Jalan Jihad Sang Dokter, a true story

Posted in Resensi Buku on January 6, 2012 by sutanrajodilangik

Judul buku: Jalan Jihad Sang Dokter, a true story
Penulis: dr. Joserizal Jurnalis & Rita T. Budiarti
Penerbit: Qanita
Tahun: Juli 2011
Tebal: 332 halaman

Di masa modern saat individualistis sangat kental, tidak banyak orang-orang yang rela berbagi dan berbuat kebaikan untuk orang lain khususnya di kota besar. Contoh gampang bisa kita lihat di dalam bus, jarang sekali kita dapatkan ada orang yang mau berdiri memberikan tempat duduknya untuk orang tua, wanita dan ibu hamil.
Tapi sebenarnya masih ada orang-orang yang masih mau berbuat untuk orang lain. Bahkan kadang kita menyebutnya nekat, menceburkan diri ke dalam bahaya untuk memberikan bantuan bagi orang lain.
“Sebenarnya para korban tidak membutuhkan dirinya. Allah bisa mengirimkan dokter mana saja untuk membantu mereka. Dialah yang mebutuhkan mereka. Dia butuh disini, karena itu Allah mengirimnya ke Ambon” (hal : 56) salah satu kutipan dalam buku dr. Joserizal ini menggambarkan keikhlasan dan kerendah hatian seorang relawan. Dengan membantu orang lain maka kita akan belajar untuk bersyukur atas semua nikmat yang Allah limpahkan kepada kita.
Buku “Jalan Jihad Sang Dokter” ini menggambarkan perjalanan dr. Joserizal selama menjadi relawan baik ketika konflik Ambon maupun krisis Palestina. Kisah hidup beliau ditulis sedemikian rupa sehingga kita merasa sedang membaca sebuah novel. Alur penceritaanpun dibuat melompat-lompat tapi tetap berhubungan sehingga tidak menimbulkan kebosanan ketika membaca. Penggambaran peristiwa dan lokasi sangat kuat sehingga kita seakan-akan bisa melihat kondisi di daerah konflik dengan jelas dan nyata.
Dalam buku ini pembaca bisa belajar ilmu ikhlas dalam membantu orang lain. Selain itu mengajak pembaca untuk yakin bahwa pertolongan Allah akan selalu datang untuk hamba-Nya yang membutuhkan. Percayalah bahwa niat baik insya Allah akan diridhoi-Nya.
Buku ini mengingatkan kita bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya. Sangat dianjurkan untuk dibaca orang-orang yang bergerak di bidang sosial/kerelawanan.

Qur’an

Posted in Iseng Aja on August 5, 2011 by sutanrajodilangik

Sebuah pertanyaan untuk kita semua yang mengaku Muslim

“Berapa kali mengkhatamkan Qur’an dalam setahun?”. Atau kalau nggak diganti pertanyaannya “Berapa kali mengkhatamkan Qur’an dalam 5 tahun ini?”. “Berapa kali mengkhatamkan Quran selama umurmu?”

Bisakah kita tidak pernah lupa membawa Quran setiap hari seperti kita tidak pernah lupa membawa dompet dan ponsel kita?. Apakah kita membaca Qur’an tiap hari seperti kita membaca koran setiap pagi? Kita mampu membaca sebuah buku tanpa bosan tanpa henti bahkan sampai begadang, tapi kenapa tidak untuk Quran? Kita melakukan kajian yang dalam membedah sebuah buku, tapi kenapa tidak dengan Quran?

Cantik

Posted in Iseng Aja on July 9, 2011 by sutanrajodilangik

cantik can.tik
[a] (1) elok; molek (tt wajah, muka perempuan); (2) indah dl bentuk dan buatannya: meja ini — sekali

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/cantik#ixzz1RXO7m0lW

Pertanyaan yang selalu muncul, bagaimana kita mendefenisikan cantik? Kali ini aku berbicara tentang kecantikan pada wanita, bukan tentang alam, ataupun hal lain. Benar kata ujar-ujar “Cantik itu relatif”. Di Indonesia, umumnya wanita dikatakan cantik jika ia berkulit putih mulus, tapi di negara Barat, para wanita tergila-gila menggelapkan kulitnya supaya ingin terlihat cantik. Di sebuah negara di Afrika, seorang wanita disebut cantik apabila ia berbadan subur/ gemuk. Ada suku yang memanjangkan lehernya dengan cincin untuk dianggap cantik.

Kecantikan itu seperti kebenaran, menurut pada pendapat orang banyak. Tapi berhakkah kita mengatakan seorang wanita itu tidak cantik karena kulitnya gelap, karena mulutnya agak tebal, atau karena hidungnya tidak mancung?

Ada sebuah kutipan yang menarik “Semua wanita itu terlahir cantik, dan kadang sudut pandang kecantikannya tidak bisa dilihat semua orang”. Menurutku, itu bukan hanya kecantikan fisik – yang sangat relatif – tapi lebih ke kecantikan jiwa (inner beauty). Mungkin kalian pernah melihat seorang wanita yang menurut pandangan umum tidak cantik, tapi menyenangkan dijadikan teman curhat, atau bisa menjadi teman berbagi pikiran kalian.

Kecantikan fisik sebenarnya hanyalah semu belaka. Seiring bertambahnya usia, kecantikan fisik akan memudar dengan sendirinya. Tapi kecantikan jiwa susah untuk berubah. Kalau aku, sangat bikin il-feel klw ada cewek cantik fisik, tapi judesnya minta ampun, atau sombongnya minta dihajar. Hahaha. Tidak sedikit orang yang terjebak kecantikan fisik, dan akhirnya menyesali apa yang telah dia pilih. Tidak sedikit pernikahan berujung selingkuh karena sang istri telah mulai memudar kecantikannya. Usia 40-an bagi wanita merupakan mulai memudarnya kecantikan, tapi bagi laki-laki itu adalah usia matang mereka.

“Don’t judge a book by its cover”, itu sangat benar, tapi susah. Walau bagaimanapun, kesan pertama ketika bertemu seorang wanita adalah tampilan luarnya. Sesuai ujar-ujar Minang “Mato condong ka nan rancak, lidah condong ka nan lamak” (Mata cenderung ke yang cantik, lidah cenderung ke yang enak”.

Hati dan jiwa, kecantikan pada dua hal itu yang merupakan kecantikan tanpa tanding. Bukankah Rhoma Irama pernah bersenandung “Hanya istri Shalihah perhiasan terindah”. Keimanan merupakan bentuk kecantikan hati kan?

Jangan terpesona kecantikan fisik, tapi gali lebih dalam kecantikan hati dan jiwa. Kalau kalian beruntung, mudah-mudahan mendapatkan pasangan yang cantik fisik dan jiwa. Dan mudah-mudahan gw termasuk yang beruntung itu. Kalaupun salah satu, kecantikan jiwa lah yang utama. Setuja (SETUJu dan yA) kan?

Untuk Kawanku

Posted in my poem on July 7, 2011 by sutanrajodilangik

Selamat malam

Mari bercerita lagi

tentang hari-harimu, tentang aku, kamu, dia, dan lainnya

 

Ditemani secangkir kopi panas, wangi mengepul.

Bir dingin?

Terdengar cukup nikmat di malam yang cukup panas ini,

tapi maaf, aku tidak minum

 

Masihkah kau terjebak diantara si Rubah dan si Kucing?

Memang tidak mudah melupakan cerita yang kau susun

beberapa belas purnama.

 

Ah sudahlah, nikmati saja malam ini

lebih baik kita bercerita saja

tentang negeri kita yang semakin kocak.

 

Di negara manalagi kau akan menemukan lumpur membanjiri kota,

tiba-tiba menyembur dari dalam tanah seperti mata air?

Di negara mana lagi akan kau temukan sebuah berita tiba-tiba mendominasi

mengalihkan perhatian dari berita sebelumnya?

Tak akan pernah kau temukan di tempat lain, tiba-tiba seseorang lari ke luar negeri

hanya untuk memeriksa tukak lambung.

Hanya disini, pemimpin yang katanya pelayan rakyat,

tapi malah bikin repot rakyatnya saat dia berkunjung.

 

Jenuh?

Sama, aku juga jenuh dan muak.

Tapi apa hendak dikata

Hanya disini tempatku, kamu, dan mereka berpijak.

 

Aku tahu kamu gatal hendak bergerak

tapi harus bagaimana.

Kau punya anak dan istri dengan segala kebutuhannya..

Atasanmu berkacak pinggang di saat dead-line.

Mertuamu dirawat karena stroke.

 

Engkau terikat diantara idealisme dan realita.

Engkau mantan pejuang, tombak terdepan setiap aksi

sekarang menundukkan kepala di depan orang-orang yang kau teriaki dulu

 

Lihat, perutmu semakin membuncit

serupa bapak-bapak yang engkau ejek-ejek dahulu

Suaramu semakin pelat sobat,

langkahmu semakin lambat,

otakmu tumpul matamu kabur buram oleh jabatan.

tumpul karena lagu-lagu indah itu.

 

Kenapa engkau malu bercerita tentang masa lalu kita?

saat-saat kita bergerak, berteriak bersama.

Ingatkah engkau lagu yang kita nyanyikan dulu?

“Kita muda, beda dan berbahaya”

 

Engkau sekarang lebih asyik bercerita

tentang proyek 9 digitmu, hobi barumu, cicilan rumah, atasan.

Tak apa, aku tetap jadi pendengar setiamu

sampai kau berbuih bercerita.

 

Tak apa, aku masih disini kok,

menantimu dikedai kopi ini.

Duduk diam dalam damai,

sambil menyesap kopi kesukaanku

Hitam, pahit, dan panas.

Berbicara Tentang Cinta (Lagi)

Posted in cerita ku, Iseng Aja on June 19, 2011 by sutanrajodilangik

Sejak Rabu 15 Mei 2011, seorang teman dari Jogja datang ke Bandung. Ia akan mengikuti test di Unpad. Karena ketika aku di Jogja kemarennya ia telah menemani dan menjadi tuan rumah yang baik, selayaknya aku juga harus bisa menjadi tuan rumah yang baik.

Malam minggunya, pengennya sih ngajak nongkrong rame-rame menikmati udara malam Bandung. Tapi apa daya, akhirnya hanya berdua saja (mudah-mudahan ga disangka homo lagi kencan).

Nongkrong (bukan dalam arti sebenarnya ya) di sebuah cafe yang menyajikan kuliner khas tanah rencong sambil ngobrol ngalor ngidul ngulon wetan. Tapi ternyata pembicaraan malam itu didominasi topik tentang Cinta. Saling bertukar kisah asmara, sesekali berganti topik, atau terpotong memandangi pengunjung cafe untuk menyegarkan mata.

Kata-kata yang cukup menarik yang ia lontarkan “Cinta itu tentang perasaan, jadi jangan dilogiskan. Bukan berarti kamu mengenyampingkan logika dan mendahulukan perasaan. Tapi juga jangan hanya memakai logika saja dan tidak mengindahkan perasaan”

Menarik, karena emang seperti itu harusnya supaya kisah cinta bisa tertoreh manis tanpa ada sakit hati atau luka yang membekas. Tapi terkadang kita sulit menentukan kadar sejauh mana logika dan perasaan akan digunakan. Ada saat logika yang menang, ada saatnya perasaan yang memimpin.

Itu satu hal, hal yang lain terkait fitrah Laki-laki yang logis dan wanita yang perasa. Akibatnya kadang sedikit perhatian yang menurut kaum lelaki biasa saja, tapi bisa diartikan berbeda oleh wanita. Aku dan dia ternyata sama-sama beberapa kali terjebak dalam masalah yang sama. Salah sangka dan salah paham. Bukan bermaksud menyakiti, tapi ternyata jadinya menyakiti. Perhatian yang disalah artikan dan guyonan yang dianggap serius umumnya penyebab kesalah pahaman tersebut.

Kita sama-sama mengakui bahwa kita adalah lelaki dengan paras yang biasa saja, penampilan yang urakan, dan kelakuan yang kadang seenaknya. Tapi ternyata sms yang penuh perhatian, guyonan yang agak menjurus ke flirting, pendengar cerita yang baik yang menjadi penyebab banyak yang tertipu dan terlena. Hehehe.

Tapi aku rasa kami sama-sama menarik kesimpulan yang sama (walau tidak diucapkan) bahwa kami masih harus belajar banyak dan harus mengenal lebih jauh lagi tentang macam-macam karakter wanita. Bertindak lebih hati-hati lagi supaya tidak menyakiti hati.

Cinta Sejati

Posted in Iseng Aja on June 17, 2011 by sutanrajodilangik

cinta cin.ta
[a] (1) suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup — kpd kami semua; — kpd sesama makhluk; (2) kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak — kpd lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya; (3) ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa — nya akan kemerdekaan; (4) kl susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi — nya ditinggalkan ayahnya itu

sejati se.ja.ti
[a] sebenarnya (tulen, asli, murni, tidak lancung, tidak ada campurannya): bangsa Melayu ~

sumber: http://kamusbahasaindonesia.org/

menurut KBBI berarti cinta sejati adalah bentuk kasih yang tulen, murni. Tapi secara makna ternyata tidak sesederhana itu. Banyak kepala, maka pemaknaan pun berbeda.

Saya mencoba membahas tentang cinta sejati. Ini diluar cinta Allah kepada makhluk-Nya, dan cinta ibu kepada anaknya, karena emang itu tiada tandingannya dan bandingannya. Kita coba membahas cinta antar insan berbeda jenis kelamin.

Konon, jika kita mencintai seseorang, kita akan menangis ketika dia bersedih, dan akan ikut tertawa ketika dia bahagia. Kita rela melakukan apa saja untuk membahagiakan dia, mengorbankan apa saja demi dia. Kita tidak lagi memandang harta, keturunan, ataupun kecantikan jika memang sudah cinta.

Cinta tidak muncul dari harta, kecantikan, ataupun keturunan, tidak segampang itu. Biasanya muncul dari perhatian, bagaimana cara kita memperlakukan, sifat dan kelakuan. Ada juga yang jatuh cinta karena keimanannya. Tak jarang ada yang jatuh cinta padahal belum pernah bertatap muka sama sekali. Apalagi saat sekarang dimana teknologi informasi sudah teramat maju.

Sekarang, bagaimana definisi cinta menurut kamu?

Anak-anak Ibu Pertiwi

Posted in my poem on February 24, 2011 by sutanrajodilangik

Duhai Ibu Pertiwi

lihatlah kami anak-anakmu,

terlena dimanja teknologi

disuapi informasi terus menerus tanpa jeda

tertipu ilusi maya, dan tenggelam dalam hayal tak tentu

mencari kesenangan dalam mimpi

 

Perhatikan kami Ibu

kami generasi yang bermain-main dengan kelamin

berlari-lari dalam pelacuran, berbayar atau tidak

terjebak kubangan nafsu purba

 

Kami adalah anak-anakmu yang anarkis

kesenangan kami adalah merusak,

kecintaan kami adalah penindasan

Kekasih kami perkelahian, dan

bercumbu dengan keegoisan kami

 

Cintai kami Ibu, Generasi yang religius.

arta adalah tuhan untuk kami,

tahta tujuan kami, surga kami,

bernabikan kekuasaan

ibadah dengan pesta pora

 

perhatikan kami berenang dalam kabut mariyuana

tertidur nyenyak di atas kasur candu

dalam nyamannya selimut narkotika

 

Jangan takut Ibu Pertiwi

walau kami dibutakan harta dan tahta

tak lupa kami bersedekah dalam keapatisan

keegoisan dan ketidakpedulian

Popularitaslah jalan Sufi kami

kecantikanlah “Rumi” kami

 

Saat kami terbelenggu kemiskinan, rendah terhina

kami masih bebas merampok, mencoleng

tak terhalang memperkosa

 

Banggakah engaku pada kami Ibu?

Tubuh-tubuh indah, rambut cantik

kami pamerkan, kami tunjukkan, kami pertontonkan

kami terpelajar, berpendidikan tinggi

bekerja di perusahaan multi-nasional.

walau kami terjebak kebodohan

selalu ada jalan untuk hidup

di lorong-lorong selokan, berteman dengan tikus-tikus berdasi

menjadi budak coro-coro dunia hitam

 

Siapakah bapak kami wahai Ibu yang Bijaksana

para pendahulu kami adalah anak perjuangan

dan engkau melahirkan Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir, Diponegoro dan Hasanuddin

 

Siapakah ayah kami wahai ibu yang selalu dian?

sehingga kami menganut ajaran kekerasan

berkiblat materialistis, menjadi budak Eros

 

Kenapa setelah engkau menikah dengan Kemerdekaan

engkau melahirkan anak-anak seperti kami?

dan anakmu yang lurus terkucilkan

bersusah payah  berjuang melawan arus

 

Tertawakan kami ibu

saat terseok berjalan lurus

saat serak suara kami meneriakkan kebenaran

karena tidak ada yang membimbing, mendengan, melihat, memperhatikan

 

Biarkan saja

ketika kami terjebak roman picisan

terpaku romantisme masa lalu

 

lalu sadarkan

ketuk jantung hati

sembuhkan impotensi kami

sehingga anak-anak kami bangga.

 

Dharma Poetra

Februrari 2011

Trip to Sempu Island, The Hidden Paradise

Posted in cerita ku with tags , on January 17, 2011 by sutanrajodilangik

05 Januari 2011,

SMS dari Da Naldo “ Bawa alat tidur, masak, minum, penerangan, air mentah, makanan 5 kali makan, obat pribadi, ponco dan jaket”. Ini bukan SMS jarkom untuk OSpek atau semacamnya, ini perlengkapan untuk Trip ke Pulau Sempu.

Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ini Sempu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata air payau.

Secara geografis, Pulau Sempu terletak diantara 112° 40′ 45″ – 112° 42′ 45″ bujur timur dan 8° 27′ 24″ – 8° 24′ 54″ lintang selatan. Pulau itu memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikepung Samudera Hindia di sisi selatan, Timur dan Barat.

Pulau Sempu dapat ditempuh dari Malang melalui Pantai Sendang Biru, dan penyeberangan menggunakan perahu nelayan, serta mendapat perijinan.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sempu

 

Gw kebetulan diajak untuk turut serta trip ke P. Sempu ama si Bowo. Katanya sih bareng dosen Kimia. Eh, tapi ternyata si Bowo nya ga jadi ikut. Perjalanannya direncanakan sekitar 5 hari p-p.

10 Januari 2011,

kita ngumpul di sekre Amisca jam 13.00 siang, kenalan ama temen-temen seperjalanan. Jam 14.15 berangkat ke Stasiun Bandung, menunggu KA Malabar Ekspress mengantarkan kami menuju sebuah perjalanan yang tak terlupakan.

22.30 Malabar Ekspress

Angin malam menampar-nampar muka dari jendela gerbong yang terbuka. Sebagian penumoang sudah tenggelam dalam mimpi dan perjalanan menuju P. Sempu masih jauh. Baru 7 jam perjalanan, bersama teman2 baru, kenalan baru. Rencana gw yang ingin trip ke sempu pada libur lebaran lau batal, dan sekarang akhirnya terlaksana. Rasanya pasir putih, angin laut, dan laut jawa sudah memanggil-manggil ke dalam pelukannya.

Tian, Kevin, Boim, Doni, Fainan, Pak Bambang (ternyata beliau seumuran ama Uda gw yg sulung, haha), Adit, Da Naldo, dan Salim yang belakangan nyusul di Malang, teman seperjalanan petualangan kali ini. Tawa canda tak henti-henti mengalir selama perjalanan. TTS pun menjadi kawan pengusir kebosanan selama perjalanan. Iya, buku TTS yang dibeli di stasiun, yang (dulu) ada hadiah stiker untuk mengobati sakit mata.

11 Januari 2011

03.00 Stasiun Madiun

“Nasi Pecel Anget, nasi pecel anget” teriak mas-mas pedagang merayu-rayu perut yang tiba-tiba berontak minta diisi. Entah Sarapan, makan malam, atau sahur, yang penting bisa menenangkan si daerah Sumatra Tengah yang bergolak ini. Tiba-tiba setelah makan, Doni kasak-kusuk nyari rokoknya. Entah hilang kemana, tapi rokok yang lain masih ada tergeletak di sana, hanya rokoknya yang raib. “jangan-jangan loe mimpi dan ngelempar rokok itu keluar jendela don..” kata yang lain ngegodain doni. Dan bener, rokoknya ternyata jatuh di bawah kursi. Setengah bungkus Djarum Super ga jadi raib.

07.50 Stasiun Kepanjen

Rombongan turun di Stasiun Kepanjen, nyewa angkot ke Turen (si Salim disuruh nyusul ke sana), sarapan yang murahnya bener-bener bikin heran (Nasi rawon + bakwan jagung+ es the Cuma 6500)  dan langsung meluncur ke Sendang biru sebelum akhirnya Nyebrang ke pulau Sempu.

11.30 Sendang Biru

Angkot yang sempit terguncang-guncang selama perjalanan menuju Sendang Biru. Mendarat, istirahat sebentar, beli Ikan laut untuk dibakar ntar untuk makan malam. Oke, saatnya menyeberang menuju pulau Sempu. Gw sama sekali ga punya bayangan trek seperti apa yang akan menanti. Udah pernah baca sih, catatan perjalanan lain yg udah duluan kesana, katanya treknya cukup berlumpur. Gw kesana ditemani si Red Rose, Carrier Merah maroon gw, dan pake sandal gunung. Pukul 13.00 kita mulai berjalan menuju Segara Anakan. Treknya bener2 berlumpur, licin, dan emang ga layak diterjang pake sandal. Seperempat perjalanan terakhir, sandal gw nyerah, setelah selalu copot2 mulu, akhirnya nyekermen aja. Lumayan lah, nyiksa kaki. Apalagi si Doni ya, yg dari awal udah nyeker karena sendalnya emang ga layak untuk dipake trekking kek gitu.

Ransel di punggung membebani pundak. Letih, lelah, kotor berlumpur. Tapi semuanya terbayar lunas ketika melihat pemandangan yang terbentang di Segara Anakan ini. Sepotong surga terjatuh di Laut Jawa. “finally”, mungkin itu yang ada di pikiran ketika kaki menginjak pasir pantai. Istirahat, membasuh badan, dan mulai memasang tenda.

Badai… hujan badai menerpa, menampar-nampar, mengkhawatirkan. Untunglah hanya sebentar, dan hanya gerimis yang menemani senja itu. Makan malam disiapkan. Ikan yang dibeli di Sendang Biru mulai dibakar, nasi sedang dimasak. Hanya makan malam yang sederhana, nasi putih, ikan bakar, dan kuah kaldu. Tapi cukup mengganti energy yang hilang selama perjalanan tadi siang.

22.00 Segara Anakan

Makan malam sudah selesai, kopi telah diminum, rokok pun telah dihisap. Badan harus diistirahatkan, dan mata sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Mari menyusup dalam sleeping bag, pejamkan mata, dinina-bobo kan oleh desir angin dan deru ombak. Tawa canda disudahi terlebih dahulu. Langit Segara Anakan yang gelap menjadi selimut, pasir putih alas tidur di alam yang besar ini. Mendengkur karena lelah, gelisah akibat binatang-binatang kecil yang mencari rejeki dari tubuh-tubuh yang sedang mengunjungi alam mimpi.

12 Januari 2011

05.00 Segara Anakan

Fajar telah menyingsing, Subuh pun telah tiba, perlahan mata mulai membuka. Saatnya Sholat Subuh dan menikmati kopi panas ditemani asap tembakau.

Sarapan disiapkan, dan yang lainnya menikmati pemandangan di bukit karang. Nasi putih, ikan asin bakar, sarden, dan mie rebus untuk mengisi lagi tenaga menuju perjalanan pulang.

08.00 Segara Anakan

Duduk di tepi pantai, menikmati sepotong Surga yang terjatuh di laut Jawa ini. Bukit karang yang mengelilingi Segara Anakan mempesona dan memikat. Air laut yang jernih memantulkan kebesaran Ilahi. Saat itu, tidak ada rombongan lain yang mengunjungi Segara Anakan, hanya kami. “that’s what they called paradise” ujar Salim dengan (sok) bijaknya. Pulau tak berpenghuni ini bagaikan sepotong intan yang belum diasah, tapi sudah memancarkan kilauan indahnya.

Hei, ayo menikmati sejuknya Air Laut, setelah puas bermain bola di pantai. Tak satupun yang tidak nyebur. Bahkan yang tidak bisa berenang sekalipun. Tidak terlalu dalam kok sebagian besar danau asinnya. Sekitar satu setengah meter-an lah kira-kira. Main-main di air, berfoto, main lagi di air. Perjalanan pulang? Ntar aja deh dipikirin.

10.30 Segara Anakan

Oke, saatnya bersiap-siap pulang. Bersihkan lagi semua sampah-sampah yang ada, masukkan semua barang ke dalam ransel, dan perjalanan pulang dimulai. Treknya agak lebih kering dibanding kemarin. Perjalan pulang lebih cepat, walau lelah tidak bisa dihindari.

Merapat di Sendang Biru, ngaso sejenak sambil menikmati es cincau yang menyegarkan. Saatnya kembali. Bukan, bukan ke Bandung. Kita mampir dulu di Malang, di rumah adiknya Pak Bambang, daerah Plaosan Timur. Mandi, hal yang wajib, rambut panjang ini sudah meronta-ronta minta dibersihkan dari pasir, lumpur yang melekat, badan asin bergaram air laut. Segar, dan rileks setelah badan bersih.

Makan malam dihidangkan, walau hanya dengan Nasi, Ikan Asin, Tempe Goreng, Sayur Lodeh dan Sambel Cobek (tidak lupa rendang dari Da Naldo dan Tian). Sebenarnya bukan “walau hanya” sih, udah cukup mewah dan nikmat banget.

Obrolan malam berlanjut. Tawa canda mengalir, seakan lupa lelahnya perjalanan. Tapi sekali lagi, badan harus segera diistirahatkan. Asam laktat yang menumpuk di setiap inci badan ini harus dialirkan lagi.

13 Januari 2011

05.00 Plaosan Timur, Malang

Bangun tidur bukannya badan makin rileks, yang ada pegal-pegal sekujur badan. Kayaknya harus dibawa jalan-jalan ringan di kota Malang. Setelah sarapan Nasi Pecel, kami menuju Pusat Kota Malang, mencari buah tangan untuk orang-orang yang dikasihi. Keripik buah-buahan khas Kota Malang, Apel Malang, menjadi bawaan pulang ke Bandung. Oke, saatnya kembali ke Bandung dan melanjutkan aktivitas.

15.00 Stasiun Kota Malang

Menanti Malabar Ekspress lagi, yang akan mengantarkan kami kembali ke Kota Kembang. 15 jam lebih perjalanan di kereta menanti. Tawa canda dan cerita-cerita masa remaja mengusir kebosanan selama perjalanan. Humor-humor “stensilan” mengalir deras keluar, maklumlah, rombongan yang isinya lelaki semua. Tidak lupa, TTS pun ada, supaya tidak garing.

14 Januari 2011

08.30 Stasiun Bandung

Udara pagi kota Bandung menyapa, mengucapkan Selamat Datang kembali di kota Kembang. Rombongan kami langsung menuju kampus, ngumpulin foto-foto, dan melaksanakan satu “Misi” lagi. Hehehehe.

Itulah, walau hanya beberapa hari tapi akan menjadi sebuah halaman khusus dalam Album Kehidupan. Toh hidup itu adalah sebuah petualangan, dan perjalanan mencari kearifan kehidupan tak pernah berhenti.

 

Keterangan:

Biaya transportasi Bdg-Sempu-Bdg

KA Malabar Ekspress BDG-MLG                : Rp. 90.000/org

Angkot Kepanjen-Sendang Biru                : Rp. 250.000/10 org

Sewa perahu pp                                               : Rp. 100.000/10 org

Angkot Sendang Biru-Malang                    : Rp. 325.000/10 org

KA Malabar Ekspress MLG-BDG               : Rp. 100.000/org

Total                                                                     : Rp. 257.000/org

Masa SMA

Posted in Aku dan orang-orang di sekitraku.. with tags , , , , , on December 29, 2010 by sutanrajodilangik

Salam untuk teman2 SMA gw..

Kata orang-orang masa SMA adalah masa yang paling bahagia. Tak terlupakan. “Merekah bersemi, gairah, masa di SMA. Semerbak harumnya nirwana tak akan terlupa” demikian Aprilia Apsari menyanyikannya dengan White Shoes and The Couple Company.

Bagi gw pun ga jauh berbeda. Masa-masa yang tak akan terlupakan. Melompat ke SMA 1 Padang dari SMP 1 Padang, (untung ga nyangkut di SMA PGRI 1 yang masih tetanggan). Nyasar di kelas I.6 yang notabene diisi oleh orang-orang nyaris ga waras.

1. Kelas I.6 (Six’ers 02/03) wali kelas: Ibu Amriati

Kumpulan orang-orang setengah waras setengah gila. Ketika MOS aja udah jadi kelas paling bengal. Maklum lah, isinya Cakra, Kojek, Isan “Rakau”, Angga “Botak”, Bharata “Bajay” Wardhana, dan para cecunguk-cecunguk lainnya. Hahaha. MOS dapet kakak MOS yang gokil si Bang Rifky “Tuneh” (satu lagi lupa siapa). Akhirnya MOS jadi kelas dengan nilai terjelek. Hahaha, gapapa sing penting hepi.

Ini adalah kelas paling ga jelas dengan orang-orang ga jelas. Pada main Domino di kelas, tiba-tiba ada kompetisi adu panco, bikin pagelaran dengan tema Pasca Bom Bali. Random banget lah kelas ini.

Kelas I ikutan Paskibra/PBB SMA 1 Padang, dan disana belajar Push-up gara-gara ama Buk Mis (Pembina Paski waktu itu) dikatain dadanya ceper banget. Dan selama kelas 1 tiga kali ngebotakin rambut. Awal semester 1, pelantikan Paski, dan pengiriman untuk seleksi Pasda/Pasnas.

Hmm, apalagi ya memory kelas 1 SMA. Oh ya, main bola siang-siang terik. dan anak-anak cowok kelas gw alhasil pada “gelap” semua. Ikutan seleksi OSIS, dan terpilih jadi Pengurus Inti OSIS SMA 1 Padang 2002/2003. Entahlah, kok bisa masuk jajaran 8 suara terbanyak, dengan Andina Dharma Putri jadi Ketua Umumnya. Oh ya, disini muncul kecintaan gw ama Fisika, mungkin karena si pak Iwa-K yang jadi gurunya asyik orangnya.

Yang menarik, di kelas gw itu 10 anggota kelasnya adalah anak Paski, maka setiap ada latihan untuk LTUB atau pengiriman, otomatis seperempat isi kelas keluar. Hahaha, jadi sepi..

2. Kelas 11.8 (Durex 03/04) wali kelas: Ibu Hanifah Amir

Kelas yang termasuk Abstrak juga. katanya sih kelas Unggul, tapi isinya sama aja kok, sakit jiwa juga. Haha.. Di kelas ini pertama kali gw dipanggil Abak. Namanya anak SMA yang masih labil dan mencari jati diri, si anak-anak bikin kek silsilah kelas gitu, dan gw dengan indahnya jadi Abak 6 orang anak Cewek. Amaknya ada sih, cakep, hahahaha (tapi bukan pacar gw, cuma pura2 jadi maknya anak2 doang)..

Kelas 2, sama Ketos sebelumnya disuruh maju untuk pemilihan Ketua Osis berikutnya. Bahkan sama anak-anak Paski juga didesak untuk maju. Ya udah deh maju, dan entah kenapa kepilih jadi Ketua Umum OSIS SMA 1 Padang (yang milih rabun kali ya.. hahaha).

Pemilihan Ketua Umum dan pengurus Inti di SMA gw itu caranya kek gini. Pertama seleksi wawancara dengan Senior-senior OSIS-MPK terdahulu (yang kelas 3), lalu yang lolos akan wawancara dengan Guru-Guru Pembina OSIS. nah, yang disini, akan tersisa 10 orang yang akan mengikuti Kampanye dan pemungutan Suara. Siswa SMA gw itu sekitar 1000-an total semua, dan masing-masing bisa memilih 3 calon. Dan Gw ngedapetin 600 lebih suara (ini setelah lama pemilihan gw taunya jumlah angkanya..). Keknya beneran salah pilih semua deh. Hahaha.. Dari 10 calon, 8 orang dengan suara terbanyak akan menduduki jabatan di Pengurus Inti OSIS. Tapi siapa yang akan jadi KetUm nya tergantung hasil diskusi antara Pembina OSIS dan Pengurus OSIS sebelumnya. Jadi ga mutlak kalau suara terbanyak pasti jadi Ketua Umum. Tapi gw akhirnya jadi Ketua Umum juga kok, ketua 1 itu M. Futhra Bahar, Ketua 2 Rayhan Pratama, Sekretaris Umum Sisca Venessia, Sekretaris 1 Nesya Amelita, Sekretaris 2 Yolla Ananda Putri, Bendahara Umum Jumiarti, Bendahara 1 Citra Ferimai..

Oh ya, gw pacaran ama Anita, temen sekelas gw dulu pas kelas 1. Pas setelah liga Smansa, lamaran (ceile..) gw kemarennya akhirnya diterima dan kita resmi pacaran. Pacarannya ngapain aja? Rahasia dong, masa diekspos disini. Tapi cuma tahan 9 bulan-an klw ga salah. Si gw nya dulu kan masih brengsek. Suka TP2 (Tebar Pesona) sana-sini, TTM-an dimana2, ngeceng adek2 kelas.. hahaha.. Jangan salah, ketika SMA gw punya banyak Fans lho.. (awas, muntahan kena monitor, yang mau muntah ke WC dulu sono..)

Dan tentu saja yang tak akan terlupa adalah Bu Asmiar, Guru Biologi yang udah cukup veteran, dan cukup bawel dan cerewet (Bu, maaf ya..). Ga ah, ga enak kalau dilanjutin, ngomongin Guru sendiri, ga baik.

Kelas 2, gw berkesempatan ke Yogyakarta geratiss barengan ama Catra, tergabung rombongan Duta Anak SUmbar ke acara Kongres Anak Indonesia IV ditemanin bang Imoe. Kenalan dengan teman-teman dari seluruh Indonesia, ngisengin mereka dengan ngajarin Umpatan khas Minang, tapi kita katakan itu adalah ucapan sapaan kepada orang lain. Parah ya, tau tuh si catra. Yang masih keep in touch ampe sekarang palingan si Laura, yang sekarang kuliah di FK Unand.

3. kelas III.7 (Scooven Neptune 04/05) Wali Kelas: Ibu Yuni

Kelas 3, udah hampir damai2 aja sekarang. Walau masih suka keluar kelas dengan alasan ikut latihan Paski (padahal cuma duduk2 ngeliatin doang), tapi udah mulai ngejar pelajaran kelas 1-2. Dan panggilan Abak masih aja nempel. Jadi icon tersendiri utk gw jadinya (bahkan ampe sekarang masih dipanggil Abak).

Masih sering main ama sobat-sobat gw, Isan, Ame, Syifa. Ada si Inah a.k.a Elfitri Sakinah Siraj sobat sekelas dari kelas 2-3. Disuruh balik lagi ama Anita oleh anak-anak itu, padahal kan lagi seru2nya single.

SMA ya, jaman-jaman SMA, gw masih sering main ke Pagar-Net, Warnet deket SMA gw, baca komik di blkg Padang Theater, Nongkrong di Sekolah ampe sore, ngeliatin adek-adek yang lucu-lucu.

Di Rumah, udah mulai kenal ama anak-anak sekitar, aktif di remaja Masjid (pasti ga percaya kan??), punya temen pulang bareng pas jaman masuk siang, si Ovin (yang dulu SMP 4) Vivi Kiri (yg tomboy) dan vivi Kanan (yang ga tomboy), gerry, maman, man jawa, de el el. Di Arbes pas kelas 2 atau kelas 3 udah jarang main lagi kesana, soalnya si kak Baby udah pindah, kak Anggi udah ke TVRI, dan yang lainnya ga terlalu akrab. Oh ya, ada kak Mega, resepsionis Arbes FM yang cakep banget. Hahaha…

keknya udah deh cerita tentang masa SMA nya, udah mau mandi nih gw. Buat yang entah kenapa kebetulan nyasar baca postingan gw yang ini, mohon maaf sebesar2nya jika tiba-tiba muntah2, diare, sakit kepala baca postingan ini. Semua cerita ini benar adanya, tanpa ada banyak unsur rekayasa.

Sampai ketemu lagi.. :D

*Kangen SMA euy jadinya nulis ini.. Salam untuk temen2 SMA gw

Masa Remaja Awal (SMP)

Posted in Aku dan orang-orang di sekitraku.. on November 4, 2010 by sutanrajodilangik

Ketika lulus SD, orang tua gw pindah ke daerah Parak Lawas Kec. Lubuk Begalung. Hanya beberapa bulan, lalu pindah lagi ke Banuaran, masih deket2 situ juga. Dan gw mulai memasuki masa remaja.

Diterima di SMP 1 Padang, dan ga sengaja masuk ke kelas I-5 yang konon katanya kelas unggulan. Bertemu teman2 baru, soalnya kan gw SMP nya di luar rayon. Jadi ga banyak temen2 SD gw yang SMP nya sama.

Selama SMP gw ga banyak main, rasanya agak Introvert. Main cuma ama anak2 sekelas saja. Jadi ga banyak kenal ama temen2 yang lain.

Hmm, SMP pertama kali kenal Cinta Monyet (Bukan cinta2an ama monyet yak). Naksir temen sekelas, awalnya sih dijodoh2in, eh, tau2 jadian ama temen sendiri, dan terakhir jadian ama temen deket. Huhuhu.

Sebenarnya kelas 1 dan kelas 2 ga ikut-an OSIS, cuma tau-tau diajak. gara-gara deket ama kak Karin, eh, ikutan jadi panitia MOS deh waktu kelas 2, dan diajakin OSIS ama M. Hidayat, ketua OSIS 2 tahun berturut-turut. haha.

Hmm, ga banyak sih cerita selama gw SMP, Di rumah pun ga ikut2 kegiatan di sekitar. Hanya jadi anak baik di rumah, membaca, dan menolong orang tua. Sampai-sampai gw dikirain sebagai anak yang pendiem. hahahaha, bener banget.

Hmm, SMP pertama kali mengenal Internet, ama si Dayat, Afdhal. Dulu  pas masuk siang, paginya main dulu di rumah Dayat, sambil makan siang. hahaha. Ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa.

SMP kelas tiga, mulai akrab dengan si Tofan, anak kelas sebelah, pindahan dari jakarta. Dari dia mulai main2 ke Arbes FM, kenal ama Announcer disana, akrab juga ama orang-orang disana. pas tamat SMp, si Tofan pindah ke jakarta, gw masih sering main-main ke sana, ikutan Fans Clubnya, ikutan siaran minggu sore. hehehehe..

Apalagi ya? masa SMP ga terlalu menarik untuk diceritain sih, emang ga ada cerita-cerita dan pengalaman spesial juga. ntar deh, masa SMA akan ada banyak cerita yang bakal gw jabarin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.