaanmu.  Mengungkapkan keberadaanmu hanya akan membuat dunia ribut mengejarmu.

Tapi kau adalah bayang-bayang yang lembut. Yang datang kepadaku dengan kelembutan dan kesabaran. Tak terburu-buru, dengan sabar membawaku ke langit ketujuh.

Selamat hari Senin lelakiku, aku merindukanmu, sangat

Wanitamu, Laras

Nb: oh ya, akhirnya aku membeli parfum kesukaanmu, Cassablanca Aqua, kusemprotkan ke guling setiap aku merindumu, kupeluk dan bermimpi bertemu denganmu.

 

Senin, 17 April 2010

Dear wanita kesayanganku.

Engkau masih ingat pertemuan pertama kita? Aku sedang menikmati secangkir kopi dan jagung rebus saat tiba-tiba engkau duduk di sebelahku dan berkata “Kau lelaki yang beraroma darah”

Aku tersentak, hanya tiga orang di dunia ini yang tahu siapa aku, dan saat itu kau bukanlah salah satunya. Kau adalah wajah asing yang mendadak muncul di sebelahku.

“Jangan takut, rahasia ini aku simpan untuk diriku sendiri. Tapi kalau kau hendak melenyapkanku sekarang, tidak apa-apa. Tidak ada salahnya kita bercengkerama dulu, bercerita tentang hari ini seperti dua sahabat yang sedang bertemu.” Seakan tahu isi hatiku (dan setelah mengenalmu, baru aku tahu bahwa kau memang membaca isi hatiku) kau berkata lembut sambil tersenyum.

“Aku rela engkaulah yang mengakhiri hariku. Mungkin tidak sekarang, bisa jadi beberapa tahun lagi. Aku menunggu.”

Aku terpikat padamu, dan kaupun menerimaku sebagai aku. Kita berpisah, merindu, bertemu, lalu berpisah dan merindu lagi.

Aku pun capai selalu berada dalam bayang-bayang. Aku ingin menikmati cahaya mentari, menjadi seseorang yang bernama dan berwajah. Mungkin menjadi seorang pemburu atau tukang daging (tentu saja, keahlian apa lagi yang aku punya selain menggunakan pisau), tapi hidup tanpa harus selalu melihat ke belakang penuh rasa curiga.

Satu pekerjaan terakhir, tapi sebelum itu aku akan mendatangimu, melepaskan kerinduan yang menggebu-gebu.

Satu lagi, dan kemudian aku akan lahir kembali, mungkin menjadi Jhoni, Rusdi atau Supardi.

Jangan kau tanya kapan aku akan datang, aku adalah pemburu, mengendap-endap mendatangimu dan memelukmu dari belakang.

Peluk-cium

Zoni

Nb: untuk pekerjaan terakhir ini, sepertinya aku akan memakai pisau pertama dan pisau terakhirku. Penutup cerita ini dan pembuka lembaran baru.

 

Rabu, 19 April 2010

Dear engkau (siapapun namamu setelah ini)

Terima kasih telah mendatangiku tiba-tiba, penuh kejutan seperti biasanya. Aku selalu sadar apabila ada orang yang mendekatiku, tapi kau adalah pemburu, selalu tahu kemana harus menyergap.

Terima kasih banyak telah menerima cintaku utuh. Bersamamu membuatku menjadi Laras, bukan pembaca aura atau “orang pintar”. Di pelukanmu, semua indraku hanya terisi rasamu, tubuhku mereguk dahaga akan kehadiranmu.

Sejak pertama bertemu aku tahu bahwa engkaulah yang akan menjadi akhir ceritaku. Hanya waktunya yang aku tidak yakin. Jangan kehilanganku setelah ini, aku akan selalu ada di sisimu, di hatimu.

Kumohon, lakukan dengan cepat, kita tidak sedang bercinta. Biarkan aku pergi dengan cepat dalam senyum di pelukanmu

Aku mencintaimu,

Laras

Nb: ambil saja rambutku yang selalu kau sukai wanginya.

***

Zoni melipat surat yang ia baca, menyimpannya dalam saku. Dengan cepat ia sayat leher Laras, lalu dengan pisau yang lain ia tusuk dadanya, tepat di jantung. Laras tergolek di pelukannya, dengan senyum lebar menghiasi mulutnya.

Lalu dengan sekali gerakan, ia memotong rambut panjang Laras. Meneteskan air mata, ia mencium rambut wangi Laras, lalu berjalan pelan keluar kamar.

Gadis Senja

Gadis Senja, credit to rdf

Gadis Senja, credit to rdf

Debur ombak laut selatan mendayu-dayu, teratur menyanyikan nada alam yang menenangkan. Pasir putih lembut dibelai kasih sayang laut. Angin bertiup semilir, membawa aroma khas bergaram. Langit lembayung temaram, pertanda hari akan segera berakhir. Para nelayan bersiap-siap melaut, mengarungi laut lepas demi keluarga yang mereka tinggalkan. Hari akan berakhir, tapi bagi mereka hidup baru dimulai.

Aku ditemani gelas berembun berisi minuman kesukaanku, jeruk nipis dingin. Di sebelahnya ada kertas putih yang setengah kosong. Pensil dan penghapus tergeletak kelelahan setelah berbagi cerita dengan kertas putih itu, mengisi kekosongannya. Sebuah asbak berisi puntung rokok ikut menemani. Di suatu sudut di kafe itu, tempatku berada.

Kafe itu sederhana, terletak di tepi pantai pada sebuah kota kecil. Menunya tak banyak, hanya beberapa olahan hasil laut, kelapa muda dan minuman dingin lainnya. Suasananya damai, ditemani deburan ombak yang mendayu-dayu. Tak ada musik yang dimainkan. Setelah matahari terbenam baru baru gramofon akan memutarkan lagu-lagu syahdu. Hanya ada beberapa pelanggan lain di kafe itu. Ada yang asyik bercengkerama menikmati waktu mereka dan ada juga yang khusyuk dengan buku yang ia bawa. Pelayan kafe itu sepertinya sedang bahagia. Ia tersenyum lebar menatap sepucuk surat berwarna merah jambu.

Aku selalu berada di kafe ini setiap sore, menghabiskan waktu dengan buku sketsaku. Aku mencorat-coret dari imaji yang ada di kepalaku. Menterjemahkannya sehingga orang lain mengerti apa yang sedang kubayangkan. Dengan gambar aku bercerita. Aku berbagi kegelisahanku, kebahagiaanku dan kesedihanku dalam garis dan bentuk. Aku tidak pandai berkata-kata dengan tulisan, aku terlalu pemalu untuk berbicara.

Aku biasa bercerita dengan kertas-kertas ini. Dengan bantuan pensil, garis adalah kata-kataku, pola adalah kalimatku. Garis menjadi pola, pola menjadi bentuk, lalu bentuk bergabung menjadi sebuah gambar. Garis-faris itu bergabung menjadi rumah, pantai, gunung, perahu, kucing dan punggung seorang wanita.

Gambar seorang wanita berambut panjang sepinggang, cantik digerai lepas. Latar gambar itu pantai di senja hari. Matahari tenggelam di pelukan laut di ufuk barat. Kakinya dibelai asinnya ombak, basah bergaram. Sendiri saja dia disana, menatap jauh ke tengah laut sepertinya. Siapakah dia?

Akhir-akhir ini aku sering melihatnya berada di tepi pantai setiap sore menjelang senja. Kadangkala dia duduk memeluk lutut menatap matahari terbenam, tapi lebih sering ia berdiri memandangi senja menyambut malam. Dia selalu berada di pantai itu sendiri, tak ada yang menemani dan tidak ada yang menghampiri. Saat matahari telah terlelap dan malam mulai menyelimuti bumi, ia beranjak pergi.

Siapakah dia? Apa yang dia lakukan di tepi pantai itu sebenarnya?

Gadis Senja, aku memanggilnya begitu. Aku tidak tahu siapa namanya sebenarnya karena aku tidak pernah berbicara dengannya. Aku hanya memandangnya dari sudut kafe ini. Aku bertanya-tanya dalam hati, lalu mencoba menggambar dirinya.

Dia cantik, rambutnya panjang indah tergerai. Di tepi pantai itu rambutnya menari-nari bersama hembusan angin. Kulitnya kuning langsat, tulang pipinya tinggi dan hidungnya bangir  menggemaskan. Tapi matanya berbeda.

Mata yang sayu seakan memendam cerita. Bahkan dari sudut ini aku bisa melihat dia berjalan menunduk seakan menghitung langkah. Matanya sayu, terbeban masa lalukah? Ada bayangan hitam di bawah matanya, mungkin menampung air mata yang bercucuran.

Aku membayangkan dia dengan seorang pria. Seorang pria berseragam loreng dan memanggul sebuah ransel. Mereka berdua berbicara di sebuah sudut keramaian. Dia tergugu terisak, lalu pria itu merangkul dan memeluknya. Pria itu membiarkannya melepaskan emosi itu di dadanya, lalu mengecup mesra keningnya.

Pria itu berjalan meninggalkannya, bergabung dengan rekan-rekannya yang lain lalu melangkah menuju perut pesawat itu. Pria itu tak sanggup untuk menoleh lagi ke belakang, takut wajah gadis itu akan menahan langkahnya, takut air mata gadis itu akan membuatnya berlari kembali dan tak akan meninggalkannya. Gadis itu memandang punggungnya, punggung yang selama ini ia peluk, punggung yang selama ini jadi tempatnya bersandar. Punggung yang akan pergi untuk waktu yang tak singkat.

Lalu Gadis Senja itu pergi ke pantai. Pantai tempat mereka pertama kali bertemu. Ia berharap dengan berada di pantai itu, kerinduannya terobati. Ia bisikkan mantra-mantra rindu, berharap deburan ombak pantai ini akan menyampaikannya ke kekasihnya yang ada di seberang sana. Ia menunggu semilir angin membawa kata-kata cinta dari pria berseragam loreng itu.

Itukah yang ia lakukan? Menunggu dan bercengkrama dengan rindu?

Jangan-jangan Gadis Senja itu sedang lari, kabur dari kejaran masa lalu. Ia berada di pantai ini, tempat tidak ada yang mengenalnya, tidak ada yang mengetahui masa lalunya.

Masa lalunya mungkin dimulai dari rumah besar yang menggantungkan lampion merah di terasnya. Sebuah rumah batu yang terletak di suatu sisi sebuah kota besar. Rumah itu terletak di pinggir jalan raya, sebuah pemukiman yang cukup padat. Hampir setiap rumah memasang lampion merah di teras rumahnya masing-masing.

Siang hari hampir tidak ada suara dari rumah itu. Hanya suara gesekan sapu kacung yang sedang bekerja. Terkadang terdengar desisan dari dapur, disertai aroma masakan yang menggelitik selera. Lalu hening begitu saja. Tidak ada yang masuk, tidak ada yang keluar.

Berbeda jauh dengan kondisi di malam hari. Lampion merah di teras bersinar cerah. Suasana sepi di siang hari hilang, berganti riuh musik gramofon dan riang gelak tawa dari dalam rumah itu. Mobil-mobil mewah hilir mudik melewati jalan di depan rumah itu. Ada laki-laki yang masuk keluar rumah itu. Perempuan-perempuan bermata jeli duduk-duduk di teras, menatap dengan kerlingan menggoda setiap mobil yang melintas.

Seorang perempuan setengah baya dengan pupur tebal dan gincu merah terlihat mengatur segala-sesuatu di dalam rumah itu. Ia tersenyum manis kepada setiap laki-laki yang datang. Ia menyambut mereka, berbasa basi lalu tawar-menawar. Beberapa lembar uang berpindah tangan, lalu laki-laki itu akan bercengkerama dengan para pemuja Eros.

Gadis senja itu mungkin sudah tak tahan lagi tinggal di rumah berlentera merah. Ia muak hanya menjadi alat perempuan setengah baya itu. Ia lelah dipasung, ia bosan tinggal di sangkar emas itu. Walaupun ia hidup mewah, tapi ada satu kemewahan yang tidak ia miliki. Kebebasan.

Ia lari jauh-jauh dari rumah berlentera merah itu. Dengan bekal seadanya, ia berpindah dari satu kota ke kota lain, selalu melihat ke belakang. Ia takut ada orang-orang dari masa lalunya yang mengenalinya, ia takut dibawa lagi ke rumah batu itu.

Sampai akhirnya ia tiba di tepi pantai ini. Ia telah lelah berlari, ia ingin berhenti sejenak. Pantai, tempat yang mengingatkannya pada masa kecilnya. Ia mengingat kembali saat ia berlari riang di tepi pantai dengan seorang anak lelaki yang sedikit lebih tua darinya. Mereka berdua bermain dan bergembira, tidak pernah mengkhawatirkan hari esok. Mereka berdua berkejaran dengan ombak, melemparkan ranting yang dihanyutkan arus dan tertawa kegirangan. Lalu seorang lelaki berkumis tebal memanggil mereka dan mereka berdua berlari menghambur ke pelukan lelaki itu.

Itu semua hanya dugaanku. Aku hanya mereka-reka apa yang terjadi dengan gadis itu.

Sore semakin tua, langit semakin temaram menyambut malam. Mentari mulai menyentuh ufuk barat, mulai tenggelam di lautan lepas. Aku membereskan peralatanku, memasukkannya ke dalam tas. Sore ini si Gadis Senja tidak ada di tepi pantai. Aku penasaran, kemanakah dia?

Mungkinkah laki-laki berbaju loreng itu telah pulang dari perjalanannya? Gadis Senja lalu berlari menghambur memeluknya, menumpahkan air mata di dadanya seperti saat mereka berpisah dulu. Tapi kali ini air matanya bahagia. Dahaga kerinduannya telah sirna oleh pertemuan itu. Mereka lalu bergandengan tangan, pulang.

Atau si Gadis Senja mulai berlari kembali? Ia berpindah ke kota lain, mencoba berdamai dengan masa lalunya. Tahukah engkau wahai gadis senja, engkau tidak akan bisa berdamai dengan masa lalu hingga engkau berdamai dengan dirimu sendiri. Setelah engkau berdamai dengan dirimu sendiri, baru engkau akan bisa menemukan rumahmu.

Aku melangkah menyusuri pantai ini. Kurasakan lembutnya pasir putih menggelitik kaki. Pasirnya lembab setelah lama bermain dengan ombak. Angin laut bergaram mengacak-acak rambutku. Sesekali air laut menyeka kakiku.

Kunyalakan sebatang rokok, ku isap dalam-dalam hingga ke paru-paru. Pikiranku tak bisa lepas dari Gadis Senja. Aku menyesal tak pernah berkenalan dengannya, menatap dari dekat wajahnya. Aku ingin tidak hanya menggambar punggungnya saja, aku ingin menggambar dia dari depan, menggambar wajah manisnya. Entahlah apakah aku sanggup menggambar tatapan sedih dari mata sayunya.

Betapa besar hasratku untuk berkenalan dengannya. Betapa inginnya aku mengetahui cerita hidupnya. Aku penasaran dengan cerita dibalik kedatangannya ke pantai ini. Kita lalu duduk berhadapan di sudut yang sama dengan tempatku biasa duduk di kafe itu dan kita bertukar cerita. Dia lalu bercerita tentang hidupnya, lalu aku akan bercerita tentang perempuanku. Perempuan yang membuatku berada di pantai ini.

Perempuanku itu berambut panjang sepinggang, sama sepertinya. Tidak seperti dia yang selalu membiarkan rambutnya tergerai indah, perempuanku lebih suka mengikat rambutnya. Terkadang ia menggelung rambutnya di kepala, sehingga aku bisa melihat rambut-rambut tipis jatuh di tengkuknya. Tengkuk yang selalu aku kecup sebelum aku memeluknya dari belakang. Perempuan ini yang dahulu aku lamar sambil berlutut pada sebuah acara pesta dansa dan perempuan ini juga yang menghancurkan hatiku hingga tak ada lagi yang tersisa.

Siang itu aku baru kembali dari luar kota. Pekerjaanku mengharuskan aku sering berada di luar kota tempat tinggalku dulu. Seharusnya aku kembali dua hari lagi, tetapi syukur pekerjaanku kali ini bisa selesai lebih cepat. Pernikahanku dengan perempuanku  tidak dikaruniai anak, sehingga rasa rindu dikala berpisah tetap seperti pengantin baru.

Rumahku sepi, tapi kulihat sebuah sepeda motor diparkir di depan rumah. Mungkin ada tamu, pikirku. Aku masuk ke dalam rumah, tetapi di ruang tamu tidak ada orang. Entah firasat apa, sejak aku masuk rumah aku tidak bersuara memanggil perempuanku. Sehelai kemeja tergeletak di sofa, sehelai celana dan rok bertindihan di lantai. Terdengar suara lenguhan, napas yang berpacu kencang seakan berlari dikejar waktu.

Aku melangkah menuju kamar dan kudapati perempuanku sedang bercinta berkeringat menyatu dengan seorang pria. Mereka pias terkejut melihatku muncul di depan kamar, terdiam. Kulemparkan pakaian mereka ke dalam kamar dan dengan tenang kusuruh mereka berpakaian.

Kudekati pria itu lalu kuhantamkan kepalan tanganku ke perutnya. Terhenyak ia terbungkuk lalu semburkan udara dari paru-parunya. Tak kuberi ia kesempatan menarik napas, kuhantamkan lututku ke dadanya. Kupegang bajunya hingga ia tak roboh. Kupukul perutnya, sekali, dua kali, tiga kali terus hingga tanganku kebas. Tak kubiarkan ia jatuh, kusandarkan ia ke dinding. Terus kuhantam dengan lutut, kupukul, kuhantam lagi, kupukul lagi. Tak berhenti sampai disitu, kupatahkan kedua kakinya. Kubiarkan ia mengerang kesakitan, berdarah-darah tapi masih bernyawa.

Perempuanku menjerit tak bersuara. Ia menatapku, ketakutan. Ia seakan melihat lelaki lain dalam sosok yang dikenalnya. Lelaki yang selalu sabar dan tidak pernah ia lihat menumpahkan kemarahannya, sekarang menjelma menjadi orang lain. Menjadi lelaki dengan tatapan tajam menusuk, lelaki yang pendendam.

Tak ada teriakan, tidak ada umpatan caci maki keluar dari mulutku. Hanya tangan dan kakiku saja yang terus berbicara. Aku seret perempuanku dan pria itu keluar rumah, lalu aku tuntun motor yang terparkir di depan rumah. Aku jatuhkan motor itu di dalam rumahku sehingga bensinnya tumpah. Aku bakar tumpahan bahan bakar itu, aku biarkan api menjalar membakar sofa, membakar gorden, membakar pintu hingga membakar habis rumahku.

Perlahan-lahan asap hitam membumbung keluar dari jendela dan pintu rumah. Tak lama, kobaran api mulai menjilat seluruh rumah. Kutatap makhluk merah besar yang sedang melahap rumahku. Kubiarkan rumahku hancur dibakar api, seperti keluargaku yang hancur dilahap ketidaksetiaan dan seperti hatiku yang hancur dibakar dendam.

Lalu tiba-tiba hatiku terasa kosong begitu saja, hampa. Aku kehilangan hidupku, aku kehilangan diriku. Aku melangkah meninggalkan kota itu, aku melangkah meninggalkan masa laluku, tapi aku tak pernah melangkah untuk melupakannya atau memaafkannya.

Aku melangkah jauh dan semakin jauh. Dari satu kota ke kota lain, membiarkan waktu membawaku semakin jauh. Aku tahu, sedalam apapun luka, pada suatu titik waktu akan menyembuhkannya. Aku berjalan hingga sampailah aku di pantai ini.

Ah, lagi-lagi aku menyentuh luka lama. Luka lama setengah kering, tapi masih perih jika tersentuh. Aku masih berjalan di tepi pantai ini, menatap jauh ke depan. Di dalam hati aku masih berharap bisa melihat wanita itu lagi, si Gadis Senja.

Lalu aku melihatnya, wanita cantik berambut panjang itu, Gadis Senja. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat dia tersenyum, kepadaku kah? Perlahan aku berjalan menghampirinya. Lalu ia membelakangiku, menghadap mentari yang separuh terbenam. Aku terpesona, siluetnya cantik dengan latar belakang senja.

Aku terus berjalan menghampirinya, tak kurasakan kakiku basah oleh air laut. Aku mendekatinya, menghampiri siluet indah itu. Kubiarkan tasku basah diterpa air laut, tak kupedulikan badanku kuyup, tak kurasakan dinginnya air. Aku mendekat, terus mendekat. Tiba-tiba ia berbalik dan menghampiriku. Ia memelukku erat, seakan kita adalah sepasang kekasih yang tak akan pernah berpisah. Kurasakan pelukannya semakin erat, lalu sayup-sayup terdengar seseorang berteriak memanggil namaku.

Aku sudah tak perduli, aku terbuai di pelukan Gadis Senja. Lalu tiba-tiba gelap.

Ombak laut selatan berdebur membelai pantai. Matahari telah terbenam sepenuhnya.

 

Dharma Poetra

Bandung, Juli 2015

Kompilasi DharmaFiksi part 3

Berikut kompilasi cerita (super) pendek yang dipublish di akun tumblrku dengan tag #DharmaFiksi.

Fiksi #41 Jatuh Cinta

Ia jatuh cinta. Lama ia tatap wajah pujaan hatinya di layar monitor. Ribuan gambar diri bidadari itu tersimpan diHarddiscdan di hatinya. Helaan napasnya mengandung rindu, detak jantungnya bernyanyi sendu.

Lalu ia tertidur memimpikan kekasihnya.

 

Fiksi #42 Jatuh Cinta Diam-diam

Aku memandang dari kejauhan. Hanya mampu melukis wajahnya, merekam suara dan gelak tawanya. Gerak-geriknya bagaikan tarian bidadari.

Aku jatuh cinta diam-diam, lidahku dipotong oleh sang Raja, Ayah kekasih hatiku.

 

Fiksi #43 Menyirih

Ku ambil dua lembar daun sirih yang masih segar lalu ditumpuknya di atas telapak tanganku. Ku pecahkan biji pinang, sedikit pecahannya di atas daun sirih tadi. Kuoles sedikit kapur sirih dan ditambahkan sedikit gambir. Kulipat sehingga semua pelengkap tadi tertutup oleh daun sirih.

Kunyahan pertama, pedas dan getir memenuhi mulut. Kunyahan berikutnya, getah sirih dan semua pelengkap bercampur menciptakan sensasi pedas pahit segar yang menyatu.

Ludahku memerah akibat getah sirih, bercampur dengan lelehan darah di mulut. Pedas getir hal terakhir yang ia rasakan.

 

Fiksi #44 May Day

1 Mei, Hari Buruh. Semua turun ke jalan, semua membawa atribut serikat pekerja. Jalanan penuh, jalanan ditutup. Gedung parlemen didemo, para anggota kecut melihat keluar. Istana Negara dikepung, pelayan rakyat bersembunyi di kolong meja.

Tapi ia tidak turun ke jalan, ia sedang ditindih majikannya.

 

 

Fiksi #45 Kidung

Ia petik gitar tuanya yang telah ia bersihkan semalam. Tak ada nada yang sumbang, sudah distem. Ini pernikahan sahabatnya -sahabat karibnya- dan ia menyanyikan sebuah kidung.

Kidung Patah Hati

 

Fiksi #46 Cantik

Rambutnya indah hitam berkilau, badannya sintal berisi, kulit sawo matang dengan rupa manis menarik. Hidung bangir, bibir tipis dan tulang pipi yang tinggi membuatnya semakin terlihat cantik.

Tapi matanya berbeda, dingin. Saat kutatap, gadis itu berjalan mendatangiku dan mengeluarkan sebilah belati.

 

Fiksi #47 Membaca

Ia balik lembar demi lembar. Ia telusuri tiap baris, ia maknai tiap gambar.

Ia sedang membaca nasibnya sendiri.

 

Fiksi #48 Pahlawan

Hasanuddin, Imam Bonjol, Pattimura, Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir dan Tan Malaka. Semua adalah pahlawan, melakukan hal hebat.

Sayang, aku bukan pahlawan. Hanya seorang biasa yang melakukan hal biasa di hari biasa.

Pikirnya sambil membersihkan jalanan dari paku-paku yang ditebar.

 

Fiksi #49 Bermain

Menikmati waktu senggang, kalau istilah orang banyak. Ada yang melakukan hobinya, ada yang sekedar bercengkerama dengan orang-orang yang disayanginya dan ada juga yang bermain.

Aku pun sedang bermain, bermain dengan maut.

 

Fiksi #50 Hari Raya

Hari yang besar telah datang, semua umat menyambut riang dengan segala persiapannya. Ketupat opor, baju baru dan rumah pun dibersihkan dengan cermat. Ini adalah hari dimana semua umat berharap disucikan.

Ia menyeka keringat dengan bajunya yang kotor, rasanya Hari Raya tak sampai ke tempatnya.

 

 

Fiksi #51 Syawal

Syawal masih belum habis, suasana Hari Raya masih terasa hangat-hangat kuku. Hei, masih ada kue lebaran di toples. Semua mulai dari nol, saling maaf dan memaafkan.

Tapi ia masih belum memaafkan dirinya.

 

Fiksi #52 Kurban

Takbir berkumandang bertalu-talu. 10 Dzulhijjah menjelang, sapi dan kambing disembelih dan dikurbankan setelah Sholat Id. Keceriaan memenuhi sebagian besar umat muslim.

Takbir berkumandang keras, kali ini ia mengorbankan anak keduanya. Gugur syahid di jalan Jihad.

 

Fiksi #53 Jumrah

Musim haji tiba, jutaan kaum muslim berkumpul di kota suci Mekkah demi memenuhi panggilan-Nya.Masjidil Haram penuh oleh lautan manusia.

Hewan Qurban telah disembelih, waktunya melempar Jumrah. Konon, melempar Jumrah adalah melempar setan dengan kerikil.

Iblis melihat dari kejauhan, para Setan sedang melempar jumrah

 

Fiksi #54 Terompet

31 Desember dan senja menjelang. Suara terompet bersahut-sahutan di seluruh penjuru kota. Sebentar lagi Tahun Baru.

Aku meniup terompetku sekuat-kuatnya saat lonceng berdentang pertanda Tahun Baru datang. Nyawaku pun tertiup hilang seiring bunyi terompet.

 

 

Fiksi #55 Resolusi

Terompet riuh berbunyi, kembang api benderang di langit yang akhirnya cerah di musim hujan ini. Teriakan gembira orang-orang “Selamat Tahun Baru”.

Ia berdiri di atap gedung, menatap langit dan bintang jatuh terlihat.

Ia memejamkan mata dan mulai berdoa

“Mudah-mudahan tahun ini aku mendapatkan jantung yang baru”

 

Fiksi #56 Penipu

Ratusan orang yang telah ditipunya, belasan milyar telah diraupnya. Kelihaian dan kelicikannya telah melegenda. Penipu terbesar dalam sejarah.

Tapi ia tidak sadar, bahwa ia sedang ditipu oleh dirinya sendiri.

 

 

Fiksi #57 Suntuk

Kepalanya berat, matanya lelah tapi tidak bisa terpejam. Otaknya penuh dan dirinya jenuh.

Sudah saatnya ia bergerak, pergi sejenak.

Ia kabur sementara, jauh dari peradaban.

 

FIksi #58 Ulang Tahun

Usianya bertambah, umurnya berkurang. Konon katanya ia lahir pada hari ini beberapa puluh tahun yang lalu.

Ia hendak meniup lilin kue ulang tahunnya, tapi kuenya tenggelam dalam kebakaran itu. Haruskah ia tiup saja?

 

Fiksi #59 Jatuh Cinta

Orang bilang jatuh cinta itu indah. Hati berbunga-bunga dan hidup terasa bahagia.

Tapi ia hampir mati gara-gara kejatuhan cinta.

 

 

Fiksi #60 Walking side by side

Mereka berjalan bersisian, berdua. Menjelajahi hutan, pegunungan dan menyusuri pantai mengarungi lautan.

Mereka tidak berpegangan tangan, karena hati mereka telah satu.

 

 

Fiksi #61 Izin

Ia lupa belum meminta izin kepada Ibunda untuk melakukan pendakian ini. Lebih baik turun dan meminta izin.

Pikirnya sambil mengiringi jenazahnya.

 

 

Fiksi #62 Senyum

Senyumnya sangat indah. Barisan giginya yang putih cemerlang seperti matahari pagi. Senyuman itu yang membuatku mabuk dan tergila-gila.

Lalu aku abadikan senyuman itu dalam toples kaca yang bening, sehingga bisa kunikmati setiap pagi.

 

 

Fiksi #63: Pesta Demokrasi

Indonesia sedang berpesta. Jutaan rakyat dari segala golongan turun ke jalan merayakannya. Mereka cuma berharap satu hal: Indonesia yang lebih baik dan sejahtera

Sementara itu, para pejudi memasang taruhan

Kompilasi DharmaFiksi part. 2

Berikut kompilasi cerita (super) pendek yang dipublish di akun tumblrku dengan tag #DharmaFiksi.

Fiksi #21 Pagi

Ia tersentak, alarm berdenging berbunyi di telinga. Ia segera bangun, bersiap-siap. Ia mandi, berhias dengan pakaian terbaiknya. Tak lupa ia memercikkan parfum terbaiknya yang ia simpan untuk saat-saat istimewa.

Ini adalah hari spesial untuknya, hari kematiannya.

 

Fiksi #22 Antareja

Ia terdiam mendengar keputusan yang diambil Sri Krisna. Ia lihat saudaranya, Antasena yang biasanya blak-blakan sekarang menunduk pasrah. Dewata telah bertitah seperti itu, demi kemenangan Pandawa. Harus ada yang dikorbankan.

Ia punya cita-cita yang tinggi, mencapai kebijaksanaan pada usia tua dengan tapa brata menyepi di suatu hutan terpencil. Tapi cita-cita itu terkubur dalam sekarang.

Dan ia menjilat jejak kakinya sendiri.

 

Fiksi #23 Putri dan Naga

Selalu aku yang disalahkan. Selalu saja aku, Sang Naga dianggap sebagai penculik Sang Putri. Apa untungnya aku menangkap Manusia? Bahkan tak mengenyangkan nafsu makanku. Lebih baik aku berburu seekor kerbau yang gemuk, atau gajah muda.

Tak ada yang percaya kalau aku adalah sahabat sang putri. Dia kabur kemari karena tidak mau dijodohkan dengan Pangeran Tampan yang satria tapi kelakuan memuakkan itu. Si Playboy Tampan itu memaksanya menjadi istri, dan dikurung selamanya di istananya.

Putri ke sarangku untuk berlindung. Tapi sekarang aku yang dianggap menculik.

Ah tak usah meratapi nasib. Terima saja keadaan sekarang.

Aku melamun sambil menatap badanku yang tergeletak di sudut sarangku.

 

 

 

Fiksi #24 Serpih

Ini bukan lagi retak, tapi pecah berhamburan. Seperti gelas dihantam badai.

Ia sibuk mengumpulkan serpihan-serpihan pecahannya. Berharap masih bisa disusun kembali, walau ia tahu tak akan sempurna.

Dikumpulkannya serpihan hatinya yang hancur berkeping-keping.

 

Fiksi #25 Gasiang

Telinganya masih panas terasa akibat kata-kata gadis itu. Seumur-umur baru kali itu ia dihina oleh seorang wanita.

Ia hanya mengungkapkan perasaannya dengan baik-baik, diterima atau ditolak itu masalah nanti. Tapi reaksinya sangat berlebihan, seakan-akan ia adalah seorang lelaki yang sangat hina dan tak berguna.

Bau kemenyan pekat di udara, dan ia mulai memutar gasiang tangkurak dan membaca mantra.

gasiang tangkurak

 

Fiksi #26 Resepsi

Ia sudah memakai pakaian terbaiknya. Bercukur rapi, memotong rambutnya dan mandi sehingga wangi. Ditatapnya dirinya di depan cermin, memasang senyum terbaik dan muka yang cerah. Hari ini hari spesial.

Hari ini tunangannya menikah.

 

Fiksi #27 Senyum

Senyummu, ya senyummu yang manis terbayang selalu. Tawamu, ya tawamu yang renyah terngiang terus. Ayo kita bercerita lagi tentang cita-cita kita.

Senyummu, ya senyummu. Terbayang saat ku berdiri di pusaramu.

Selamat jalan adinda Indah. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya

 

Fiksi #28 Surat

Kekasihku tersayang.

Mungkin surat ini tiba ketika senja menjelang. Tataplah ke barat, ingat saat-saat kita sering menatap senja.

Saat aku tulis surat ini, aku juga sedang menatap senja. Tapi kali ini tidak setenang dahulu. Aku menatap senja ditemani suara letusan dan siulan mortir. Dan yang terakhir terasa jatuh begitu dekat.

Kekasihku, seminggu lagi aku akan pulang dan bertemu kamu. Dan akan kupenuhi janjiku untuk

Gadis itu melipat surat yang ia baca, bercak merah kehitaman yang mengering di akhir suratnya membuat tulisannya tak terbaca lagi. Dan kekasihnya tak pernah kembali

 

Fiksi #29 Hilang

Hujan lebat, arus deras dan pencarian masih berlanjut. Teman-teman dan keluarga menyusuri pinggiran sungai.Tak dihiraukan angin hujan yang menerpa mereka.

Aku mencoba membantu, menunjukkan dimana jasadku berada.

 

 

Fiksi #30 Penari

Tangannya bergerak lincah seirama dengan langkah kakinya. Pinggulnya melenggak-lenggok seiring alunan musik di kepalanya. Ia menari seakan tiada hari esok. Ia menari seanggun merak, selincah kijang dan sebuas macan.

Ia menari di hari pemakaman suaminya, akhirnya borgol di kaki dan tangannya terlepas.

 

 

Fiksi #31 Sujud

Malam menuju akhirnya, hening meraja. Bahkan suara jangkrik pun tak ada, seakan ikut membisu bersama malam. Angin tak berhembus, hanya dingin yang menyelinap usil membelai tengkuk.

Lama ia bersujud, lama dia mengadu. Ia curahkan seluruh masalahnya, ia mengaku seluruh dosanya. Ia takut hatinya membatu, ia takut akalnya membeku. Kepalanya serasa meledak. Begitu lama ia tidak bercerita, begitu jauh ia meninggalkan, dan sekarang ia mengadu ketika asa semakin genting.

Air mata menganak-sungai. Tersedu-sedan memohon ampun. Tak jua ia angkat kepalanya.

Hanya kepada-Mu aku menyembah, danhanya kepada-Mu aku memohon pertolongan

 

 

Fiksi #32 Arjuna

Ia adalah Arjuna, yang dikenal sebagai Playboy diantara para Pandawa. Sesungguhnya ia hanyalah seseorang yang tidak bisa berkata tidak akan lamaran orang lain. Setiap kali ia bersemedi, setiap kali ia menikah. Bukan salahnya berwajah tampan rupawan dengan perangai yang baik, bukan salahnya sehingga banyak yang ingin menjadikannya menantu.

Ketika Bharatayudha dimulai, semua anaknya datang memberikan bantuan untuk kemenangan Pandawa atas Kurawa. Semua.

Dan kini, juga semuanya gugur.

 

 

Fiksi #33 Kelahiran

Mondar-mandir ia di koridor rumah sakit. Keringat dingin mengucur deras sebadan. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Istrinya berteriak keras sekali di ruang bersalin.

Telah lama ia tunggu-tunggu kehadiran si kecil yang akan meramaikan rumahnya yang sederhana. Tak sabar ia bermain dengan celoteh tawa riang polosnya.

Tiba-tiba ruang bersalin diam sejenak, dan terdengar tangis. Tangis istrinya.

 

 

Fiksi #34 Perjanjian

Kedua belah pihak telah sama-sama sepakat. Ia pun menandatangani perjanjiannya.

Ia membuat perjanjian dengan Iblis

 

 

 

Fiksi #35 Malam Jumat

Malam ini cerah berawan, malam Jumat Kliwon. Malam yang pas untuk keluar dan bersenang-senang.

Ah, kain kafannya masih belum kering, tergantung di jemuran.

 

 

Fiksi #36 Pengukuhan

Ia berlutut saat mahkota kerajaan dipakaikan ke kepalanya. Ia genggam kuat-kuat keris pusaka kerajaannya.

Sekarang ia menjadi raja dan sekarang ia menjadi bukan dirinya.

selamat atas terpilihnya Datuak UKM 12/13 yang baru, M. Ihsan Hardiputra (UKM ‘10, M ‘10)

 

Fiksi #37 Sesajen

Bau kemenyan santer menyengat hidung. Pedupaan menyala merah membara. Kembang tujuh rupa, air tujuh sumur dan pasir tujuh muara dalam tujuh jambangan.

Sekarang ia mempersembahkan anak keduanya.

 

 

Fiksi #38 Princess

Putri Raja itu cantik, langsing dan menawan. Ia akan dijodohkan dengan pangeran yang tampan mempesona dari kerajaan sebelah.

karena itu ia diasingkan oleh ayahnya, lalu beliau mengangkat seorang anak.

 

Fiksi #39 Sleeping Beauty

Sang Pangeran belum datang mengecup bibirnya dan membangunkannya. Sudah terlalu lama ia menunggu dan bermimpi. Entah tidak berani atau tidak mampu untuk datang menjemputnya.

Ia menggeliat, menguap lalu bangkit dari ranjangnya yang berkelambu sutra.

 

Fiksi #40 Sarapan

Aroma kopi dan nasi goreng menggelitik sel-sel penciumannya. Terasa hangat di ujung lidahnya, terasa hangat seakan pelukan ibunda.

Ia mendorong kursi rodanya menuju ruang makan, anak dan istrinya telah menunggu dengan senyuman.

Kompilasi DharmaFiksi part. 1

Berikut kompilasi cerita (super) pendek yang dipublish di akun tumblrku dengan tag #DharmaFiksi.

Fiksi #1Wajah

Seorang memakai topeng, berubah-ubah sesuai lingkungannya. Ia berganti warna seperti bunglon, berganti wajah dengan cepat. membaur begitu rupa, adaptasi begitu cepat.

Suatu saat ia lupa apa warna aslinya, seperti apa wajah sebenarnya. Ia bongkar2 semua topeng, ganti2 semua warna, tapi terasa pahit palsu getir dusta.

Ketika ia mati, ia masih merasa palsu.

 

Fiksi #2 Penantian

Dengkur rekannya terdengar menembus dinding-dinding kamar. Ia masih duduk termenung, dengan cangklong yang sudah hampir padam api tembakaunya. Serasa maut melambai-lambai memanggilnya, siap menebas dengan sabit besarnya.

Besok pagi ia akan turun ke jalan, ke medan perang menuntut tirani.

 

Fiksi #3 Joko

Sambil mengunyah ayam bakar pikirannya berkelana mengenang masa lalu. Mengenang masa-masa kongkow-kongkow dengan sobatnya, minum-minum sambil bermain.

Tapi sekarang cerita berbeda, ia sekarang bukan laki-laki lagi..

 

Fiksi #4 Magrib

Adzan berkumandang, orang-orang berjalan menuju Masjid. Ia tidak bergerak, diam saja disitu. Memandangi orang-orang, pepohonan, rumput dan gemericik air sungai.

Dan ia melihat tubuhnya sendiri tertelungkup layu.

 

Fiksi #5 Jatuh

Gatotkaca melayang jatuh. Tombak Kunta telah kembali ke sarangnya dan mengambil nyawanya sendiri. Menuju alam kematiannya, ia melepas semua pakaian saktinya. Ia mengenang masa kecil yang tidak pernah dialaminya, mengenang panasnya Kawah Candradimuka, rindu belaian Ibu yang tak pernah dirasakannya, kangen bermain-main dengan Antasena dan Antareja.

Sungguh para Dewa sedang bermain-main dengan nasibnya.

 

Fiksi #6 Dinner

Ia memotong-motong sirloin, memisahkan lemak dari daging, mengeluarkan jantung, lidah, paru, usus, hati. Iga, paha, dan kepala mendesis terbakar bara.

Dan anak-anaknya sedang menggerogoti tulang betis ayahnya.

 

Fiksi #7 Blind

Gelap merampas penglihatannya, senyap merampas pendengarannya. Ia bahkan tidak bisa melihat tangannya sendiri. Gelap, sunyi, dingin, pengap. Sempit dan lembab.

Ia terkubur.

 

Fiksi #8 Judi

Bharatayuda berkecamuk. Gatotkaca tewas, Mahaguru Bisma Wafat, Guru Dorna gugur, Abimanyo dikeroyok, Dursasana mati konyol, Karna dibunuh Arjuna. Ribuan bahkan jutaan prajurit tinggal nama.

Dan di Kahyangan para Dewa bertaruh.

 

 

Fiksi #9 Freedom

Terkungkung dalam ruangan sempit, gelap, pengap, bahkan untuk bernapas pun sulit. lalu ia merobek, menendang, memukul, berusaha keluar lepas dan terbebas. Terasa aliran udara, ia menerobos menembus celah sempit.

lalu ia lepas, bebas, dan mengembangkan sayapnya. Ia kupu-kupu.

 

Fiksi #10 Laron

Merangkak keluar dari kantong tidurnya nan hangat tapi mulai menyempit. Gelap, pengap. Ia mencoba keluar dari lubangnya yang lembab beraroma tanah.

Kepalanya muncul setengah, antena merasa-rasai udara nan segar. Matanya tertumbuk pada cahaya yang terlihat hangat dan melambai-lambaikan tangan merayu. Bergegas kembangkan sayap, terbang memutar mengamati cahaya terang tersebut. Serasa hangat, ia segera hinggap..

Lalu terbakar menjadi abu

 

Fiksi #11 Kamu

Kamu sangat baik, sungguh. Perhatian, lembut, dan paling mengerti aku. Kamu paling tahu kalau aku sedang sedih atau senang. Kamu tampan, baik hati, nyaris tanpa kekurangan.

Maaf, saat kamu menyatakan cintamu aku terpaksa menolak. Aku bukan lawan jenismu

Inspired by Efek Rumah Kaca’s song

 

Fiksi #12 Dialog

“Kumohon jangan ganggu dulu, aku sedang bercerita. Masih banyak yang ingin kusampaikan. Tunggu sebentar kumohon”

Dan Malaikat Maut dengan sabar menunggu aku selesai berdoa.

 

Fiksi #13 Penulis

Dia terus menulis tanpa henti. Terus menerus, tintanya tak pernah habis. Catatannya menumpuk semakin tinggi. Bahkan walau tangannya pegal dan letih, pena nya harus terus bergerak.

Dia terus mencatat dosa….

 

Fiksi #14 Rindu

Tak akan ada lagi suapan dari tangannya. Hilang sudah pelukan hangatnya. Dongeng sebelum tidur tak terdengar lagi. Dia sendirian, seperti api unggun yang menyala bara.

Sisa tubuh Ibunya tergeletak tinggal separuh. Ia masih mengunyah-ngunyah iga.

 

Fiksi #15 Dewabrata

Ratusan panah menghunjam tubuhnya. Nyaris tak seincipun yang tak tertembus anak panah. Badannya tak menyentuh tanah, tertahan panah Arjuna dan Srikandi. Ia mengerang menahan sengatan perih.

Di ujung nyawa, ia mulai menyalahkan dewa. Kenapa harus ia yang mengalah meletakkan jabatan putra mahkota, kenapa harus ia yang bersumpah untuk tidak menikah dan menghancurkan cinta nya kepada Amba. Dan kenapa harus titisan Amba yang mencabut nyawanya.

Ia terus mengerang, dan onani dalam pikiran sebelum Baratha Yudha berakhir.

 

Fiksi #16 Akad

Semua orang berteriak “Sah” dengan keras. Anak-anak bernyanyi dan menari riang gembira. Ayah menitikkan air mata, entah bahagia atau sedih.

Pasangannya mengangguk-angguk, dan mulai mengunyah sepotong daging. Ia pun menghambur ke api yang menyala.

 

Fiksi #17 Missing

Ia meraba-raba menyusuri jalannya yang lalu. Mencari dengan gundah, setengah meratap dan menderita. Hendak bertanya tapi tak bisa bersuara.

Hilang entah dimana. Ia mencari kepalanya

 

Fiksi #18 Kuyup

Ia basah kuyup kehujanan terduduk terdiam termangu. Rambutnya lepek tersiram air hujan. Setengah menggigil ia masih duduk menatap hujan. Setengah sadar ia menggumam, seakan merapal mantra.

Ia menunggu pelangi.

terinspirasi dari lagu Efek Rumah Kaca “Desember”

 

Fiksi #19 Pakansi

Ia berbaring menikmati cahaya bulan. Semilir angin menembus merasuk mendamaikan. Serasa hilang semua masalah, serasa terangkat semua beban. Setengah mengantuk matanya terpejam.

Tiba-tiba ia mendengar ayam berkokok. Ia harus kembali ke tubuhnya.

 

Fiksi #20 Kereta

Ia duduk di pintu kereta. Angin menerpa mukanya, dan ia lupa mengikat rambut panjangnya. Tatapannya jauh ke ufuk barat, mengamati mentari segera berselimut malam. Pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat lagi semua kenangan.

Ia akan berhenti di stasiun terakhir.

MUDIK

JAMAL

Telepon genggamku berdering nyaring. Membangunkan dari mimpi indah setelah sahur. “Ibu”, nama yang tertera di layar telepon genggam.

“Lebaran ini pulanglah nak. Bapak sudah tak mampu bangkit lagi, hanya berbaring di tempat tidur. Keinginan terakhirnya adalah melihat wajahmu sebelum ia meninggal” terisak suara ibu di ujung sana.

Pulang. Kata yang sudah lama kulupakan. Pulang kemana?

Rumah? Rumah adalah tempat hatiku berada, dan itu bukan di kota kelahiranku. Bapak yang menghilangkan kata rumah bagiku di kota itu. Tangis ibu dan adik perempuanku bahkan tidak membuat bapak mengubah pendiriannya. Kutinggalkan rumah tempatku dibesarkan, kuhapus jejakku di kota tempatku dilahirkan.

Jauh merantau ke pulau seberang, ibu dan adik perempuanku yang masih menarik-narik tali rindu. Tanpa sepengetahuan bapak, bebearpa kali aku menghubungi ibu dan adikku. Sesulit apapun hidupku disini, tawa ceria yang kuperdengarkan kepada mereka.

Bertahun-tahun, tak sekalipun bapak menanyakan kabarku, tak pernah menghubungiku. Tentu saja, ia lelaki dengan gengsi setinggi langit. Pantang baginya untuk menarik kembali kata-kata yang pernah ia ucapkan.

Sekarang ia memintaku untuk pulang.

Disinilah aku sekarang, dalam bus yang akan mengantarkanku kembali kepada mereka. Memaafkan? Entah, sekarang di pikiranku hanyalah ingin memperlihatkan wajah kemenanganku kepada bapak. Lihatlah siapa yang akhirnya mengalah.

Tapi kemenangan dari apa? Tidak ada yang menang kurasa. Semua kalah, semua jadi abu lalu penyesalan mengendap di dasar hati.

Apa yang kusimpan selama ini? Dendam? Marah? Kepada siapa?

Aku marah kepada bapak yang mengusirku, aku marah kepada waktu yang melengos melaju tanpa melambat, aku marah pada takdir yang menjebakku di keadaan ini. Tapi aku lebih marah pada diriku sendiri.

Aku bersandar ke jendela bus, lalu memejamkan mata, berharap nanti tiba-tiba semua jawaban akan muncul begitu saja diujung perjalanannya.

 

SHANTI

Hatiku berbunga-bunga menjelang Lebaran tahun ini. Banyak hal yang aku nantikan, banyak hal yang ingin aku lakukan. Mudik tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya statusku masih buruh pabrik, dengan kontrak yang tidak jelas dan gaji yang nyaris tidak mencukupi. Tabungan selalu habis setiap kali lebaran, untuk ongkos mudik, untuk keponakan dan ibu bapak.

Pengangkatanku menjadi tenaga administrasi di pabrik menjadikan gajiku naik dengan kerja yang lebih ringan. Masih ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan kepada ibu dan bapakku. Mas Anto berjanji akan menikahiku tahun ini, bahkan setelah lebaran ini ia akan menyusulku untuk melamarku.

Aku nyaris ketinggalan bus. Semalam Mas Anto menelepon dan kami berbicara hampir semalaman. Sejak ia dipindah tugaskan, sangat jarang sekali aku bertemu dengannya. Setyidaknya seminggu sekali ia meneleponku dan paling sering sebulan sekali ia datang mengunjungiku. Setiap kunjungannya membawa kejutan. Terakhir, sebuket seruni putih tiba-tiba dikirimkan ke kontrakanku. Tak ada kartu ucapan, hanya sms darinya menanyakan apakah kirimannya sudah sampai. Aku kira ia tidak akan datang bulan ini, hanya diwakilkan oleh sebuket seruni itu. Tidak berapa lama ia muncul di depan pintu, memelukku erat dan berbisik di telingaku.

“Maukah kau menikah denganku”

Tersenyum-senyum sendiri aku mengingat momen itu lalu tersadar aku sekarang berada dalam bus. Lelaki di sebelahku terlihat muram. Tanpa berbicara dan dari raut wajahnya aku bisa menebak pikirannya sedang berkecamuk. Kutahan senyumku, biarlah bahagia ini kunikmati sendiri saja.

Kukirimkan pesan singkat ke Mas Anto mengabarkan aku telah berangkat pulang.

 

RUSTAM

Istriku menyusun baju-baju bayi ke dalam koper sambil bersenandung riang, seakan menyanyikan lagu nina bobo kepada janinnya. Anak pertama kami, setelah setahun menikah. Tujuh bulan usia janin buah cinta kami, tujuh bulan juga aku harap-harap cemas akan kedatangan anak pertama ini.

Kupeluk istriku dari belakang, kuusap lembut perut buncitnya.

“Abang akan merindukanmu dik. Dua bulan kau di rumah mama, aku akan kesepian” bisikku.

Ia tersenyum lalu mencium pipiku. “Sabar bang, nanti setelah dedek lahir kita akan berkumpul lagi”

Wanita cantik dan keras kepala ini tak pernah kubayangkan akan menjadi pendamping hidupku. Sama sekali jauh dari tipe istri yang kuimpikan dahulu. Tapi semesta seakan berkomplot membuat kami jatuh cinta. Sebuah pendakian menuju puncak tertinggi di Pulau Jawa yang mempertemukan kami dan di puncak tertinggi itu jugalah aku melamarnya setahun kemudian.

Hobi yang sama, berpetualang dan buku yang menyatukan kami. Indah, aku dan dia berbicara melalui lagu, bercakap melalui tulisan. Terpisah oleh lautan, disatukan oleh tulisan. Tak butuh waktu yang lama untuk menyatakan cinta dan gayungpun bersambut. Lalu inilah, aku dan dia, suami istri.

Hamil besar, Ibu mertuaku menyuruh istriku diam di rumahnya sampai ia melahirkan. Pekerjaanku sebagai reporter membuatku terkadang jarang ada di rumah. Apalagi menjelang lebaran, aku harus siap dipanggil untuk liputan arus mudik dan arus balik. Usia kandungan istriku yang semakin tua siap untuk melahirkan kapan saja. Lebih aman kalau istriku bersama ibu mertuaku.

Aku bersiap-siap mengantarkan istriku ke bandara saat tiba-tiba kudengar suara teriakan istriku dari dapur. Jantungku mencelos, kulihat istriku terbaring terlentang. Ia terjatuh, ada darah mengalir dari sela-sela pahanya.

Aku pangku istriku ke mobil. Rumah sakit terdekat berjarak lima belas menit dari rumahku. Kularikan mobilku sekencang-kencangnya, istriku merintih kesakitan. Aku mencoba menghubungi ibu mertuaku tapi tidak ada jawaban.

Laju sedan hitamku kencang seperti dikejar maut. Waktu sedang bertaruh dengan nyawa mereka. Anak istriku yang sedang dikejar maut. Tak henti-henti aku menyebut nama Tuhan, batinku berteriak keras berdoa memohon keselamatan mereka berdua.

 

DEDEN

Susah payah kutahan mataku agar tidak tertutup. Aku mengantuk, sementara aku masih harus menyetir empat jam lagi. Resiko menjadi sopir bus antar kota, harus menyetir delapan jam tanpa henti, lalu istirahat delapan jam dan kembali menyetir delapan jam lagi. Begitu terus hingga sampai di kota tujuan.

Seharusnya semalam aku tidak mengunjungi pelacur tua itu. Tak sedikitpun aku memejamkan mata, tenggelam dalam samudra birahinya. Tapi setiap kali aku berada di kota ini, selalu ingin mengunjunginya. Matanya yang hitam gelap seakan memaksa untuk merindukannya.

Menjelang hari raya ini berarti masa panen bagi orang-orang sepertiku, yang hidup dari debu jalanan, asap knalpot dan lika-liku jalan. Tak akan ada fasilitas libur lebaran dan tunjangan hari raya. Menjelang hari-hari besar aku menyusuri jalanan mengantarkan orang-orang kembali ke kampung halamannya kembali ke keluarganya.

Keluarga? Istri dan anakku minggat, meninggalkanku setelah aku di pecat beberapa tahun yang lalu. Jalanan yang memberikan kehangatan saat ini, bukan lagi rumah. Perempuan-perempuan bermata jeli yang memberikan kasih sayang, bukan lagi seseorang yang menunggu di rumah.

Apakah aku sedang lari? Lari dari masa lalu yang pahit, lari dari kesepian dan kesendirian. Lari ke satu pelukan ke pelukan pelacur lainnya. Kencang melesat seperti bus ini meninggalkan masa lalu yang terus membayang di kaca spion.

Aku melirik ke kaca sion, penumpang di belakangku tertidur. Yang satu memejamkan mata dengan wajah penuh sesal, dan satu lagi tersenyum seakan menang lotre. Kontras, seperti berada di dunia yang berbeda.

Bunyi klakson nyaring dan panjang menyentakkanku dari lamunan setengah kantuk.

 

USMAN

Bunyi keras berdentum membangunkan setengah tidurku di bale-bale depan rumah. Tersentak, aku berharap pemandangan ini hanyalah mimpi.

Pecahan kaca, potongan logam, asap knalpot, darah dan rintihan kesakitan melebur dalam semua indra. Samar-samar rasanya kudengan tangisan bayi.

 

Bandung, Juli 2013

Fiksi: Dongeng

Aku tumbuh dan besar diantara tumpukan buku-buku. Ayahku mempunyai perpustakaan pribadi yang besar. Ratusan bahkan ribuan buku ia miliki. Beliau mendidikku dengan buku, mengisi diriku sehingga mencintai buku-buku.

Diantara buku-buku ayahku, cerita dongenglah yang kusukai. Cerita tentang putri raja yang diselamatkan oleh pangeran tampan berkuda putih. Cerita tentang pangeran yang dikutuk oleh penyihir yang iri akan kebahagiaan keluarga kerajaan. Cerita yang selalu berakhir bahagia.

Semakin dewasa, semakin aku menyadari ada tokoh-tokoh yang terlupakan dalam setiap cerita. Pemeran pembantu, kalau di film. Tidak ada yang menceritakan bagaimana nasib kurcaci yang menemani putrid di pengasingan, tidak ada yang menceritakan nasib hewan-hewan yang memberikan hiburan pada pangeran yang dikucilkan.

Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa  pelawak istana atau Joker ternyata mencintai Putri Raja amat sangat dalam. Tidak ada yang menyadari bahwa bertahun-tahun ia menghibur keluarga kerajaan demi Putri Raja yang berwajah elok nan baik budi.

Pada akhirnya, Joker memendam dalam-dalam rasa cintanya kepada sang putri. Joker yang setia menghibur sang putri setiap kali tenggelam dalam kesedihan. Jokerlah yang menghadirkan senyum sang putrid saat mengetahui bahwa pangeran pujaan yang ia nikahi berselingku dengan putrid seorang bangsawan.

Joker yang tulus mencintai dan tidak pernah mengharapkana cintanya berbalas. Joker yang sangat berbahagia melihat senyuman pujaan hatinya.

Aku mulai menggoreskan penaku di kertas putih, menuliskan dongeng tentang Pelawak yang mencintai dalam diam.

 

29 Januari 2014